Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
87. Kejutan


__ADS_3

Puput menilai, Dwi orangnya menyenangkan diajak bicara. Tidak kaku, nampak supel dan mandiri. Hm, ada kemiripan sifat dengannya. Rama pasti tidak sembarangan menyeleksi calon asisten untuknya. Namun begitu, asistennya itu tetap berlaku formal dalam memanggil. Padahal Puput sudah meminta jangan memanggil "Bu", panggil saja "Teh" biar lebih akrab. Karena ia pun memanggil Dwi dengan sebutan "Mbak". Lebih menyenangkan begitu.


"Maaf, Bu. Meski usia di bawah aku, tapi Bu Putri atasan aku, dan juga istrinya Pak CEO Rama." Dwi tersenyum sopan memberi penolakan. Membuat Puput mengangkat bahu. Pasrah.


Perjalanan lama menjadi tidak terasa karena adanya teman bicara. Hanya tiga kali berhenti istirahat untuk makan dan salat. Kini sudah memasuki kawasan Ciawi. Ponsel Puput berdering. Telepon dari Ibu.


"Teeeh, udah sampe mana?"


Mengira Ibu yang menelpon, ternyata suara Ami yang bertanya penuh semangat. Membuatnya menjauhkan ponsel karena suaranya si bungsu memekak telinga.


"Ciawi. Bentar lagi sampe."


"Aseeek. Aku jemput Teteh di teras ya! Babayyy!"


Telepon diputus sepihak. Puput hanya geleng-geleng kepala. "Yang bener aja ngejemput di teras," decaknya tapi sambil tersenyum dikulum.


"Siapa, Bu Putri? Eh, maaf jadi kepo." Dwi meralat ucapannya sendiri dengan mengatupkan tangan. Kadung dirinya pun merasa nyaman berbicara dengan Puput.


Puput tersenyum. "Adik aku. Semuanya ada tiga. Barusan yang bungsu nanyain posisi. Eh, bilangnya mau jemput di teras."


Dwi terkikik merasa lucu. "Sepertinya keluarga Bu Putri rame dan seru ya? Kalau aku tiga bersaudara. Aku yang tengah, cewek satu-satunya. Semua sudah menikah dan berpencar tapi masih di Jakarta."


Puput menyimak sambil manggut-manggut. "Mbak Dwi udah punya putra berapa?"


"Belum punya, Bu." Sahut Dwi tenang. "Aku nikah waktu umur 29, suami 32. Pacaran 5 tahun tapi LDR an. Kami punya prinsip yang sama, membantu dulu ekonomi keluarga sampai bisa mandiri. Barulah kita memutuskan menikah."


Tanpa diminta, Dwi menjelaskan. Puput menyimaknya dengan antusias. Tertarik dengan kisah hidup yang disampaikan tanpa gurat penyesalan itu.


"Udah nikah tetap ldr an lagi." Dwi terkekeh. "Kali ini kami bersabar terpisah karena lagi menabung untuk masa depan. Mungkin karena kita ketemunya cuma sabtu minggu, jadi ikhtiar punya anak belum berhasil. Makanya pas Pak Damar ngasih tawaran kerja di cabang Ciamis, aku nggak pikir dua kali. Langsung mengiyakan. Ini jadi jalan buat aku bisa tiap malam ketemu suami." Pungkasnya dengan wajah tersipu.


Puput tersenyum simpul. "Hari esok nggak ada yang tahu ya, mbak. Misteri. Tapi selalu terpetik hikmah. Seperti aku yang baru jadian sebulan sama Pak Rama. Eh, dia langsung ngajak nikah. Padahal target nikah aku usia 27 - 28 lah. Nunggu adik aku yang nomer 2 lulus kuliah dan mandiri. Biar tenang kalau aku dibawa pindah suami. Ternyata skenario Allah berbeda. Allah lebih tahu yang terbaik untuk hamba-Nya."


Dwi mengangguk kuat sebagai bentuk setuju akan kalimat Puput.


Menjadi percakapan terakhir karena mobil sudah berhenti di depan rumah. Puput tersenyum lebar menatap beberapa mobil dan motor terparkir yang merupakan pengunjung Dapoer Ibu. Juga terlihat Ami dan Zaky yang menghambur mendekati mobilnya.


"Pak Doni, habis ini terus kemana?" Puput belum turun meski pintu sudah terbuka otomatis.

__ADS_1


"Saya lanjut mengantar Mbak Dwi, terus istirahat di rumah Ibu Sepuh. Besok subuh baru kembali ke Jakarta, Neng." Sahut sang sopir dengan sopan.


Puput mengangguk. Baru kemudian turun setelah dipastikan sopir akan menginap di rumah Enin.


Zaky menenteng koper milik Puput. Sementara Ami kebagian menenteng paper bag oleh-oleh makanan. Puput mengajak Dwi untuk istirahat dulu di rumahnya. Namun asistennya yang hanya masuk untuk mengantarkan macbook, menolak dengan sopan.


"Pak, makasih ya!" Puput menyelipkan uang ke tangan sopir yang akan pamit.


"Jangan, Neng. Saya udah digaji dan dikasih uang makan." Doni ingin mengembalikan bulatan uang itu. Namun Puput mengibaskan tangan.


"Itu rejeki Pak Doni."


...***...


"Alhamdulillah, Macbook. Ya Allah....mimpi apa semalam." Aul berjingkrak-ningkrak seperti anak kecil saking senangnya. Memeluk sang kakak penuh drama. Membuat Puput mengeplak lengannya karena tercekik.


Semuanya berkumpul di ruang tengah. Dengan girang berburu oleh-oleh titipan Mami Ratna yang dikeluarkan Puput dari dalam koper. Hanya Ibu yang tenang.


"Bener Aul gak minta?" Puput ingin meyakinkan sekali lagi kebenaran cerita Aul.


"Ya Allah, ini mah kayaknya aku aja di kampus yang punya macbook. Yang lain laptop doang." Lanjutnya sambil memeluk dus berlogo apel itu dengan penuh sukacita.


"Teteh, Aa Zaky di kasih motor, Teh Aul dikasih macbook. Aku apa?" Protes Ami sambil mulutnya penuh mengunyah pancake strawbery. Oleh-oleh yang lembut dan lumer.


"Sesuai umur dan kebutuhan ya, Ami. Karena Ami sudah boleh punya hape sendiri, ini hape bekas teteh buat Ami. Masih baru...kan belinya dulu sama Ami." Jelas Puput sambil menyerahkan ponsel lamanya.


"Yes. Boleh boleh boleh...." Ami menerimanya dengan wajah riang.


"Mi...tukeran sama hape Aa ya? Dibonusin 100 ribu deh buat beli kartu perdana sama kuota." Zaky mencoba merayu.


Ami menggedikan bahu. "Hape Aa mah siomay gak keren. Mending ini dong....samsul." ujarnya dengan bangga memeluk ponsel di dada.


Puput sudah mengabari Rama juga Mami jika dirinya sudah tiba di Ciamis.


Malamnya, ia masuk ke kamar Ibu yang tengah menggenggam tasbih menunggu waktu adzan isya. Ikut duduk di gelaran karpet di samping Ibu.


"Ada apa, Teh?" Ibu menghentikan dzikirnya. Menatap si sulung yang sepertinya ada keperluan.

__ADS_1


"Bu, Kak Rama ngasih jatah uang bulanan buat Ibu 5 juta. Aku akan transfer ke Ibu tiap tanggal satu. Berarti besok mulai ngasih. Katanya itu khusus Ibu. Kalau untuk biaya sekolah beda lagi, ada anggaran lain. Kata A' Rama pengeluarannya tak terbatas sesuai kebutuhan." Jelas Puput.


Ibu terdiam sesaat. Dan Puput menatap menunggu jawaban.


"Gini aja. Ibu terima pemberian suamimu itu. Tapi untuk biaya sekolah, Ibu gak akan minta. Mau pakai dari uang 5 juta itu aja. Gak mau aji mumpung. Segini aja udah bersyukur. Rama sudah sangat baik ngasih perhatian sama adik-adikmu. Ibu mah senang luar biasa. Insyaa Allah dari omset warung nasi juga bisa untuk biaya sekola. Aul pintar nyari konsumen yang beli onlen. Alhamdulillah omset selalu naik."


Puput mengangguk menuruti keputusan Ibu. Merangkum bahu penuh sayang. "Ibu bilang aja kalau kurang. Gaji aku yang sekarang Alhamdulillah, naik jadi tiga kali lipat."


Minggu pagi menyapa. Kesibukan dan wangi aroma masakan menguar dari dapur warung nasi masuk ke dalam rumah. Sampai pagi ini belum ada lagi panggilan video dari Rama. Hanya semalam saling berbalas pesan.


"Pengantin baru....I miss you." Via memeluk Puput dengan riang gembira. Ia datang dengan heboh karena dipinta Puput datang.


"Bakpia, ada kabar baik buat kamu." Puput mengajak duduk di sofa ruang tamu.


"Apa sih.... jangan kebiasaan deh bikin aku penasaran." Via menatap Puput dengan tidak sabar.


"Aku dan Aa mau ngasih kado buat pernikahanmu senilai 10 juta. Kamu bilang aja mau barang apa?"


Via sontak berdiri dari dudknya dengan memegang dada.


Duarrr.


Menjadi melonjak kaget kedua kalinya karena mendengar ledakan ban yang terasa dekat di depan rumah. Sama-sama dengan Puput menengok dari jendela. Benar, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan pagar rumah.


"Eh buset, cakep banget. Eh salah. Masyaa Allah, cakep banget tuh cowok." Via heboh sendiri menatap dari balik jendela pria berkaos hitam yang keluar dari mobil.


"Jaga mata, Bakpia! Mau nikah woy!" Puput meninju pelan bahu Via.


"Ah kamu juga sama. Ngapain ngeliatin terus, Siput? Jaga mata woy! Inget suami ada di Mamang Sam! " Via melakukan serangan balik dengan memperhatikan ekspresi wajah sahabatnya itu yang tiba-tiba senyam senyum.


"Aku mah ngeliatin anu, tuh....." sahut Puput. Membuat Via menatap lagi ke depan.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2