Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
62. The Power of Love


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah. Rama menyempatkan melakukan lari pagi menyusuri jalan pedesaan agar badan tetap bugar. Cukup 15 menit lamanya. Berlanjut melakukan push up dan jump rope di teras rumah. Cucuran keringat membasahi kaos warna navy yang melekat membukus dada bidangnya, menonjolkan otot kekar lengannya.


"Kak, mau?" Cia muncul dari dalam rumah membawa sepiring cemilan. Goreng pisang dan goreng ulen. Duduk di kursi teras dengan kedua kaki diangkat, duduk sila.


"Percuma dong bakar kalori kalau makan gorengan." Sahut Rama disela pendinginan dengan melakukan peregangan betis. "Ambilin minum aja, please!"


Cia menurut. Beranjak ke dapur dan tak lama muncul dengan membawa segelas air putih hangat. Sudah tahu dengan kebiasaan kakaknya itu.


"Damar ada nelpon gak?" Rama duduk di kursi yang kosong. Meneguk habis air putih sampai tandas. Membuka baju yang basah dan membiarkan angin menerpa tubuh atasnya yang polos.


"Semalam ada. Kak Damar pede banget nunjukkin bisa masak nasi goreng. Jadi deh sepiring nasi goreng yang warnanya item karena kebanyakan kecap." Cia tertawa mengingat video call semalam. "Tahu gak Kak, pas makan sesendok penuh, niat mau pamer makanan enak malah matanya melotot penuh. Terus lari deh ke washtafel, dimuntahin tuh. Rasanya aneh, katanya. Sok bisa sih. Ha ha ha----" tawanya makin lepas sambil memegang perut. Padahal semalam sudah kenyang mentertawakan Damar. Kini menceritakan kilas balik semalam membuatnya tidak bisa mengerem tawa.


Rama terkekeh. Atensinya lebih terkesan pada keceriaan Cia yang tertawa-tawa sampai mata berkaca-kaca. Ikut senang dengan kebahagiaan sang adik.


"Dek, coba ingat-ingat! Siapa selama ini yang suka membuat kamu tertawa, membuat kamu happy. Adit atau Damar?!" Rama mengusap puncak kepala Cia saat beranjak masuk ke dalam rumah untuk mandi. Sengaja meninggalkan PR yang harus dijawab dengan intropeksi diri.


Cia mencerna ucapan Rama dengan kening mengkerut. Ingin bertanya tapi sang kakak sudah hilang dari pandangan. "Masudnya apa ya?! Kan jelas status Adit dan Damar beda. Dulu Adit pacar, Damar seperti kakak." bergumam pelan, mengira-ngira.


Tapi emang sih Kak Damar yang selalu ada dan selalu bikin aku tertawa.


Cia menerawangkan mata. Mendongak menatap langit biru berhias awan putih. Sinar mentari mulai terasa hangat menyentuh kulit. Tiba-tiba terlintas wajah Damar. Membuatnya kangen. Dengan cepat membuka layar ponsel, mengetikkan pesan;


"Kak, lagi ngapain? Udah sarapan?"


"Awas jangan mager ya! Mentang-mentang minggu."


Dua pesan sudah dikirimkan. Cia melanjutkan makan goreng ulen yang masih hangat sambil menunggu balasan. Malah dia sendiri yang minggu paginya malas-malasan berteman cemilan dan segelas teh manis.


...***...


Rama melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Tujuannya ke rumah Puput untuk menjemput. Vibes semalam masih terasa memberi semangat mengaliri jiwa dan raga. Sudah menceritakan secara garis besar soal mantan. Yang ditanggapi Neng sang pujaan dengan ekspresi biasa saja. Berakhir obrolan membahas rencana pertandingan silat hari ini.


"Neng, jadi penonton aja ya! Aku takut kamu cidera." Namun bujukannya itu tak membuat Puput goyah pendirian. Konsisten dengan niatnya.


"Kalau Ibu gak ngijinin tanding, aku tidak akan ikutan. Selama ada restu Ibu, aku tidak takut apapun."


"Ini bukan hanya soal prestasi tapi juga prestise."


"Aa tenang aja, persaingan panas hanya di tengah arena. Di luar itu kami komunitas yang baik dan solid. Suka ngadain acara baksos. Event tahun ini sekalian halal bihalal juga."


Dan Rama mengalah tak bisa mencegah. Dan ia berinisiatif akan mengantar dan juga menonton untuk yang pertama kalinya. Penasaran tentu saja. Ingin tahu keahlian Puput yang sudah mengantongi sabuk violet, yang berarti level tertinggi. Semalam sepulang mengantarkan Puput, menyempatkan searching wawasan mengenai ilmu beladiri pencak silat.


Di teras ternyata sudah berkumpul keluarga Puput, menunggunya datang. Rama memarkirkan mobil sedikit melewati rumah Puput karena ada pekerja bangunan yang tengah mengaduk pasir.


"Aku pengen ikut, Teh." Terdengar rengekan Ami begitu Rama berjalan menghampiri sambil berucap salam. "Janji deh gak akan berisik." Ami mengangkan dua jarinya untuk menguatkan keseriusannya.


"Ibu kasian di rumah sendiri. Lagian gak ada anak kecil yang nonton. Do'ain aja Teteh jadi juara, oke!" Puput mengajak ber high five. Ami menyambutnya meski dengan wajah ditekuk. Berlanjut si bungsu itu memeluk sang kakak. Tanpa kata sebagai ungkapan rasa sayangnya.

__ADS_1


Tak berlama-lama karena waktu yang kian beranjak menuju jadwal pertandingan. Puput mencium dan memeluk Ibu disertai meminta do'a. Diikuti Aul dan Zaky yang akan ikut mendampingi sebagai supporter.


"Kasih motivasi aja jangan memperlihatkan kecemasan. Ibu ngijinin Puput karena Ibu tahu dengan kemampuannya. Ayahnya sendiri yang menjadi guru pelatih. Ibu bukannya tidak cemas. Tapi semua sudah Ibu adukan dan titipkan sama Allah di setiap selesai shalat. Bagi Ibu tak penting soal juara, yang utama Puput pulang lagi dengan selamat tidak ada cedera."


"Kak, di depan belok kanan!" Perintah Zaky yang duduk di jok sampingnya, membuyarkan lamunan Rama tentang bisikan Ibu Sekar saat ia pamit paling akhir.


"Oke." Rama menyahut singkat. Sekilas melirik Puput yang duduk di baris jok kedua bersama Aul. Gadis cantik berkerudung hitam itu sama sekali tidak ada raut tegang ataupun gelisah. Asyik mengobrol santai bersama Aul.


Mobil sudah melewati kantor polres kota Banjar dan kini tiba di tempat tujuan. Pintu gerbang tinggi terbuka lebar dan di halaman yang luas dengan taman yang tertata itu sudah banyak mobil dan motor terparkir. Ramai pula orang-orang bercakap-cakap sambil berdiri dan duduk. Sesekali terdengar gelak tawa penuh sukacita. Sebuah pengalaman baru buat Rama berada di lingkungan petarung.


Rumah bergaya Joglo khas Jawa berdiri kokoh di tengah. Menuju pintu masuk rumah serba kayu itu harus melewati tangga sekitar 10 titian. Memberi kesan gagah, kokoh dan artistik bangunan serba coklat kayu itu.


"Itu rumahnya Kang Acil, yang ngadain event ini. Dalam rangka ulang tahun ke 50." Puput sepertinya bisa membaca raut penasaran Rama yang tengah mengamati rumah joglo yang pintunya tertutup rapat itu.


"Acaranya di belakang, masuknya lewat samping. Yuk, langsung ke sana aja!" sambung Puput mengajak Rama dan kedua adiknya yang masih berdiri mencermati orang-orang yang berbincang berkelompok-kelompok.


Dari kejauhan nampak seorang pria melambaikan tangan ke arah rombongan Puput. Ia adalah Aris didampingi Sony mantan rekan pelatih di Padepokan Elang Putih. Dibalas Puput dengan lambaian tangan diringi senyum lebar.


"Wah dikawal tiga orang nih." Aris terkekeh menggoda Puput yamg berjalan paling depan. Ia sudah kenal kedua adiknya Puput yang merupakan murid di padepokannya, yang kini mengajak bersalaman. "Sudah siap kan, Put?! sambungnya dimana ia datang sebagai penonton sekaligus temu kangen dengan para senior pendekar silat.


"I'm ready!" jawab Puput percaya diri. Menoleh ke sebelah kiri menunggu Rama yang menepi untuk menerima telpon dulu.


"Put, jangan sampe kita ketemu nanti. Aku down duluan dah....bisa kalah sama kamu." Ujar Sony dengan gerak tangan menebas leher.


Puput tertawa. "Jangan minder gitu, Sony. Aku do'ain kamu masuk final." Ia membesarkan hati rekannya itu.


Puput terkejut mendengar ucapan Rama. Aul dan Zaky saling pandang dan menahan senyum. Aris dan Sony berdehem bersamaan dengan mengarahkan pandangan menyipit ke arah Puput.


"Kang Aris, Sony, kenalin ini A Rama."


"Aa, kenalin ini rekan aku waktu di padepokan. Kang Aris dan Sony." Puput mengajak ketiganya saling berkenalan.


"Saya Rama. Calon suaminya Puput." Ujar Rama tegas namun diiringi senyum ramah. Menjabat bergantian tangan Aris dan Sony yang sama-sama menyebutkan nama.


"Put, surpries euy. Ditunggu ya entar undangannya. Awas!" Aris menggoda Puput yang hanya menjawab dengan mesem-mesem.


Masuk ke lokasi, makin bertemu banyak orang yang dikenal Puput. Terjadi saling sapa dan ramah tamah karena sebagian yang datang dari wilayah Bandung dan Jabotabek. Dan mayoritas adalah laki-laki. Menjadikan Rama selalu siaga berada di sisi Puput. Tentu saja dengan ciri khas memperkenalkan diri ; "Rama, calon suaminya Puput"


Puput hanya bisa menghela nafas panjang dengan gaya cuek Rama yang mengenakan kaos hitam itu. Yang berbisik di telinganya ; "Biar gak ada yang nikung"


...***...


Pertandingan silat yang dibagi dalam dua kelas. Yaitu kategori tanding kelas B merupakan pemilik sabuk merah. Dan kelas A merupakan pemilik sabuk violet, akan segera dimulai. Kang Acil yang merupakan senior dan sang pemangku hajat usai memberikan sambutan di pendopo yang berada di belakang rumah joglo itu.


Puput sudah berganti memakai pakaian kebesarannya. Ada Aul yang membantunya sebagai asisten pribadi. Semua penonton dengan sudah siap menyaksikan dengan duduk sila memutari arena.


Sesi pertama dibuka oleh kelas B dengan jumlah peserta 10 orang, setelah perwakilan juri membacakan aturan main. Dan semua mata mulai terpusat pada tengah arena dimana babak penyisihan dimulai. Dalam waktu satu jam, kategori tanding kelas B selesai sampai babak final. Menelurkan tiga juara yang diringi tepukan tangan meriah dari penonton.

__ADS_1


Tiba bagian kelas A bertanding. Rama menahan dulu lengan Puput yang akan bersiap berdiri, memisahkan diri bergabung dengan peserta lainnya di tempat yang sudah disediakan.


Rama menggenggam tangan Puput. "Sayang, love you." mengecupnya punggung tangan yang halus itu dengan sepenuh hati.


Puput tersenyum simpul dengan wajah yang merona. "Love you too, Aa." sebaris kalimat balasan lolos dari bibirnya. "Do'akan aku menang ya!" ia pun pamit dengan hati yang penuh oleh luapan bahagia dan semangat karena the power of love.


Puput menjadi peserta kedua yang tampil melawan peserta perempuan dari Bekasi. Setiap peserta wajib memasang body protector yang disediakan panitia.


Dua menit pertama Puput berhasil menangkis serangan lawan dan disusul dengan cepat dengan serangan balik memasukkan tangan tepat sasaran. Lawan pun terjatuh. Jeda istirahat 1 menit sebelum masuk ronde ke 2.


Dua menit kedua, Puput menyerang lebih dulu. Tendangan kakinya tidak mampu ditangkis lawan. Sehingga mengenai sasaran dan lawan menyerah. Dengan mudah, dalam waktu 5 menit Puput memenangkan.babak penyisihan. Ia istirahat untuk menunggu lawan baru di semifinal nanti.


Sumpah demi apa, selama Puput menampilkan kepiawaiannya di tengah arena, Rama spontan menahan nafas. Tegang campur takut menjadi satu. Karena ia baru terjun menyelami dunianya sang kekasih hati. Dunia pertarungan para pendekar profesional. Berbeda dengan Zaky dan Aul yang menikmati permainan sambil santai merekamnya.


Babak semi final, Puput berhadapan dengan lawan laki-laki yang mengalahkan Sony. Menarik nafas....tenangkan diri....memusatkan konsentrasi.....menjelikan mata pada setiap gerak gerik lawan. Langkah kaki Puput pasti, menapak kuat membuat pola untuk menangkis serangan lawan yang terbaca olehnya.


Dan tanpa ampun, Puput dengan gesit melakukan serangan balik beruntun tersusun secara teratur dan berangkai. Perpaduan kecepatan tangan dan kaki masuk ke arah sasaran bertubi-tubi. Menghasilkan riuh tepuk tangan penonton yang sangat heboh. Apalagi setelah juri mengumumkan jika poin tertinggi dimenangkan oleh Putri Kirana. Alhasil ia melangkah ke babak final.


Jeda waktu 15 menit untuk persiapan menuju final.


"Minum dulu, Neng!" Rama menyerahkan sebotol air mineral kepada Puput. Duduk di sampingnya. Aul juga memberikan handuk kecil untuk menyeka keringat yang mengucur di wajah sang kakak.


"Kak Rama, nitip dulu Teteh ya! Aku mau ngobrol dulu sama teman. Ini minuman dopingnya." Ujar Aul sebelum meninggalkan sang kakak yang tengah beristirahat mempersiapkan lagi tenaga.


Rama menganggukkan kepala. Beralih menatap lembut sang kekasih yang tengah menyeka keringat dengan handuk.


"Bagi aku, kamu udah jadi pemenang. Juara satu di hati aku." Rama mengambil alih handuk yang dipegang Puput. Giliran ia membantu mengelap buliran keringat yang terus berembun di dahi Puput.


"Jangan ngobral panci deh. Aku gak tertarik kredit panci." Puput beralih membuka tutup botol minuman doping dari Aul. Yang isinya adalah air gula aren. Doping warisan dari sang ayah. Yang sangat baik diminum saat melakukan olahraga apapun.


"Ini serius, Neng." Geram Rama sambil memencet hidung Puput karena gemas. Padahal pastinya tidak janjian sama Damar, kini gelar kang panci disematkan juga oleh Puput padanya.


Terdengar panitia mengumumkan peserta final untuk bersiap. Malah membuat Rama menjadi tegang.


"Aa jangan tegang. Untuk babak final aku berprinsip nothing to lose. Toh kalah pun jadi runner up." Tangan kanannya mengusap sekilas pipi Rama. "Kan yang penting, aku juara satu di hatimu," mengedipkan sebelah mata dan dengan langkah cepat memasuki tengah arena.


Menyisakan Rama yang menatap kepergian Puput dengan berwajah semringah dan menurunnya tensi ketegangan.


"Gimana kalau gambling, Put. Kalau kamu kalah, harus nonton dan dinner sama aku sebanyak lima kali." Sang lawan berkata lirih penuh intimidaai saat saling berdiri berhadapan dengan Puput.


"Kalau aku menang?" Tantang Puput dengan tatapan tajam tak kalah mengintimidasi.


"Hadiah runner up 50% nya buat kamu." sahut lawan.


Puput tersenyum mengejek. "Terlalu murah."


"Oke. 100% hadiah runner up buat kamu."

__ADS_1


"Deal." Puput membungkukkan setengah badan sebagai salam penghormatan kepada lawan. Kakinya bergerak memutar memasang kuda-kuda, mengeluarkan jurus pamungkas, bersiap menyelesaikan puncak acara.


__ADS_2