
Pesta telah usai. Seluruh keluarga sudah kembali pulang ke rumah meninggalkan sepasang pengantin baru yang tetap tinggal di hotel tersebut untuk menikmati malam mingguan yang akan menjadi malam pertama bagi Cia dan Damar.
Terkecuali pasangan Anjar dan Ratih. Mereka tidak kembali ke rumah Krisna tetapi menuju hotel yang sudah dibooking oleh Panji sebagai hadiah pernikahan. Tidak tanggung tanggung, booking dua hari dua malam. Panji dan Padma yang mengantar orangtuanya itu ke hotel yang lokasinya menghadap pemandangan laut Ancol.
"Panji hanya nganter sampe lobby ya. Happy holiday Ayah, Bunda. Nanti dijemput lagi hari senin." Panji tersenyum miring. Bergantian memeluk kedua orangtuanya itu. Sengaja tidak mengatakan honeymoon karena ada Padma. Takutnya nanti bertanya apa artinya.
"Happy holiday Ayah, Bunda." Padma tak ketinggalan memeluk Ayah Anjar dan Bunda Ratih. Rona bahagia terpancar di wajahnya.
"Nji, hati-hati nyetirnya. Jangan ngebut!" Pesan Bunda Ratih setelah Panji dan Padma masuk lagi ke dalam mobil. Dijawab Panji dengan mengangguk dan tersenyum.
Diantar petugas hotel sampai depan pintu kamar. Anjar membuka pintu kamar kelas suite itu. Begitu lampu menyala, suguhan suasana romantis nampak di depan mata.
"Astaga. Panji nyiapin kamar kayak untuk pengantin baru aja." Ratih geleng-geleng kepala diiringi rasa malu. Karpet yang dilalui bertabur kelopak bunga mawar. Dua angsa terbuat dari handuk berada di atas ranjang dengan kepala saling menyatu membentuk simbol 'love'. Di meja makan tersaji buah-buahan serta mini blackforest bertuliskan 'Happy Wedding Ayah & Bunda'.
Anjar terkekeh. "Mungkin niatnya biar kita nostalgia dengan masa honeymoon dulu."
Ratih memalingkan wajah malunya agar tidak kentara oleh Anjar. Waktu sudah merambat semakin malam. Ia segera membersihkan riasan di wajah dan ke kamar mandi lebih dulu untuk membersihkan diri.
"Mas mau sholat isya berjama'ah?" Tanya Ratih yang sudah berganti pakaian tidur.
"Mas udah sholat tadi." Sahut Anjar yang kemudian gilirannya masuk ke kamar mandi.
Ratih tersenyum samar sembari mengenakan mukena. Ini hari kedua tinggal bersama. Ia sudah menyaksikan bagaimana Anjar selalu melaksanakan sholat awal waktu. Rasa bangga memenuhi dada.
Usai sholat Ratih melihat Anjar sudah berada di peraduan. Duduk menyandarkan punggung di kepala ranjang. Ia menyusul naik karena sang suami menepuk sisi kasur sebelah kanan.
"Bunda mau berapa hari tinggal di Jakarta?" Anjar mengusap-ngusap rambut Ratih yang menyandarkan kepala di dadanya.
"Sampai hari rabu, Yah. Soalnya mau sidak dulu ke cabang. Ibu juga mau tinggal dulu di rumah Teh Ratna gak tau berapa lama." Jelas Ratih. Dengan mata terpejam ia merasakan nyamannya berlabuh di dada bidang yang dulu menjadi kebiasaan menjelang tidur.
"Yah, kita akan tinggal di mana nanti? Sementara anak-anak di Bandung, aku juga gak bisa ninggalin Ibu sendiri kalo udah pulang lagi ke Ciamis." Sambung Ratih dengan wajah mendongak.
"Soal itu kita bicarakan besok lagi. Malam ini jangan anggurin suasana romantis. Kita mulai buka puasa ya, Bun?" Anjar menahan wajah yang akan menunduk menyembunyikan rona malu. Ia memiringkan badan sehingga saling berhadapan. Ditatapnya wajah cantik dengan kulit lembut yang masih kencang karena rajin perawatan itu.
Ratih menahan bibir Anjar yang mulai mengarah ke bibirnya. "Ayah, janji dulu tidak aka bikin aku sakit hati lagi." ujarnya dengan tatapan serius.
Anjar menarik telunjuk Ratih yang menempel di bibirnya. Menyimpan telapak tangan sang istri ke puncak kepalanya. "Demi Allah, Ayah berjanji. Kesempatan kedua ini Ayah akan berusaha memberikan kebahagiaan, selalu memberi senyum bukan kesedihan. Akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik."
Ratih beralih memeluk Anjar dengan erat. "Kamu jahat. Kenapa susah sekali mengusirmu dari hati ini. Aku selalu tersiksa menahan rindu. Semakin berusaha membenci malah wajahmu semakin nyata di pelupuk mata." ujarnya meluapkan keluh kesahnya selama ini.
Anjar membaringkan tubuh Ratih perlahan. Ia beralih mengungkung di atasnya dengan kedua tangan menyanggah kepala istrinya itu. "Mas juga sama. Selama ini menahan rindu tapi takut untuk bertemu. Mas tetap menyimpan namamu di hati. Tak ada yang bisa menggantikannya."
Lega. Saat beban perasaan yang selama ini bercokol di hati, sudah saling diungkapkan. Selanjutnya tak ada lagi kata. Hanya tindakan yang berbicara sebagai bentuk ungkapan rasa saling menginginkan dan membutuhkan. Memulai meredakan dahaga dan lapar dalam bentuk penyatuan dua raga.
...***...
Minggu pagi di rumah Rama. Panji mulai memanaskan mobilnya. Sudah janji pagi ini akan mengajak Padma dan Ami liburan ke Dufan. Dan otomatis Aul akan ikut.
"Teh, ayo udah jam delapan." Ami melongokkan kepala dengan sedikit membuka pintu kamar. Ia dan Padma paling semangat dan sudah siap sejak tadi.
"Iya bentar pake sunscreen dulu." Sahut Aul yang sedang berkaca memoles bibir dengan lip tint. Baru kemudian memakai sunscreen karena akan berlama-lama bermain di luar ruangan.
"Zaky gak ikut?" Tanya Rama melihat Aul, Ami, dan Padma berpamitan pada Ibu.
__ADS_1
"Nggak Kak, nanti ada temen jemput ke sini ngajak main."
"Apa-apa? Aa mau pergi sama siapa? Cewek apa cowok? Emang Aa punya temen di Jakarta?" Cecar Ami yang menjegal langkah Zaky yang akan pergi ke kolam renang menemani kakak iparnya berenang.
"Anak kecil jangan kepo." Zaky memeletkan lidah. Mendorong bahu Ami ke kanan agar bergeser tidak menghalangi jalan.
"Eits gak bisa lewat, Aa Felguso! Jangan ada rahasia di antara kita. Ayo bilang, mau pelgi cama capa?" Ami masih menghalangi jalan Zaky sembari mengerjap-ngerjapkan mata.
"Hihihi." Padma terkikik melihat tingkah Ami yang menurutnya menggelikan.
"Teteh tau siapa yang akan jemput A Zaky." Puput muncul dari dapur dengan membawa goodie bag berisi rantang susun dua. Ia senyum-senyum melihat Zaky mengedipkan mata memberi kode.
"Namanya Nadia. Ups, Ibu keceplosan." Ibu Sekar menutup mulutnya dengan mata membelalak.
"Yaaah...ibu mah sengaja ya." Zaky mencebik melihat ibu juga kakak-kakaknya terkekeh. Karena sudah pasti bakal jadi bahan ledekan Ami.
"Ulala....Aa Felguso punya fans baru anak Betawi? Itu Kak Clarissa mau dikemanain. Kacian dong." Ami mulai mengejek.
"Nadia itu adik kelas. Dia lagi liburan di Jakarta di rumah tantenya. Sudah ah, sana pergi!" Zaky mengibaskan tangan mengusir Ami. Karena gak akan selesai meladeni Ami yang akan terus usil.
Aul duduk di depan menemani Panji yang menjadi driver. Di jok belakang sudah berisik oleh dua orang yang baru masuk.
"Eh teteh, sembako gak ketinggalan?" Tanya Ami kepada Aul. Ia mengingatkan bekal yang diberikan dari Puput.
"Udah disimpan di bagasi." Sahut Aul yang selesai memasang seat belt.
"Sembako apa? kayak mau camping aja." Panji menaikkan satu alisnya.
"Sembako cinta dong. Untuk bekal Kak Panji sama Teh Aul." Celutuk Ami menyambar mendahului Aul yang baru membuka mulut.
"Ish dasar Ami. Itu, Kak. Salad buah bikinan teh Puput buat bekal di Dufan." Ralat Aul. Baru juga bersiap berangkat sudah mendapat keusilan adik bungsunya itu.
"Hehe kirain apa. Bisa aja deh Ami." Panji tersenyum mesem. Mengajak seisi mobil berdoa sebelum mesin mobil dihidupkan.
"Mi, pulang dari Dufan terus ke mall yuk. Kita beli baju kembaran lagi ya? Padma dikasih bekal banyak sama Ayah tadi malam." Ucap Padma usai berfoto ria di dalam mobil.
"Hayu lah. Bekal aku juga banyak. Dari saweran, dari fans, sama dari Teh Puput tadi." Ami menepuk-nepuk tas selempang kesayangannya.
"Tapi kembarannya harus beda ukuran. Kita kan beda tinggi. Jangan seperti piyama. Celana aku jadi ngatung."
"Hihihi kan sengaja biar Ami tetep imut." Padma terkikik geli.
"Lah bukannya imut. Aku jadi kayak cacingan beneran itu. Baju atasnya ngepas, celananya ngatung. Duh si selimut jatuh wibawa." Sahut Ami dengan memasang wajah nelangsa. Membuat Padma tertawa lepas. Yang duduk di depan menjadi pendengar, saling lirik dan mengulum senyum.
...***...
"Teh, malam selasa kemarin Ibu diundang makan malam ke rumah Pak Bagja." Ibu baru ada kesempatan bicara berdua dengan Puput setelah kemarin ikut disibukkan dengan hajatannya Cia.
"Kenapa ibu baru cerita sekarang? Udah seminggu lho." Puput menatap Ibu yang sama-sama duduk di kursi teras menyaksikan Rama dan Zaky yang sedang balapan berenang.
"Ibu yakin Aul udah cerita sama teteh. Ibu sengaja ceritanya nunggu ketemu langsung karena ada hal serius yang ingin dibahas."
Puput mengangguk. Teringat ucapan Aul yang sesuai dengan dugaannya.
__ADS_1
"Pak Bagja secara pribadi sudah melamar ibu. Dan Ibu ngasih jawabannya gimana restu dari anak-anak aja." Ibu meneguk teh hijau yang baru dituangkan dari poci kaca.
"Kalo ibu juga menyukai Pak Bagja, teteh sama Aul sama Zaky akan ngerestuin ibu. Asal ibu bahagia. Soal Ami, insyaallah teteh akan bujuk. Ami kan akan lama liburan di sini. Jadi banyak waktu buat ngerayu dia." Puput mengangguk pasti.
Ibu tersenyum dan menatap lekat wajah calon ibu yang tampak makin chubby. "Dulu Ibu pernah bilang gak akan nikah lagi. Posisi ayahmu gak akan tergantikan."
Puput menggeleng. "Teteh tau. Ibu hanya bilang, bukan janji. Dan posisi Ayah sampai kapanpun memang tidak akan tergantikan baik di hati teteh ataupun di hati ibu. Ada tempat tersendiri di lubuk hati yang paling dalam. Jadi jika ibu mau nikah lagi, masih ada ruang hati yang kosong untuk ditempati. Ibu jangan merasa bersalah atau merasa mengkhianati Ayah." Jelasnya dengan sangat hati-hati.
Ibu menunduk menekuri lantai yang dipijak. Ia mencerna penjelasan Puput yang penuh kedewasaan itu. "Tapi seorang Ibu yang punya anak banyak dan beranjak dewasa, tidak cukup hanya memikirkan diri sendiri saja."
"Bukankah Pak Bagja udah tau dengan keluarga kita, Bu?"
Ibu mengangguk. "Pak Bagja akan menerima semua anak-anak Ibu. Beliau akan bertanggung jawab membiayai pendidikan Aul, Zaky dan Ami. Ibu udah pikirkan lagi masak-masak, mengolah lagi sebelum membuat keputusan. Dan Ibu sekarang udah mantap. Akan segera ngasih jawaban sama Pak Bagja."
"Jawaban ibu apa?" Tanya Puput dengan sorot mata penuh penasaran.
...***...
Senin menjelang. Jika dulu Rama dan Puput saat akan bulan madu ke Turki diantar ke bandara oleh Damar dan Cia. Kini sebaliknya. Rama hanya setengah hari bekerja di kantor. Pulang ke rumah menjemput Puput kemudian bertolak ke rumah Mami Ratna. Sepasang pengantin baru sudah menunggu di sana.
"Sudah siap? Jangan sampe ada yang ketinggalan." Rama meneliti dua koper besar yang berdiri berdampingan.
"Sudah, Kak. Visa dan lain-lain udah aman di tas." Sahut Cia yang sudah bersiap berangkat karena jam empat sore harus sudah sampai di bandara.
Usai berpamitan pada Mami Ratna dan Enin, Cia dan Damar masuk ke dalam mobil Rama. Berpamitan kepada Papi Krisna sudah lewat video call karena sang ayah sudah mulai ke kantor lagi.
Perjalanan ke bandara lancar sesuai ekspektasi. Rama dan Puput memberi kado paket honeymoon ke Jepang selama lima hari. Sangat cocok untuk pengantin baru karena bertepatan dengan musim dingin.
"Thank you untuk kadonya, kakak ipar." Damar berpelukan dengan Rama saat sudah waktunya check in bandara. Saling menepuk punggung.
"Ini bekal khusus pria. Diminum dua jam sebelum anu. Gue kakak ipar yang baik, bukan?" Bisik Rama sembari memasukkan dua sachet kopi khusus yang ia pesan dari dokter herbal anggota Brotherly Club.
"Njirr, kakak ipar omes ini sih." Damar menoyor bahu Rama diiringi geleng-geleng kepala.
"Alaah, jangan muna. Otak lo juga sama. Udah goal makin ketagihan, kan?" Rama mencebik dan balas menoyor lengan sahabat yang naik status menjadi adik ipar. Untuk obrolan mereka tidak diperhatikan oleh Puput dan Cia yang sedang perpisahan.
"Fii amanillah. Happy honeymoon, Cia." Puput berpelukan erat dengan Cia dengan wajah semringah. Beruntung memiliki adik ipar yang cocok dan bisa menjadi teman. Dan kini akan melepas pergi dengan status baru sebagai Nyonya Damar.
"Aamiin, Teh. Nitip ponakan aku harus tumbuh sehat. Bumil juga harus selalu sehat dan bahagia." Cia mengusap-ngusap perut Puput yang mulai nampak membuncit.
"Moga cepet nular ke Onty Cia." Puput tersenyum simpul. Dan Cia tersenyum sembari mengacungkan jempolnya.
Sama-sama saling melambaikan begitu berpisah ruang tunggu. Rama merangkum bahu Puput mengajak meninggalkan bandara. Usai sudah tanggung jawab sebagai seorang kakak yang selalu memberi jatah uang jajan setiap bulannya untuk sang adik tersayang. Karena selama ini ia berjanji pada diri sendiri pun kepada sang adik, jika belum menikah akan selalu memberi uang jajan sebagai bentuk rasa sayangnya kepada adik satu-satunya itu.
"Neng, pengen kemana dulu? Atau mau langsung pulang?" Rama melirik Puput sekilas. Lalu kembali fokus menatap jalan raya.
"Boleh kulineran dulu, A'? Mumpung di Tangerang aku pengen makan nasi sumsum sama Laksa. Ini si utun lho yang minta. " Puput memiringkan kepala dan memasang senyum manis.
Rama menoleh sekilas. Mengusap pipi Puput dengan penuh sayang. "Mau Umma yang minta juga akan Aa kabulin."
"Aseeek, the best Papa ini sih." Puput menghadiahi satu kecupan di pipi kiri Rama.
"Tapi nanti malam Papa pengen dimakan ya, Umma. Ini keinginan bayi kecil lho." Rama menoleh lagi diiringi senyum miring.
__ADS_1
Puput menghembuskan nafas keras dan mendecak. "Ah, nyesel deh muji. Kukira tulus ternyata modus." Dengan gemas mencubit pinggang Rama yang kini tertawa lepas penuh kemenangan.