Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
66. Share Loc Pertemuan


__ADS_3

Langkah Rama ringan dan riang memasuki rumah Enin. Tak ada yang menjawab salamnya karena semua orang kemungkinan sedang sholat magrib di kamar atau di mushola. Bergegas masuk ke kamar untuk mandi dan melaksanakan kewajiban sebagai muslim yang semakin ke sini berusaha berubah lebih baik, lebih taat, tanpa bolong-bolong.


Cia masuk ke kamar Enin. Merebahkan badan di samping sang nenek yang tengah mengaji di atas kasur dengan kaki selonjoran. Menjadi kegiatan menyenangkan dan menenteramkan hati setiap mendengarkan suara lirih dan syahdu Enin mengaji. Ia memuji dalam hati, sang nenek yang masih awas membaca tanpa bantuan kacamata.


Enin menutup Al-Qur'an usai mengakhiri bacaan surat Ar -Rahman. Menyimpannya di nakas samping tempat tidur.


"Besok udah bisa temenin Enin joging pagi?" Enin menatap cucu perempuan satu-satunya itu yang tengah tidur miring memeluk guling. Yang makin ceria setelah kedatangan keluarga Ibu Sekar. Hanya saja masih enggan keluar rumah.


Cia merubah posisi menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. "Hmm, kayaknya bisa. Tapi jangan jauh-jauh ya Enin. Jarak 200 meter aja dari rumah, biar bolak balik jalannya."


"Masih takut ketemu laki-laki yang gak dikenal?" Enin bisa menerka dari jawaban ragu-ragu Cia. Dan sang cucu hanya diam.


"Kalau saran Enin, sudah waktunya kamu ngikutin jejak Puput. Berhijab. Disamping itu kewajiban, pasti hati akan merasa lebih tenang. Dua kali musibah kemarin harus membuat Cia makin dekat sama Allah. Semoga nanti Allah akan kasih jodoh terbaik, jika kita senantiasa memperbaiki diri."


Cia mencerna nasehat lembut Enin. Tidak menyanggah, tidak pula beralasan nanti dan nanti seperti sebelumnya, jika sang nenek maupun Mami mengingatkan untuk berhijab. Karena apa yang disampaikan barusan mengena ke hati.


Suara ketukan di pintu terdengar dan Enin menyuruh masuk. Rama muncul dan bergabung di atas ranjang, duduk sila. Dengan inisiatif sendiri memijat-mijat kaki Enin dengan pelan.


"Minggu depan Mami mau ke sini." Rama membuka percakapan sambil memijat betis Enin sebelah kanan.


"Beneran, Kak?" Cia menyahut tidak percaya. "Tadi siang Mami nelpon gak bilang sama aku." Tiap hari, komunikasinya dengan orangtua tidak pernah terlewat. Support system keluarga selalu mengalir yang membuatnya makin mudah mengikis rasa kecewa dan sakit hati karena perbuatan Adit.


"Emang bilangnya juga barusan, pas Kakak telpon Papi." Rama menjawab santai.


Namun semringah di wajah Rama memantik rasa penasaran Cia untuk kembali bertanya. "Emang Kakak bahas apa sama Papi?!"


Dan rasa penasaran Cia terjawab. Sang kakak mulai menyampaikan maksud kepada Enin. Menceritakan acara lamaran dan pernikahan dengan Puput. Tentu saja ini menjadi kabar gembira yang sangat ditunggu oleh Enin. Cia pun menyambut dengan suka cita.


"Kak, mepet amat waktunya dari lamaran ke nikah cuma 2 bulan? Kan harus prewed, milih dresscode family, hunting souvenir, prepare ini itu, wah pokoknya bakal sibuk." Cia menerawang membayangkan kerepotan yang mungkin terjadi.


"Kan kata Enin niat baik harus disegerakan. Yang penting ada duit, segalanya jadi mudah. Lagian kan ada kamu dan Damar yang bisa direpotin." Sahut Rama enteng. Tersenyum miring melihat sang adik yang mencebikkan bibir.


"Ah iya hampir lupa. Tadi Puput bilang, besok pengen ngajak kamu makan siang di kantor. Puput mau bawa bekal buat kita bertiga. Mau ya?!" Rama menatap Cia. Berharap sang adik menerima ajakan Puput yang bermaksud tulus membantu recovery.


"Ikut aja, Cia. Berangkat pagi bareng Rama. Biar ada suasana baru. Biar Enin jogingnya ditemani Bibi Ratih." Tentu saja Enin pun sangat mendukung. Dimana setiap hari melihat Cia hanya berkutat dengan ponsel dan laptop untuk memantau pekerjaan tanpa mau bersosialisasi ke luar rumah.


"Oke deh." Cia setuju setelah merenung sesaat.


...***...


Langit hari ini masih sama dengan hari kemarin. Cerah, seolah menggambarkan suasana hati seorang Putri Kirana pagi ini. Yang sudah selesai berkutat di dapur menyiapkan bekal yang akan dibawanya ke kantor. Kejutan dan janji kemarin dari sang kekasih, nasehat dari sang Ibu semalam, makin memantapkan hati dan menguatkan mental untuk menyongsong hidup baru.

__ADS_1


"Rama sungguh-sungguh ingin menikahimu. Ibu bisa nilai itu. Kepribadiannya yang baik kelihatan natural. Tidak dibuat-buat layaknya orang kalau cari muka. Bibitnya sudah jelas. Berasal dari keturunan baik-baik dan agamis. Dari dulu orangtuanya Enin Herawati sudah dikenal sebagai tokoh masyarakat berpengaruh dan terkenal dermawan."


"Untuk apa Rama sampai segitunya memberi Teteh jabatan tinggi. Kalau bukan karena ingin membuktikan jika dia benar-benar sayang sama kamu, Teh."


Puput memutar ulang rekaman nasehat Ibu di otaknya sambil memasukkan kotak nasi dan lauk serta puding, ke dalam goodie bag. Menyimpannya di meja ruang tamu. Beralih naik tangga menuju kamarnya karena belum memakai jilbab.


"Ingat, syetan tidak akan tinggal diam. Pasti akan merayu menggoyahkan setiap niat baik. Makanya seringkali ada yang galau begitu mau nikah bahkan sampai batal nikah."


"Barengi dengan istikharah, jika hati teteh masih galau. Masih ada waktu untuk memantapkan hati."


Kali ini Puput mengenakan pasmina warna coklat susu, senada warna vest yang dikenakannya. Memasangnya dengan rapih di depan cermin meja rias.


"Jika Teteh nanti nikah, surga teteh ada pada suami. Harus taat. Diantaranya jika suami nanti mengajak Teteh pindah rumah, jangan membantah."


"Teteh pergi karena dibawa suami, Ami juga akan pergi karena menuntut ilmu. Ibu gak akan kesepian. Masih ada Aul dan Zaky yang nemenin. Masih ada hape buat komunikasi. Masih ada keluarga besar yang tinggalnya gak jauh. Jadi, jangan khawatirkan lagi Ibu ya, Neng geulis."


Puput selesai dengan touch up riasan minimalisnya. Harus mendongakkan wajah menatap langit-langit kamar begitu sampai pada putaran rekaman nasehat terakhir Ibu. Membuatnya matanya berkaca karena haru. Bahkan Ibu bilang, rasa berat untuk berpisah hanya di awal saja karena selama ini selalu berkumpul bersama. Nanti juga akan terbiasa.


Pintu utama sengaja dibuka lebar. Menunggu kedatangan Rama yang akan menjemput. Pria yang akan segera melamarnya itu keukeuh mengajak berangkat dan pulang bersama, selama ia berkantor di cabang Ciamis. Dan mobil yang ditunggu pun datang juga.


"Morning, calon kakak ipar. Duh...makin cantik aja." Cia yang turun dari jok penumpang depan, memeluk dan memberi cipika cipiki pada Puput yang menghampiri.


Membuat Puput tersipu mendengar sapaan nama baru itu. Merasa senang juga melihat binar ceria di wajah cantik calon adik iparnya itu.


Puput terpaksa mengalah. Dari pintu depan kiri yang masih terbuka lebar, nampak Rama intens memperhatikan interaksi di luar mobil sambil tersenyum kecil.


"Cia, kita pamit dulu sama Ibu!" Ajak Rama dan bersiap turun dari mobil.


"Ibu sama Aul lagi pergi ke pasar. Kita langsung jalan aja yuk." Puput sudah mengunci pintu dan menyimpan kunci di tempat rahasia yang biasa diketahui anggota keluarga. Membiarkan pekerja bangunan melanjutkan kerja dengan kopi siap seduh yang sudah disimpan di teras.


Sampai di parkiran RPA, keraguan untuk turun nampak di wajah Cia. Seolah baru pertama kali melihat karyawan lalu lalang bersiap memulai kerja. Padahal jumlah karyawan yang lebih banyak biasa ia jumpai di kantor Adyatama Grup di Jakarta.


Untuk pertama kalinya Puput siap berjalan berdampingan dengan Rama. Tidak takut jika akan menjadi pusat perhatian atau mungkin aksi curi-curi pandang. Toh semua orang sudah tahu status hubungannya kini. Apalagi sekarang berjalan bertiga yang mungkin banyak orang belum mengenal Cia karena ia sendiri pun tidak ingat kapan adiknya Rama itu pernah mengunjungi RPA Ciamis.


"Jangan biarkan rasa takut terus menghantuimu. Tenang....aku akan lindungi kamu." Puput menganggukkan kepala. Meyakinkan dengan mengulurkan tangan mengajak Cia turun.


Rama menjadi pengawal dua orang wanita yang disayanginya. Membiarkan Puput yang merangkul bahu Cia, berjalan di depannya. Bahkan terlihat Puput mengalihkan kegelisahan Cia dengan mengajaknya berbincang sepanjang jalan sampai masuk ke dalam ruangan.


"Gimana perasaanmu sekarang, Cia?" Puput memberikan segelas air kepada Cia yang duduk di sofa. Nampak dahinya Cia berembun keringat karena sepanjang berjalan diliputi ketegangan.


Cia meneguk setengahnya. Nafasnya yang sedikit terengah kini normal. "Aku gak takut lagi...hanya dikit takutnya. Iya betul." Kalimat yang seolah ditujukan pada diri sendiri, meyakinkan perasaannya.

__ADS_1


Puput tersenyum lebar. "Nanti kita jalan-jalan ke mall pulang kerja. Mau? Biar makin hilang rasa takutnya. Tenang...ada aku yang jadi bodyguard." Masih dalam rangka mensupport Cia untuk mempercepat recovery.


"Nanti aku pikirin sambil kerja." Cia mengeluarkan laptopnya dari dalam tas. "Aku pakai headset nih. Tenang...gak akan denger kalian ngobrol mesra." Sambungnya menggoda Rama yang memanggil Puput untuk duduk satu meja.


"Ish, orang mau bahas kerjaan juga." Protes Puput sambil menggeser kursi ke samping kanan meja Rama. Tapi rupanya Cia tak mendengar protesnya karena telinga sudah disumpal headset.


Rama dan Puput larut dalam keseriusan pembahasan kerja. Rama menerangkan secara detil seputar RPA dari A sampai Z. Menjelaskan tentang tugas dan wewenang Puput yang akan bertugas menjadi wakil CEO. Yang bertanggungjawab khusus memajukan cabang Ciamis.


"Apa aku akan mampu mengemban amanah ini?" Puput meringiskan wajah. Membulak-balik lagi lembar demi lembar berkas tebal berisi data entry perusahaan.


Rama menggeleng. "Jangan dibiasakan meragukan kemampuan diri, Neng. Ganti pertanyaan dengan pernyataan. Aku akan mampu mengemban amanah. Dan aku yakin kamu bisa." Pungkasnya memberi motivasi.


...***...


Tempat kerja Puput mulai hari ini adalah di ruangan Rama. Dan beruntung hari ini bisa satu ruangan bertiga dengan kehadiran Cia. Suasana kerja lebih rileks, serius tapi santai. Apalagi saat makan siang bersama diselingi canda tawa.


"Aa, Cia, mau mampir dulu gak? Puput menatap silih berganti sebelum membuka pintu mobil. Ia diantarkan pulang, dan menjadi yang pertama turun.


"Lain waktu ya, Neng. See you tomorrow." Sahut Rama dengan mengedipkan sebelah mata. Hanya dibalas Puput dengan senyum simpul.


"Besok kita jadi ke mall ya, Put." Sambung Cia mengingatkan kesepakatan obrolan tadi. Yang dijawab Puput dengan membulatkan kedua jarinya sebagai simbol persetujuan.


...***...


Dering ponsel terdengar usai Puput melambaikan tangan melepas kepergian mobil. Merogohnya dari dalam tas dengan cepat. Keningnya mengkerut menatap panggilan dari nomer yang tak dikenal. Seperti biasa, ia akan mengabaikanya. Memilih berjalan masuk menuju pintu utama.


Dering ponsel berulang lagi. Puput sudah berada di kamarnya. Membuka pasmina dan menggerai rambut panjang sebahunya yang seharian ini diikat. Lagi, dari nomer yang sama. Dan Puput abaikan lagi. Memilih bersiap ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh yang lengket oleh keringat. Toh kalau bukan orang iseng, akan ada susulan pesan masuk. Selalu begitu pikirnya.


Bunyi yang terdengar selang 5 menit kali ini adalah notif pesan. Puput yang sudah memegang handle pintu bersiap masuk ke kamar mandi, urung. Penasaran ingin melihat pesan dari siapa. Apakah si penelepon barusan?


"Hai, Put. Telepon aku dua kali gak diangkat. Deuhhh sombong ya sekarang 🤔"


"Masih ingat siapa aku gak, Put? Aku ingin ketemu kamu malam ini di cafe...." Sebuah shareloc dilampirkan sebagai tempat pertemuan.


"Sampai ketemu jam 7 malam. Jangan lupa datang ya, Put. Please....Aku kangen bernostalgia."


Puput belum membalasnya. Penasaran mengklik dahulu profile picture si pengirim chat. Mencermati fotonya dengan seksama. Ia pun membelalakkan mata diiringi senyum lebar. Foto seorang teman lama.


"Ma'aafff....fren. Aku kora orang iseng."


"Oke deh. Aku akan datang."

__ADS_1


Dua buah balasan singkat dikirim. Karena saat berniat menelpon balik, si penerima merijeknya dengan susulan pesan otomatis bahwa sedang mode menyetir.


__ADS_2