
Sungguh sudah tidak sabar menunggu waktu seminggu. Baru berkurang dua hari dan rasanya waktu berjalan lambat bagi yang tengah menunggu. Puput kini merasakan kegelisahan itu. Lima hari lagi menuju pertemuan melepas rindu.
Pintu ruangannya diketuk. Dan Puput berseru mempersilakan masuk. Tahu, yang akan datang adalah Via yang baru saja ia telpon.
"Ada apa, bu boss?" Via mengambil posisi duduk di sofa yang sama. Mengabaikan Puput yang duduk di sampingnya mendengkus sebal.
"Aku mau curhat. Tapi kamu harus punya solusi jangan cuma jadi pendengar!" Puput leluasa berbincang santai mumpung Dwi tengah berada di ruangan Pak Hendra.
"Curhat kerjaan or pribadi?" Via menatap serius.
"Pribadi."
Dan Via memiringkan badan ke arah Puput menunggu sahabatnya itu memulai sesi curhat.
"Bakpia, kamu kan tau kalau tidurku suka ngiler?"
"Terus?"
"Hm, waktu pertama kali tidur bareng A' Rama aku sampe parno. Malah nggak bisa tidur takut ilerku netes. Kan malu atuh...."
Via terkikik sambil menutup mulut. Berusaha mengerem tawa melihat Puput yang cemberut. "Oke. Terus jadi masalah rumah tangga, gitu?" Ia melipat bibir.
Puput menggeleng. "Bukan gitu. Si Aa malah santai aja nggak mempermasalahin. Malah bilang udah tau kok. Siapa lagi kalau bukan dari Ami yang bocor."
"Justru yang aku takutkan itu nggak terjadi. Selama tidur bareng dia aman-aman aja nih nggak ileran. Tapi setelah aku tidurnya sendiri lagi, jadi kembali ke kebiasaan lama. Kirain udah sembuh total." Keluh Puput.
"Kalau hal itu nggak jadi masalah buat Kak Rama, nggak bikin dia ilfeel kenapa mesti dipikirin?" Via menatap heran.
"Yaa nggak dipikirin juga sih. Emang inilah aku apa adanya. Cuma heran aja, kalau tidur sama dia ilerku aman. Sekarang tidur sendiri, bantal baruku udah berhias pulau. Kan aneh ya." Puput tersenyum meringis.
"Aku tau solusi permasalahanmu." Via menjentikkan jari. Puput menatapnya dengan kedua alis terangkat.
"Mendengar kronologis tadi solusinya ada di ayangmu. Bentar lagi si ayang datang tuh. Nanti sering-sering di vakum ini." Via menunjuk bibir. "Buktinya selama bareng ayang, bantalmu bebas pulau, kan?"
"Divakum gimana maksudnya?"
"Hais, mesti diperjelas aja. Kirain dah anu mah nggak lola lagi. Dicium, Siput. DI CI UM....!" Via menggeram, merasa gemas sendiri.
Puput mengeplak lengan Via. "Biasa aja, nggak usah ngegas." Ia abaikan sahabatnya itu yang mengaduh dan mengusap lengan. Malah beranjak melangkah menuju mejanya untuk menyembunyikan senyum dikulum dan rona di pipinya.
...***...
Rama sudah pasti akan tiba di bandara Soekarno Hatta hari sabtu jam 6 sore. Kamis pagi ini Puput siap berangkat ke Jakarta dengan pesawat dari Tasik tujuan bandara Halim Perdana Kusuma. Sudah berkomunikasi dengan Mami Ratna, dan nanti akan ada sopir yang menjemput di bandara.
Puput pamit kepada Ibu dan Aul yang mengantar sampai ke teras. Sudah ada sopirnya Enin yang menunggu di depan mobil. Karena setelahnya diantar ke bandara, mobil Pajero itu akan dititipkan di rumah Enin yang memiliki garasi yang luas.
Pesawat yang akan membawanya ke Jakarta siap take off. Ini kali pertama bagi Puput menaiki pesawat dari bandara Wiriadinata Tasik. Tidak banyak penumpang di pesawat jenis ATR 72 ini. Kapasitas maksimal 72 penumpang ini hanya terisi setengahnya.
Puput tersenyum samar. Mengingat dulu sekeluarga pernah diajak liburan ke Bali oleh almarhum Ayah, setelah sang ayah naik jabatan. Itu menjadi momen pertama kalinya naik pesawat.
"Sendirian, mbak?"
Puput yang tengah menatap gumpalan asap putih lewat kaca samping kiri tempat duduknya, menoleh ke sebelah kanan. Tampak seorang pria yang duduk sejajar di jok sebelah kanan tengah menatapnya sambil tersenyum.
Puput hanya mengangguk dan mengulas senyum tipis.
Selanjutnya Puput memilih menyandar dan memejamkan mata. Bukan karena mengantuk. Namun tengah membayangkan kilas balik momen akad nikah sampai momen manis dan romantis di waktu yang singkat bersama sang suami. Tanpa sadar senyum tersungging di bibirnya dengan kedua pipi yang merona. Dan tadi subuh Rama berkata akan segera menyiapkan resepsi di akhir bulan ini.
"Ehemm."
Suara deheman membuat Puput membuka mata. Ia menoleh lagi pada pria tadi yang mengenakan topi berlogo NY.
__ADS_1
"Kalau lagi happy bagi-bagi dong biar nular sama saya yang lagi galau ini." Pria berjambang tipis itu seolah mengakrabkan diri. Tersenyum simpul.
Puput terkekeh. "Kalau galau obatnya ada di hati. InsyaAllah happy."
"Maksudnya?!" Pria itu sedikit mencondongkan badan menatap Puput.
"Dzikir. Bukankah dengan dzikir hati akan menjadi tenang?!" Ucap Puput tanpa bermaksud menggurui.
"Wow. Amazing you. Makasih sudah diingatkan." Pria itu tersenyum dengan tatapan penuh kagum.
"Nama saya Akbar. Senang sekali ada teman bicara aaat di udara." Pria itu masih menatap Puput berharap perkenalannya dibalas.
Puput hanya membalas dengan senyum kecil dan anggukkan.
Setelah satu jam kurang lima menit, pesawat mendarat dengan mulus di bandara Halim. Puput menarik kopernya menuju tempat penjemputan. Ia sudah mendapat pesan dari Mami Ratna jika sopir sudah ada di ruang penjemputan.
"Hei, tunggu!" Pria tadi setengah berlari mensejajari langkah Puput. "Kamu pulangnya kemana?"
"Menteng." Sahut Puput singkat. Ia tengah celingukan mencari orang yang akan menjemputnya.
"Boleh saya antar? Kita satu arah lho. Itu sopir saya sudah datang."
"Makasih. Saya juga dijemput sopir. Ah, itu dia. Pak Doni---" Puput mengabaikan pria bernama Akbar iti. Ia lambaikan tangan pada orang yang memegang kertas bertuliskan Neng Putri Kirana.
"Mari saya duluan, Mas!" Puput mengangguk sopan menatap Akbar saat sopir menghampiri dan mengambil alih kopernya.
Oh, namanya Putri Kirana.
Akbar bergumam dalam hati. Pandangannya mengunci punggung wanita berpenampilan anggun dengan hijab warna hijau mint yang terus melangkah makin jauh. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
...***...
Puput mencium tangan sang mertua dan melakukan cipika cipiki. Hanya ada Mami Ratna di rumah karena Papi dan Cia ke kantor. Mami menyambutnya dengan suka cita. Berbincang ringan menanyakan kabar keluarga di Ciamis.
Puput terkekeh. "Alhamdulillah kalau Ami nggak mengeluh. Aku udah telepon pembinanya menanyakan keadaan Ami. Ada sedihnya sih, rumah biasa rame sama dia sekarang jadi sepi. Sebenarnya berat melepas Ami mondok, inginnya tetap berkumpul. Tapi demi bekal ilmu di masa depannya, kita yang mengalah." ujarnya dengan rasa haru yang tiba-tiba menyeruak.
Mami mengangguk. "Sama seperti Mami dulu. Melepas Rama sekolah SD dan mengaji di Ciamis. Ya itu, demi mendapatkan basic ilmu agama. Biar gedenya nggak kebawa arus pergaulan bebas. Mami dan Papi yang berkorban waktu bolak balik Jakarta-Ciamis."
Obrolan ringan itu berakhir saat Puput meminta izin untuk ke kamar. Kopernya sudah lebih dulu diantarkan sampai depan pintu kamar.
Puput menerima kunci kamar Rama dari Mami. Ada rasa deg degan saat ia membuka pintu. Ruangan kamar yang luas itu tampak bersih dan rapih. Karena setiap pagi Bi Lilis selalu membersihkannya dari debu. Sprei pun baru diganti tadi pagi ujar Mami.
Mata Puput melebar menatap foto pernikahan yang terbingkai dalam figura ukuran besar. Menempel di dinding belakang sofa. Dulu belum ada. Mungkinkah Rama menyuruh Mami atau Cia yang memajangnya? Akan ditanyakannya nanti. Ia terkagum-kagum menatap foto dirinya dan Rama yang sama-sama saling melempar senyum.
Usai memindahkan pakaian dari koper ke lemari, Puput lanjut melaksanakan kewajibannya karena jam menunjukkan pukul satu siang.
Ketukan di pintu kamar membuat Puput beranjak dari lenanya rebahan di ranjang empuk. Ia tengah berbalas pesan dengan Rama, jika dirinya sudah berada di Jakarta. Sementara Rama di sana baru selesai mandi pagi. Dan ujung-ujungnya mengirimkan foto selfie berbalut handuk di pinggang. Membuat Puput mengirimkan emot tutup muka dan lari.
"Iya, Bi?"
"Neng ditunggu Ibu di ruang makan sekarang!" Bi Lilis menyampaikan amanat Mami Ratna.
Pupit mengangguk. "Bentar lagi aku turun, bi." Puput menutup kembali pintu kamarnya. Ia mengambil hijab instan yang sudah disiapkan di nakas. Mengecek dulu balasan apa dari sang suami. Rupanya mengirim emot ketawa disusul kata, "Love you, wifey."
Sore hari saat menemani Mami di taman bunga, Puput menatap takjub aneka anggrek koleksi mertuanya itu. Berbagai jenis anggrek dan semuanya tengah mekar. Ia baru melihatnya sekarang. Karena dulu belum sempat menjelajahi semua sudut luar rumah.
"Holla, ada Teh Puput!" Cia datang menghampiri dan berseru riang. Ia baru pulang dari kantornya ditemani Damar. Segera memeluk kakak iparnya itu dengan binar bahagia.
"Kapan datang, Teh?" Damar pun menyalami Puput.
"Tadi siang, Mas." Puput dan semua orang berpindah tempat ngobrol ke dalam rumah. Bersamaan dengan mobil Papi Krisna yang baru tiba memasuki gerbang.
__ADS_1
...***...
Hari jum'at. Puput menuruti ajakan Mami bertemu teman--teman arisan di restoran mall. Penuh bangga, mertuanya itu memperkenalkannya kepada ibu-ibu sosialita yang berpenampilan fashionable, full make up, dengan perhiasan yang mencolok. Seolah berlomba-lomba memamerkan toko emas berjalan. Dari duabelas orang yang berkumpul itu, ia menilai penampilan Mami lah yang paling sederhana namun elegan, tetap berkelas.
Puput merasa bibirnya pegal terus-terusan menyunggingkan senyum menanggapi para nyonya yang memujinya. Entah tulus atau hanya cari muka di hadapan Mami yang menjadi ketua genk sosialita itu. Arisan bulanan senilai 240 juta itu mulai diundi untuk menentukan pemenang bulan ke enam. Dan Puput memilih permisi ke toilet, melipir dari kehebohan di ruangan yang dibooking secara khusus itu.
Puput memang pergi ke toilet. Tapi ia enggan buru-buru kembali bergabung ke kumpulan para sosialita itu. Karena ia hanya jadi pendengar senda gurau yang membosankan. Ia memilih jalan-jalan melihat-lihat suasana mall. Tak ada keinginan untuk belanja, sekadar mencuci mata.
"Lo selingkuh kan sama laki gue? Ayo ngaku! Kalo nggak ngaku..."
"Kalo nggak ngaku mau apa, hah? Mau nampar? Ayo tampar!"
"Lo dasar ja lang! Bisanya ngegoda laki yang udah punya bini!"
"Lo yang nggak bisa ngurus laki! Bisanya ngabisin duit, nggak mau ngelayanin. Jangan salahkan kalo laki lo nyari kenyamanan di luar!"
Ketenangan Puput terusik oleh suara orang yang tengah beradu mulut. Ternyata keberadaan dua orang itu dekat dengan posisinya berdiri di depan etalase parfum. Mau tidak mau ia menyaksikan perseturuan dua orang wanita itu yang juga jadi tontonan orang lain.
"Hei, stop mbak. Jangan berkelahi!" Naluri Puput spontan ingin melerai aksi saling jambak dua wanita itu. Ia menarik salah seorang dan memiting tangannya ke belakang.
Saat yang satunya lagi akan menyerang, Puput sigap menyepak kaki. Sehingga orang itu jatuh telungkup dan Puput menindihnya setelah ia mendorong wanita yang dipitingnya menimpa kerumunan orang yang menonton dengan memegang ponsel.
"Tolong selesaikan masalah baik-baik. Jangan berkelahi di tempat umum gini. Malu, mbak." Puput mengangkat tubuh wanita yang ditindihnya. Meski berontak dan berteriak, namun cekalan Puput lebih kuat.
Untung saja dua orang petugas keamanan datang bersama dua orang pria bersetelan jas, mengamankan situasi. Dua orang wanita itu digiring petugas keamanan. Salah satu pria berjas menyuruh orang-orang yang menonton membubarkan diri.
"Putri Kirana, kan?"
Puput menatap pria yang menyapanya dengan mata memicing dan dahi mengkerut. Seperti pernah melihat wajah itu.
"Saya, Akbar. Kemarin kita satu pesawat dari Tasik." Pria itu tersenyum dan netranya berbinar menatap Puput.
"Oh iya." Mata Puput melebar. Ia baru ingat.
"Hm, ada permasalahan apa ya barusan? Bisa ceritain?"
Puput mengangguk. "Saya lagi liat-liat parfum, tiba-tiba ada dua orang itu adu mulut terus saling jambak. Aku spontan misahin mereka."
Akbar manggut-manggut. Ia lalu menerima uluran ponsel dari asistennya. Yang ternyata menampilkan kiriman rekaman kamera pengawas mengenai kejadian barusan.
"Wow Putri, kamu hebat. Punya ilmu beladiri ya?" Akbar mengembalikan ponsel beralih menatap Puput penuh kagum.
"Ah, nggak juga, Pak." Puput menggeleng. Ia lalu merogoh tas selempangnya yang bergetar. Ternyata Mami yang menelpon.
"Hm, permisi ya Pak, Mami saya nyariin." Tanpa menunggu jawaban, Puput bergegas melangkah pergi ke arah restoran sambil menjawab panggilan.
"Leo, beri cewek itu hadiah parfum yang paling bagus. Cari tahu posisinya di mana!" Akbar memberi perintah. Matanya menatap lekat punggung wanita cantik yang sudah mengusik pikiran dan mencuri perhatiannya itu.
Sang asisten mengangguk patuh dan menuju etalase parfum branded.
Akbar sedikit melonggarkan dasinya. Berjalan lebih dulu ke arah lift menuju ruang kerjanya.
"Putri, dari mana aja? Ke toilet kok lama. Ini nanti makanannya habis sama jeng Yuni." Kelakar wanita berjambul mendelik pada temannya yang paling gemuk. Yang mengundang tawa sebagia ibu-ibu cetar itu.
"Maaf, barusan nonton dulu yang ribut-ribut. Ada dua cewek ribut terus saling jambak." Jelas Puput.
"Owalah...pasti masalah rebutan cowok ya?" Duga nyonya berkalung emas seperti rantai sepeda itu.
"Kurang tau, Bu. Aku langsung pergi aja." Puput memilih bungkam. Ia enggan cerita yang sebenarnya. Karena akan menjadi tema gosip yang digoreng makin sip.
"Sayang, ayo makan dulu. Setelah ini kita akan main ke kantornya Cia." Mami memangkas obrolan teman-temanya yang masih saja penasaran dengan berita singkat Puput.
__ADS_1
"Selamat siang. Maaf mengganggu waktunya." Seorang pria bersetelan jas rapih menghampiri meja panjang itu. Mengangguk sopan sambil memegang gift box. Semua mata tertuju padanya.