
"Saya terima nikah dan kawinnya Citra Adyatama binti Krisna Adyatama dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Ucap Damar dengan tegas dalam satu tarikan nafas, dalam jabat erat dengan sang wali nikah.
"SAH." Kompak empat orang tokoh masyarakat yang ditunjuk sebagai saksi. Mengangguk yakin.
Doa pernikahan dengan khusyu dipanjatkan. Semua tamu menengadahkan kedua tangan mengaminkan. Prosesi ijab kabul berjalan dengan khidmat dan lancar.
Tiba waktunya Damar menyambut kedatangan Cia yang kini telah sah menyandang status sebagai istrinya. Dengan panduan MC, ia berdiri di ujung karpet yang sepanjang jalan di kiri dan kanan dihiasi rangkaian dekorasi bunga yang cantik.
Gesekan biola berkolaborasi dengan tiupan saxophone mengalunkan musik Bidadari Surga. Begitu merinding dan terasa kesyahduannya menyambut langkah pengantin wanita yang dilepas oleh dua orang bridesmaid berjalan sendiri menuju titik pertemuan di tengah jalan.
Kepulan asap menghiasi sepanjang jalan yang dilalui. Damar dengan langkah tegap berjalan lebih dulu ke titik temu, menyambut Cia yang tersenyum manis dan menatap lurus ke arahnya. Nampak cantik dalam balutan kebaya sunda modern karya desainer butik Sundari.
Satu kecupan di kening Cia dilakukan Damar sebagai sambutan atas kedatangan istrinya itu. Yang kemudian ia tuntun menuju meja akad untuk menandatangani dokumen pernikahan serta buku nikah.
"Padma, aku udah gak sabar nunggu saweran." Bisik Ami disaat di atas pelaminan kini sedang berlangsung prosesi sungkeman.
"Iya sama Padma juga. Tadi pagi udah pesan sama Kak Panji. Minta bantuan lagi." Sahut Padma tak kalah berbisik. Karena MC sudah mengultimatum kepada para tamu agar tidak berisik selama prosesi acara adat belum selesai.
"Aku mah mulung sendiri gak ada yang bantuin. Tak apalah kemarin udah dikasih bonus dari fans aku." Ami tersenyum sendiri. Ia lalu menoleh ke belakang saat bahunya ada yang menepuk.
"Mi, nanti Aa bantu mulung sawer buat Ami. Kemarin udah cukup buat nambah beli sepatu." Bisik Zaky yang baru duduk di belakang kursi adiknya itu.
Ami melebarkan mata dengan wajah semringah. Senyum lebar terkembang. "Yes. Aa Felguso emang terbaik." ujarnya. Dua jempol diacungkan dan digoyangkan sembari mengerjap-ngerjapkan mata.
"Hihihi, Ami kayak cacingan." Ledek Padma terkikik ditahan.
"Bener Padma. Cacingannya Ami kambuh." Zaky menjitak pelan kening Ami sebelum beranjak pindah lagi ke kursi dekat ibu.
"Bukan cacingan atuh Padma tapi Ini gaya imut Ami Selimut." Sahut Ami. Tidak ada matinya dua anak gadis itu becanda di tengah prosesi adat berlangsung. Hingga waktunya sawer pengantin siap dimulai. Keduanya merangsek paling depan. Karena sawer kali ini uangnya lebih banyak dari yang kemarin.
Acara akad nikah yang diselenggarakan di ballroom hotel bintang lima itu, selesai jam satu siang. Dengan undangan terbatas hanya 150 orang, acara berlangsung khidmat dan sakral. Ada waktu setengah hari untuk beristirahat menunggu acara resepsi nanti malam.
Dibantu oleh crew MUA, segala asesoris yang menempel di kepala Cia selesai dilepas. Usai membersihkan make up dan berganti pakaian santai, ia sudah ditunggu Damar untuk sholat Duhur berjama'ah. Kamar pengantin dengan dekorasi romantis itu menjadi saksi dua insan memulai hidup baru dengan beribadah bersama.
"Jadilah istriku selamanya, sepanjang usia, till jannah." Ucap Damar usai mengecup kening sang makmum di akhir sholat.
"Aamiin. Jadilah suamiku yang penyayang dan penyabar karena aku belum dewasa sikap dan masih suka manja." Ucap Cia tersipu malu. Kembali mencium tangan Damar untuk kedua kali.
Damar melepas mukena yang masih dikenakan Cia. Mengusap lembut rambut panjang sebahu yang tergerai lurus. "Ayang, aku udah tau segala luaran kamu sejak masih SMP sampe udah dewasa gini. Manjanya, bawelnya, nyebelinnya, juga baiknya. Tinggal sekarang pengen tau daleman kamu."
"Ih, mulai mesum deh." Cia mencubit perut Damar dengan gemas. Lalu bermanja dengan memeluk pinggang sembari menyandarkan kepala di dada suaminya itu. "Makasih Kak, udah ngejaga dan lindungi aku selama ini. Bahkan Kak Damar sangat ngejaga kehormatan aku," sambungnya dengan ucap penuh bangga.
"Makasihnya harus dengan tindakan, Yang."
"Eh-eh, Kak Damar..." Cia terkaget karena Damar tanpa aba-aba mengangkat dan menggendong tubuhnya. Lalu membaringkan perlahan di ranjang empuk serba putih serta wangi aroma mawar segar yang berasal dari dua buket yang tersimpan di nakas kiri dan kanan ranjang.
Wajah Cia semakin merona karena Damar menarik bawahan mukena. Lalu beraksi mengungkung di atasnya dengan kedua lutut bertumpu di kiri dan kanan pahanya.
"Aku mau icip-icip dulu appatizer sebelum nanti malam main course." Damar mulai mengukir garis wajah Cia dengan jarinya. Mulai dari kening hingga berhenti di dagu. Beralih bibirnya yang bekerja menyapu dengan kecupan mulai dari kening, turun ke kedua kelopak mata yang terpejam. Beralih mengecup hidung serta kedua pipi yang terasa hangat dan memerah. Membuatnya semakin berhasrat untuk turun dan menempelkan bibirnya dengan bibir pink alami istrinya itu.
"Ayang." Suara Damar memberat memanggil nama Cia.
Cia membuka mata sehingga pandangan saling bertaut. Ada hasrat yang menggebu. Ada cinta yang tergambar. Ada kebahagiaan yang sama-sama terpancar.
"I love you." Ucap Damar. Memasukkan kedua tangan menyanggah kepala Cia sehingga makin mendongak.
Cia balas menangkup kedua sisi wajah Damar yang nafasnya terasa hangat menyapu wajah. Tersenyum manis diiringi anggukkan ia berkata lirih, "Love you too, suamiku."
Kedua wajah mulai mengikis jarak. Kedua bibir pun menyatu, saling memagut, saling bertukar saliva. Ciuman lembut penuh gelora tercipta diiringi perasaan yang membuncah.
...***...
🎶 🎶 🎶
Sekuntum bunga indah yang sedang mekar
Selalu merindukan sinar surya
Selalu merindukan jatuhnya embun
Sepertiku yang selalu menunggumu
Tanpamu apa artinya
Tanpamu serasa hampa
Gairah hidup kan musnah
Selamanya
Denganmu aku merasa
Denganmu pasti kan nyata
Impian hidup bahagia
Terbayang nyata
__ADS_1
Di bawah panggung, tepuk tangan meriah terdengar berasal dari keluarga. Ada Rama dan Puput saling berpelukan terbawa suasana romantis pasangan di atas panggung. Aul memasang senyum lebar, menautkan kedua tangan di depan dada. Panji bahkan bersiul dengan keras. Ayah Anjar menepati janjinya bernyanyi di acara resepsi Cia Damar. Yang lebih mengejutkan karena Bunda Ratih bersedia mendampingi di atas panggung. Tak lepas saling berpegangan tangan. Meski sang Bunda nampak malu-malu.
Padma tak kalah semangat memasang kamera ponselnya. Tersenyum semringah melihat kemesraan Ayah Bunda. Sesekali selfie dengan latar belakang orangtuanya yang sedang bernyanyi itu. Sementara Enin dan Ibu Sekar menonton dari meja VIP, tersenyum mesem. Bahagia menular kepada semua orang.
Anjar bernyanyi sembari menatap Ratih dengan sorot mata penuh cinta dan kehangatan.
Bila ku sedang pilu kau menghiburku
Kau buat aku tersenyum kembali
Bila ku ingin manja engkau segera
Membelaiku dengan cinta dan kasihmu
"Semuanya bernyanyi ya!" Pinta Anjar dengan lantang. Sekilas menoleh ke arah depan sebelum kembali memusatkan atensi pada sang istri.
Puput beralih berhadapan dengan Rama. Kedua tangan saling berpegangan dan mengayun mengikuti irama. Ia turut bernyanyi,
Tanpamu apa artinya
Tanpamu serasa hampa
Gairah hidup kan musnah
Selamanya
Denganmu aku merasa
Denganmu pasti kan nyata
Impian hidup bahagia
Terbayang nyata
[Lagu lawas. : Tanpamu- Tetty Kadi]
Dari panggung pelaminan, Krisna dan Ratna saling tatap penuh arti. Tentunya ikut berbahagia dengan sang adik yang kembali bersatu dengan cinta lamanya. Setelah belasan tahun perpisahan. Kedewasaan dan kematangan usia akhirnya mampu saling menerima kesalahan, mau merajut lagi kebahagiaan.
Lain halnya dengan Ami. Hanya sebentar menemani Padma di depan panggung. Ia mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama sembari menyusuri stand makanan. Memilah-milih cemilan setelah tadi makanan berat sudah masuk ke perut. Bosan jika hanya jadi penonton. Duduk dengan menghadapi sesajen makanan lebih mengasyikkan.
Enam rupa makanan sudah dipilih dan ditata dalam satu piring. dipegang tangan kanan. Segelas jus mangga dipegang di tangan kiri. Ami harus berjalan hati-hati menuju kursi yang satu meja dengan Ibu. Karena sedang puncaknya banyak tamu.
"Ami, sini bantuin!" Seorang pria tiba-tiba menghampiri dan mengambil alih piring yang dipegang Ami.
Ami tersenyum lebar. "Makasih, Kak. Duh pegel juga," ujarnya. Karena harus berjalan lambat dan mengurai kerumunan orang, membuat tangan Ami merasa kebas.
"Di meja Ibu sama Enin."
"Di meja Kak Akbar aja ya. Kak Akbar gak ada temen."
"Oke deh."
Akbar berjalan lebih dulu menuju meja yang sudah bertuliskan namanya dan Leo.
"Emang Kak Leo kemana, Kak?" Tanya Ami setelahnya duduk saling berhadapan.
"Lagi sama pacarnya di sana." Tunjuk Akbar sembarangan arah. Karena tidak tahu posisi Leo sekarang di sebelah mana setelah tadi mendampinginya berbincang dengan beberapa tamu undangan yang dikenalnya. Kemudian berpisah setelah tak sengaja melihat Ami yang kerepotan.
"Kak Leo bawa gandengan, kenapa Kak Akbar tidak?" Tanya Ami dengan santai. Mulai menikmati cemilan di piring.
"Hm, belum punya." Akbar menjawab tak kalah santai, sejujurnya. Ia menahan waiters yang lewat. Mengambil satu minuman dingin dari nampan.
"Wuah Kak Akbar masuk kategori apa nih? Jones, jofis, atau jomat?" Ami menutup mulutnya menahan tawa.
Akbar terkekeh. "Jones kakak tau artinya jomblo ngenes. Jofis sama jomat singkatan apa?" Rasanya lebih menyenangkan bicara dengan anak kecil daripada bertemu relasi karena yang dibahas hanya soal tren bisnis. Otak seharian sudah diperas mengurus tanggung jawab besar sebagai CEO. Saatnya hiburan.
"Jofis itu jomblo fisabilillah. Jomat itu jomblo terhormat. Hayoh pilih yang mana Kak?" Ami Todong Ami sembari menyeruput jus mangganya.
"Jomat aja deh. Kalo jofis, hmm....ngerasa belum sebaik itu." Akbar meringiskan wajah.
"Hai, Mas Akbar kan?" Akbar dan Ami bersamaan menatap wanita yang berdiri di samping meja.
"Siapa ya?!" Akbar mengerutkan kening. Berusaha mengingat wajah cantik berpenampilan seksi itu.
"Aku Candy. Kita pernah kenalan di wedding party Gideon, ingat? Aku teman kuliahnya Cia makanya ada di sini." ujarnya memasang senyum manis.
"Oh ya ya." Akbar manggut-manggut seolah iya ingat. Banyak wanita yang mengajak kenalan namun hanya ditanggapi saat itu saja. Tidak disimpan di memori ingatan.
"Pacarnya mana, Mas Akbar. Kok sendirian?" Candy bergabung duduk tanpa disuruh.
"Lagi pengen jalan sama adik." Ucap Akbar menunjuk dengan dagu ke arah Ami.
Ami melebarkan mata dengan mulut penuh kunyahan. Namun kembali memasang wajah normal melihat kerjapan mata Akbar.
"Hai, siapa namanya dek? Kamu cantik deh." Candy tersenyum ramah mencari perhatian Ami.
"Oh itu udah pasti, Kak. Kakaknya aja guanteng gini. Masa adiknya enggak cantik. Nama aku Ami Selimut." Ucap Ami dengan percaya diri.
__ADS_1
Akbar menyembunyikan senyum dengan cara meneguk minumannya. Geli mendengar Ami memperkenalkan nama.
"Ami Selimut? Unik ya namanya." Candy tersenyum dengan kening mengkerut.
"Iya karena aku spesies langka penuh pesona. Hobinya makan tapi tidak bikin gendut. Karena aku anak aktif biar cepet gede. Kak Permen, mau ini?" Ami menggeser piringnya yang masih tersisa pie apel dua buah.
Akbar pura-pura mengelap mulut padahal menutupi menahan senyum karena Ami seenaknya ganti nama orang.
"Kamu lucu deh Ami." Candy terkekeh. Menjawil pipi Ami dengan gemas.
"Maaf ya, kami lagi pengen berduaan. Itu ada kursi kosong." Akbar mengusir Candy dengan halus. Ia tidak menyukai perempuan yang agresif cari perhatian.
"Oh, baiklah. Maaf ya aku dah ganggu." Candy segera berdiri dengan raut wajah kecewa.
"Hiii, ternyata dia sundel bolong. Jangan mau punya pacar sama temannya kunti gitu, Kak. " Ami melebarkan mata dan bergidik takut. Melihat Candy yang berlalu, baru kelihatan mengenakan gaun dengan punggung terbuka.
Akbar tertawa lepas. "Sakarepmu lah, Mi. By the way, liat Ami makan jadi lapar. Mau gak ambilin steak? Nanti Kak Akbar kasih uang jajan."
Ami sontak berdiri. "Berangkaaat!"
"Ami jangan lari-lari!" Teriak Akbar. Ami berhenti dan memutar badan sembari mengangkat tangan simbol hormat. Beralih berjalan dengan riang.
"Dasar bocah," batin Akbar diiringi geleng-geleng kepala.
...***...
"Makasih ya udah datang." Rama bergantian memeluk Arya, Mizyan, dan William. Yang lainnya sudah mengkonfirmasi tidak bisa hadir karena ada halangan. "Kenapa kompak gak bawa nyonya?" Sambungnya dengan tatapan menyipit.
"Sengaja jadi bujangan lagi. Biar leluasa cuci mata. Masih laku gak ya kira-kira?" Ucap Mizyan diiringi tawa lepas.
"Pasti lah. Anak SMA juga pada mau." Rama menjawab yakin. Menciptakan tawa diantara kumpulan para hot daddy itu.
"Besok pagi kita mau lanjut terbang ke Lombok bertiga. Mau survei lokasi buat bikin villa. Makanya bawa arsiteknya nih." Arya menyikut lengan Mizyan.
"Si boss lagi investasi terus nih." Mizyan melirik Arya dengan sudut mata.
"Keren." Rama mengacungkan jempol penuh kagum.
"Nanti kalo master plan villa nya udah jadi, lo pasti bakal tertarik ikut investasi deh." William menepuk bahu Rama.
"Gue tunggu pinangannya. Arsitek Mizyan gak pernah gagal sih. Ramuannya aja selalu jos." Sahut Rama. Membuat semuanya tertawa lepas.
Di panggung musik. Giliran Panji dan Aul mulai berduet. Meski tak ada kontak fisik seperti duetnya Ayah Anjar dan Bunda Ratih. Namun chemistry keduanya dapat. Bernyanyi dari hati seolah ungkapan perasaan.
Waktu bergulir
Lambat merantai langkah perjalanan kita
Berjuta cerita terukir dalam
Menjadi sebuah dilema
Mengertikah engkau?
Perasaanku tak terhapuskan
Malam menangis
Tetes embun membasahi mata hatiku
Mencoba bertahan di atas puing-puing
Cinta yang t'lah rapuh
Apa yang kugenggam
Tak mudah untuk aku lepaskan
Aku terlanjur cinta kepadamu
Dan t'lah kuberikan s'luruh hatiku
Tapi mengapa baru kini kau pertanyakan
Cintaku?
Aku pun tak mengerti yang terjadi
Apa salah dan kurangku padamu?
Kini terlambat sudah untuk dipersalahkan
Kar'na s'kali cinta, aku tetap cinta
[Terlanjur Cinta : Rossa feat Pasha Ungu]
...***...
__ADS_1
Ada yang di skip. Harusnya T2 hadir menjadi tamu spesial. Karena untuk pertama kalinya Tika mau muncul di hajatan keluarga Krisna. Setelah selama ini hanya duduk di belakang layar menjadi perancang setiap gaun dan dresscode keluarga besar Enin itu. Sesuai janjinya dulu, akan hadir jika sudah menikah. Tapi rumah sana pocecif. Dialog T2 gak boleh hadir di rumah ini. Harap maklum ya, Bestie. 😍