Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
94. Kabar Terbaru


__ADS_3

Puput dan Aul berbarengan merebahkan tubuh di kasur. Lelah tapi menyenangkan serta perut kenyang karena mencicipi kuliner yang belum pernah dicoba. Penasaran.


"Teh."


"Hm." Puput menyahut sambil membuka room chat yang puluhan pesan belum dibaca dari beberapa grup. Ia lebih tertarik melihat balasan dari sang suami yang memberi emot cium setelah dikirim foto saat berada di Cibadak Street. Senyumnya pun mengembang.


"Aku tadi sore udah ngasih jawaban sama Kak Panji. Karena dia duluan yang nagih." Aul beranjak bangun dan merubah posisi menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Oh ya? kirain belum. Teteh lihat tadi kalian normal aja." Puput ikut bersandar di sisi sang adik.


"Alhamdulillah, aku juga ngira Kak Panji bakalan berubah sikap karena ditolak. Dia mengerti alasan aku dan ngajak bersahabat aja."


"Itu lebih baik. Jadi nggak ada beban, kan?" Puput menatap Aul untuk meyakinkan. Dan adiknya itu mengangguk membenarkan.


Pagi menyapa. Panji paling akhir bergabung di meja makan karena pulang lari pagi keliling komplek kemudian mandi. Ternyata tiga orang yang sudah duduk menghadapi hidangan tengah asyik berbincang. Sama sekali belum menyentuh makanan.


"Lho, kenapa belum pada makan?" Panji dengan wajah segarnya terkaget. Padahal ia telah mempersilakan Enin, Puput, dan Aul untuk makan terlebih dahulu.


"Sengaja nunggu Panji. Biar terasa nikmatnya, makan sama-sama." Enin yang menyahut. Lalu lebih dulu mengambil nasi putih. Namun Puput lebih dulu mengambilkan untuknya.


"Hm, enak banget. Ini kayaknya bukan masakan bibi. Belum pernah ada menu seperti ini. Siapa yang masak nih?" Panji menyesap gurame goreng yang disiram kuah. Sensasi gurih, pedas, dan wangi daun jeruk meningkatkan selera makan sehingga menambah lagi nasi ke dalam piringnya.


"Aul."


"Teteh."


Bersamaan, kakak beradik itu saling tunjuk. Membuat Panji menaikkan kedua alisnya.


"Puput dan Aul yang masak. Mereka keukeuh pengen masakin sebelum pulang." Enin buka suara membocorkan.


"Perempuan yang bisa masak itu bakal jadi istri idaman. Si suami bakalan betah di rumah karena ada yang memanjakan perutnya. Jadi Panji kalau udah ketemu perempuan yang cantik, baik, pinter masak, jangan dilepas. Pepet sampai dapat....pinta sama orangtuanya." Enin berucap santai sambil tetap menekuri piringnya. Tidak melihat reaksi tiga orang yang mengitari meja makan. Dimana Puput tersenyum mesem, dan Panji yang terkekeh dengan melirik kepada Aul yang menunduk dengan kedua pipi merona merah.


Satu jam usai sarapan pagi, mobil sedan melaju keluar gerbang meninggalkan Panji yang mengantar sampai teras. Waktunya perjalanan pulang ke Ciamis.


...***...


Bergulirnya waktu tidak bisa dicegah. Puput mengisi hari dengan kesibukan pekerjaan. Lumayan bisa mengalihkan sementara rasa rindu yang tak pernah reda. Yang akan terasa membuncah kala malam menyapa. Ia pun memiliki rekaman video yang sama yang dibuat saat di hotel. Bukan adegan vul gar, tapi kemesraan yang terbingkai dalam dialog penuh canda tawa. Juga video adegan dansa yang tidak pernah benar. Membuatnya tertawa sendiri.


Dalam seminggu ini Puput melakukan meeting dengan beberapa developer untuk menggaet mereka agar mau bekerja sama, menjadikan RPA sebagai suplier bahan bangunan. Ditemani Dwi setiap kali bertemu para developer yang kesemuanya pria, ia penuh percaya diri mempresentasikan tentang kelebihan toko bahan bangunan RPA. Dari lima developer yang ditemui di hari yang berbeda itu, satu diantaranya bersedia melakukan kerjasama. RPA akan menyuplai dua project pembangunan hunian cluster di Ciamis dan Banjar.


"Alhamdulillah, mbak Dwi. Kerja keras kita ada yang berbuah." Puput tersenyum lebar begitu keluar dari restoran usai penandatanganan kerjasama dengan sang developer.


Dwi mengangguk membenarkan. "Itu karena Bu Putri pintar melakukan diplomasi dan juga visualnya berhasil membuat klien terpana. Jadinya deal."


Puput menghentikan langkah yang sudah mendekati mobil. Memicingkan mata menatap Dwi. "Hei, aku nggak menggunakan wajah untuk menggoda, mbak."


Dwi tersenyum tipis. "Iya, aku tahu. Bukan Bu Putri yang menggoda, tapi klien yang terpesona melihat bu boss yang cantik dan pintar. Tenang...selama kita profesional bekerjasama, nggak ada yang perlu dikhawatirkan sama pria macam apapun." Pungkasnya sambil terkekeh.


"Dan mbak Dwi jadi saksi, aku adalah seorang istri yang setia pada suami!" Lugas Puput saat sudah duduk di kursi penumpang depan.


"Yes, I see." Dwi mengangguk pasti. Ia melajukan mobil menuju agenda sang boss berikutnya. Jadwal perawatan di klinik skin care.


...***...


Hari ini, semua keluarga mengantarkan Ami ke pondok pesantren. Si bungsu sudah bulat keinginannya untuk sekolah sambil mondok. Ditambah anak itu sudah dinyatakan lulus tes.


"Pokoknya Ibu nggak boleh nikah lagi. Kalau nikah lagi, aku mau kabur dari pesantren!" Ancam Ami yang disambut tawa ketiga kakaknya. Ibu hanya geleng-geleng kepala. Lingkungan pesantren hari ini ramai oleh banyaknya keluarga yang mengantarkan anak-anaknya memulai menuntut ilmu.


Dari semua tamu yang datang ke rumah, hanya pria yang bertamu kepada ibu yang tidak disukai oleh Ami. Membuat moodnya berubah buruk. Selalu ngambek dengan memajukan bibir. Bahkan si bungsu itu tidak mau menyentuh oleh-oleh yang dibawakan tamunya ibu yang datang berniat melamar.


"Ya bu ya, janji ya!" Lagi-lagi Ami ingin meyakinkan. Padahal ibu sudah sekian kali menjawab hal yang sama.


"Iya, Ami. Ibu udah bahagia punya kalian. Nggak akan nikah lagi. Ibu udah bosen ngulang ih!" Ibu menjawil pipi si bungsu yang menggelayut di lengannya.

__ADS_1


"Yaah, Mi. Padahal kalau punya ayah baru kan nambah banyak uang jajan." Zaky sengaja menggoda Ami. Padahal ia sendiri pun tidak rela jika ibu menikah lagi. Almarhum Ayah sampai kapanpun tidak akan tergantikan. Untung saja demo sudah diwakili oleh adiknya itu.


Ami menggeleng kuat. "Duit aku dah banyak dari ibu, dari teteh. Tambah dari fans aku. Aa tau nggak, kemarin teh Clarisa makan-makan di Dapoer Ibu sama dua temennya. Eh dia ke rumah dan ngasih aku 50 ribu. Katanya, salam ya sama Zaky. Aduh...aku malah lupa bilang. Ya udah ya sekarang aja sekalian bilang ada salam dari Teh Clarisa buat Aa." ujarnya santai. Tak mempedulikan wajah Zaky yang kini berubah masam.


"Ami, Aa kan udah bilang jangan mau kalau dikasih apapun sama Clarisa. Itu namanya menyuap. Nanti Aa laporkan ke KPK!" Protes Zaky diiringi ancaman.


"Hilih...kata ibu juga jangan minta, kalau dikasih ya diterima. Kenapa Aa jadi sensi." Ami memeletkan lidah.


"Tapi kalau yang ngasih tamunya ibu, kenapa nggak mau diterima?" Zaky memicingkan mata.


"Itu mah beda lagi. Sogokan dari orang yang pengen jadi ayah tiri. Oh tidak bisa, Ferguso!" Ami menggoyangkan telunjuk di depan muka Zaky.


Puput dan Aul mentertawakan kelakuan Ami dan Zaky yang bersitegang.


Mobil melaju keluar dari pondok pesantren modern. Usai sudah melepas Ami yang terlihat ceria dan mudah mendapat teman baru. Tak ada yang berbicara sepanjang jalan. Masing-masing larut dalam perasaan yang sama. Sedih. Tapi tidak ingin diperlihatkan. Ami satu-satunya di keluarga yang sekolah sambil mondok atas keinginan sendiri. Sudah terbayangkan suasana rumah akan menjadi berbeda. Kehilangan sosok si periang dan centil untuk sementara.


Hari baru buat Zaky. Usai disibukkan sebagai panitia kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa) karena ia adalah pengurus OSIS. Kini, memulai kegiatan belajar normal, motor ninja warna merah siap keluar dari garasi. Untuk pertama kalinya akan dipakai ke sekolah. Dan orang pertama yang diboncengnya adalah Ami. Dua hari yang lalu ia sengaja mengajak adiknya itu jalan-jalan sore, sengaja quality time sebelum berpisah karena sang adik akan mondok di pesantren.


"Ah, gila. Kirain siapa. Motor baru euy!" Fatur, sahabat Zaky menyambut kedatangan Zaky di parkiran sekolah dengan kaget. Ia tidak menyangka, deru khas mesin motor sport dengan warna mencolok itu, yang menjadi pusat perhatian kaum hawa, adalah Zaky.


Keduanya adu tos. "Mana si Ibeng?" Ucap Zaky, mencari seorang lagi sosok teman dekatnya.


Yang ditunggu kemudian muncul dan memarkirkan motor.


"Beng, hari ini kita makan sekenyangnya. Si zaky traktir kita. Usap dulu dong motor barunya." Sambut Fatur yang menyambut adu tos Ibeng. Jelas saja Zaky mencebik karena tidak pernah bilang akan mentraktir.


"Njir, Ninja SE (spesial edition)!" Ibeng menatap takjub. Ia benar-benar mengikuti intruksi Fatur. Mengusap semua body motor dengan heboh. "Ky, kredit berapa tahun ini pelet cewek?"


Zaky tertawa dan menonjok bahu Ibeng mendengar istilah pelet. "Cash, bro. No credit! Hadiah dari kakak ipar." Sahutnya sejujurnya.


"Percaya deh kalau dari kakak iparmu mah. Njir, rejeki punya kakak ipar tajir." Ibeng masih saja takjub menatap motor idola anak muda itu.


"Hai, Kak Zaky."


"Ini buat Kak Zaky. Makasih ya selama MOS kemarin udah ngebimbing aku." Siswi baru dengan nama yang tertera di dada Nadia Rindu, tersenyum manis. Menyerahkan kotak kado persegi panjang berpita warna silver.


"Oh, makasih ya, Na-Nadia." Sahut Zaky mengeja dulu nama murid baru di depannya itu.


"Sama-sama, Kak. Bye, aku ke kelas dulu."


"Eh tunggu, Nadia!" Ibeng mencegah langkah murid baru itu. "Ada puisi dari Zaky buat kamu."


Nadia menaikkan kedual alis. Menunggu.


"Oh burung nyanyikanlah...."


"Katakan pada Nadia, Zaky rindu...."


Sontak membuat Fatur tertawa lepas dengan kekonyolan Ibeng. Zaky mendelik kesal. Dan Nadia tersipu malu, kemudian berlalu.


"Asem lo! Gimana kalau murid baru itu ge er?" Zaky menyepak kaki Ibeng disaat sosok Nadia sudah hilang di belokan koridor.


"Ya syukur. Kan kita jadi kenyang kecipratan rejeki. Apa tuh isi kotaknya? Kepo euy." Ibeng menanggapi santai.


Namun Zaky memilih buru-buru masuk kelas. Karena belum memilih bangku. Jangan sampai kebagian duduk di jajaran belakang. Dan ternyata hampir semua teman kelasnya sudah hadir.


"Ky, mejamu di sana!" Temannya menunjuk pada meja paling depan baris kedua.


Zaky mendekati meja yang dimaksud dengan heran. Karena tidak merasa sudah booking meja sebelumnya. Tapi di atas meja ada tulisan, "Milik Zaky Wijaya"


"Hei, siapa yang mau sebangku di sini?" Zaky berseru pada Ibeng dan Fatur yang mendapat meja kedua dari belakang.


Ibeng menggeleng. "Mataku masih awas liat papan tulis dari sini. Yang duduk di depan khusus yang rabun." Ujarnya beralasan.

__ADS_1


"Ngeles aja, lo." Fatur menjitak kepala Ibeng. Ia menenteng tasnya beranjak pindah sebangku dengan Zaky.


Zaky mengernyit saat tasnya yang akn dimasukkan ke kolong meja, terganjal sesuatu. Membuatnya melongokkan kepala. Ia meraih sebuah kotak dari dalam laci meja itu. Sebuah kotak kado berukuran 20x20 cm dengan sebuah kertas terselip diantara pita.


Dear Zaky,


Aku udah pilihin bangku favoritmu. Semangat belajar calon arsitek. Semangat meraih cita-cita calon imamku (hehe...)


With Love,


Clarissa Juwita


"An jirrr, calon imm---"


Zaky segera membekap mulut Fatur yang tanpa diketahuinya ikut membaca secarik kertas putih itu dari belakang.


...***...


Puput selesai meeting bersama Hendra membahas hasil kerjasama dengan pengembang cluster. Untuk kemudian akan ditindak lanjuti oleh manajer dan tim.


Baru saja Hendra keluar dari ruangannya. Ponsel di samping lengan kanannya berdering. Suamiku calling.


"Sayang, aku mau vc. Make sure nggak ada orang di ruanganmu!"


Suara Rama yang buru-buru bahkan tidak mengucap salam, membuat perasaan Puput dilanda heran dan tegang. Apalagi kini sambungan sudah terputus.


"Hm, mbak Dwi maaf ya. Suami aku mau vc penting. Dia minta bicara empat mata." Puput menatap dengan sorot meminta pengertian.


Dengan sigap Dwi berdiri. Menutup laptop dalam mode sleep. "Oke, Bu. Kabari saja kalau aku sudah boleh masuk." Ia pamit keluar dengan membawa ponsel.


Tak lama ponsel Puput berdering lagi panggilan video. Bergehas kembali ke mejanya usai mengunci pintu. Satu kali usap, wajah yang dirindukan tampil dan terlihat segar memakai kemeja abu tua yang pas di badan.


"Assalamu'alaikum, Aa!" Puput lebih dulu menyapa dengan rasa penasaran. Dan salamnya dijawab Rama diiringi senyum manis.


"Sayang, I miss you." Rama menatap lembut dan dalam. Berbeda intonasi saat tadi menelpon.


"Aku juga sama. Kangen berada dipelukanmu." Puput men desah manja.


"Aku kangen berada di atas tubuhmu. Kangen men dengar de sa hanmu." Rama mengedipkan sebelah mata.


"Ish, jangan bahas itu. Malu tau...." Puput menutup mukanya yang memerah. Membuat pria di sebrang sana terkekeh gemas.


"Sayang, ada kabar baik. Alhamdulillah hasil investigasi polisi, status perusahaan dinyatakan clear tidak terkait dengan kasus klien." Rama tersenyum lebar menatap sang istri yang berucap syukur.


"Besok pihak kepolisian akan press conference untuk memulihkan nama baik perusahaan."


Puput kembali berucap syukur dengan mata berkaca. Haru.


"Makasih ya sayang, ini semua berkat do'amu." Rama menopang dagu menatap Puput yang berwajah semringah.


"Bukan hanya do'aku, Aa. Ada do'a orangtua juga yang selalu tulus mendo'akan anak-anaknya tanpa dipinta."


Rama menganggukkan kepala.


"Tapi do'a dan sedekah yang kamu lakukan sangat terasa dampaknya, sayang. Tidak menyangka dalam waktu lima minggu masalah bisa clear. Jadi seminggu aku bisa pulang."


"Benarkah?" Puput memekik girang.


"Ya, sayang. Pekerjaanku tinggal rapat besar dengan para investor. Untuk meyakinkan semuanya baik-baik saja."


"Argh, aku tak sabar menunggu seminggu lagi. Aku pengen jemput Aa ke bandara. Kapan aku harus ke Jakarta?"


"Hm, besok aku kabari lagi pastinya ya. Sekarang beri aku vitamin dulu, sayang. Aku mau berangkat ke kantor."

__ADS_1


"Apa sih yang nggak buat Aa." Puput tersenyum manis. Mulai membuka hijabnya. Beralih membuka blazer. Pria di sebrang sana sudah menahan nafas saat kancing kemeja polos warna krem itu dibuka satu persatu.


__ADS_2