
Perjalanan panjang menuju Jakarta dinikmati dua pasangan, penuh canda tawa sepanjang jalan. Pasangan yang duduk di depan adalah pasangan baru jadian. Dan yang duduk di jok baris tengah adalah pasangan baru halal.
Pamer kemesraan ditunjukkan Rama tanpa malu. Duduk menempel, menggenggam erat tangan Puput. Saling menyuapi buah potong yang dibawa sebagai bekal perjalanan.
"Haiss, mataku ternoda egen..." Teriak Cia saat membalikkan badan meminta strawberi dalam box. Bersamaan dengan Rama mengecup pipi Puput.
"Tau nih kakakmu, Cia.....dari tadi berubah jadi soang." Puput penting membela diri. Takut dikira dirinya yang agresif. Padahal ia tengah duduk manis berbalas pesan dengan Via yang gesrek menanyakan kabar malam pertama dengan emot horor.
"Kalau gak kuat lambaikan tangan ke kamera." Sahut Rama santai dan acuh. Beralih meminta Puput menyuapkan seiris buah kiwi.
"Untung gue jadi supir. Mata suciku tidak ternoda." Sahut Damar ikut menanggapi. Yang mendapat cebikkan Rama dan cubitan di pinggang dari Cia.
"Hahh mata suci....mata belek kali." Sinis Cia sambil memutar bola mata. Sama sekali tak percaya. Damar menoleh sekilas sambil terkekeh.
Setelah perjalanan jauh yang hanya berhenti dua kali untuk makan dan shalat, mobil yang dikemudikan Damar tiba di depan gerbang tinggi nan kokoh. Yang kemudian sang penjaga sigap membukakan pintu gerbang bercat hitam itu setelah mengenali mobil dan melihat wajah di balik kemudi.
Malam baru menunjukkan pukul 19.30. Namun pencahayaan yang terang dari lampu-lampu taman sepanjang memasuki pekarangan rumah yang beraspal, menjadi pemandangan baru bagi Puput yang baru pertama kali singgah di rumah keluarga Rama. Rumah bergaya Eropa klasik dua lantai, terlihat indah dan sedap di pandang mata.
"Ayo, Neng!" Sapaan Rama yang membukakan pintu menyadarkan Puput dari kekagumannya menatap bangunan rumah dari kaca mobil depan. Sampai tak menyadari jika semua orang sudah turun.
Rumah Enin yang besar bergaya minimalis terkesan menampilkan kesederhanaan. Meski merk mobil menunjukkan kelas sosial, namun attitude para pemiliknya tidak menunjukkan keangkuhan. Biasa saja. Sehingga Puput tak menyangka jika orangtua Rama di ibukota ini memiliki rumah mewah yang membuatnya tercengang dalam hati, begitu pintu utama berdaun pintu dua, dibuka dari dalam.
"Bi, kenalin nih istri aku....." Rama merangkum bahu Puput. Dengan bangga memperkenalkan sang istri kepada Bi Lilis, asisten rumah tangga senior di rumah itu.
"Istri? Bukan tunangan, Den?" Bi Lilis masih menatap ingin meyakinkan. Sementara Cia mendahului masuk dan Damar mengekor membawakan koper milik kekasihnya itu.
"Nggak jadi tunangan. Langsung nikah aja biar gak dosa." Rama tanpa malu memamerkan kemesraan dengan mengecup kepala Puput yang berbalut pasmina.
"Kenalin....aku Putri. Bi Lilis bisa panggil aku Puput." Puput mengulurkan tangan diiringi senyum ramah. Saat di jalan, Rama sudah menceritakan tentang Bi Lilis yang merupakan pengasuhnya waktu kecil.
"Saya Bi Lilis....Masyaa Allah, Den Rama gak salah pilih sekarang mah. Hade rupa, hade basa (bagus wajah dan sikap) ini mah. COCOK!" Bi Lilis mengusap-ngusap tangan Puput dengan binar riang dan tidak ragu memberi penilaian.
Membuat Rama terkekeh dengan kepolosan Bi Lilis yang tersirat membandingkan dengan perempuan lain yang pernah dibawa masuk ke rumah mewah itu. Puput hanya tersenyum mesem.
"Sayang, ini kamar kita." Rama memeluk Puput dari belakang usai menutup pintu kamar. Memberi kecupan mesra di pipi kanan. "Ayo kita room tour dulu!"
Puput menyimak penjelasan Rama yang menunjukkan setiap sudut kamar yang luasnya tiga kali lipat dari kamarnya. Melihat kamar mandi dengan fasilitas modern. Juga walk in closet dengan lemari berpintu kaca dan ada juga berpintu cermin dibuka untuk diketahui isinya.
"Pakaian kamu disimpan di sini ya!" Rama menunjukkan lemari yang sudah dikosongkan. Karena tadi pagi sudah menugaskan Bi Lilis, sekaligus membersihkan dan mengganti seprai baru.
Usai mandi dan makan malam berempat, Rama membahas pekerjaan dengan Damar karena besok tidak akan ke kantor. Sementara Cia mengajak Puput ke kamarnya yang letaknya di depan ruang keluarga di lantai atas. Berjauhan dengan letak kamar Rama yang berada di sudut kiri dengan balkon menghadap halaman rumah.
...***...
Ranjang king size menjadi tempat dua insan melepas lelah sambil bermanja. Sesekali terdengar tawa tertahan karena Puput merasa geli oleh gesekan titik-titik jambang tipis yang dilakukan Rama di balik piyamanya.
Bibir yang manis itu selalu membuat dahaga. Rama tiada bosan untuk terus-menerus mereguknya. Tiada bosan pula bermain-main sampai batas pusar. Sabar menahan turun lebih bawah sampai hari esok tiba.
Puput lebih dulu terjaga di jam empat subuh oleh rasa engap karena Rama tidur memeluknya. Rasa lelah perjalanan dan permainan suaminya semalam, membuat ia lelap sehingga lupa akan kekhawatiran ilernya netes. Dan hal pertama yang dilakukan begitu bangun adalah meraba sudut bibir. Aman. Ia pun tersenyum lega.
Dua tetes air jatuh menimpa kening membuat Rama mengerjap, mengernyit, lalu membuka mata dengan menyipit. Ia disuguhkan pemandangan wajah gadis dengan rambut panjang setengah basah tengan tersenyum.
"Bangun, A. Udah adzan....mau berjamaah nggak?"
Mata Rama berubah melebar sempurna. Menatap kesegaran tersaji dalam balutan handuk biru muda yang berdiri melongokkan wajah di tepi ranjang. Bahu polos seputih susu itu menggeliatkan adik kecilnya.
"Eit, nggak bisa. Aku udah wudhu." Puput berkelit mundur saat tangan Rama akan menarik handuknya. Ia mengedipkan mata yang membuat suaminya itu menggeram.
"Tungguin, Neng. Aku mandi dulu." Dengan semangat Rama bangun dan bergegas menuju kamar mandi.
Yeah, I love monday
__ADS_1
Rama mengepalkan tangan dan tersenyum lebar dalam guyuran air shower yang dingin menyegarkan. Mendinginkan dulu gairah yang sempat naik karena pemandangan subuh yang membuatnya gemas ingin menerkam.
Dua rakaat qobla dilanjut berjamaah subuh usai ditunaikan. Do'a dengan khusyu dipanjatkan sang imam. Penuh harap kebaikan dan keberkahan atas rumah tangga yang baru dijalaninya itu. Berharap selalu sehidup sesurga dengan istri yang dicintainya itu. Kata amin terucap lirih dari sang makmum.
Puput mencium punggung tangan Rama dengan takzim. Sejenak Rama menangkup wajah cantik natural dalam balutan mukena yang merupakan mahar darinya itu. Mencium kening sang istri dalam dan lama. Berakhir mengecup bibir.
"Aa, mau pakai baju apa?" Puput menatap Rama usai merapikan mukena dan melipat sajadah. Ia sudah memakai gamis rumahan. Sementara Rama masih memakai baju koko dan sarung.
"Kaos putih sama celana joger hitam. Aku mau olahraga dulu." Rama menarik lengan Puput yang akan beranjak. Sehingga terjatuh duduk di pangkuannya. "Giliran nanti siang olahraga bareng kamu," bisiknya sambil mengesekkan hidung di daun telinga istrinya itu.
"Ih, mesum." Puput mencubit lengan yang melingkar menangkup dadanya. Jangan ditanya bagaimana meremangnya tubuh mendengar ucapan dan tindakan Rama pagi ini
"Aku udah telpon Cia buat pinjam hairdyer." Rama mengekori Puput masuk ke walk in closet. Membuka baju dan sarung tanpa malu berubah menjadi tarzan. "Nanti kamu beli di olshop, merk yang bagus ya." Sambil menerima uluran baju dan celana jogger dari tangan Puput yang terlihat malu, menatap ke arah lain.
"Neng, tunggu dulu!" Rama menahan tangan Puput yang akan beranjak keluar. Membawanya ke satu sisi dengan menggeser cermin. Terlihat di dalamnya sebuah brankas.
"Hapalin kodenya ya!" Rama menyuruh Puput memijit tombol dengan menyebutkan angka kombinasi. Sekali, lulus unlock. Ia pun menyuruh Puput mengulang sampai tiga kali dengan menghafalkan password tersebut.
Rama mengeluarkan map dengan hard cover berwarna marun dan mengajak Puput duduk di kursi panjang tanpa sandaran.
"Ini aset yang aku punya. Ada total 5 hektar berupa sawah dan kebun di Ciamis yang aku beli dari keluarga Enin dan Kakek. Semuanya dari warisan yang udah dibagikan. Daripada lepas ke orang lain yang bukan keluarga, ya aku beli aja."
Puput menyimak juga memperhatikan beberapa sertifikat tanah yang dibuka-buka oleh Rama.
"Ini delapan dokumen perusahaan RPA store. Aku juga punya dua properti, apartemen dan rumah. Sama ini, saham di marketplace dan ekspedisi. Mobil ada dua, Pajero sama Ferrari. Motor ada dua, Harley davidson sama Ducati."
"Istriku harus tahu semua aset yang aku punya." Rama menciumi rambut setengah basah dengan wangi strawbery yang menyegarkan hidung itu.
Puput bingung harus bereaksi seperti apa melihat map dengan hard cover warna marun yang dipindahkan Rama ke pangkuannya. Terkesiap iya, menyadari kenyataan sang suami sekaya itu.
Ketukan di pintu terdengar diiringi teriakan Cia memanggil. Rama yang beranjak untuk membukakan pintu.
Rama menjawabnya dengan sentilan di kening sang adik sampai terdengar mengaduh.
"Itu buat Teh Puput aja. Aku punya satu lagi." Teriak Cia. Karena pintu langsung ditutup lagi oleh Rama. Ia hanya bisa menjitak pintu karena sebal diacuhkan kakaknya itu.
"Sayang, nggak usah beli hairdryer. Ini Cia ngasih karena dia punya dua."
Puput mengangguk sambil menerimanya.
Kemudian Rama mengambil dompet kecil dari dalam brankas yang berisikan banyak kartu.
"Kartu debit yang kamu pegang, mulai sekarang harus dipakai sebagai nafkah dari aku. Tambah ini..." Rama mengulurkan kartu kredit berlogo bank swasta yang sama dengan kartu debit.
"Aku nggak mau pakai kartu kredit. Godaannya berat. Bisa-bisa pengen belanja terus padahal nggak butuh. Cukup debit aja." Puput menolak tegas diiringi alasan logis. Meski Rama merayu, mengijinkan pengeluaran unlimited, keukeuh ia tidak mau.
Jam 7 pagi usai Rama berolahraga. Kembali semua duduk berempat di meja makan untuk sarapan. Damar yang menginap, sudah siap dengan setelan kerja untuk berangkat ke kantor. Begitu pula Cia bersiap ke kantornya diantar sang kekasih.
"Nggak cape hari ini ke kantor?" Rama menatap Cia. Adiknya itu tengah merapihkan pashmina sambil berkaca pada ponsel.
"Nggak lah. Lagian udah lama gak mantau langsung kinerja anak-anak." Sahut Cia yang memiliki 6 cabang konter ponsel di Jakarta dan Bandung. Dengan kantor dan konter pusat berada di sebrang gedung perkantoran Adyatama Grup.
"Harusnya itu pertanyaan buat gue. Kan gue yang nyetir, cape." Damar menyeruput kopinya dengan pandangan ke arah Rama.
"MANJA." Rama mendengkus diringi memutar bola mata.
...***...
Rumah menjadi sepi setelah kepergian Damar dan Cia. Rama mengajak Puput bersantai di belakang, di tepi kolam renang. Sinar mentari pagi terpantul di air kolam yang jernih, memberi kesegaran dan godaan untuk berenang.
"Mau renang?" Rama membelitkan tangan di perut Puput dari belakang. Sama-sama berdiri tersinari mentari pagi yang hangat.
__ADS_1
"Nggak ah. Rambutku baru aja kering. Lain kali aja." Puput membiarkan Rama yang menyandarkan dagu di bahunya.
"Tapi bisa renang, kan?"
Puput mengangguk. "Naik kuda juga bisa. Aku kan anak tomboy. Dulu suka ngikutin apapun kegiatan Ayah. Sampai berenang di Citanduy juga sering. Dulu kan sungainya masih bersih. Beda dengan sekarang yang udah tercemari sampah domestik." Ia terkekeh mengenang masa kecilnya yang aktif.
"Wow, benar-benar my wonder woman." Rama mengecup pipi putih sang istri yang mulai merona karena sapaan sang mentari.
"Neng, aku mau sekarang ya?" lirih Rama dengan suara berat.
"Mau apa?!" Permintaan Rama dirasa ambigu. Namun gerakan dua jari yang berjalan menuju inti tubuh, membuat Puput tersipu.
"Nanti malam aja gimana?" Puput mencoba peruntungan. Membayangkan hubungan intim untuk pertama kalinya membuat tubuhnya menegang. Dari obrolan dengan teman juga searching artikel di dunia maya, kesimpulannya memang sakit.
"Nanti malam beda lagi dong. Itu porsi ke tiga. Kan pagi, siang, malam."
Puput mengurai belitan tangan Rama dan membalikkan badan. "Aa, jujur aku takut. Katanya pertama kali itu sakit. Ini malah mau tiga porsi. Cowok enak, aku mungkin pingsan." Keluhnya sambil memperlihatkan telapak tangan yang mendadak berkeringat dingin.
Rama mengulas senyum. "Aku nggak akan egois. Aku akan lakukan perlahan, gak akan dipaksa sekaligus kalau kamu sakit." Sorot matanya meyakinkan Puput agar tidak cemas.
Bergandengan tangan keduanya menaiki tangga menuju kamar.
"Kita salat sunah dulu ya!" Ajak Puput begitu Rama mengunci pintu kamar.
"Oke, sayang. Sekalian nunggu paket."
"Paket apa?"
"Ada deh." Rama menggigit gemas leher Puput yang baru membuka jilbab instannya.
"Issh, sakit tau..." Puput mengerucutkan bibir. Meraba leher yang bertekstur bekas gigi.
"Masa?" Rama menarik tubuh Puput sampai menabrak dadanya. "Sini aku obatin." Dilahapnya bibir yang manyun itu dengan rakus namun tetap penuh kelembutan. Di dorongnya mundur perlahan tubuh sintal itu tanpa melepaskan pa gu tan yang melekat kuat. Sampai tubuh keduanya terjerembab di atas ranjang empuk.
.
.
.
Tbc
...***...
PENGUMUMAN, JANGAN DI SKIP!
Dalam rangka on going menuju 100 bab, Author ingin mengadakan syukuran dengan berbagi. Dengan tema, "Tanda Kasih Author"
Syaratnya, mulai hari ini setiap pemberian gift kopi, kirimkan bukti ss nya ke admin @Imas Perwati . Jangan lupa follow dulu akun adminnya. Bagi yg sudah tapi belum di folbek, monggo toel aja miminnya di kolom komen.
Waktu pengiriman screen shot (ss) kopi mulai tanggal 1-30 juli 2022. Tidak harus kirim tiap hari.
Ada 5 pcs tas cantik untuk 5 orang pemenang dengan akumulasi kopi terbanyak yang akan ditotal di akhir bulan. (31 juli)
Ongkos kirim ditanggung pemenang ya 😊
Event ini berlaku bagi yang mau berpartisipasi. Tidak juga gak papa. Tetap dukung KCM sesuai kemampuan readers.
Salam cinta dariku ❤
Me Nia
__ADS_1