Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
93. Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

"Maaf, apa boleh tau nama kamu? Siapa tau nanti ketemu lagi di lain tempat. Jadi nggak bingung menyapa." Sesopan mungkin Andreas meminta.


Puput mengangguk dam tersenyum tipis. "Nama saya...." Ponsel di tangannya berdering. Membuat fokusnya beralih pada nama yang tertera di layar.


Puput memberi isyarat mau menerima telpon dulu dengan berdiri dan berjalan sedikit menjauh. Andreas menganggukkan kepala.


Pria bermata sipit itu tidak berniat mencuri dengar percakapan wanita cantik yang belum diketahui namanya itu. Namun ada kalimat yang terucap, mampir di telinganya.


"Enin udah tiga jam di dalam."


"Nggak bosen kok, Mami. Ini lagi duduk di taman."


"Ada. Semalam juga vc an sama Aa."


Dan Andreas tak lagi mendengar ucapan selanjutnya karena ponselnya berdering. Ia pun menggeser tombol hijau untuk menjawab. Percakapan di ponselnya berakhir bersamaan dengan Puput yang duduk lagi di kursinya.


"Nama saya Putri. Tapi lebih akrab di panggil Puput." Puput melanjutkan ucapan yang terjeda tadi. "Aduh, maaf ya saya harus kembali ke dalam. Adik saya nyariin." Ia mengatupkan tangan dan terburu-buru pergi setelah membaca pesan dari Aul.


Andreas yang baru membuka mulut berniat mau meminta nomor kontak, mengatup kecewa karena Puput melangkah cepat tanpa menoleh lagi. Hanya bisa menghela nafas.


Cewek seperti dia langka. Harga dirinya tinggi. Biasanya cewek lain akan agresif pengen kenal dekat denganku. Ini malah aku yang mengejarnya. Astaga, ada apa dengan hati...


Andreas tertawa sumbang diiringi gelengan kepala. Sepasang matanya terus menatap punggung wanita berjilbab pink yang berjalan semakin menjauh dan menghilang masuk ke dalam lift.


Puput masuk ke ruang tunggu khusus keluarga itu. Nampak Aul tengah duduk di kursi pijat dengan mata terpejam menikmati pijatan elektrik itu.


"Aul, ada urgent apa sih?" Puput mendekat dengan raut penuh tanya akan maksud isi pesan dari adiknya itu yang berbunyi, "Teh, buruan kesini, urgent!"


Aul membuka mata dan menoleh ke arah meja. "Tuh, ada yang ngirim zuppa mumpung masih hangat. Kalau dimakan dingin kurang enak." ujarnya santai.


"Hais, kirain ada masalah dengan Enin. Aku sampe ninggalin orang yang ngajak ngobrol buru-buru." Puput menjitak kepala Aul lalu beralih duduk di sofa. Terdengar tawa tanpa dosa adiknya itu.


MCU Enin selesai jam tiga sore. Pemeriksaan kesehatan yang rutin dilakukan tiap setahun sekali atas permintaan Ratna dan Krisna. Sebagai bagian dari upaya tetap sehat sampai hari tua. Dan laporan hasil pemeriksaan akan di berikan lewat email kepada Ratna.


"Puput, Aul, kalian kalau mau main dulu pergi aja sama Panji. Jalan-jalan malam mingguan. Besok kita pulang...." Ujar Enin begitu sampai di rumah dan disambut Panji di ambang pintu.


"Iya. Nanti kita hangout dulu. Mumpung lagi di Bandung nih." Panji pun semangat menyetujui.


"Enin juga ikut dong. Kita kulineran yuk, Nin!" Puput menoleh pada sepuh yang digandengnya itu. Sudah lama tidak melancong ke Bandung setelah lulus kuliah. Ingin de javu. Dan hal yang dirindukan adalah wisata kulinernya.


"Ah udah tua mah lihat yang rame-rame suka pusing, nggak betah. Mending di rumah aja nonton tv. Sana aja yang muda-muda main sampe puas." Penolakan Enin membuat Puput dan Aul terkekeh.


Senja yang cerah dengan semburat jingga yang menghiasi cakrawala. Pemandangan indah itu bisa dilihat dari kursi taman tempat Aulia duduk. Ia memilih keluar menghirup udara sore usai mandi. Kalau Puput menemani Enin minum teh sambil bersantai di teras belakang menghadap kolam renang.


"Sini biar aku yang fotoin!"


Aul baru menyadari kedatangan Panji saat ia tengah asyik melakukan selfie. Keindahan taman yang terawat beserta kolam kecil dengan percikan air mancur, menggoda gadis itu untuk berfoto dengan berbagai pose.


"Udah kok." Aul menggeleng dengan wajah bersemu merah karena malu terciduk oleh Panji.


"Barusan kan selfie. Sekarang aku yang fotoin." Mau tidak mau Aul menurut karena ponselnya sudah diambil alih Panji. Membuatnya bingung dan canggung untuk bergaya.


Namun siapa sangka saat Aul berdiri mematung dengan wajah bingung, menjadi angel yang pas dibidik Panji. Dan hasilnya terlihat natural. Hingga Aul bisa berubah santai dan Panji memfotonya sampai 4 kali bidikan.


"Sekarang foto berdua ya!" Panji mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Tanpa menunggu persetujuan Aul, ia melakulan selfie sambil berdiri juga duduk di kursi taman. "Makasih ya." Tak bisa disembunyikan raut senangnya saat bisa berfoto berdua dengan gadis yang disukainya itu.


"Aul."

__ADS_1


"Ya?" Aul menoleh menatap pada Panji yang duduk di ujung kursi yang sama.


"Hm, apa sudah bisa jawab sekarang? Aku nggak sabar pengen dengar." Panji balas menatap dengan sorot mata serius.


Aul meluruskan pandangan ke depan. Menata perasaan yang mendadak gelisah. Ia menghela nafas sebelum berucap. "Karena Kak Panji bertanya, baik aku jawab sekarang." ujarnya tersenyum tipis.


Panji mengangguk dengan wajah yang terlihat tenang. Lebih tepatnya berusaha tenang padahal dadanya tegang dan deg degan.


"Kak, kuliahku baru masuk semester 4. Aku ingin fokus selesaikan kuliah dulu. Belum kepikiran untuk berpacaran. Nanti setelah lulus kuliah dan setelah mantap ingin menikah, baru aku akan membuka hati menjalin hubungan serius dengan cowok." Aul menatap Panji dengan perasaan tidak enak. Khawatir setelah ini berbuah kecanggungan mengingat akan sering ketemu karena hubungan keluarga.


"Jadi kamu menolakku?" Panji ingin menegaskan.


"Bukan hanya Kak Panji yang aku tolak. Tapi juga cowok lainpun sama. Serius Kak, aku ingin fokus dengan study sambil mengembangkan Dapoer Ibu. Tidak mau terbebani dengan hubungan asmara yang dibumbui rindu dan cemburu. Aku ingin bebas dan enjoy berteman dengan siapapun tanpa melibatkan hati. Maafin aku ya, Kak...." Aul memgatupkan tangan dengan wajah berubah resah. Karena penolakannya dilakukan di rumah yang didiami Panji. Yang mana semalam lagi ia akan menginap. Pikirannya berprasangka pada kemungkinan pria yang tengah kuliah S2 itu akan berubah tak ramah.


"Oke, aku mengerti." Panji mengulas senyum dan mengangguk. "Tapi ijinkan aku jadi teman kamu, bahkan pengen jadi sahabat kamu. Lagian kita kan keluarga, juga kuliah jurusan yang sama. Jadi kalau butuh teman diskusi atau bimbingan, aku bisa bantu kamu." Ia mengangkat jari kelingkingnya. Menatap Aul penuh senyum dan sorot meminta persetujuan.


Aul menghela nafas lega. Apa yang dikhawatirkannya tidak terbukti. "Deal." Ia menautkan jari kelingkingnya. Dan keduanya pun tertawa bersama.


...***...


Tujuan hangout malam minggu ini adalah ke tempat wisata kuliner. Panji menuruti permintaan Puput yang ingin berjalan kaki di kawasana Sudirman street dan Cibadak Street. Tidak mudah mencari tempat parkir di saat malam minggu cerah ini. Karena banyak orang yang satu tujuan menuju pusat kuliner kaki lima legendaris itu.


"Teh, apa dulu sering ke sini?" Ujar Panji saat mobil mendapatkan tempat parkir.


"Iya waktu kuliah. Malmingan bareng teman-teman ke sini. Jalan-jalannya semua sudut diubek, jajannya paling 50 ribu. Yah....maklum anak kos. Besoknya kaki pegal-pegal, tapi seru." Puput terkekeh mengenang masa menjadi mahasiswa yang harus berhemat.


"Kalau aku belum pernah. Nggak pernah diajak Teteh sih." Aul mengerucutkan bibir sambil membuka sabuk pengamannya. "Kalau ada perlu ke Bandung paling mampir nongkrong di Braga aja."


Panji tertawa. "Ya udah sekarang puas-puasin. Cobain semua jajanan tapi jangan salah pilih menu. Di sini ada menu halal dan non halal. Harus jeli baca spanduk jangan asal masuk tenda."


Mereka mulai berjalan kaki menyusuri Cibadak Street. Suasana malam yang meriah bak pasar malam lengkap dengan lampion warna warni. Tak lupa berswafoto untuk kenang-kenangan. Selain itu Puput ingin mengirimkannya pula pada Rama.


Puas melihat-melihat, barulah mereka memasuki tenda warung soto yang legendaris untuk mengisi perut yang kosong. Suasana yang ramai jelas membuat pengunjung tidak bisa bersantai lama. Memberi kesempatan orang lain yang mengantri.


"Panji, Aul, sebentar tunggu dulu di sini ya! Aku ada perlu dulu ke sana." Puput menunjuk ke arah depan. Panji dan Aul mengangguk dan memilih duduk di kursi sambil menunggu banana nugget yang dipesannya.


Langkah Puput pasti menuju emperan toko yang remang pencahayaan. Sejak tadi berjalan kaki, ia mengamati tidak semua gerai pedagang ramai pengunjung.


"Mang, kacangnya 1. Berapa?" Puput mengambil kacang rebus yang sudah terbungkus pincuk kertas.


"Lima ribu, Neng." Kakek tua yang berdagang kacang rebus itu nampak semringah karena mendapat pembeli. "Uang kecil aja, Neng. Belum ada kembalian. Baru penglaris."


Puput yang menyerahkan uang 100ribu, coba merogoh isi tasnya mencari recehan. "Pak, ini bayar 5 ribu. Yang 100 nya buat Bapak." Ia segera berlalu meninggalkan bapak tua yang melongo dan berkaca-kaca memegang uang 105 ribu.


Hal yang sama ia lakukan pada pedagang di emperan lainnya yang tampak sepi pembeli dan sudah sepuh.


"Wow. Luar biasa. Proud of you!"


Puput menoleh pada asal suara, usai membeli dan memberi pada pedagang cilok.


"Eh, Koko Andreas? Kok bisa ada di sini?" Kali ini Puput tidak lupa pada pria sipit itu karena masih hangat pertemuan tadi siang di rumah sakit.


"Aku nganter Mami pengen makan swike. Aku langsung keluar tenda karena mata ini terhipnotis pada sikap wanita cantik yang sedang berbagi rejeki. Luar biasa!" Andreas tulus memuji dengan acungan dua jempol. "Kenapa kita terus bertemu tanpa sengaja ya?" sambungnya terkekeh sambil berdiri menepi karena menghalangi lalu lalang orang.


Puput mengangkat bahu diiringi senyum simpul.


"Putri, kamu memang wanita istimewa. Cantik wajah dan hatinya. Aku kagum." Terang-terangan Andreas memberi pujian lagi dengan senyum merekah. Bukan bualan tapi penuh ketulusan.

__ADS_1


"Ini adalah sedekah suami aku. Dia lagi di luar negeri karena bisnisnya sedang ada masalah. Dan aku lagi merayu Allah dengan do'a dan sedekah. Berharap segala urusan suamiku dilancarkan dan segera kembali pulang."


Senyum lebar Andreas yang memperlihatkan susunan gigi putihnya, perlahan mengendur seiring raut wajah yang mendadak pias.


"Maaf ya, Koko. Adik dan adik ipar aku menunggu di sana. Aku duluan ya!" Puput tersenyum dan mengangguk meninggalkan Andreas.


...***...


Andreas Chong.


Pria tampan etnis Tionghoa itu masih terpaku di tempatnya. Merasakan dada yang sesak dan sakit seolah terhantam palu godam.


Beginikah rasanya layu sebelum berkembang?


Ia mengurut dada kirinya dengan meringis. Asa ingin kenal lebih dekat pupus sudah. Menyisakan sakit dan sesak padahal baru berjumpa tiga kali. Dahsyat sekali pengaruh wanita berhijab itu. Keluhnya.


Usai mengantar pulang mami tercintanya itu, Andreas melajukan mini cooper warna orennya memasuki tol menuju Jakarta. Suasana hatinya kacau tak berbentuk. Ia sudah membuat janji menemui temannya meski malam kian larut. Sehingga menggeber mobil produk Inggris itu dengan kecepatan penuh.


"Ini hampir jam 12 malam. Lo tau, studio tutupnya jam 10. Gue harusnya dah ngorok di rumah." Sungut seorang pria pemilik studio tato yang membukakan pintu ruko untuk Andreas.


"Gue bayar lebih. Buruan kerja! Gue pengen gambar di dada." Andreas membuka kaos hitamnya sehingga bertelanjang dada. Tanpa disuruh, langsung duduk di kursi tempat pasien tato.


"Mau gambar apa?" Sang ahli tato mulai memakai sarung tangan karet dan mempersiapkan jarum serta peralatan lainnya.


"Itu udah dikirim!" Andreas mengirimkan gambar ke nomer temannya itu. Yang kemudian dibuka dan...


"Bhuahaha----" Tatto artist itu terbahak-bahak melihat gambar kiriman Andreas. "Lo nggak salah ngasih gambar? kartun cewek berhijab. Bhuahahaha." ia sampai memegang perut karena tawanya yang meledak.


Andreas mendelik menyempurnakan wajahnya yang kusut. "Eh lo nggak boleh melecehkan cewek berhijab ya!" Hardiknya marah.


Sang seniman tato menghentikan tawanya. "Bukan melecehkan, bro. Gue gini-gini juga KTP Islam. Lucu aja, kenapa gambar itu? Kenapa nggak bo kong nya Kim Kadarsian, misal." Ia masih menahan geli melihat wajah Andreas yang ditekuk.


"Bacot lo, ah. Buruan kerjakan!" Andreas memejamkan mata. Ia sejujurnya takut melihat jarum yang ada di meja itu. Namun rasa prustasi membawanya lari ke studio itu.


"Ck. Anak Mami bisa kasar juga. Tunggu-tunggu! Apa lo lagi patah hati? Lo ditolak cewek berhijab? Bener kan dugaan gue?"


Andreas membuka mata dengan wajah memerah menahan marah. "An jing, malah ngebacot lagi. Lo bikin mood gue makin rusak. Udah aja gak jadi!" Ia turun dari kursi. Menyambar bajunya dan berlalu pergi.


"Woy! Lo lagi M ya! Cowok kok sensi. Hahaha---"


Andreas mendengar teriakan ejekan temannya itu. Ia abai. Masuk lagi ke mobilnya dan mengacak-ngacak rambut sambil memekik kesal. Kacau? Iya. Suasana hatinya benar-benar kacau.


Ponselnya berdering nyaring. Menyadarkan Andreas yang tengah memejamkan mata dengan bersandar. Ia sedang mencoba menenangkan diri. Menata perasaan yang berantakan karena kalah sebelum berperang.


"Dre, Lo di Bandung or Jakarta?"


"Jakarta. Napa?" Jawab Andreas tak bersemangat.


"Pas. Ada undangan buat lo. Si Helena ngadain birthday party midnite. Ditunggu di SemriWing sekarang!"


"Otewe!" ujar Andreas tanpa pikir panjang. Ia melempar ponselnya ke jok samping. Mobilnya meraung membelah jalanan ibukota yang selalu hidup 24 jam.


...****************...


Besties,


Ingatlah sepenggal kisah Andreas ini di memori. Karena akan menjadi awal perjalanan story Andreas Chong di next novel.

__ADS_1


__ADS_2