Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
147. From Umma And Baby


__ADS_3

Mami Ratna menatap dengan seksama kedatangan Rama dan Puput. Menilik wajah anak dan mantunya itu yang sejak semalam membuatnya resah memikirkan permasalahan apa yang menimpa mereka. Seorang ibu tetaplah seorang ibu. Bagaimana pun juga tetap memperhatikan perkembangan hidup anak-anaknya meski sudah dewasa, sudah memiliki kehidupan sendiri. Apakah sang anak bahagia atau tidak. Apakah langkah sang anak berada di jalur yang benar atau menyimpang. Mata dan telinga seorang ibu akan selalu tajam mengawasi.


Rama lebih dulu menyalami dan cipika cipiki. Disusul Puput yang kemudian memilih duduk di samping Mami Ratna daripada duduk satu sofa dengan Rama. Wangi tubuh sang mertua terhirup nyaman di indera pembau. Apalagi sudah dandan cantik dan anggun mengenakan setelan tunik warna abu muda.


"Mami ke sini mau ngajak Puput ke Ciamis. Sengaja Mami gak telepon dulu, sekalian sidak." Mami terkekeh. Hanya Rama yang nampak paham maksudnya. Anaknya itu mencebikkan bibir.


"Mami kapan ke Ciamis nya. Aku mau banget ikut." Puput nampak semringah. Jadi terbayang keluarga, kantor RPA, juga Novia. Mendadak rindu ingin bertemu.


Lain halnya Rama yang menyaksikan Puput begitu antusias. Mendadak timbul rasa tidak rela jika harus berpisah jauh.


"Sekarang." Sahut Mami Ratna singkat.


"Kok mendadak sih, Mam. Aku gak setuju." Rama menggeleng dengan kuat.


"Aku mau, Mami." Puput bersemangat. Beralih menatap Rama. "Boleh ya A'? Aku kangen ketemu Ibu, ketemu Enin, kangen sidak ke RPA sana juga. " Jelasnya. Tatapannya memelas minta diizinkan.


"Dengerin dulu penjelasan Mami. Tadi subuh Bibi Ratih telepon. Katanya Enin sakit. Tensinya naik."


"Udah ke rumah sakit?" Ucap Rama dengan nada cemas. Begitu pula Puput terkaget.


"Udah panggil dokter. Enin hanya butuh istirahat. Jangan kurang tidur, jangan banyak pikiran. Mami heran, emang Enin mikirin apa? Rasanya gak ada masalah di keluarga. Bisa jadi Enin butuh perhatian lebih dari kita. Maklum udah sepuh. Makanya Mami mau berangkat ke Ciamis sekarang juga ngajak Puput. Besok kan jum'at. Rama sama Papi sama Cia bisa nyusul besok sore. Kita semua weekend di Ciamis." Jelas Mami Ratna.


"Sayang, mau ikut sama Mami sekarang atau sama Aa besok?" Rama berharap jawaban Puput seperti yang diharapkannya. Karena merasa belum tuntas baikan. Belum puas mendengar maaf dari sang istri. Yang baru terucap lisan tapi sikap masih ketus.


"Mau sekarang. Lagian Mami sengaja jemput ke sini. Boleh ya!" Tegas Puput penuh tekanan.


Rama mengalah. Anggap saja sebagai penebus kesalahan kemarin.


"Rama, beneran udah baikan?" Mami bertanya setengah berbisik. Puput sudah menaiki tangga untuk bersiap-siap membawa perlengkapan yang dibutuhkan.


Rama mengangguk. "Kita gak berantem, Mam. Aku aja yang udah salah paham. Alhamdulillah udah clear."


"Syukurlah. Mami semalam sampe kepikiran. Ingat Rama, komunikasi saling terbuka. Itu WAJIB menjadi pedoman dalam berumah tangga. Jangan maen nuduh tanpa tabayyun. Kita yang jadinya kisruh, bisa jadi orang lain tepuk tangan puas."


Ceramah kedua, pagi ini diterima Rama. Setelah sebelumnya Puput yang panjang lebar menceramahi sampai menyindir dan mengungkit masa lalu. Ia mengangguk menerima, tanpa membantah.


Puput selesai packing barang yang akan dibawa ke dalam travel bag. Sudah pula menyiapkan setelan baju kerja untuk Rama. Ia keluar kamar bersamaan dengan Rama yang akan masuk.


"Baju Aa udah disiapin. Aku ke dapur dulu siapin sarapan." Puput tersenyum semringah.


Rama menahan lengan Puput yang menenteng travel bag. "Seneng banget yang mau ninggalin Aa." Ia memasang wajah merajuk.


"Jangan manja! Kan besok Aa nyusul. Ayo mandi dulu keburu telat ke kantor. " Puput mengusap rahang Rama. Bergegas pergi menuju arah tangga. Ia buru-buru berlalu karena tidak nyaman dengan aroma suaminya itu. Berharap setelah mandi, berubah wangi lagi seperti biasanya.


...***...


Rama membuka ruang kerjanya dengan langkah lunglai. Masih ada yang mengganjal dari sikap Puput yang tidak mau sarapan dengan dalih sudah kenyang dengan sarapan oatmeal. Sehingga ia dan Mami sarapan berdua di meja makan.


Kemudian Rama sengaja meminta Puput yang siap berangkat, naik dulu ke kamar dengan alasan ingin ganti dasi. Padahal kode ingin melakukan morning kiss dulu sebelum berpisah.


Nyatanya pas masuk ke kamar, Puput tidak mau dicium dengan alasan mendadak sakit gigi. Jadilah hanya berpelukan saja. Itupun tidak lama. Karena istrinya itu beralasan tidak enak dengan Mami yang sudah menunggu dari tadi.

__ADS_1


Lamunannya terjaga oleh suara ketukan di pintu. Rama mendongak. Nova masih berdiri di depan pintu yang terbuka lebar dengan membawa tab di tangan.


"Nova, ngapain ketuk pintu. Kan udah terbuka lebar tinggal masuk aja. Ganggu kegiatan saya aja." Rama mendengkus kesal.


"Eh, maaf pak. Kan biasanya juga saya memakai etika begitu." Nova terkaget. Pagi-pagi mendapat semprotan sang boss.


"Bossmu lagi PMS, Nov. Jangan dimasukin hati." Tahu-tahu Damar nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Membuat Nova dan Rama menolehkan wajah.


"Lo juga. Kalo masuk tuh ketok pintu dulu. Jangan disamakan dengan dulu dong. Gue kan udah merit." Sarkas Rama menatap tajam Damar. Ia menunjukkan jari manis yang tersemat cincin nikah.


"Astaga! Nova, kamu ngasih minuman apa sama bossmu? Pagi-pagi gini otaknya jadi error." Damar mendelik dengan ekspresi kaget. Sikap Rama pagi ini aneh bin ajaib.


Nova menggeleng. "Saya baru masuk, Pak Damar. Baru mau bacain schedule hari ini. Mungkin tadi malam tidak dikasih jatah sama Bu Putri. Ups, maaf Pak Rama." Nova mengangkat dua jari simbol V. Ia keceplosan menggoda bossnya yang kini memelototkan mata.


Damar tertawa lepas. "Bisa jadi, bisa jadi."


Masih memasang wajah kesal, Rama menyuruh Nova membacakan agenda hari ini.


Jam sebelas lebih, Cia sudah sampai di gedung perkantoran Adyatama Group. Tujuannya adalah ke ruangan Damar. Menenteng goodie bag berisi lunch box, ia masuk dengan berucap salam.


"Ayang, jangan duduk di sana!" Ucap Damar usai menjawab salam calon istrinya itu.


"Terus dimana?" Cia urung duduk di sofa.


"Di pangkuanku aja." Damar tersenyum menyeringai.


"Kak Damar, mau hadiah bogem?" Cia mengepalkan tinju mengarah pada Damar yang duduk di kursi kebesarannya. "Aku bukan hanya diajari masak sama Teh Puput. Tapi juga diajari basic beladiri." Sambungnya dengan ekspresi menakut-nakuti.


"Sebel, ih." Cia mencebik diiringi menahan senyum geli.


Damar terkekeh. Ia meminta Cia menunggu setengah jam lagi. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum ishoma.


"Yang, bawa tiga porsi, kan?" Damar mendongak sesaat dari fokusnya menatap layar laptop. Memandang Cia yang anteng bermain ponsel.


"Iya, tiga. Sekalian aja makannya di ruangannya Kakak ya." Cia udah dikabari Damar jika Rama sejak kemarin sampai sekarang uring-uringan. Belum tahu masalah apa yang menimpanya. Makanya berinisiatif memberi perhatian dengan mengajak makan siang bersama.


Saat jam menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit, Damar mengajak Cia pergi ke ruang kerjanya Rama.


"Kak, aku bawa bekal makan siang nih. Aku lho yang masak." Ucap Cia dengan riang begitu masuk ke ruangan Rama. Ia tahu Puput berangkat ke Ciamis dengan Mami pagi tadi. Lunch box susun tiga dikeluarkan dari paper bag. Siap ditata di meja.


"Kalian makan duluan aja, Kakak belum lapar." Rama merapatkan punggung ke sandaran kursi. Meregangkan tangan usai sibuk memeriksa berkas laporan gudang pelabuhan.


"Gak mau ditolak! Aku cape-cape masak. Hargai dong!" Cia menatap Rama dengan wajah memberengut.


"Iya-iya." Takut-takut Rama bangkit dari kursi kebesarannya menuju sofa. Menjadi teringat akan Puput yang memasang wajah kecewa saat tadi pagi menceritakan kerja kerasnya menyiapkan dinner yang ambyar. Ternyata adiknya juga bersikap sama.


"Cia, waktu kemarin meeting sama vendor, ketemu temannya Puput, nggak?" Ucap Rama disela mengunyah nasi terakhir yang sudah masuk ke mulut.


"He em. Idam namanya. Dia ngasih undangan wedding. Kenapa emang?" Jawab Cia santai. Menatap sang kakak dengan sorot heran.


"Gak papa. Kakak kemarin udah suudzon. Jadinya cemburu sama Puput. " Rama meringiskan wajah.

__ADS_1


"Jadi kemarin lo bete gara-gara overthinking sama istri sendiri?" Tebak Damar tepat sasaran.


Rama tidak menjawab. Beralih mengambil ponsel yang tergeletak di meja kerja.


"Ada yang ngirim foto-foto ini. Gue cemburu. Wajar, kan?" Rama membela diri sebelum nantinya dibully.


Cia memanjangkan leher, menengok ponsel yang diambil alih oleh Damar. Keningnya mengkerut menatap semua foto.


"Ini siapa sih yang iseng ngirim? Kayaknya sengaja pengen Kakak sama Teh Puput berantem. Ini candidnya pas aku ke toilet deh." Komentar Cia.


"Cia bener. Ada orang yang iri sama pernikahanmu."


"Ah, tunggu-tunggu! Semalam Mami bilang, Kakak diusir Papi waktu mau numpang makan. Jadi Kakak menghindar pulang karena lebih percaya foto tanpa konfirmasi sama Teh Puput. Begitu?" Cia menyipitkan mata.


Rama menggaruk tengkuk yang tidak gatal dengan wajah meringis. Pasrah akan mendapat ceramah.


"Ck, lo aneh. Percaya gitu aja sama foto. Mana dari nomer spam lagi ngirimnya. Harusnya curiga sama yang ngirim. Bukan curiga Teh Puput selingkuh." Damar geleng-geleng kepala.


"Astaga, Kak. Aku mau bilang bodoh tapinya Kakak kandungku sendiri." Cia menepuk kening dengan sorot mata prustasi.


Rama mendengkus melihat Damar menahan tawa. "Iya. Gue ngaku salah. Gak tau kenapa kemarin tuh mendadak sensi. Bukan gue banget."


"Lo bantu lacak nomer itu. Gue mau buat perhitungan karena udah berhasil bikin gue bermasalah sama Puput." Titah Rama pada Damar.


...***...


Malam jum'at tidur seorang diri. Tidak ada Puput yang bisa dipeluk dan dicum bu. Rama hanya bisa memeluk guling dengan hati nelangsa. Kesepian.


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Rama teringat sepenggal lirik yang dinyanyikan pengamen di lampu merah tadi. Bukan berpisah alam, hanya berpisah jarak. Besok sore juga ia akan menyusul Puput. Namun karena efek masalah kemarin, ia jadi merasa kehilangan dan merindukan sosok mandiri istrinya itu.


Puput sudah mengirim pesan saat sampai rumah Enin jam dua siang. Pun sudah bervideo call selama setengah jam dan baru saja berakhir. Berucap mesra dan becanda tawa seperti biasanya. Rama merasa senang. Mungkin karena suasana baru membuat istrinya itu kembali pada sikap semula.


Pagi datang menyapa. Semalam Rama tiga kali terjaga setiap kali menggeliat mau memeluk, guling lagi guling lagi yang tersasar. Bukan tubuh wangi Puput.


Rama menyiapkan baju kerja sendiri yang tergantung rapih di lemari. Membuka laci berisi koleksi kaos dalaman kemeja. Keningnya mengkerut mendapatkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang dengan simpul pita warna gold, teronggok di atas tumpukan kaos.


Rama penasaran membuka kotak kado tersebut. Menarik simpul pitanya perlahan. Hanya ada lipatan kertas putih di dalamnya. Namun tiga buah benda pipih terjatuh ke lantai saat ia membuka lipatan kertas berisi tulisan tangan Puput. Ia lebih dulu memungut benda pipih yang terjatuh itu. Mengamati semua benda yang menampilkan dua garis merah dengan kening mengkerut.


Assalamu'alaikum,


Hai, Papa Rama....kata Umma, aku tuh oleh-oleh dari Turkiye. I'm RamPut junior siap launching, insyaallah.


Papa tau gak, gara-gara aku, Umma suka kelaperan tengah malam. Yaaa....soalnya aku pengen cepet gede. Hihihi...


Papa....We Love You


Umma and Baby

__ADS_1


Lutut Rama mendadak lemas tak bertenaga. Ia terduduk di lantai dengan mata berkaca-kaca. Kedua tangan bergetar memegang kertas dan benda pipih. Ia terisak dalam tangis haru. Karena dada yang sesak oleh luapan bahagia. Beralih bersujud penuh rasa syukur. Sejenak hanya mampu memeluk erat kertas dan hasil tespek di dadanya.


__ADS_2