
Sudah dua malam ini sepulang dari Bali, Puput mempunyai kebiasaan terbangun jam setengah dua dini hari. Yang dibangunkan oleh suara keroncongan di dalam perut. Juga keinginan buang airkecil. Dan malam ketiga ini pun sama. Bunyi kruwuk-kruwuk perutnya terdengar keras di kesunyian malam. Membuatnya terjaga seketika membuka mata.
Puput melepas perlahan tangan Rama yang menggenggam tangannya. Beringsut turun dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi. Di samping lapar, keinginan buang air kecil pun tak bisa ditahan.
Puput biasanya menghindari makan makanan berat jika sudah lewat jam sembilan malam. Diganti makan buah pear atau apel. Demi menjaga berat badan yang tetap proporsional. Karena berpengaruh pada kelincahan gerakan saat bermain silat. Meski sudah tidak menjadi pelatih di Padepokan, ia tetap rajin melatih diri setiap pagi atau tergantung waktu luang.
Tapi kali ini pantangan makan berat itu dilanggarnya sendiri. Puput turun ke dapur. Mengecek bahan masakan di dalam kulkas. Tersenyum sendiri setelah terlintas ide membuat mie goreng toping sosis sapi.
Puput menggerus bumbu yang perlu dihaluskan. Ia bukan memasak mie goreng instan siap saji. Tapi membuat bumbu racikan sendiri sembari menunggu mie telor yang sedang direbus.
Aroma bumbu halus yang ditumis mulai menguar harum. Mie telor sudah ditiriskan.
"Neng Puput, sedang bikin apa?" Bi Lilis terbangun oleh suara klotak klotek dari arah dapur. Ini kali kedua ia mendapati nyonya rumah sedang sibuk memasak sendiri di dapur di jam orang-orang sedang nyenyak tidur.
Puput yang mengenakan apron warna marun, menoleh dan tersenyum. "Lapar, Bi. Lagi pengen makan mie goreng sosis sapi."
"Bibi aja Neng yang bikinnya. Neng Puput duduk aja." Bi Lilis hendak mengambil alih, namun Puput menolak.
"Aku emang pengen buat sendiri. Bibi tidur aja lagi." Puput mulai tes rasa mie goreng pedas dengan irisan sosis itu.
Bi Lilis masih bergeming di samping Puput. Mengernyitkan dahi sembari memperhatikan dari samping fisik sang majikan dari atas sampai bawah.
"Neng, udah telat haid belum?" Bi Lilis mengutarakan kecurigaannya.
Puput urung memindahkan mie goreng ke piring usai api dimatikan. Menatap Bi Lilis dengan mata membelalak.
"Sepulang dari Turki aku belum haid lagi. Harusnya minggu kedua, ini udah akhir bulan belum haid. Eh, mungkinkah?" Puput terkaget sendiri. Harap-harap cemas.
Bi Lilis tersenyum semringah. "Mungkin aja, Neng. Cek aja besok pagi."
"Aku belum punya tespek, Bi. Nanti beli dulu deh. Tapi aku nggak ada mual-mual, cuma mudah lapar aja." Puput menjadi ragu.
"Tiap perempuan hamil gejalanya beda-beda, Neng. Bibi dulu haid tidak teratur makanya tiap telat haid udah biasa. Eh tahu-tahu udah isi tiga bulan. Setelah ketauan barulah mabok tiap pagi mual muntah sampai usia kandungan lima bulan." Ucap Bi Lilis sembari terkekeh.
Puput tersenyum. "Tapi Bi, tutup mulut dulu ya. Jangan bilang-bilang sama Aa."
Bi Lilis mengangguk. "Mau bikin kejutan ya, Neng."
"Hm, kalo iya positif." Puput tersenyum mesem. Lalu meminta Bi Lilis menemani di meja makan. Meski ART nya itu tidak mau ikut makan.
Di lantai dua, Rama menggeliat. Tangannya meraba-raba tubuh di sampingnya yang selalu nyaman untuk dipeluk. Namun hanya guling yang berhasil dipeluknya. Sontak mata yang masih mengantuk itu pun terbuka. Nihil. Tidak ada Puput di sampingnya.
Rama menguap panjang. Turun dari peraduan dan melangkah ke kamar mandi hendak buang air kecil.
"Neng, di dalam?" Rama mengetuk pintu kamar mandi. Namun tidak ada sahutan. Ia masuk untuk memastikan.
Aroma mie goreng tercium saat Rama menuruni tangga. Menuntun langkahnya ke ruang makan yang tembus ke dapur karena lampunya menyala.
"Kirain ke kamar mandi ternyata di sini." Rama menarik kursi di samping Puput. Ia memang tidak tahu selama dua malam kemarin sang istri makan dini hari. Saking lelapnya.
"Karena sekarang ada yang nemenin, Bibi pamit ke kamar ya." Bi Lilis tersenyum melihat Rama yang mencicipi mie goreng di piring Puput. Yang mendapat anggukkan Puput.
"Ini dalam rangka apa, Neng? Sahur?" Ucap Rama yang awalnya mencicipi menjadi ketagihan menyendok penuh.
"Bukan. Ini dalam rangka lapar." Sahut Puput yang menunggu sendoknya masih diambil alih Rama.
"Enak, sayang. Wah jadi melek dong kita." Rama mulai berkeringat dengan wajah yang memerah. Padahal tidak biasa makan sepedas ini tapi mendadak berselera.
__ADS_1
"Tumben Aa kuat makan pedas?" Puput menaikkan satu alisnya.
"He em, nggak tau juga. Jadi ketularan kamu kayaknya." Ucap Rama menyendok sekali lagi untuk yang terakhir kali.
Jadilah Rama dan Puput melek sampai jam tiga sebelum kemudian melanjutkan tidur.
...***...
Pagi menyapa dengan munculnya sinar mentari yang memberi hangat. Sudah menjadi rutinitas pagi Puput menyiapkan keperluan Rama bekerja dan mengantar kepergian suaminya itu sampai teras.
Puput kembali ke kamar untuk merapihkan tempat tidur. Ponsel yang tersimpan di nakas berdering panggilan masuk. Idam.
Puput mengernyit membaca nama yang tertera di layar. Sudah lama sekali tidak ada kontak dengan pria yang sempat lama menunggunya. Untuk kemudian legowo mundur karena cinta tidak berbalas. Namun tetap menjalin pertemanan baik. Ia mengusap ikon jawab sembari berucap salam.
"Puput, apa kabar?" Sapa Idam di ujung telepon usai menjawab salam.
"Alhamdulillah, Dam. Kamu gimana kabarnya?" Puput berdiri di depan jendela kamar. Membiarkan sinar mentari menerpa wajahnya.
"Alhamdulillah, baik juga. Put, aku lagi di Jakarta nih. Bisa ketemuan nggak? Ada yang mau diobrolin penting." Nada suara Idam terdengar riang.
"Ada apa nih? Ngobrol sekarang aja Dam." Pinta Puput.
"Kurang afdol kalo ngomong di telepon. Minta waktunya barang 15 menit juga nggak papa. Aku tau nyonya boss kan orang sibuk." Idam terkekeh.
"Apaan sih." Puput mendecak.
"Hm, jam 10 aku mau nganter adik ipar meeting sama vendor di mall. Tapi aku belum tau mall mana ini teh. Jam maksi aja kita ketemuan di mall, gimana? Nanti info mall nya menyusul." Puput memberi solusi.
"Oke, Put. Kabari aja satu jam sebelumnya. Biar aku bisa siap-siap." Idam menyetujui dengan girang.
Jam 10 Cia datang menjemput. Ia sendiri yang menyetir mobil dan hari tidak akan masuk kantor.
"Persiapan yang belum apa aja, Cia?" Puput menoleh pada adik iparnya yang fokus menatap jalanan yang ramai lancar. Sekitar enam minggu lagi menuju hari H.
"80% udah siap, teh. Tinggal ngebahas acara siraman sama matengin konsep dekorasi. Makanya meeting ini bukan sama WO aja tapi sekalian dua vendor." Cia sudah memberi tahu Damar tentang meetingnya hari ini. Dimana calon suaminya itu lebih banyak menurut akan idenya. Hari ini tidak bisa menemani meeting karena harus ke gudang pelabuhan memantau kedatangan impor granit.
"Alhamdulillah. Lancar-lancar sampai hari H." Puput ikut lega. Ia tidak mengalami prosesi siraman karena mendadak menikah. Namun tidak membuatnya sedih apalagi iri melihat persiapan pernikahan anak bungsu Mami Ratna ini yang terkonsep rapih. Tentunya akan digelar mewah.
"Aamiin...." Cia tersenyum dan mengangguk.
Meeting bersama vendor berjalan serius tapi santai. Puput lebih banyak menyimak karena Cia yang punya hajat sangat antusias menyampaikan gagasan-gagasan. Ia sudah mengirim pesan pada Idam tentang lokasi mall. Dalam waktu dua jam meeting selesai dan sudah menghasilkan kata deal. Pertemuan berakhir dengan makan siang bersama ditraktir oleh Cia.
"Cia, abis ini mau lanjut kemana?" Ucap Puput usai orang vendor sudah pergi.
"Udah free sih. Gimana kalo kita treatment aja teh?" Usul Cia dengan mata berbinar.
"Boleh juga. Pulang dari Turki belum facial lagi nih." Puput meraba pipinya yang dirasa sudah agak kasar. "Tapi tunggu dulu temanku mau datang ya, Cia. Katanya pengen ketemu sebentar."
Cia mengangguk. "Santai aja, Teh."
Puput beranjak untuk ke mushola sembari menitipkan tas pada Cia yang sedang libur sholat. Ia titip pesan jika ada yang menelepon bernama Idam, suruh duduk saja dulu.
Selang lima belas menit Puput kembali ke foodcourt tempat mejanya tadi. Setelah sebelumnya mampir ke apotek dalam mall yang lokasinya searah jalan ke mushola.
"Teh, telepon." Cia mengulurkan ponsel Puput yang dititipkan padanya. Nama Idam tertera di layar.
Puput urung menjawab telepon. Beralih berseru memanggil nama Idam yang nampak celingukan mencarinya. Idam tersenyum lebar dan mendekat.
__ADS_1
"Idam, kenalin ini Cia adik ipar aku."
"Cia, kenalin ini Idam temen aku."
Puput memberi kesempatan keduanya berkenalan usai ia bersalaman dengan Idam.
"Idam."
"Cia."
Usai saling berkenalan ketiganya duduk bersama satu meja. Bekas makan tadi sudah dibereskan hanya menyisakan dua gelas minuman.
"Put, aku sengaja pengen ketemu mau ngasih ini...." Idam mengeluarkan kartu bertuliskan Wedding Invitation.
Puput menerima uluran kartu undangan itu. Membelalakan matanya usai membaca nama yang tertera di sampul.
"Kamu mau nikah, Dam?!" Puput mendongak dan menatap Idam.
Idam mengangguk dan tersenyum. "Bisa aja aku ngasih undangan digital. Tapi aku sengaja pengen liat ekspresi kamu langsung. Happy or sad." ujarnya sembari tergelak melihat respon Puput yang melotot.
"Jelas happy lah akhirnya kamu menemukan belahan jiwa juga. Mana calonnya nggak diajak?"
"Nggak bisa ikut lagi kerja. Ini pun aku lagi kerja lapangan, melipir dulu kesini."
Cia senyum-senyum menjadi penyimak obrolan Puput dan Idam yang nampak sudah akrab itu. Ia lalu permisi pergi ke toilet.
"Put, aku sekarang stay di Jakarta. Baru dua bulan. Boss nugasin aku kerja di kantor pusat jadi manajer pemasaran. Calonku juga asli Jakarta, kerja di bank." Idam mengaduk jus mangga yang baru datang diantar pelayan. Sudah tidak ada rasa yang tertinggal untuk Puput. Berhasil move on.
"Alhamdulillah ya. Jadi nggak harus ldr an Tasik Jakarta." Ucap Puput.
Puput dan Idam berbincang santai hal random. Kilas balik membahas masa lalu saat mentraktir bakso pas ulang tahun Puput. Membuat keduanya tertawa riang. Beralih Idam mengingat kembali kunjungan ke rumah Puput untuk menyerah tak lagi menunggu kepastian.
"Eh, tau-taunya yang nggak mau pacaran itu malah ngirim undangan digital enggagement yang kemudian diralat jadi undangan wedding." Idam mencebik seolah sebal.
Puput tertawa lepas. "Itulah peribahasa hari esok siapa yang tahu. Jodoh misteri illahi. Aku juga nggak nyangka bakal nikah secepat itu. Awalnya dimodusin eh terus ditembak tepat sasaran," ujarnya tersipu malu.
"Tapi kamu bahagia kan, Put?!" Idam menatap serius.
Puput mengangguk kuat tanpa kata.
"Put sorry, itu di kepalamu ada semut." Idam menunjuk ke samping kiri jilbab Puput.
Puput mengibaskan jilbabnya.
"Nggak kena, Put. Maaf ya aku bantu. Semutnya betah kayaknya." Idam terkekeh sembari mengulurkan tangan menyomot seekor semut merah di dekat telinga kanan Puput.
Tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang duduk di meja lain mengambil foto berkali-kali.
Cia kembali duduk bergabung. Sesekali terlibat obrolan. Sekitar dua puluh menit, Pertemuan dengan Idam pun berakhir perpisahan.
"Bu boss, sebuah kehormatan jika berkenan hadir di pernikahanku. Ajak Pak Bossnya juga." Ucap Idam saat sudah berdiri bersiap pergi.
"Heh, apaan bas bos bae. Insya allah akan hadir." Puput tidak suka dengan ucapan Idam yang menggodanya itu.
"Waktunya kita treatment, Teh." Cia berdiri merapihkan tuniknya yang kusut.
"Let's go!" Puput menggandeng tangan sang adik ipar. Pergi meninggalkan mall menuju klinik skincare langganan.
__ADS_1