
Damar dan Cia sudah lebih dulu pulang ke Jakarta menggunakan transportasi udara. Bersamaan dengan kepulangan Puput dari rumah sakit. Damar tidak bisa berlama-lama meninggalkan kantor karena harus mengambil alih tugas Rama. Agenda rapat internal dan pertemuan dengan klien sudah terjadwal.
Sang asisten handal itu melonggarkan dasinya usai memimpin rapat dengan para manajer hampir tiga jam lamanya. Mendengarkan pelaporan serta beberapa permasalahan internal perusahaan. Berakhir di jam istirahat. "Tian, saya duluan!" Ia pamit pada Sebastian sekretarisnya yang tengah membereskan berkas notulen rapat di meja.
"Silakan, Pak." Tian mengangguk sopan.
Damar melangkah menuju ke ruangannya dengan rasa lapar yang tiba-tiba mendera. Perutnya sudah berbunyi orkestra. Mungkin efek berpikir keras penuh konsentrasi jadi menguras tenaga sehingga kini terasa lapar. Hendak menghubungi Nova agar memesankan menu sop buntut, namun begitu membuka pintu ruangannya tercium aroma makanan yang diinginkannya itu.
"Cia?!" Damar merasa surprise mendapati kekasihnya itu ada di dalam. Tengah menata sajian di meja sofa.
Cia tersenyum lebar melihat Damar yang berbinar mendekatinya. "Tadi aku ke sini jam 11 mau ngajak Kak Damar lunch di luar. Tapi mbak Nova bilang kamu lagi mimpin rapat. "Aku order makanannya aja deh. Pasti jam istirahat break dulu kan, atau mungkin selesai rapatnya." Ia selesai menata semuanya di meja. Nasi, sop buntut, juga dua gelas air putih dan es lemon.
"Tau aja aku lagi pengen sop buntut. Makasih sayang, udah perhatian. Makin cinta deh." Damar mencolek dagu Cia dengan penuh keriaan. Ia menggulung lengan kemejanya sampai sikut usai menyampirkan jasnya di sandaran sofa.
Cia tersenyum malu dengan wajah bersemu merah.
"Mau makan dulu apa salat dulu? Kalau aku lagi libur." Cia baru mengangkat piring, belum mengisinya.
"Makan dulu ah, udah lapar banget. Tadi nggak sarapan." Damar membelalak di ujung kalimat. Keceplosan.
Cia memutar bola matanya. "Tuh kan, kebiasaan deh. Aku kan udah bilang berkali-kali, sarapan itu penting alias WAJIB! Masa aku mesti ngingetin tiap hari. Entar Kak Damar bosen dengerinnya. Aku jadi kayak emak-emak yang bawel, cerewet sama anaknya," ujarnya dengan bibir mengerucut.
"He he iya, mak. Maafkan anakmu ini, Mak. Nggak akan diulang lagi. Abisnya bangunnya kesiangan. Cuma sempet minum aja sama makan satu donat." Damar mengerjap-ngerjapkan mata seperti anak kecil yang merayu ibunya. "Jadi pengen cepet cepet nikah deh biar tiap pagi ada yang nyiapin sarapan. Jadi bebas dari ceramah."
Membuat Cia mencubit lengan Damar dengan keras. Pria itu hanya terkekeh.
Damar menerima pelayanan dari Cia dengan wajah semringah. Ia merasa seperti seorang suami yang dilayani istri. Hatinya menjadi hangat. Ia pria mandiri yang tinggal di apartemen. Terbiasa hidup praktis mengandalkan servis untuk kebersihan dan kerapihan bajunya dengan berlangganan pada jasa laundry. Pun kebersihan apartemennya ada jasa yang seminggu sekali rutin membersihkan seluruh penjuru ruangan. Termasuk urusan isi perut. Hanya tinggal order atau datang langsung ke rumah makan. Semua menjadi mudah karena memiliki penunjangnya, yaitu uang.
Suara getaran ponsel terdengar dari saku jas. Bersamaan dengan selesainya acara makan.
"Angkat dulu Kak, siapa tau penting!" Cia menegur Damar yang malah santai menyesap es lemon. Sementara getaran masih terus terdengar.
Damar menurut. Merogoh saku dan menatap layar ponselnya. "Mama," ujarnya menatap Cia. Ia segera melakukan telepon balik karena panggilan sudah terputus.
"Iya, Ma. Ada apa?" Damar menjawab sapaan sang mama di ujung telepon.
"Sebentar, Ma. Aku tanya Cia dulu. Kebetulan aku lagi sama Cia." Damar menangkupkan ponselnya.
Cia yang namanya disebut dalam percakapan telepon itu, menghentikan selancar di media sosialnya. Mendongak dengan menaikkan kedua alisnya.
"Cia, Mama ngundang kita makan malam di rumah. Mama pengen sekali ketemu kamu. Katanya kangen." Damar menunggu jawaban Cia.
"Kapan, Kak?"
"Ya, kalau makan malam ya malam. Kalau pagi namanya sarapan." Jawab Damar dengan wajah lempeng.
"Ish, Kak Damar. Orang serius juga." Cia mengeplak lengan kekasihnya itu yang berujung meringis karena malah tangannya yang sakit. "Maksudku malam ini atau malam kapan?" Matanya berubah mendelik karena Damar malah terkekeh.
"Malam ini, ayang. Mau ya?!" Damar penuh harap menatap Cia. Yang dijawab Cia dengan anggukkan.
__ADS_1
Damar lantas melanjutkan obrolan di telepon dengan Mama Mery yang terdengar bahagia mendengar jawaban dari anak laki-lakinya itu.
"Kak, salat dulu!" Cia mengingatkan karena usai perbincangan dengan Mama Mery, Damar malah menundukkan kepala membalas pesan-pesan yang masuk.
"Iya. Sebentar lagi tanggung." Jawab Damar yang kedua jempolnya masih asyik menari-nari pada layar.
Cia menunggu. Lima menit berlalu, Damar masih anteng. Sepuluh menit kemudian masih tetap jawaban yang sama. Sebentar lagi tanggung.
"AYANG!" Cia menaikkan oktaf suaranya sambil memelototkan matanya. Berhasil membuat Damar menaruh ponselnya di sofa dengan kedua tangan diangkat ke atas.
"Siap, Mak. Jangan galak-galak nanti cepat keriput." Damar buru-buru berlari ke arah kamar mandi sambil tertawa melihat Cia siap melayangkan bantal sofa padanya.
...***...
Siang ini tamunya Puput datang ditemani Via. Ibunya Septi bernama Lia duduk di ruang tamu bersama sang cucu, Nabila.
Di kamar, Puput tengah mematut diri di depan cermin. Menyapukan bedak tipis lalu memakai pasminanya.
"Udah cantik, Neng." Rama berdiri di belakang Puput yang selesai merapihkan hijabnya itu. Memeluk dari belakang dengan tangan melingkar di dada.
"Aa, jangan mulai deh entar pusing sendiri." Puput ingin melepaskan tangan Rama yang bermain-main meremas. Namun malah semakin dieratkan dengan dagu yang bersandar di bahunya. Keduanya saling pandang dari pantulan cermin. Puput pasrah menikmati kenakalan tangan suaminya itu. Menikmati dengan mata terpejam.
"Sudah, Aa. Awas ah, aku mau pakai lipstik dulu keburu tamu datang."
Rama melepas belitan tangannya. Detik berikutnya membalikkan tubuh Puput menghadapnya. Bukan lipstik yang disapukan, tapi bibir yang disatukan. Ia memagut dengan lembut penuh perasaan. Tangannya bergerak ke belakang kepala sang istri. Menekan tengkuk untuk memperdalam ciumannya.
Cukup mengagetkan bagi dua insan yang tengah lena, terhanyut dalam nikmatnya tautan bibir dan pertukaran saliva. Membuat keduanya terperanjat, mengurai sambil mengatur nafas.
Bagaimana tidak kaget. Bukannya diawali dengan ketukan pintu dulu, lalu bersuara memanggil. Ini malah sebaliknya. Dasar Ami!
"Aa, mau ikut turun?" Tanya Puput usai menjawab teriakan Ami. Diusapnya bibir yang basah sebelum memoleskan lip cream.
"Nanti aja nyusul. Mau nenangin dulu adek kecil." Rama menjatuhkan punggung ke kasur sambil mengatur nafas yang masih memburu. Puput tersenyum geli menatap dari pantulan cermin.
"Ate Kiran!" Pekik Nabila yang lebih dulu melihat kedatangan Puput. Neneknya tengah asyik berbincang santai dengan Ibu Sekar.
Puput tersenyum lebar melihat anak gadis yang berusia lima tahun itu berdiri menyongsongnya.
"Nabil, apa kabarnya?" Puput mengusap kepala Nabila yang mencium punggung tangannya.
"Nabil kangen Ate. Kangen banget." Anak yang masih polos itu menggelayut manja di lengan Puput.
"Ibu, apa kabar?" Puput beralih mendekati Ibu Lia. Memeluknya sambil cipika cipiki.
"Alhamdulillah badan sehat, Neng. Tapi batin sakit." Sahut ibunya Septi itu dengan mata berkaca-kaca.
Puput duduk satu sofa dengan Via. Menatap ibunya Septi dengan sorot penasaran. "Batinnya sakit kenapa, Bu?"
Belum menjawab. Karena semua perhatian teralihkan pada kedatangan Rama. Via lantas berdiri mempersilakan Rama duduk di tempatnya. Ia beralih mengajak Nabila pindah tempat menemui Ami di ruang tengah. Demi menghindari anak itu mendengar percakapan orang dewasa.
__ADS_1
"Ibu, kenalin ini suami aku. Aa Rama."
Ibu Lia mengangguk dan mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Rama.
"Saya ini ibunya Septi. Ibu dari anak yang tidak tahu diri melakukan korupsi di kantornya Anda, Pak Rama. Maafkan anak saya." Ibu Lia turun dari kursinya. Beralih bersimpuh di depan Rama.
"Eh, Ibu jangan seperti ini! Duduk aja, Bu." Rama mengangkat bahu Ibu Lia. Mendudukkannya lagi di kursi. Bukan hanya Rama yang kaget dengan sikap ibunya Septi. Pun Puput dan Ibu Sekar.
"Septi setelah bangun dari koma, sudah menceritakan semuanya tentang siapa itu Neng Kiran dan juga suaminya. Dia mengakui semua kesalahannya dan menyesal. Saya selaku ibunya malu, sangat malu. Andainya Septi tidak sedang sakit, pasti saya akan memukulnya. Mana dulu dia sudah berbuat dosa besar hingga Nabila lahir. Ditambah___" Ibu Lia tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Terisak-isak sambil menundukkan wajah.
Puput berpindah duduk ke samping Ibunya Septi. Mengusap-ngusap bahu untuk menenangkan. "Itu sudah lewat, Bu. Jangan diungkit lagi ya. Yang penting sekarang Septi sudah menyesal dan bertobat."
"Tapi Ibu sangat malu, Neng. Udah jelas Septi jahat, kenapa pula harus ditanggung biaya pengobatan rumah sakitnya. Harusnya dibiarin aja sampe mati."
Puput menggeleng tidak setuju. "Sstt, Ibu tidak boleh bicara begitu. Septi harus sembuh biar bisa memperbaiki diri. Menjadi anak yang berbakti pada ibunya. Menjadi ibu yang baik untuk anaknya."
Rama menjadi pendengar percakapan Puput dan tamunya itu. Senyum kecil menghias wajah dengan sorot kekaguman. Bangga pada sikap lembut sang istri yang bisa menasihati tamu hingga tenang. Kagum pada jiwa besar istrinya itu yang malah membantu orang yang sudah menyakitinya.
"Septi juga berjasa untuk aku, Bu. Darinya aku bisa tahu dimana suami aku disekap. Jadi wajar aku membalas kebaikannya dengan mengobati sakitnya Septi. Itu cara kami membalas kebaikan orang." Puput menatap Rama di akhir kalimat diiringi senyum. Teringat sikap suaminya yang memberi hadiah kepada Kang Acil dan tim kemarin. Dibalas Rama dengan mengedipkan sebelah mata.
Hampir satu jam percakapan ringan itu berlangsung. Saat Ibunya Septi pamit pulang, Puput meminta Via menemani tamunya untuk makan di Dapoer Ibu. Awalnya sang tamu menolak karena sungkan meski perut memang keroncongan. Namun kepolosan Nabila yang merajuk ingin makan, membuatnya tak lagi menolak.
Rama memanggil Ami setelah tamu keluar. Si bungsu yang tengah bermai ponsel di ruang tengah segera datang diiringi Aul yang ikut duduk di samping Ibu.
"Ami libur berapa har?"
"Dua hari, Kak. Besok sore udah harus masuk pesantren lagi." Ami menggelayut di lengan kiri Ibu.
Bersamaan dengan ucap salam dari Zaky yang baru pulang sekolah. Ia bergabung setelah menyalami semuanya. Kecuali pada Ami yang mencium tangannya dan dihadiahi menggetok pelan kening adiknya itu.
"Mumpung libur, refreshing dulu, mau? Mau ke mall atau kemana? pergi bertiga sama Aul dan Zaky. Malam mingguan pasti rame." Rama mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya.
"Iyes. Aku mau ke AP ya, Kak. Sama teh Aul aja. Jangan ajak A' Zaky. Dia mah suka nggak sabaran ngajak buru-buru pulang." Ami berdiri dengan riang. Lalu beralih memeletkan lidah pada Zaky.
"Dih, lagian siapa yang mau ikut juga. Aa mah mau nobar di cafe sama temen." Zaky balik memeletkan lidah.
"Baguslah kalau begitu. Aku mau ngajak fans, ah. Soalnya kalau dibonceng mah pegel, kena debu juga. Terus gimana kalo ujan, kan nggak seru. Wajah cantikku bisa luntur." Ujar Ami penuh percaya diri. Lalu mengutak-ngatik ponselnya dengan riang.
"Ih amit-amit ih, adiknya siapa kamu tuh." Zaky bergidik sebal karena sikap narsis Ami.
Rama mentertawakan dua orang adik iparnya itu yang paling sering ribut meski tidak pernah berujung pertengkaran.
"Ini cukup nggak buat berdua. Soalnya Kakak nggak pegang uang cash banyak." Rama menyerahkan uang 600 ribu pada Aul. Yang dijawab Aul dengan ucapan terima kasih.
"Ini buat Zaky yang mau nobar." Sisa uang 250 ribu diserahkan pada Zaky yang menerima dengan senang dan ucapan terima kasih.
"Yes. Aku udah update status. Siapa yang pertama kali menghubungi berarti dia driver nya yang akan mengantar aku dan teh Aul." Ami berjoget-joget ria.
Aul sontak memicingkan mata. Merasa curiga. "Ami update apa? Awas lho jangan jual Teteh!" Aul mengarahkan telunjuknya dengan tatapan tajam. Ia lantas meminta Zaky melihat status Ami karena ponsel miliknya tengah diisi daya.
__ADS_1