Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
64. Galecok Sorangan


__ADS_3

Galecok Sorangan (bahasa sunda) \= Bicara sendiri (dalam hati)


***


Melihat Rama yang tidak lantas bicara, Aul berinisiatif menegur sang kakak. "Teteh, Kak Rama bawa ortu bukan mau demo. Pasti mau lamar teteh lah."


"Tuh, Aul aja faham." Rama mencolek pinggang Puput karena gemas. Membuat sang jawara yang tengah melemparkan pandangan ke arah samping kiri, mengkerutkan badan karena geli.


"Oh, kirain...." Puput terkekeh. "Maaf, otak lagi cape karena tadi full konsentrasi. Jadi lola deh," sambungnya sambi tersenyum meringis.


"Soal taruhan, bukannya sombong, tapi emang percaya diri kalau aku bisa menang. Makanya bilang deal sama si Leo. Lagian enggak serius kok. Kalau serius, udah kuambil itu hadiah 6 juta punya dia." Puput menggelengkan kepala, berkata sungguh-sungguh. "Aku mau rejeki yang berkah."


Ternyata Zaky sudah lebih dulu tiba di rumah. Wajar saja karena tadi sempat berhenti di jalan karena Rama yang protes dengan taruhan Puput. Puput yang salah faham dengan ucapan Rama. Hingga berakhir damai.


Ami paling heboh menyambut kepulangan Puput, sampai menyongsong ke depan mobil. Memeluk sang kakak dengan riang.


"Yes, teteh juara 1. Alhamdulillah--" Ami menggelayut di lengan Puput. Dan merasa bangga memegang tropi kemenangan. Membawa masuk ke dalam rumah.


"Aku juga pengen jagoan seperti Teteh." Usai menyimpan tropi di nakas, Ami memperagakan jurus silatnya. Sat set, sat set.


"Latihannya harus rajin. Jangan malah jajan yang rajinnya." Puput menanggapi kehebohan si bungsu dengan sindiran.


"Tuh...denger. Jangan ngarep oleh-oleh mulu. Latihan yang rajin!" Aul yang baru bergabung memeletkan lidah ke arah Ami.


"Idih, si teteh mah jaka sembung." Ami memutar bola matanya. Berlalu menuju meja makan mengambil donat madu toping coklat kacang.


Rama mendekati Zaky yang tengah mengamati motor hadiah berwarna sporty white. "Gimana mesinnya masih bagus?"


"Bagus, Kak. Tadi dicoba ngebut juga stabil. Rajin dirawat kayaknya. Lagian motornya masih baru juga, baru setahun. Bahan bakarnya selalu pertamax, katanya." Zaky menutup jok setelah detil mengamati bagian dalamnya.


"Dia pengusaha apa?!" Rama masih penasaran dengan sosok pemberi hadiah motor. Yang menurutnya royal. Pas Puput mengajak pulang, acara hiburan dangdutan masih berlangsung. Dan orang itu menyawer penonton yang joget.


"Setahu aku, dia punya peternakan sapi. Teman dekatnya Kang Acil juga." Zaky beralih duduk di jok motor. "Alhamdulilah rejekinya Teteh gak disangka. N-max melayang, vario datang." Dengan senyum yang lebar, Zaky merasa bangga akan sifat kakak sulungnya itu.


"Emangnya yang N Max ke mana?" Rama mengerutkan kening. Baru tahu kabar motornya Puput.


"Dijual ke Kang Aris, Kak. Buat nambahin biaya ngebangun ini." Dengan dagunya, Zaky menunjuk pada bangunan warung nasi yang terdengar suara gedak geduk pekerja." Ibu tadinya gak setuju, gak mau ngebebanin teteh. Tapi ya teteh mah keras pendiriannya."


"Aa, sini deh! Ada rujak seger." Rama masih betah ingin berbincang dengan Zaky, membahas soal Puput. Namun orang yang dibicarakan melambaikan tangan dan memanggil dari ambang pintu, mengajak masuk.


"Mau level apa pedasnya? Cabenya sengaja masih dipisah." Puput menyajikan semangkuk besar rujak aneka buah buatan Ibu yang baru dikeluarkan dari kulkas.


"Sedeng aja. Aku gak kuat pedes." Rama duduk di sofa. Memperhatikan Puput yang menuangkan rujak ke dalam mangkok kecil.


Begini ya rasanya dilayanin istri.


Rama menarik tipis sudut bibir. Menggelengkan kepala saat Puput menunjukkan satu sendok teh penuh sambal cabe. Menganggukkan kepala saat cabe dikurangi jadi setengahnya.


Puput menemani duduk di samping Rama yang nampak menikmati makan rujak. Cocok dengan cuaca siang yang panas ini. "A, paling nengok Cia nya abis magrib aja ya. Nunggu tukang bangunan pulangnya ashar dan beberes dulu."


Rama mengangguk. "Nanti aku jemput!"


Puput menggeleng. "Gak usah. Ada mobil kok, udah beres dari bengkel. Lagian nanti pulang dari rumah Enin mau mampir ke rumah uwa."


Rama mengalah. "Tapi kalo besok ke kantor, aku akan jemput. Gak boleh nolak!" ujarnya saklek.


Puput menatap sambil tersenyum mesem dan menganggukkan kepala. Mengantar sampai depan pagar begitu sang kekasih pamit setelah hampir satu jam berada di rumah.


...***...

__ADS_1


Zaky yang menjadi sopir keluarga, melajukan mobil carry ke rumah Enin. Buah tangan yang sudah Ibu siapkan sejak pagi, ditenteng Ami dengan riang. Paling semangat mengetuk pintu rumah Enin sambil berucap salam dengan keras.


Cia yang membukakan pintu tak kalah semangat. Karena sudah dikasih tahu kakaknya perihal akan kedatangan keluarga Ibu Sekar.


"Hai bestie....si cantik dan imut dataaang." Ami merentangkan kedua tangan, menggoyangkan pinggul, saat pintu terbuka dan melihat sosok Cia berdiri menyambut.


"Hahaha----" Cia tertawa lepas. Merasa kangen juga dengan kecentilan dan narsisnya Ami, sehingga memeluknya dengan gemas.


"Maaf ya, Cia. Batrenya soak jadinya berisik nih bocah." Puput yang meminta maaf. Memberi pelukan hangat dan cipika cipiki terhadap Cia. Dari rumah sudah diberi wejangan sama Ibu. Jangan bertanya kabar pada orang yang tengah trauma. Tapi beri senyum ceria, wajah semringah, dan perhatian, supaya menjadi positive vibes buat si korban.


"Yaelah...masa aku disamain sama radio butut." Protes Ami yang tanpa disuruh langsung melenggang ke ruang tengah. Menyongsong kedatangan Enin yang dibuntuti Bibi Ratih. Paling awal menyalami sepuh yang masih bugar itu, lalu ke bundanya Panji.


Suasana rumah menjadi ramai dan hangat dengan obrolan dan selingan canda tawa. Ami yang menjadi dagelan yang menghibur dan memberi keseruan. Membuat Cia selalu tertawa lepas. Sementara Ibu dan Puput menemani Enin di meja makan yang semangat ingin mengulang makan setelah diperlihatkan oleh-oleh serba pepes.


"Kak, dua fans aku gak ada di rumah ya?" Ami celingukan melihat sekitar.


"Siapa emang?!" Cia mengernyit. Begitu juga Bibi Ratih, Aul, serta Zaky. Menunggu jawaban Ami.


"Itu lho, Kak Rama sama Kak Panji. Hihihi---"


Cia dan Bibi Ratih meledakkan tawa. Aul dan Zaky hanya geleng-geleng kepala.


"Oh, fans yang suka ngasih oleh-oleh kan, Mi?" Cia menggoda Ami diiringi kekehan.


"Hehe tau aja Kak Cia mah. Ups maaf sengaja keceplosan." Ami membekap mulutnya dengan mata membeliak.


"Astaga, Ami. Haha......udah ah sakit perut ketawa mulu." Cia menyeka sudut mata yang berair karena terus menerus tertawa. "Kak Rama ikut ke masjid bareng mang Yaya. Kalau kak Panji tanya aja sama Bibi." sambungnya melempar jawaban.


"Kak Panji nya lagi di Bandung. Rencana mau pulang sabtu depan katanya."


"Tuh teh, sabtu depan pulang katanya." Ami dengan santai melempar informasi pada Aul.


"Kangen sama kak Panji ya? Mau vc an gak? Bunda hubungin ya?" Bibi Ratih menawarkan sambil tersenyum simpul.


"Tuh Teh, mau vc an kan?" Ami melempar kembali informasi yang tanpa disampaikan lagi juga Aul pasti dengar.


"Ehh..gak-enggak. Kenapa jadi teteh? Ish Ami mah----" Aul menggoyang-goyangkan tangan. Dadanya menjadi berdebar karena panik.


"Gak usah panik, Aul. Kita vc an rame-rame. Tenang aja...." Cia tersenyum penuh arti melihat tingkah Aul yang seperti kebakaran jenggot.


...***...


Rama menepati janji. Menjemput Puput untuk berangkat bersama ke kantor.


"Gak ada ya g ketinggalan, Neng?" Rama menatap wajah ayu yang berjalan bersama menuju mobil. Sudah pamit kepada Ibu yang tengah menyuguhkan kopi dan pisang goreng untuk pekerja bangunan.


"Gak ada. Ini bekal udah dibawa." Puput mengangkat goodie bag yang ditentengnya. Semalam di rumah Enin sempat menanyakan soal menu makan siang. Mau dibawain bekal atau makan di luar. Dan Rama memilih dibawain bekal.


Perjalanan senin pagi menuju kantor ramai lancar. Harus memelankan laju mobil saat melewati jalan dengan rambu zona sekolah. Memberi kesempatan pada kendaraan dan pelajar yang akan menyebrang memasuki gerbang sekolah.


"Aa yang mimpin Briefing atau Pak Hendra?" Puput menatap sang driver yang selalu tampil cool dengan gaya rambut andalan belah pinggir.


"Sama aku. Didampingi sama calon istri." Rama menoleh sekilas diiringi senyum simpul.


"Ish, becanda kan? Aku mau ngumpet aja kalo ini serius." Puput memalingkan wajahnya yang memerah.


"Kenapa gak mau?" Rama menoleh lagi dengan raut penasaran.


"Aku menghargai Pak Hendra. Di kantor, beliau yang lebih berhak mendampingi pak boss saat briefing. Aku biarkan berdiri di tempatku. Profesional ya, Aa."

__ADS_1


Rama tidak menjawab. Diwakili dengan tangan yang mengusap puncak kepala Puput yang berbalut pasmina warna navy. Makin cinta dengan kepribadian mojang Ciamis yang semakin kesini semakin terkorek dari mulut orang-orang yang sampai ke pendengarannya.


Memasuki kawasan RPA, sudah banyak lalu lalang karyawan yang datang. Melewati parkiran motor, Puput menangkap sosok Via yang tengah becanda dengan rekan yang lain.


"Aa duluan aja. Aku mau betulin kerudung dulu. Ini kurang nyaman rasanya." Puput berdalih demi untuk menghindari jalan bersama. Rasanya masih malu harus jalan berdua, melewati rekan karyawan yang bergerombol menunggu giliran absensi.


"Gak papa aku tungguin aja. Kita turun sama-sama." Rama bergeming di tempat duduknya meski sudah membuka sabuk pengaman.


"Ish, nanti Aa malah ngintip dong. Soalnya kerudungnya mau dilepas dulu. Biar kunci mobil aku yang pegang. Please, Aa Rama!" Mohon Puput dengan mendayu dan mengerjap-ngerjapkan mata.


"Oke. Tapi jangan berekspresi seperti itu sama cowok lain ya. Hanya sama aku!" Tegas Rama. Apakah Puput tidak menyadari jika gaya merajuknya itu menimbulkan gejolak di dada. Ia turun lebih dulu setelah mencolek dagu lancip sang kekasih dengan gemas.


Puput menghela nafas lega. Memperhatikan Rama yang mengumbar senyum saat para karyawan memberi hormat. Sampai punggung lelaki tegap itu menghilang di balik pintu. Ia menghubungi Via agar menunggunya di parkiran motor.


"Selamat pagi, bu boss. Sugeng enjing, Jawara. Bagaimana perjalanannya menyenangkan?" Via menyambut dengan gaya sok formal. Dan harus meringis karena mendapat toyoran di bahunya. Puput sudah mengabarinya semalam soal hasil pertandingan silat dan soal berangkat ke kantor bareng Rama.


"Hadiahnya mau dibeliin apa, Put?" Via mensejajari langkah Puput yang berjalan menuju tangga. Jiwa keponya mulai meronta.


"Yang bonus 4 juta dikasihin ke Ibu. Aul sama Zaky dapat jatah gopean. Amy cukup cepé aja. Sisanya aku tabung. Nanti kamu aku traktir. Tapi gak hari ini. Soalnya bawa bekal maksi bareng doi." Jelas Puput yang lalu membalas sapaan rekan yang melangkah mendahului.


"Oke lah aku sabar menanti waktu luang kamu. Melayani suami emang number one, Put." Via mengelak saat Puput akan menoyornya lagi. Berlari di tangga sambil tertawa. Meninggalkan Puput yang dalam mode galak.


Jika ditanya, apakah Puput mencerna apa yang disampaikan Rama dalam briefing senin yang didampingi manajer Hendra? Jawabannya tidak. Untuk pertama kalinya, ia malah terfokus pada gaya bicara sang owner hati. Memindai wajah cool yang tegas dan berwibawa dalam menyampaikan motivasi. Menyerapnya ke otak dan disimpan di hati. Untuk diingatnya lagi nanti, saat rindu jika berjarak ruang dan waktu.


Huft, wajar aja sih jika banyak cewek yang mengejarnya. Aku intip ig nya juga banyaknya cewek yang komen.


Hmm, saat serius dan santai, si Aa jadi sosok yang berbeda ya. Semuanya sampe menatap kagum. Si kanjeng ratu aja sampai mangap.


Hmm, pantas aja sering menang tender. Gaya diplomasinya emang smart. Aku udah lihat itu.


Masa sih mantannya cuma 2? Mungkin saja sih. Tapi yang antri pengen jadi pacarnya pasti banyak.


Eh tapi aku harus percaya sama ucapannya. Ibu bilang saling percaya dan komunikasi kunci utama keharmonisan hubungan.


Eh kenapa aku malah galecok sorangan (bicara dalam hati)


Puput mengerjapkan mata. Baru sadar sudah melamun. Terkaget melihat ke kiri dan ke kanan, juga ke belakang, sudah tidak ada orang. Ia hanya berdiri sendiri. Teman-temannya sudah masuk kubikel dan pada menekuri layar komputer. Terkesiap melihat ke depan. Ada Rama dan Pak Hendra berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku, tengah menatapnya.


Pak Hendra kentara menahan senyum. Rama menatap dengan ekapresi yang sulit dijabarkan oleh Pupu5. Saking jantungnya berdegup kencang dengan situasi dan kondisi yang tengah menimpanya.


"Neng, ke ruangan Aa sekarang!" Suara bariton itu terdengar jelas memecah kesenyapan.


Ingin sekali Puput keliling kubikel untuk melihat ekspresi orang-orang setelah mendengar suara perintah barusan. Lalu masuk ke dalam cangkang, kalau ada.


Ia sekarang berpasrah akan menjadi buah bibir seantero RPA. Entah sengaja atau tidak, Rama sudah mendeklarasikan hubungan spesialnya. Padahal sudah seapik mungkin tadi masuk tidak bersama-sama. Kini mau tidak mau harus siap menghadapi perubahan sikap rekan-rekannya. Yang mungkin akan lebih segan padanya. Entah dengan satu orang bernama Septi.


Pak Hendra melangkah masuk ke ruangannya dengan isyarat wajah mentertawakan. Puput tahu itu. Dan nanti jika ada kesempatan akan melayangkan protes karena sudah tega membiarkannya bengong sendiri.


Masuk ke ruangan Rama, jantung Puput berdegup kencang. Apalagi didapati sang owner tengah berdiri di samping meja kerja dengan wajah datar.


"He he...maaf Aa." Puput cengengesan. Berusaha mencairkan ketegangan yang melingkupi diri.


Rama mendekat dua langkah dengan kedua tangan dimasukkan ke saku. "Katanya harus profesional, hmm." Masih memasang wajah datar.


Puput juga mundur dua langkah karena mendadak nyalinya menciut.


"Coba sebutkan apa isi briefing tadi!" Rama maju lagi selangkah.


"Oh itu. Anu---hmm sebentar....." Puput mencoba berpikir sambil mundur lagi selangkah dan ternyata mentok di dinding. Sementara Rama terus merangsek hingga hembusan nafas mint dapat tercium dan menerpa wajahnya.

__ADS_1


Membuat tubuh Puput serasa kaku dan mendadak panas dingin kala wajah Rama semakin mendekat, mengikis jarak dengan kedua tangan bertumpu di dinding. Aroma parfum maskulin mulai membuai. Ia menuruti naluri untuk memejamkan mata. Dan.....


__ADS_2