
Ami memperhatikan dua orang yang duduk di jok depan. Pemuda tampan yang menyetir juga kakaknya, Aul. Tidak ada percakapan selama mobil melaju menyusuri jalan kampung sampai sekarang hendak berbelok ke jalan nasional. Membuat anak periang itu melipat kedua tangan di dada dengan bibir dimajukan. Kedua alis bertaut seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Kakak ganteng, namanya siapa sih?! Kita belum kenalan lho. Tapi udah salaman tadi." Ami memecah kebisuan di dalam mobil yang wangi pengharum aroma coffee latte.
Panji melirik penumpang cilik di belakangnya dari rear vision mirror sambil terkekeh. Setelah dari tadi memikirkan topik pembicaraan yang pas, kini pertanyaan dari Ami memberi jalan.
"Aku dulu deh. Kenalin yang cantik dan imut ini namanya Rahmi Ramadhania. Anak bungsu dari empat bersaudara. Panggil saja Ami." Dengan percaya diri yang tinggi, Ami memperkenalkan dirinya. Lain halnya Aul yang mulai waspada menjadi pendengar. Sudah tahu dengan sifat si bungsu yang pintar membuat modus.
Lagi, gaya berkenalan Ami membuat Panji terkekeh. Merasa terhibur di tengah kebisuan dan perjalanan yang lengang itu.
"Nama aku Panji Syahreza. Panggil saja Kak Panji. Kalau Ami kelas berapa sekolahnya?"
"Wow namanya bagus, Kak." Ami bertepuk tangan. "Aku kelas 6 SD otewe ke SMP mau mondok di pesantren. Kak Panji udah kenalan sama teh Aul belum?!" sambungnya sambil menimang-nimang tas selempang mungil warna pink yang menggembung karena berisi banyak amplop THR.
"Udah kenalan tapi belum tahu apa teh Aul ini masih kuliah atau udah kerja." Panji menoleh sekilas terhadap Aul yang sama sekali belum bercicit selama perjalanan itu.
"Tuh....Teteh ayo jawab! Jangan malu-malu." Ami mencolek bahu Aul.
Aul menoleh ke belakang dengan mata melotot dan menggeleng kecil. Kode agar Ami jangan banyak bicara. Tapi dibalas Ami hanya dengan menaik turunkan alis sambil senyum-senyum.
"Aku masih kuliah." Tak urung Aul menjawab pendek.
"Kuliah dimana? Prodi apa?!" Panji menoleh sekilas. Ia menurunkan kecepatan agar bisa tidak cepat sampai ke tujuan.
"Di Unsil. Ekonomi manajemen." Aul tetap menatap lurus jalanan, sesekali menoleh ke kaca samping kiri memperhatikan pesawahan dan rumah-rumah yang dilalui. Ia terbiasa bersikap seperlunya terhadap laki-laki yang baru dikenalnya.
"Nah gitu....speak-speak. Jangan pada diem kayak di bioskop aja." Ami menimpali sambil duduk santai melipat kedua tangan di dada. Silih berganti memperhatikan orang dewasa di jok depan, Panji dan Aul.
"Ha ha ha----" Panji tergelak. Baru pertama kali baginya bertemu anak kecil yang ceriwis dan komedian seperti Ami.
"Ami, diem!" Aul menolehkan badan ke belakang sambil memasang telunjuk di depan bibirnya.
"Gak papa. Adikmu itu menghibur banget." sahut Panji masih menyisakan tawa kecil.
"Tuh denger kan, Teh." Pembelaan Panji membuat Ami merasa berada di atas angin. Senyumnya merekah penuh kemenangan.
"By the way, kok bisa sama ya prodinya. Aku lagi lanjutin kuliah S2 di Unpad, baru semester dua."
"Wah cocok...berarti jodoh tuh, Kak." Ami menyambar menanggapi sambil mengancungkan kedua jempol. Membuat Aul menoleh ke belakang lagi, menegurnya. Panji terkekeh saja menanggapinya.
"Pasti menyenangkan ya kalau speak-speak sama Ami. Bikin ketawa terus." Panji melirik lagi penumpang di belakangnya dengan wajah riang. Mengikuti bahasa gaul Ami.
"Ami gitu loh. Kak Rama aja yang pacarnya Teh Puput sampe jatuh cinta sama aku. Suka ngasih oleh-oleh, uang jajan, baju leb......"
"Ami----" Aul menoleh lagi ke belakang. Memotong ucapan sang adik sambil menggelengkan kepala dan menatap tajam.
"Gak papa lanjutin lagi, Mi. Seru dengernya." Ami tersenyum lebar mendapat pembelaan dari sang pemilik mobil.
"Iya itu...Kak Rama tambah ngasih baju lebaran sebagai kado ultah aku. Kan aku lahirnya 17 ramadhan. Alhamdulillah...sama dengan nuzulul qur'an. Oh terus Kak Rama juga ngasih THR, Enin juga, Kak Cia juga. Dari Kak Rama paling gede isinya-----"
"AMI! Gak usah disebutin juga isinya." Aul mulai menegur dengan nada marah dan wajah memberengut. Merasa malu dengan cerocosan sang adik di depan orang yang baru saja dikenalnya.
"Eh iya lupa, maaf. Kalau disebutin nanti Teh Aul bisa-bisa minjem." Ami bukannya takut dengan kemarahan sang kakak, malah sengaja menanggapi dengan santai dan candaan.
__ADS_1
Panji terkekeh menyaksikan tingkah kakak beradik, terutama Ami yang kini menggelitik pinggang Aul yang wajahnya tengah ditekuk agar kembali tersenyum. Hingga tak terasa mobil sudah sampai di rumah tujuan
"Kak Panji...makasih ya udah dianter." Ujar Ami sambil mengulurkan tangan untuk menyalami. Senyum cerah ceria terukir di wajahnya karena melihat para sepupu seusianya ada di teras.
"Sama-sama, Ami." Panji terkesan saat Ami mencium punggung tangannya. "Sebantar...Ini THR buat Ami...gak papa ya gak pake amplop." Panji mencabut 3 lembar uang 50 ribuan dari dompetnya.
"Alhamdulillah...rejeki anak sholeha. Makasih lagi, Kak." Ami membelalakkan mata saat menerima uang kertas yang wangi uang baru itu. "Kak Panji, kapan-kapan main ya ke rumah. Ketemu aku sama Teh Aul lagi." sambungnya sebelum menutup pintu mobil.
"Ami ayo buruan ah!" Aul menarik lengan Ami agar tidak terus-terusan berbicara. Meminta izin kepada Panji untuk menitipkan dulu sang adik kepada pamannya. Ia pun menerima titipan tas milik Ami yang takut hilang isinya. Hanya mengantongi satu amplop untuk bekal jajan.
Aul tidak lama kembali lagi ke dalam mobil. Mengajak Panji berangkat lagi kembali ke rumah Enin. "Maafin sikap adik aku ya, Kak. Pasti kaget ya. Dia mah gitu anaknya," ujarnya saat mobil mulai melaju. Merasa tidak enak hati terhadap Panji.
"Aku malah seneng. Pasti seru ya...di rumah tiap hari rame. Beda sama aku yang anak tunggal. Broken home juga. Mana tinggal sendirian lagi di Bandung."
Aul diam menyimak. Dalam hati timbul rasa bersyukur memiliki banyak saudara meski Ayah sudah tiada. Meski keadaan ekonomi biasa saja.
"Jadi...aku diizinin ya main ke rumah?!" Panji menoleh sekilas dengan kedua sudut bibir tertarik. Membuyarkan Aul yang tengah termenung.
"Kan tadi Ami udah ngundang." Aul menoleh pula sekilas. Menangkap senyum lebar terbit di wajah tampan pemuda bernama Panji itu.
...***...
Mami Ratna dan Ibu Sekar bergabung lagi di gelaran karpet empuk dengan yang lainnya, setelah percakapan empat mata berlangsung cukup lama di teras belakang. Keduanya duduk berdampingan. Wajah Mami Ratna kentara cerah ceria. Wajah Ibu Sekar nampak tenang berhias senyum tipis.
"Mami keliatan happy banget. Kayak abis dapat arisan." Cia menggoda maminya yang tengah menawarkan buah-buahan kepada Puput agar dimakan.
"Bukan lagi dapat arisan. Tapi dapat jackpot." Mami Ratna mengupas jeruk santang yang ukurannya mungil namun manis. Beralih memperhatikan Rama yang mencondongkan badan tengah bicara pelan terhadap Puput. Entah apa yang dibicarakan. Namun raut wajah Puput nampak menyimak serius.
"Ini lagi! Gak boleh woy bicara bisik-bisik saat berkumpul tiga orang atau lebih." Cia menegur Rama dan Puput yang duduk berdampingan di sebrangnya. Melemparkan jeruk santang yang ditangkap Rama dengan sigap.
"Idih dibilang anak kecil, katanya." Cia tersenyum mengejek. "Aku udah punya calon imam. Kalah sama Kakak yang...." menggantungkan ucapan sambil memeletkan lidah. Mengejek sang kakak yang lagi dalam misi melancarkan trik terbaru.
"Tuh kan panjang umur. Adit telpon." Cia memekik girang. Tidak melanjutkan aksi meledek sang kakak. Nama Aditya tertera di layar. Ia pun permisi meninggalkan kumpulan orang.
Sudah pukul lima sore masih berada di rumah Enin. Mami Ratna menahan keluarga Puput agar jangan dulu pulang. Hanya tiga orang yang tersisa. Zaky sudah pulang setengah jam yang lalu karena akan ada teman-temannya bertamu ke rumah.
"Nanti aja pulangnya abis magrib. Kita makan bersama dulu. Plis ya Bu Sekar....jangan nolak!" Pinta Mami Ratna merayu ibunya Puput dengan wajah memelas. "Kapan lagi bisa kumpul bareng....saya keburu pulang lagi ke Jakarta."
"Baiklah...tapi saya ikut bantu masak ya. Gak mau cuma makan aja." Ibu Sekar mengalah. Ia dan Mami Ratna beranjak ke dapur. Puput dan Aul yang mau ikut dicegah oleh Enin.
"Panji sama Aul tolong beliin susu Anl*** rasa vanila yang ukuran 900 gram. Enin lupa nyetok buat malam gak ada. Pokoknya cari aja minimarket yang buka ya!"
"Siap, Enin. Biar uangnya dari Panji aja." Panji menolak uang yang diangsurkan sang nenek. Beralih menatap Aul. "Ayo, Aul. Aku gak tahu belinya dimana. Mana ukuran besar lagi mintanya. Harus sesuai."
Aul yang bimbang, mau gak mau mengalah setelah Enin kembali bersuara memintanya membersamai Panji.
"Aku ke dapur aja ya, Nin?!" Pinta Puput melihat sang adik yang berlalu keluar rumah. Tinggal ia seorang bersama Rama. Cia belum muncul lagi sejak dapat telpon dari Adit.
"Sudah....biar yang tua-tua aja yang di dapur mah." Tolak Enin. Ia tidak kerepotan meski ditinggal asisten rumah tangga yang mudik. Ada dua anak perempuannya yang masak. Ada tetangga yang bisa dipanggil membantu pekerjaan rumah.
"Rama, sana ajak Puput ngobrol di luar biar gak bosen!" Enin mengibaskan tangan mengusir keduanya.
"Ibu sengaja ya?!" Krisna yang selalu mendampingi Enin selama acara open house sampai sore ini pun, memicingkan mata menatap mertuanya. Ia sudah kembali menjadi menantu yang hangat seperti dulu lagi. Tak lagi menghindar menjaga jarak.
__ADS_1
"Mereka harus diberi kesempatan untuk dekat. Ibu lihat Panji juga ada tertarik sama Aul. Baguslah kalau sampe jadi punya cucu mantu kakak beradik." sahut Enin diiringi tatapan menerawang dalam binar bahagia. Krisna tersenyum simpul melihat wajah sang mertua kentara aura keriaan.
Di kala senja cerah cuaca, bentangan panjang hutan gunung sawal akan menyuguhkan panorama apik dan epik. Semburat jingga melengkung indah di atas cakrawala. Kepakan burung ****** berwarna putih melintasinya. Bergerak bergerombol naik dan menukik bagaikan atraksi akrobatik. Lalu bermigrasi entah ke mana lagi.
"Put, sini deh. Aku mau tunjukkin tempat nostalgia." Rama menyudahi acara menatap panorama senja dari kursi teras. Mengajak berpindah tempat ke samping kanan rumah.
"Ini dia---" Rama menunjuk tangga kayu yang diatasnya ada bangunan rumah-rumahan berukuran 1,5 m x 1,5 m.
"Ini tempat apa, Kak?!" Puput menatap dengan mimik penasaran bangunan rumah-rumahan serba kayu jati setinggi hampir 5 meter yang nampak bersih dan terawat itu.
"Waktu SD aku dipaksa Mami sekolah di sini. Katanya selain sekolah, biar pandai mengaji juga. Kalau di Jakarta, sekolah yang dekat itu sekolah swasta non muslim. Mami khawatir dengan pergaulan kalau tidak dibekali dulu ilmu agama."
"Aku nolak bahkan nangis kejer saat sampai di sini. Almarhum kakek ngebujuk aku, dijanjiin akan dibuatin rumah pohon seperti di film My Heart. Akhirnya aku luluh. Rumah pohon ini selesai dalam waktu 2 minggu. Tiap hari aku betah tinggal di sini. Ditemani si Yuko, kucing persia putih. Lulus SD baru aku pindah lagi ke Jakarta. Rumah pohon ini tetap dirawat karena aku datangnya jarang, kalau libur sekolah panjang. Sama Mang Jaja dijadiin mushola biar terawat terus, katanya."
Puput menyimak cerita sampai akhir dengan fokus dan seksama.
"Pohonnya ditebang ya?!" sahut Puput menduga. Melihat ada tunggul pohon di di belakang tangga.
"Iya. itu pohon kersen umurnya udah tua. Sebelum aku lahir udah ada. Karena udah lapuk sebagian, 10 tahun yang lalu ditebang. Khawatir roboh menimpa rumah."
"Naik, yuk! Kamu akan lihat pemandangan yang amazing dari atas sana." ajak Rama yang sudah berganti pakaian kaos santai.
Puput menggeleng. "Aku masih pakai gaun. Ribet ah. Kak Rama sih enak dah mandi dah ganti baju santai." ujarnya menolak.
"Gak papa, aku pegangin." Rama menaiki tangga 5 titian lebih dulu dengan membuka alas kaki. Mengulurkan tangan agar Puput memegangnya.
Meski berulang kali menolak, Rama keukeuh mengulurkan tangan. "Ayo, Putri Kirana. Kesempatan tidak datang dua kali lho." ujarnya membujuk dengan lembut dan sabar menunggu hampir 10 menit lamanya.
Puput luluh. Uluran tangan bersambut. Menuntunnya sampai atas karena tangga tersebut tidak memiliki pegangan di kedua sisinya. Sampai diatas, nampak di dalamnya karpet tergelar berikut ada sajadah terlipat. Bangunan setinggi 2 meter itu menjadi terang setelah Rama menyalakan lampu.
"Aku sering ketiduran di sini. Tahu-tahu pas bangun udah ada di kamar. Gak sadar digendong mang Jaja saking pulasnya." Rama terkekeh mengenang nostalgia.
Puput masih mengedarkan pandangan menyapu seisi ruangan. Ada foto bocah SD tergantung dengan seragam merah putih dan dasi yang miring. Membuatnya tertawa.
"Ada yang lucu apa?!" Rama tidak tahu apa yang menjadi obyek yang membuat Puput tertawa. Karena ia tengah membuka dua jendela. Wusss...terpaan angin sejuk masuk ke dalam bangunan rumah mini itu.
"Itu....ternyata boss RPA waktu kecilnya culun." Tunjuk Puput ke arah pigura sambil terkikik.
Rama mengikuti arah telunjuk Puput. Tersenyum simpul.
"Pindah sini!" Perintah Rama mengajak Puput yang masih duduk di ambang pintu.
Puput menuruti intruksi Rama. Duduk bersimpuh didepan jendela kanan dengan kedua tangan dilipat bertumpu pada kusen jendela. Sementara Rama di sebelah kananya.
"Masyaa Allah indahnya----" Puput menatap takjub pemandangan yang tersaji di depan mata. Indahnya pesawahan yang hijau dan gunung syawal dilihat dari ketinggian.
"Sekarang pejamkan mata. Rasakan hembusan angin yang menerpa wajahmu. Rasakan relaksasi yang timbul.
Puput menuruti. Hening 5 menit lamanya.
"Rileks....jika Titanic ada Jack and Rose. Rumah pohon ada Rama and Putri." suara bariton itu terdengar penuh perasaan. Serasa begitu dekat, bahkan hembusan nafas mint nya menerpa pipi kiri. Puput merasakan darahnya berdesir dengan kedua pipi yang memanas. Bukan ketenangan yang didapat, tapi gugup...
...***...
__ADS_1
Readers pada ikutan bergetar kayaknya.... ๐คฃ
Sawerannya kendor nih. Yuk ah gaskeun lagi....๐นโ