
Di balik pintu pagar besi ada sebuah mobil terparkir. Cia mengkerutkan kening melihat mobil yang tidak dikenalnya itu. Menduga mungkin tengah ada tamu, dilihat dari ada dua pasang sepatu tersimpan di bawah teras. Namun rumah nampak sepi dengan pintu utama sedikit terbuka.
Cia yang akan memberi kejutan, malah merasa tegang sendiri. Sehingga mengatur dulu nafas dengan menghirup dan membuangnya perlahan agar tenang. Pintu yang sedikit terbuka itu didorongnya pelan. Jangan sampai mengeluarkan bunyi decitan.
Ruang tamu sepi. Rumah seperti tidak berpenghuni. Bukan kali pertama Cia menyambangi rumah berlantai dua ini. Meski Adit di London, minimal sebulan sekali ia akan main untuk bersilaturahmi dengan calon mertuanya itu. Sehingga ia tahu tata letak ruangan yang tidak sebesar rumahnya itu.
Mengendap-ngendap menuju ruang tengah, Cia menajamkan pendengaran. Merasa mendengar ada suara-suara aneh. Benar, ada suara de sa han, rin ti han, yang membuat tubuhnya menengang. Dengan jantung berdegup kencang mengintip di balik tembok pembatas ruang tamu dan ruang tengah.
"Ehemm!"
Deheman Cia begitu nyaring. Membuat orang-orang yang duduk tak beraturan di bawah sofa, yang berekspresi terhanyut dalam gairah, sontak terperanjat setengah loncat. Bagaikan maling yang tertangkap basah, yang satu ngacir ke arah dapur, yang satu lagi berlari ke arah kamar mandi. Tersisa satu orang yang menatapnya masih dengan ekspresi tidak percaya. Aditya.
"Cia..."
"My Sweety...beneran ini kamu?!" Adit mendekat dengan mimik ekspresi campur aduk. Senang, kaget sekaligus tak percaya. Menangkup wajah Cia untuk memastikan lagi penglihatannya. Bersiap untuk memeluk tapi...
Cia mundur selangkah menolak upaya Adit yang akan merengkuhnya. "Matiin dulu tv nya! Aku jijik liatnya." Dengan memberengut kesal memalingkan wajah ke arah lain.
"Sorry-sorry, Cia. Bukan inisiatif aku. Aku ajak si Leo dan Wendy ke sini biar gak gabut. Abisnya semua orang pada pergi halal bihalal keluarga ke Tangerang." Sahut Adit sambil mematikan televisi yang tengah menayangkan blue film dengan adegan dewasa tanpa sehelai benang. Mencabut flashdisk sebagai sumber film tersebut.
"Harusnya ikut pergi halal bihalal, ketemu keluarga besar. Bukan diem di rumah. Ini masih suasana lebaran malah nonton begituan." Cia masih mengomel dengan kelakuan Adit yang tidak disangkanya itu.
Adit mengajak Cia duduk di sofa. Menggenggam dan meremas tangan kekasihnya yang masih kesal itu. "Entah kenapa males ikut. Mungkin feeling kalau kamu mau datang. Udah dong jangan marah-marah. Gak kangen apa sama aku?! ujarnya merayu dengan lembut. Mengelus pipi Cia yang halus dengan tatapan mendamba.
"Bro, kita cabut dulu!" Gak mau jadi obat nyamuk." Salah satu teman Adit mewakili pamit dengan wajah yang segar usai cuci muka.
"Syukurlah tahu diri. Sana pergi!" Adit dengan santai mengusir dua temannya itu. Mengajak Cia beranjak pergi menaiki tangga sambil menuntun tangannya.
"Kapan dari Ciamis, sweety?! Kenapa gak bilang kalau udah di Jakarta. Kan aku bisa nyamperin ke rumah kamu." Adit tidak melepaskan menggenggam tangan Cia yang sekarang berpindah duduk di ruang keluarga lantai dua.
"Tadi malam baru nyampe. Aku sengaja mau ngasih surprise. Malah bete jadinya." Cia masih dalam mode memberengut kesal.
Adit menjawil dagu Cia dengan gemas. "Jangan marah-marah terus dong, cantik. Aku janji gak akan nonton begituan lagi." Ujarnya sungguh-sungguh. Mengangkat kedua jari membentuk huruf V.
"Sekarang mending we time. Aku kangen banget sama kamu." Adit menatap Cia dengan sorot berkabut gairah. Duduk merangsek sehingga rapat. Kedua tangan menangkup wajah dan pandangan terkunci pada bibir sensual yang ranum.
"Jangan, Dit." Cia menahan wajah Adit yang mulai mendekat. Sampai terasa hembusan nafas yang memburu menerpa pipi.
"Kangen-kangenannya cukup ngobrol aja ya. Takut khilaf...." Cia menurunkan tangan Adit dari wajahnya. Menggelengkan kepala.
"Ngobrol aja gak cukup, Cia. Dada ini udah sesak ingin nyalurin rasa kangen. Kita kan saling cinta." Adit mencoba peruntungan dengan tetap sabar merayu meski hasrat sudah memanas di ubun-ubun.
"Jangan ah. Tunggu halal dulu!" Cia berpindah duduk menjauh sampai ke ujung sofa.
"Kiss aja boleh dong. Masa pelit." Adit menatap penuh permohonan. Kembali merangsek duduk merapatkan badan.
"Gak mau Adit.... nanti khilaf dan ketagihan deh." Cia memelas agar jangan memaksa. Menahan kepala Adit yang mengendus-ngedus lehernya. Tubuhnya sudah meremang. Namun akal sehatnya masih sadar. Teringat akan ucapan Mami yang sering diulang-ulang agar sebagai perempuan harus bisa menjaga kehormatan. Membuatnya takut akan dosa.
__ADS_1
"Cia-Cia...masa kita pacaran gak ada kemajuan. Dari dulu cuma boleh nyentuh tangan doang. Boring." Adit menghempaskan pungung ke sandaran sofa dengan mata terpejam. Wajahnya memerah menahan gairah yang tak tersalurkan, menahan kemarahan yang ingin meledak. Mencoba sabar.
"Aku pasti akan memberikannya setelah kita nikah. Semuanya...lahir batin aku hanya untuk kamu. Mengertilah, Dit. Sabar ya---" Cia menatap Adit dalam raut bimbang. Perang batin terjadi. Antara kasihan ingin menuruti mengingat LDR selama ini. Antara takut akan dosa yang mulai menghantuinya. Perasaannya gelisah.
"Ya sudah. Kamu tunggu dulu. Aku akan ambil minum." Adit beranjak dengan langkah lesu. Meninggalkan Cia yang nampak tidak enak hati melihat wajahnya yang berubah datar.
"Apa ini?!" Cia mengendus minuman yang diberikan Adit dalam gelas sloki. Air yang berwarna coklat keemasan itu tercium wangi permen.
"Soft drink. Oleh-oleh dari London. Cobain deh...rasanya lebih enak dari cola." Adit mengangkat gelasnya ke udara mengajak bersulang.
"Alkohol bukan?! Gak mau ah." Cia menggeleng dan akan menyimpan gelasnya ke meja. Namun Adit mencegahnya.
"Bukan, sayang. Masa iya aku ngasih minuman haram sama kamu." Adit mendekatkan gelasnya. Dengan ragu Cia menyambut bersulang.
Cia memperhatikan Adit yang meneguk sekaligus setengah gelas minuman dingin itu. Melihat reaksinya dulu sebelum mengikuti minum.
Adit terkekeh melihat Cia yang masih memegang gelas tanpa meminumnya. "Kamu takut ya?! Ini aku tak apa-apa." Mengangkat bahu. Lalu menyimpan gelas kosong di meja.
Cia pelan-pelan mengicip-icip. Mencoba rasa dan aroma. Dinginnya menyegarkan tenggorokan, rasanya yang fruity sedikit pahit. Ia hanya meneguk setengahnya.
"Habisin dong, sayang. Itu minuman di indo langka. Harganya mahal karena proses fermentasinya lama. Aku beli pecial just for you." Adit merayu dengan senyum tipis tersungging.
Cia menurut. Menenggak sisanya dan menyimpan gelas di samping milik Adit.
"Jadi kita mulai ngobrol apa nih?!" Adit menopang kepala dengan satu tangannya bertumpu pada sandaran kursi. Duduk miring dengan santai sambil menatap Cia.
"Nanti aja setelah wisuda. Aku masih kerja freelance sambil kuliah. Finansial belum memungkinkan."
"Kita ngebahas tunangan, Dit. Bukan ngajak nikah." Mendadak Cia mengerutkan kening. Apa yang dilihatnya mendadak bergoyang seolqh terjadi gempa.
"Dit, ada gempa ya?!" Cia beranjak bangun sambil ketakutan. Namun tubuhnya mendadak oleng karena kepalanya menjadi pusing. Adit merangkul pinggangnya saat akan jatuh.
"Dit, kenapa aku pusing banget." Cia mengeluh sambil mencoba mengurai tangan Adit yang memeluknya.
"Tidurin di sofa ya, sweety. Kamu mungkin kecapean pulang dari Ciamis." Adit merebahkan tubuh Cia di sofa. Kilat gairah di kedua bola matanya kembali menyala. Naik ke atas tubuh Cia dengan kedua lutut bertumpu di sofa.
"Adit, mau apa?!" Jangan, Dit!" Sekuat tenaga dengan rasa pusing yang mendera, menahan bibir Adit yang menyosor ke lehernya.
Tangan Adit beralih merangkum wajah Cia. Bibir sensual itu sedari tadi sangat menggoda untuk diraupnya. "Sorry Cia....aku gak tahan. Aku pasti tanggung jawab."
"Adit, istigfar! Jangan lakuin ini. Tolooong----!"
...***...
Damar mendorong pintu pagar besi setinggi 2 meter. Mengamati sekitar halaman yang sepi. Garasi luar itu tanpa ada mobil yang terparkir. Hanya ada sepasang sepatu flat warna beige. Tentu mengenalnya, itu milik Cia. Ia mengenal betul semua barang-barang yang selalu dikenakan Cia.
Dengan menenteng tas perempuan warna hitam milik sang pujaan, Damar mengetuk pintu rumah. Mengucap salam sampai tiga kali ulang, tapi tidak ada sahutan.
__ADS_1
Sepi. Mungkinkan di dalam rumah itu hanya ada dua insan. Bisa jadi sekarang ini tengah bermesraan saling melepas rindu. Membayangkan hal itu membuat dada Damar sesak oleh api cemburu. Gaya hidup bebas memang sudah marak tidak hanya di kota besar. Sudah merambah ke pelosok juga. Dengan perantara gadget. Tanpa filter yang kuat bisa-bisa terjerumus terbawa arus.
Damar mencoba menenangkan diri, menetralkan wajah yang mengeras. Tak sanggup dan tak rela membayangkan jika nanti melihat Cia tengah bercumbu mesra dengan Adit. Menguatkan hati, Damar memutar knop pintu. Tidak terkunci?!
"Permisi---" sahut Damar dengan enggan. Senyap. Ia mematung di ruang tamu. Setelah dua kali berucap pun tidak ada sahutan.
Apa aku simpan aja tas Cia di meja?!
Akhirnya setelah menimbang-nimbang,Damar memutuskan menyimpan tas di meja ruang tamu. Mungkin Cia tengah berada di sebuah kamar.
Menggelengkan kepala. Hatinya tak sanggup lagi membayangkan adegan dewasa yang melintas di kepalanya. Bisa-bisa amarah dari api cemburunya meledak. Damar memilih keluar. Pergi.
"Tolooong---!"
Suara jeritan itu begitu jelas di dalam rumah dengan suaaana sepi. Damar urung keluar dari pintu. "Cia---" spontan menyebut nama. Karena jelas jeritan disusul tangisan itu suara Cia.
Berlari ke ruang tengah. Hanya ada bantal sofa yang berserakan di karpet. Pandangannya mengedar ke sekeliling kamar-kamar yang tertutup rapat. Siaga berbalut kemarahan.
"Adit lepas! Tolooong----! Arggghhh----"
Suara Cia semakin jelas bersumber dari lantai atas. Bagaikan kuda yang berlari kencang sambil meringkik, langkah Damar terbang melewati dua titian dua titian sekaligus.
"An jing, Lo!" Damar memukulkan tinjunya mengenai kepala Adit yang tengah mengungkung Cia. Sampai tubuh Adit terpental melewati meja, berguling di karpet.
"Ba ji ngan....breng sek, Lo!" Damar duduk di perut Adit. Amarahnya bagaikan amarah kuda dengan ringkikan keras diiringi kedua kaki diangkat ke atas. Menjatuhkan siapapun yang menunggang diatasnya. Mata memerah, wajah mengeras, gigi bergemelutuk, bak kesetanan. Pukulan bertubi-tubi dilayangkan ke wajah Adit tanpa ampun. Darah mengucur dari hidung, mulut dan sudut mata. Damar tak peduli. Terus mengumpat dan memukul. Wajah Adit sudah tak berbentuk.
"Hoek....hoek.....hoek."
Suara Cia yang muntah menyadarkan Damar dari kerasukan. Tubuh di bawahnya sudah tidak berdaya tanpa perlawanan. Damar mengatur nafas yang terengah-engah. Menolehkan wajah ke arah Cia.
"Kak----" Cia berusaha berjalan dengan tangan terulur ingin menggapai. Namun tubuhnya terhuyung dan jatuh. Dengan sigap Damar menangkapnya.
"Cia, sayang." Damar mendekap erat tubuh sang gadis pujaan yang sudah tak berdaya. Pingsan. Menggendong dengan sekali ayun. Membawa keluar dari rumah laknat itu. Meninggalkan kekacauan yamg sudah dibuatnya.
...***...
😱😱😱
Tegang gak.....? Tegang dong masa enggak.
Tapi aku pengen ketawa dulu 🤣🤣🤣 baca komen emak-emak dengan segala doa jeleknya. baca opini yang ternyata satu pun gak ada yg jawab bener. 😂 Dugaan selingkuh terlalu biasa ada di kebanyakan novel. 😄
Termasuk yg jawab kuis di GC, maaf ya semua jawaban SALAH. Tapi jangan berkecil hati or berputus asa. Kalian ada kemajuan, udah terlatih memberikan opini yg tak biasa. Siapa tahu nantinya ada keinginan menjadi penulis juga. 🤗
Next...persiapkan mental ya Mak..emak cantik. Menuju ujian cinta RamPut.
LOVE segede nyiru. 😍
__ADS_1
Me Nia