Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
111. Driver Pemenang


__ADS_3

Aul menghentak-hentakkan kaki ke lantai dengan wajah memberengut. Kesal setelah membaca status yang dibuat oleh Ami. "Ibu, tuh Ami rese, nyebelin ih," ujarnya mengadu pada Ibu.


Ibu hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala setelah Zaky memperlihatkan status yang dibuat anak bungsunya itu. Tak bisa marah karena memang Ami suka usil. Kecuali jika sudah melampaui batas, ia akan turun tangan menasihati.


"Selow atuh selow, Teh. Kenapa harus bete? Kan kita ini golongan ciwi-ciwi cantik yang harus dikawal biar aman dari godaan sai ton berwujud manusia." Ami mencolek-colek pinggang Aul yang memanyunkan bibir. Menggoda kakaknya itu sampai lama-lama kegelian dan tidak bisa menahan tawa di balik marahnya.


Rama terkekeh. Sehari bersama keluarga Puput merasa terhibur oleh tingkah Ami. Sejenak lupa akan kasus Zara yang mulai besok diperiksa sebagai tersangka dan akan olah TKP di villa hutan pinus sebelum nantinya dibawa ke Jakarta. Begitu laporan yang diterima dari pengacaranya lewat telepon siang tadi.


"Nih, Aa liat." Puput mendekatkan ponselnya dan Rama membaca status milik Ami itu dengan menyunggingkan senyum lebar. Pantas saja Aul ngambek karena namanya dijual.


...Teh Aul ngajak aku pengen malming ke AP...


...Hello my fans, siapa yang mau nganter nih?...


"Ami, emang siapa aja fans kamu?" Rama menatap Ami yang merayu Aul dengan memaksa menyuapi donat madu topping coklat yang masih utuh satu dus lagi sisa semalam.


"Hm, yang pertama Kak Rama. Tapi udah laku nggak mungkin bisa nganter kita-kita." Ami menjawab dengan pipi menggembung karena baru saja menggigit besar donatnya.


"Hahaha...." Rama tergelak sambil merangkum bahu Puput. Tanpa canggung memamerkan kemesraan di hadapan seluruh keluarga. Puput merespon ucapan adik bungsunya itu dengan memutar bola mata.


"Fans kedua Kak Panji, ketiga Kak Damar, keempat Kak Clarissa, kelima pakpol Anggara," lanjut Ami dengan percaya diri.


"Hah, Anggara masuk fans juga?!" ujar Puput kaget. Ia tidak tahu sejak kapan adik centilnya itu akrab dengan temannya.


"Yuhuu. Waktu di nikahan mbak Via Kak Angga ngasih uang jajan ceban. Maaf ya, Bu. Aku nggak laporan sama Ibu, hihihi." Ami menatap malu sama Ibu. "Apalagi laporan sama Kak Zaky. Beuh bisa dipinjem buat beli kuota. Bayarnya lama." Ami meledek Zaky sambil memanyunkan bibirnya.


"Bukan dikasih, palingan minta kamu mah. Hayoh ngaku?" Tuduh Zaky dengan mata memicing. Ia tidak bisa mengelak tuduhan Ami soal pinjam uang yang memang sengaja dibayarnya santai.


"Oh, no!" Ami menggoyangkan telunjuk di depan wajah. "Kata Ibu juga nggak boleh minta, kalau dikasih ya diterima," Sambungnya dengan santai.


Ponsel yang dipegang Ami kemudian berdering. "Wow, Kak Angga gercep," pekiknya dengan wajah berbinar.


"Ami, bilangin itu mah cuma becanda. Kita pergi berdua aja jangan ngajak yang lain," ucap Aul.


"Sstt, diem bestie. Aku mau angkat telpon dulu!" Dengan sengaja Ami mengaktifkan loud speaker lalu berucap salam.


"Wa'alaikum salam. Apa kabarnya anak pondok?" sahut Anggara di ujung telepon.


"Alhamdulillah, Kak. Super sekali, hihihi." Ami terkikik sambil duduk tidak bisa diam. "Aku sekarang lagi libur, Kak. Besok sore ke pesantren lagi."

__ADS_1


Semua yang berkumpul menjadi diam mendengarkan percakapan dengan speaker on itu.


"Jadi Ami sama Teh Aul pengen malmingan ke AP, ya?" Lanjut Angga yang terdengar latar belakang suara gemuruh ombak.


"Kebalik, Kak. Teh Aul yang pengen, jadinya aku ikut." Ami tertawa tanpa suara melirik Aul yang melotot padanya.


"Kak Angga pengen bnget nganterin kalian. Tapi sekarang lagi di Pangandaran sama keluarga. Coba kalo bilang dari semalam atau tadi pagi, jadi Kak Angga nggak akan ikut liburan."


Mendengar jawaban Anggara membuat Aul mengusap dada dengan wajah penuh kelegaan.


"Owh." Ami menyahut kecewa. "Emang mendadak sih rencananya karena bete di rumah terus. Nggak papa deh, Kak. Selamat liburan, Kak Angga."


"Lain kali kita agendakan ya, Mi."


"Asiyap, Pak polisi. Hehehe."


Malah membuat Aul mendelik melihat lirikan Ami sambil tertawa itu.


"Oh ya, Ami pengen oleh-oleh apa?"


Ami membelalakkan mata dengan mulut membulat membetuk huruf O. Sebuah tawaran yang menggiurkan datang juga. Spontan menatap Ibu yang memberi kode gelengan kepala.


"Makasih, Kak. Nggak usah repot-repot."


Ami kembali menatap ibunya dengan kode telunjuk mengarah pada ponsel yang dipegangnya. Saksi jika pak polisi itu yang mau memberi.


"Oleh-olehnya buat Ami sama Teh Aul juga," lanjut Anggara.


Ami langsung menoleh pada Aul dengan mata berbinar.


"Boleh deh, Kak, kalau mau ngasih oleh-oleh mah. Apa aja deh terserah Kak Angga. Aku bingung mau apa. Tapi kalau sepatu sih nomer 36, Teh Aul nomer 39. Eh, tapi dipantai mah nggak jualan sepatu. Paling ikan asin ,ya. Ah terserah Kak Angga aja deh."


Aul menghempaskan punggungnya dengan keras ke sandaran sofa. Modusnya Ami keluar.


Terdengar kekehan Anggara di sebrang sana. Yang kemudian menutup sambungan sambil kembali meminta maaf karena tidak bisa mengantar.


Ami menyimpan ponselnya di meja. "Gugur satu, Teh. Sabar ya, Teh." ujarnya menatap Aul yang menutup muka dengan bantal. Mengira kakaknya itu kecewa.


Rama tak kuasa lagi menahan tawanya yang sedari tadi ditahan. Kini tertawa lepas sampai bahunya terguncang-guncang. Ami sangat menghiburnya.

__ADS_1


Selang 5 menit, ponsel Ami kembali berdering. Setengah loncat dari duduknya, ia menyambar ponsel. Kemudian matanya membelalak lebar.


"Teteh! Dari Kak Pinokio." Pekiknya girang.


...***...


Selepas ashar, mobil Enin yang dikemudikan Mang Yaya datang menjemput. Rama dan Puput pamit pada Ibu dan semua adiknya. Mereka akan ke Jakarta selepas magrib berangkat dari rumah Enin. Pulang bersama Papi dan Mami.


Ibu melepas dengan do'a dan sedikit nasihat rumah tangga. Semuanya melepas sampai depan pintu gerbang dengan iringan lambaian tangan.


Hidup baru sesungguhnya akan dimulai dari sekarang. Puput akan menetap di Jakarta mengikuti kemauan Rama. Suaminya itu sudah berselancar memilih-milih hunian yang dirasa cocok. Nantinya akan menyurvei langsung ke lokasi.


Tiba di pekarangan rumah Enin bersamaan dengan Panji yang keluar dari pintu utama. Dengan tergesa menuju mobil CRV.


"Woy, gaya amat. Mau kemana, Nji?" Tanya Rama pura-pura tidak tahu. Adik sepupunya itu terlihat fresh memakai outfit kasual dan rambut belah pinggir dengan sentuhan pomade.


"Ada borongan jadi driver, Kak." Panji terkekeh. Urung masuk ke dalam jok kemudi saat Rama menghampirinya.


"Sayang, masuk duluan aja. Aku ngobrol dulu sama Panji."


Puput mengangguk. Ia berlalu meninggalkan kedua pria tampan itu.


"Kamu serius suka sama Aul?" Rama langsung pada topik pertanyaan.


Panji mengangguk kuat. "Bahkan aku udah bilang langsung sama Aul. Tapi Aul menolak karena ingin fokus kuliah dulu. Jadinya kita sepakat sahabatnya," jelasnya.


Rama menatap penuh selidik ke dalam netra hitam Panji. Lalu tersenyum simpul. "Hm, cinta berkedok sahabat. Mata lo nggak bisa bohong!"


Panji tergelak. "Kalo sama yang pengalaman keliatan ya? Tapi kenapa Aul nggak bisa ngebaca. Dia lempeng-lempeng aja."


"Dia cuek mirip kakaknya. Emang aku denger dari Puput, kalau Aul konsisten ingin menamatkan dulu kuliah. Jadi jangan khawatir dia akan punya pacar selama kuliah."


"Yes, aku juga udah denger langsung dari Aul."


"Tapi kayaknya kamu punya rival deh. Tadi aja lebih dulu telpon Ami pengen jadi driver. Sayangnya lagi ada di Pangandaran. Abis Aul wisuda kudu gercep nih." Rama menatap penuh arti.


"Pasti si polisi itu, kan?" Tebakan Panji dijawab anggukkan oleh Rama.


"Ingat! Jangan main kasar. Jangan bikin Aul illfeel. Bersaing dengan elegan. Tujuan utama bukan menyingkirkan lawan dengan berkelahi. Tapi memenangkan hati Aul."

__ADS_1


"Noted, pakar cinta!" Panji memberi tanda hormat. lalu tergelak karena mendapat toyoran di bahunya.


Rama masuk ke dalam rumah. Sang driver melajukan mobil, keluar meninggalkan pekarangan untuk menjemput kakak beradik, Aul dan Ami.


__ADS_2