Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
101. Dilema Isi Surat


__ADS_3

Mata Puput membulat sempurna. Diulang lagi tulisan tangan bertinta hitam itu untuk meyakinkan tidak salah baca. Beralih mendongak menatap adik laki-laki satu-satunya itu.


"Zaky, dapat surat ini dari mana?" Kertas yang dipegang Puput beralih diambil Aul yang juga penasaran ingin membaca.


"Nggak tau, Teh. Tadi aku nunggu ojol di bawah. Pas datang aku tengok atasnya aja tapi nggak liat ada amplop." Zaky menggeleng sambil mengingat-ngingat lagi.


"Teh, kira-kira ini bener apa jebakan?" Aul berkata pelan dengan raut tegang.


"Teteh juga belum tahu. Tapi bisa aja ada member di grup SILATurahmi yang munafik, berkhianat, demi duit." Entah mengapa kecurigaan Puput menjadi menguat dengan adanya surat kaleng itu. Ia mengingat nama-nama silent readers yang ditandainya.


"Zaky, ingat-ingat! Tadi dari bawah sampai sini berpapasan dengan orang yang mencurigakan tidak?!" Puput kembali memusatkan perhatian pada Zaky. Suaranya lebih pelan agar tidak membangunkan ibu yamg sedang tidur.


Zaky menautkan kedua alis. Pelajar yang masih memakai seragam batik SMK itu sedang merunut reka adegan di kepalanya. "Tadi waktu berdiri depan lift, ada tiga orang yang nunggu. Pas lift kebuka, Ada dua orang yang keluar. Yang cewek kelihatan buru-buru sampe nabrak bahu aku. Apa mungkin dia ya, sengaja nabrak lalu masukin surat?"


"Masih ingat ciri-cirinya?" Puput memicingkan mata. Biasanya tubruk badan menjadi modus saat pencopetan. Bisa jadi ini pun cara orang itu memasukkan surat agar tidak disadari oleh yang ditubruknya.


"Nggak jelas. Wajahnya pakai masker. Setelah minta maaf, dia buru-buru jalan ke arah lobi. Rambutnya warna coklat sebahu."


"Teteh keluar dulu bentar!" Puput beranjak dari duduknya dengan tergesa. Informasi ciri fisik dari Zaky membuatnya penasaran. Ia berjalan menyusuri koridor lantai 4 menuju kaca jendela yang menghadap ke lobi. Membiarkan dua orang pria berjalan membuntutinya berjarak 5 meter.


Dari kaca lebar di lantai 4, Puput mengamati area halaman masuk rumah sakit serta jalan raya. Ia berdiri mengintip di sudut ruangan agar keberadaannya tidak terlihat dari luar. Yang mungkin saja orang itu sedang memperhatikan ke arah lantai 4.


Pandangannya kini terfokus pada kemiripan ciri fisik yang disebutkan Zaky. Pada sosok pengendara motor yang akan keluar area parkiran. Sayangnya, wajahnya tidak terlihat karena memakai helm.


Ayo! Kalau memang kamu orangnya...pasti akan nengok dulu ke arah lantai 4.


Puput mengunci pandangan pada motor yang mengantri menuju pintu keluar, dengan hati mensugesti. Harap-harap cemas dugaannya benar.


Benar saja, pemotor itu mendongakkan kepala yang terbungkus helm fullpace, sedikit memutar menatap arah lantai 4. Hanya sebentar. Motor itu melaju lancar keluar area rumah sakit.


Rambutnya....Motor Mio nya. Jangan-jangan...

__ADS_1


Puput mengeluarkan ponsel dari saku celana kulotnya. Dengan cepat menyentuh kontak sahabatnya.


"Puuttt, ada di mana? Aku tau kamu cewek kuat tapi aku pengen peluk kamu tau!" Belum juga menyapa. Via lebih dulu menyorobot dengan heboh dan antusias. Puput sampai harus menjauhkan dulu ponsel dari telinganya.


"Aku baru datang dari Jakarta. Sekarang ada di rumah sakit Tasik. Ibu kecelakaan."


"APPAA?! Innalillahi....kondisi Ibu gimana, Put?"


"BAKPIA! Bisa tidak jangan teriak. Kuping aku sakit tau." Puput menggeram dengan suara tertahan.


"Ya iyaaa...sorry. Abisnya kaget." Via terkekeh di sebrang sana.


"Ibu mengalami retak tangan kanan. Sama luka-luka di kaki." Puput menuju deretan kursi tunggu di depan kamar perawatan yang kosong. "Via, ada hal lain makanya aku telpon kamu. Tolong cari arsip lama yang ada tulisan tangan Septi. Aku butuh secepatnya, hari ini juga."


"Untuk apa, Put?"


"Aku belum bisa cerita sekarang. Tapi ini urgent! Tolong ya Via, fotoin kalau sudah ada."


...***...


"Angga, makasih ya udah nolongin Ibu." Puput tulus berterima kasih kepada temannya itu. Yang membalas dengan anggukkan dan senyum.


"Oh ya, ini kenalin Pak Bagja. Beliau yang nabrak Ibu Sekar dan siap bertanggungjawab membayar semua biaya perawatan. Urusan dengan driver ojol juga sudah selesai." Jelas Anggara memperkenalkan pria yang duduk di sampingnya.


Puput mengangguk sambil menangkupkan tangan di dada. "Saya Puput, putri pertamanya Ibu Sekar. Makasih untuk itikad baik bapak. Gini aja, karena saya yang memilih ruang VIP, Bapak bertanggung jawab untuk biaya perawatan dan obat saja. Sewa kamar biar dari saya." jelasnya.


Pria bernama Bagja itu tampak tercenung. Lalu beralih menatap lekat wajah pasien yang terbaring setengah duduk.


"Gimana, Pak?" Anggara membuyarkan kontak mata Pak Bagja yang tengah asyik menatap wajah Ibu Sekar.


"Hm, sebelumnya saya minta maaf. Kecelakaan yang menimpa Bu Sekar memang karena kesalahan saya. Tiba-tiba hilang konsentrasi karena ngantuk, jadinya nabrak. Soal kamar VIP, saya tidak keberatan kok. Pokoknya saya akan tanggung jawab 100%. Sampai kondisi Bu Sekar pulih seperti sedia kala."

__ADS_1


Berulang kali negosiasi pun, pria paruh baya yang posturnya seperti ahli olahraga itu keukeuh dengan pendiriannya. Mau sepenuhnya bertanggung jawab. Puput pun akhirnya mengalah setuju. Usai kesepakatan kekeluargaan itu, sang tamu pamit pergi.


"Siapa yang mau nemenin Ibu malam ini?" Puput bertanya pada Zaky dan Aul yang duduk di sofa. Anggara juga belum beranjak pulang. "Kalau Teteh nggak bisa jaga malam ini, paling besok."


"Aku aja. Besok libur kuliah. Tadi udah belanja stok bahan masakan Dapoer Ibu. Untuk 3 hari dah aman."


"Aku juga mau nginep di sini. Tapi mau pulang dulu bawa baju ganti." Ucap Zaky memilih akan berangkat sekolah besok pagi dari rumah sakit.


"Angga, nitip dulu Aul ya. Kita mau pulang dulu. Nanti Zaky balik lagi ke sini abis magrib." Puput meyakini jika Anggara pria yang bisa dipercaya menemani Aul. Ia harus pulang karena sudah membuat janji bertemu dengan Kang Acil dan Kang Aris setelah magrib.


"Santai aja, Put. Aku udah free tugas. Tenang....Aul aman sama aku." Anggara tersenyum menatap Aul.


Melihat kondisi Ibu yang stabil, Puput merasa tenang meninggalkan ibunya di ruang perawatan yang nyaman itu. Ia berjanji akan datang lagi besok. Tanpa memberitahu sang ibu jika malam ini ia ada misi untuk mencari tahu keberadaan Rama.


Puput dibonceng Zaky pulang menuju Ciamis yang jaraknya sekitar 20 menit dengan memakai motor. Pas sampai di rumah, notifikasi pesan dari Via masuk. Sebuah foto selembar memo bertuliskan tangan yang ditujukan untuk admin.


Puput naik ke kamarnya. Mengeluarkan surat tadi dari dalam tas dan mencocokkan tulisan tangan itu. Nafasnya sesaat tercekat, benar dugaannya. Perempuan berambut coklat sebahu yang memakai motor Mio itu adalah Septi.


Puput sengaja memilih tempat meeting di Dapoer Ibu demi meminimalisir adanya mata-mata yang mengawasi. Saat ini masih abu-abu, mana kawan mana lawan. Hanya dua orang yang saat ini dipercaya, Acil dan Aris.


"Kurang ajar. Kalau benar ada anggota yang jadi pengkhianat, aku sendiri yang akan cincang mereka!" Kang Acil mengepalkan tangan karena marah. Puput sudah memperlihatkan surat kaleng itu padanya.


"Aku udah telusuri siapa yang ngirim surat ini, Kang. Dia adalah orang yang selama ini benci sama aku. Dan sekarang seolah ingin membantu aku. Jadi bingung, apa ini jebakan atau beneran petunjuk." Berada di meja paling pojok dengan sajian tiga gelas minuman, Puput mengutarakan kegamangannya.


"Sepertinya kita harus nunggu dulu surat kedua buat mastiin." Aris mulai membuka suara. "Sambil nunggu perkembangan informasi, kita akan siaga. Sony mau gabung buat misi ini, Put Aku yakin dia clear." Ia merekomendasikan satu orang personel yang menjadi pelatih di padepokannya.


"Kalau surat ini benar bukan jebakan, katanya suamiku ada di sekitaran Tasik. Ini clue. Tapi Tasik kan luas. Sepertinya besok aku harus ke rumahnya."


"Jangan dulu, Put. Sabar. Jangan bertindak sendiri. Aku khawatir ini jebakan dan bisa jadi orang itu ngincer kamu juga." Kang Acil menggeleng tidak setuju. Selanjutnya, tiga orang itu menyusun strategi dengan wajah serius. Mereka larut sampai satu jam lamanya dan berakhir saling adu tos.


Puput mengantar kepergian Acil dan Aris sampai depan pintu rumah makan. Menghela nafas panjang. Ia sudah tidak sabar ingin segera menemukan sang suami.

__ADS_1


"Astaghfirullah---" Puput memekik kaget saat memutar badan. Tak menyangka ada Akbar yang kini berdiri di hadapannya. "Mas Akbar bikin kaget aja. Sejak kapan ada di sini, Mas?" ujarnya menatap sosok tampan yang memiliki tahi lalat di sudut hidung.


"Sejak kamu konsen berbicara mengatur strategi menemukan Rama dengan dua orang tadi." Akbar melipat kedua tangan di dada menatap Puput.


__ADS_2