
Pagi hari menjadi rutinitas kesibukan seorang single parent bernama Sekar Sari. Sejak sebelum adzan subuh sudah bangun. Menyiapkan sarapan untuk ketiga anaknya yang akan berangkat menuntut ilmu. Ikhlas tanpa mengeluh. Anak keduanya, Aulia, akan membantunya usai salat subuh.
"Ami, panggil Aa Zaky. Kita sarapan sama-sama." Ucap Ibu. Saat di meja makan hanya tinggal menunggu anak laki-laki satu-satunya itu.
"Berangkatttt." Ami yang sudah rapih dengan seragam pesantren, beranjak dari kursinya. Namun di tengah-tengah titian tangga, berpapasan dengan Zaky yang akan turun. Ia pun berputar balik.
Meja yang dikelilingi empat orang itu sejenak senyap selama makan. Karena Ibu yang mengultimatum tidak boleh mengobrol. Barulah setelah piring licin, obrolan ringan mulai terdengar.
"Ami, kemarin di rumah teh Puput bilang it's my dream. Itu tau dari mana?" Sejak kemarin Ibu sudah kepikiran. Selama ini merasa selalu mengawasi tayangan yang ditonton si bungsu. Ia selektif. Hanya boleh menonton sesuai umur.
Aul dan Zaky sudah menebak jika Ibu mau melayangkan teguran. Keduanya menyimak.
"Sering lihat kakak-kakak kelas kalo lagi ngumpul suka bahas Cappadocia Turki. Mereka sambil akting bilang ; it's my dream, not her. Emang kenapa, Bu?" Ami mengerutkan kening.
"Oh, jadi Ami nggak nonton ya?" Ibu bernafas lega.
"Nonton apa, Bu?" Ami semakin dibuat bingung. Sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Ibu.
"Kirain Ami pernah nonton sinetronnya. Itu tontonan ibu-ibu. Ami belum boleh."
"Emang ucapan itu lagi viral dimana-mana sih, Bu. Di medsos rame. Di infotainment juga. Sampai penulis novelnya pun disorot. Katanya sih itu pengalaman pribadi." Aul bersuara menanggapi.
"Aku mah dari dulu sukanya Upin Ipin. Suka gemes si botak teh kenapa jadi murid TK abadi. Aku aja yang nonton dari TK sekarang dah gede." Mata Ami membulat sempurna. Kemudian cekikikan.
"Nah, si Ami ganti mode kesurupan." Zaky sudah bisa menduga gelagat jika adiknya itu sedang mengingat sesuatu atau sedang merencanakan sesuatu.
"Si Aa nya Clarissa tau aja." Ami memeletkan lidahnya. Sontak Zaky menyentil kening. Aul menahan tawa melihat wajah Zaky yang kesal jika sudah diledek seperti itu.
"Aku jadi inget ucapan Kak Akbar ; Ami yang rajin belajarnya ya, biar cepet gede." ujarnya terkikik lagi.
"Emangnya aku Susanti temennya Upin Ipin yang gak bakalan gede apa. Tetep jadi anak TK meskipun rajin belajar. Hm, tidak Ferguso." Ami mengibaskan jilbabnya.
"Sudah-sudah. Waktunya berangkat udah jam 6 lebih." Ibu melerai keributan Ami dan Zaky yang kini saling ledek.
Ibu mengantar sampai teras. Ami akan diantar oleh Aul sekalian berangkat ke kampus. Zaky memanaskan motor sportnya bersiap ke sekolah.
"Oleh-oleh buat Bu Aisyah sama Bu Eva nggak lupa?" Ibu mengingatkan Ami yang sudah duduk di jok belakang. Oleh-oleh souvenir pernikahan berupa handuk premium ukuran sedang yang dikemas dalam kotak mika dengan bordiran logo inisial RP.
"Udah di tas." Ami menepuk tali tas gendong yang tersampir di bahunya.
"Ibu kalo ada Bapak Happy datang lagi, Ibu jangan mau kalo diajak nikah. Aku akan minggat dari pesantren!" Ancam Ami usai mencium tangan Ibu untuk kedua kalinya.
Aul dan Zaky tertawa lepas. Ibu mengernyit belum ngeh dengan ucapan si bungsu. Menatap heran.
"Pak Bagja, Bu." Ucap Aul sambil terkekeh.
Ibu menghela nafas sambil geleng-geleng kepala.
...***...
Aul mengantarkan Ami ke pesantren meski berlawanan arah ke kampus. Ia lebih leluasa waktu dibanding Zaky karena mulai kuliah pagi jam delapan.
__ADS_1
Tiba di kampus, empat teman karibnya bernama Selvy, Farah, Hamish, dan Reno. Sudah menunggu di bangku taman tempat biasa ngumpul.
"Aul, miss you." Selvy menyambut kedatangan Aul dengan merentangkan tangan lebar.
"Jangan drama! Aku tau apa yang kalean tunggu." Aul mencebik. Tak urung menerima pelukan cipika cipiki itu. Semuanya tertawa.
Aul menyerahkan goodie bag pada Reno yang duduk paling dekat dengannya.
"Wow, towel cute." Farah mengusap permukaan handuk yang super lembut, yang terlipat rapih dengan sebuah kartu ucapan terima kasih tersemat.
"Moga aja aku dapat jodoh cowok tampan mapan kayak suaminya Teh Puput." Ucap Selvy tak kalah puas mendapat souvenir istimewa itu. Semua sahabat Aul pernah datang di acara akad nikah Puput. Bahkan masih menyimpan foto bersama dalam satu frame dengan gaya bebas yang lucu.
"Hais, kenapa cita-cita semua cewek pengen dapet pasangan tampan mapan. Kasiani dong kita yang tidak good looking. Kalo mapan bisalah dikejar beres kuliah." Reno memasang wajah memelas. Yang mendapat anggukkan Hamish sebagai bentuk dukungan .
"Dah lah. Jangan nelangsa gitu. Good looking bisa jadi nomer sekian. Yang penting good rekening." Sahut Aul santai .
"Ck, si Aul tipe cewek matre nih." Hamish mencebik.
"Eits, jangan salah. Bukan matre tapi realistis. Memangnya hidup sehari-hari bakal kenyang dengan makan cinta? Yang ada enek. Kuota aja kudu beli. Emangnya kamu hobinya ngejar tempat nongkrong yang free wifi." skakmat dari Aul yang membuat Hamish garuk-garuk kepala.
"Wes, bubar-bubar! Waktunya ke kelas." Ucap Farah yang satu jurusan dengan Aul dan Reno. Lebih dulu berdiri dar duduknya.
"Gih duluan. Aku dan Selvy satu jam lagi." Hamish mengibaskan tangan mengusir ketiga temannya.
...***...
Tok tok tok.
"Masuk aja, Bun." Sahut Panji yang mendengar suara bunda diiringi ketukan di pintu kamarnya.
"Panji, kenapa belum siap-siap? Nggak jadi ke Bandung?" Bunda Ratih duduk di tepi ranjang. Memperhatikan wajah tampan sang anak yang memiliki hidung dan alis tebal warisan mantan suaminya.
"Abis ashar aja, Bun. Lagi betah mager." Kilah Panji. Namun kemudian beralih duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.
"Ada masalah, nak? Cerita sama Bunda." Ratih menatap intens.
"Nggak ada, Bun."
"Kamu itu tiga bulan lagi mau 24. Bunda sangat tau watak kamu, nak. Katakan ada apa? Kalo nggak bilang malah Bunda akan kepikiran."
Panji menghembuskan nafas panjang. Tak bisa mengelak lagi kalo bundanya sudah bilang seperti itu.
"Besok sore Panji janjian sama seseorang, Bun. Dia keukeuh ingin ketemu." Panji membuka obrolan serius.
"Sama siapa?" tanya Bunda Ratih penasaran.
"Ayah." Panji menatap sekilas raut keterkejutan di wajah bundanya yang kini mengatupkan bibir.
"Bunda nggak marah, kan?" Sambung Panji.
"Dari dulu juga Bunda nggak pernah melarang atau marah kalo Panji mau ketemu Ayahnya Panji. Tapi kan kamu nak yang nggak mau."
__ADS_1
"Dan dari dulu sampe sekarang Panji konsisten dengan satu harapan. Ayah dan Bunda bersama lagi. Makanya Panji menolak ketemu Ayah." Panji tersenyum masam.
"Nak___" Bunda Ratih menggeleng lemah.
Panji merengkuh bahu bundanya dari samping. "Iya tau, Bun. Ini imposible, kan? Maafin Panji karena iri lihat Kak Rama dan Cia yang sangat happy punya keluarga utuh."
"Maafin Panji yang tidak bersyukur punya Bunda yang sangat sayang sama Panji."
Panji melepas rengkuhannya. Ia pamit ke kamar mandi untuk bersiap berangkat ke Bandung. Meninggalkan Bunda Ratih yang tercenung sambil menangkup wajah.
Sudah sangat lama Panji tidak lagi membahas tentang ini. Ia menilai sang anak sudah baik-baik saja. Meski di awal perceraian pernah pergi selama seminggu, kabur dari rumah saat anaknya itu kelas dua SMA. Sebagai bentuk protes. Untungnya tidak pergi ke sembarang tempat. Berada di Jakarta di rumah Ratna.
Panji kembali menjadi anak manis dan penurut. Bunda Ratih pun mencurahkan perhatian dan kasih sayang terbaik. Menolak setiap tanggung jawab biaya yang dikirimkan oleh mantan suaminya. Terlanjur kecewa dan luka yang mendalam. Ia membuktikan diri mampu menjadi single parent.
"Enin, Panji berangkat." Panji mencium tangan sang nenek dengan takzim.
"Kapan balik lagi ke sini?" Enin mengusap-ngusap punggung Panji yang masih bersimpuh di depannya.
"Belum tau, Nin. Pekerjaan dan kuliah lagi butuh perhatian. Kalo dah senggang pasti pulang." Sahut Panji.
"Jangan lama-lama. Nanti Aul ada yang ngelamar baru nyesel." Enin memukul bahu sang cucu.
"Santai, Nin. Aul masih lama beres kuliahnya. Lagian kalo jodoh gak akan kemana." Panji tersenyum simpul.
"Itu mah peribahasa orang pemalas, yang punya prinsip kumaha engke bukan engke kumaha."
"Jodoh itu harus dikejar dan diperjuangkan,Panji. Contoh tuh Rama. Berbagai cara jurus modus buat naklukin Puput yang super cuek. Enin aja sampe turun tangan. Usaha tidak mengkhianati hasil, bukan?"
"Meskipun Aul bilangnya belum mau pacaran, mau beres kuliah dulu, tapi kalo Panji ngelancarin modus halus, itu hati lama-lama bisa luluh. Ingat peribajasa ; Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok." Enin memberi nasihat panjang lebar.
Panji menaikkan kedua alisnya. Nasihat Enin menyerap ke otak.
"Modus halus itu kayak gimana sih?!" Panji meringis sambil menggaruk tengkuk. "Enin juga harus bantuin Panji. Jangan Kak Rama doang yang dibantu." Pintanya dengan sorot memohon.
"Iya kalem dah. Tapi Panji serius nggak nih pengen dapetin Aul?" tanya Enin meyakinkan.
"Tentu saja, Nin. Aul cewek cantik yang sederhana nggak banyak gaya. Nggak suka keluyuran malam. Beda sama cewek di Bandung yang suka ngejar-ngejar Panji. Hobinya clubing, kalo nongkrong sambil ngerokok Bikin ilfeel."
"Awewe model kitu mah lain pipamajikaneun atuh, tapi saheureuyeun (cewek seperti itu tidak cocok dijadikan istri, tapi untuk senang-senang)." Ucap Enin sambil bergidik.
"Bral, kerja sama kuliah yang khusyu. Sering-sering ngasih kabar ya, cu. Enin pasti bantu Panji dengan do'a dan usaha."
Ratih senyum-senyum, menatap haru, menyimak percakapan ibunya dan Panji. Ia mengantar sang anak sampe teras.
"Jangan ngebut, nak. Kabarin Bunda kalo udah sampe Bandung ya." Bunda Ratih memeluk, usai Panji mencium tangannya. Yang mendapat anggukkan dan ucap salam dari sang anak.
Ada rasa yang tertinggal, mengganjal di hati saat menatap laju mobil Panji yang keluar gerbang dan kini tak lagi terlihat. Tentang percakapan di kamar tadi yang berakhir menggantung, menyisakan resah.
Ratih masih berdiri membatu. Ia menggigit bibir dengan dada yang berdesir. Akan seperti apa pertemuan besok antara Panji Syahreza dengan Anjar Syahreza yang memiliki rupa bagai kakak beradik itu.
...****************...
__ADS_1
Bahasa Sunda punya peribahasa "cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok" (tetesan air menimpa batu lama-lama jadi berlubang)
Artinya : Upaya sedikit demi sedikit yang dilakukan terus menerus lama-lama akan membuahkan hasil.