
Ibu tiba disaat rombongan keluarga Krisna bersiap pulang beristirahat di rumah Enin. Mereka berpapasan di koridor rumah sakit. Zaky yang ikut pulang bersama, lebih dulu berlari menyambut kedatangan ibunya begitu terlihat dari kejauhan.
Sesama besan saling bertegur sapa. Begitu pula Cia dan Damar. Terutama Mami Ratna yang bertanya kondisi Ibu Sekar sekarang.
"Harusnya Ibu sehari lagi baru boleh pulang. Tapi keukeuh pengen sekarang, pengen ketemu Teteh." Aul yang mewakili menjawab. Sepulang dari rumah sakit tempat Ibu dirawat, memutuskan dulu pulang ke rumah untuk mengambil baju ganti milik Puput.
Ratna tersenyum sambil mengusap-ngusap lengan kiri besannya yang tidak terluka. "Saya maklum. Seorang Ibu mana bisa tenang, mana bisa tidur nyenyak, saat anaknya kenapa-kenapa."
Obrolan pun berakhir dengan perpisahan karena Ratna memutuskan giliran menengok besok. Mengingat Puput malam ini butuh istirahat banyak.
"Ibu!" Rama terkejut begitu membuka pintu kamar perawatan terdengar diketuk. Ibu datang diiringi Aul, Panji, dan juga Zaky yang urung pulang dengan rombongan Papi Krisna. Ia sudah mendengar kabar dari Zaky juga Papi perihal kecelakaan yang menimpa mertuanya itu. Direngkuhnya bahu Ibu masuk ke dalam ruang perawatan yang luas itu. Menuju bed tempat Puput terbaring dan tidur lelap.
Ibu duduk di kursi yang disediakan di samping bed. Berkaca-kaca menelisik si sulung dari ujung rambut sampai ujung kaki yang terbalut selimut dari pinggang ke bawah.
"Maafin Rama, Bu. Puput terluka gara-gara nyelamatin aku." Lirih Rama dengan sorot penyesalan. "Ibu pengen pelaku yang nusuk Puput diapakan? Aku bisa buat dia kehilangan satu kaki sebagai balasannya." Sorot matanya berubah berkilat marah dengan gigi bergemelutuk. Terbayang lagi keangkuhan si Leo saat dirinya terpenjara dalam kamar berteralis.
Ibu menggeleng sambil menatap Rama yang duduk di sampingnya. "Kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan lagi. Kita serahkan urusan pada pihak yang berwajib. Semoga dapat hukuman yang setimpal."
Rama sejenak mengatupkan bibir. "Padahal ia berniat menyuruh orang menyelinap ke RSUD tempat Leo dan Zara dirawat meski dalam penjagaan ketat polisi. Entah kenapa bibir malah berucap minta izin dulu. Jadinya, ide balas dendam itu tentu saja dilarang oleh Ibu.
"Perut Puput mendapat 20 jahitan. Terus Puput mengalami over kelelahan. Akumulasi kelelahan yang tidak dirasakan selama ini. Kurang tidur, makan tidak teratur, banyak pikiran, sama kelelahan fisik." Jelas Rama dengan bersuara pelan. Menceritakan lagi perkiraan dokter yang menjadi penyebab sang istri menderita fatigue.
Ibu terpekur. Bisa jadi benar apa yang dijelaskan barusan. "Waktu Ibu nginep di Jakarta dua malam nungguin kabar nak Rama, emang lihat Teteh selalu gelisah nggak bisa tidur."
Obrolan pelan terus berlangsung beralih dengan duduk di sofa. Zaky menceritakan perjalanan tim Kang Acil sejak meeting perencanaan sampai aksi di lapangan yang bergerilya menyusuri hutan pinus. Ibu terus-terusan mengusap dada membayangkan aksi dua anaknya yang berani namun juga membuat perasaannya tegang. Andaikan minta izin dulu awalnya, sepertinya tidak akan merelakan. Tapi bersyukur, kedua anaknya itu selamat.
Jam besuk hanya dibolehkan sampai pukul 9 malam. Ada petugas yang berkeliling menyisir tiap ruang. Untuk mengingatkan agar yang menengok segera pulang demi kenyamanan pasien yang harus beristirahat.
Rama merangkul bahu Ibu yang akan pulang sampai keluar ruangan. Yang berjanji akan datang lagi besok.
"Ibu juga harus banyak istirahat dan nggak boleh banyak pikiran biar lekas pulih. Tenang aja, Rama akan jaga Puput dengan baik." Ucap Rama ingin menenangkan mertuanya itu.
Tinggallah berdua di dalam ruangan. Rama menolak Cia yang menawarkan diri menemani malam ini. Toh tidak merasa repot karena Puput kondisinya stabil. Ia melaksanakan salat isya di dekat sofa letter L dalam keheningan. Usai salat tidak serta merta beranjak bangun. Memilih duduk sila sambil merenung lama. Hingga kantuk datang dan ia memilih tidur di kursi samping bed sambil menggenggam tangan Puput. Seolah takut terpisah lagi.
...***...
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul setengah duabelas malam saat Puput terjaga dari tidurnya. Karena dorongan ingin buang air kecil yang terasa memenuhi kantong kemih. Ia menatap pada sosok sang suami yang tidur sambil duduk dengan kepala miring ke arahnya.
Puput menatap hangat. Ada rasa kasihan. Pasti tidak nyaman. Padahal ada satu bed yang disediakan untuk penunggu pasien. Tetapi Rama malah konsisten dengan ucapan tadi. Tidur didekatnya sambil menggenggam tangan.
Puput perlahan menarik tangannya agar tidak membangunkan Rama. Keinginan ke kamar mandi sudah mendesak. Ia merasa mampu melakukannya sendiri.
Perlahan badannya beringsut untuk turun. Bibirnya mendesis pelan saat merasakan perih dan sakit pada jahitan di perut bagian kirinya. Puput memegang tiang infusan yang akan dibawanya sekaligus tempatnya berpegangan karena badannya masih limbung.
"Awww." Kali ini Puput memekik spontan sambil memejamkan mata. Merasakan luka jahitan yang berdenyut-denyut. Membuat Rama terbangun dan terkaget.
"Sayang, mau kemana?" Rama menghampiri dengan cepat dan merangkul bahu Puput.
"Aku mau pipis." Sahut Puput yang memang menolak saat suster menawarkan untuk dipasang kateter.
"Kenapa nggak bangunin aku. Kamu belum boleh banyak gerak, sayang." Protes Rama menatap tidak setuju. "Tunggu sebentar. Aku siapin dulu."
Puput tidak menjawab. Hanya memperhatikan punggung Rama yang tengah masuk ke kamar mandi. Yang tak lama datang lagi mendekat.
"Sayang, pegang aja infusannya! Aku akan gendong." Dengan hati-hati Rama memasukkan tangan ke balik punggung dan belakang paha. Mengangkat Puput yang wajahnya berubah merona malu. Mendudukkannya di kloset dengan sangat hati-hati.
"Aku pegangin aja. Takutnya kamu jatuh." Tolak Rama.
"Ish, malu atuh. Aa keluar ah. Aku udah kebelet ini."
Rama mengalah. Akhirnya menunggu di depan pintu usai memberikan tiang infusan.
"Padahal salatnya libur aja dulu. Kan ada alasan sakit." Sahut Rama setelah membawa lagi Puput ke tempat tidur dengan menjaga tanpa bersentuhan kulit.
"Selama kita dikasih kesadaran, salat tetap wajib dilakukan. Hanya saja dikasih keringanan cara melakukannya. Sekarang aku bisa salatnya sambil duduk selonjoran."
Rama tersenyum bangga. Ia membantu merapihkan selimut menutupi kaki istrinya. Memberikan sepotong mukena yang ada di dalam tas dari Aul. Ia menunggu sambil duduk di bed yang ada di pojok sejajar dengan bed pasien.
"Sekarang pengen apa, hm?" Rama berpindah duduk di tepi bed Puput usai istrinya itu salat. "Ada banyak makanan dibawain Mami tuh." Tunjuknya dengan dagu ke arah meja makan.
"Ada Mami ke sini? Kapan?" Puput membulatkan mata.
__ADS_1
Rama mengangguk. "Pas kamu masih pingsan, Mami sama Cia dan Damar datang dari Jakarta. Mereka nungguin sampe kamu udah sadar. Tapi dokter nyaranin batasi dulu yang mau jenguk. Jadinya besok aja ke sini lagi. Ganti Ibu yang datang jam 7 an, sama Aul dan Panji."
Puput yang menyimak dengan serius, terkaget lagi. "Lho, Ibu kan belum sehat? Siapa yang ngasih tau Ibu?"
"Tanpa dikasih tau juga Ibu udah punya feeling, sayang. Nggak bisa ditutupi. Udah ah ngobrolnya besok lagi. Mau makan apa, hm?" Rama beralih menyudahi topik karena Puput harus istirahat lagi.
Puput menggeleng. Saat ini belum berselera dengan makanan. "Mau tidur lagi aja, tapi pengen ditemenin di kasur." ujarnya tersenyum manis dan mengerjap-ngerjapkan mata.
"Jangan menggemaskan gitu, sayang. Aku jadi pingin cium nih." Rama menurut naik dengan membawa satu bantal. Ia sudah sangat gregetan dan rindu dengan gaya menggoda istrinya itu. Kini ikut menyandarkan punggung pada bed yang ditinggikan itu sehingga posisi setengah berbaring seperti sang istri.
"Jangan ditahan. Lakuin aja kalo pengen, suamiku." Puput menatap hangat. Tangannya menyentuh rahang Rama yang jambangngnya teraba kasar.
Rama memejamkan mata merasakan sentuhan yang menimbulkan getaran dan desiran mengaliri aliran darah. Sentuhan yang dirindukan sejak terpisah kurang lebih dua bulan lamanya itu. "Sayang__" Matanya terbuka, suaranya berubah serak, tatapannya nanar mendamba. Terkunci pada bibir merah muda yang sudah menjadi candunya.
Puput mengangguk sebagai bentuk izin. "Pelan-Pelan saja!" Kepalanya dimiringkan mengarah pada sang suami. Matanya terpejam dengan bibir sedikit terbuka. Tidak munafik. Dirinya juga rindu sentuhan suaminya itu.
Rama menyentuh dagu Puput yang nampak lebih segar usai berwudhu. Sedikit mendongakkan. Telunjuk mulai bergerak melukis wajah sang bidadarinya. Kedua bibir saling menempel. Sejenak seperti itu saja. Ritme jantung pun mulai berpacu kencang. Debaran di dada semakin bergemuruh dan seirama tatkala bibir mulai menyesap, berubah me magut lembut.
Nagih? Tentu saja. Puput menyambut dengan lenguhan. Lembutnya ciuman Rama berhasil mengalahkan rasa sakit di perutnya. Ia begitu menikmati pertukaran saliva yang membuat tubuhnya memanas dan menuntut sentuhan lainnya.
"I miss you so much, wifey!" Suara Rama berat saat kedua kening beradu untuk saling menghirup oksigen bebas. Puput hanya menjawab dengan anggukkan dengan mata terpejam menikmati setiap rasa yang memenuhi dada.
Rama menangkup wajah Puput dan mengusap bibir basah merah muda yang sedikit bengkak itu. Semakin menggoda. Dikecupnya kening dengan dalam dan lama. "Boleh nambah nggak, sayang?"
Puput mengangguk. "Tapi hanya bisa ini aja. Belum bisa ngasih yang lain," ujarnya sambil menunjuk bibir.
"Iya, sayang. Aku ngerti. Bilang ya kalo nggak nyaman." Hening pukul satu dini hari. Ruang VVIP menjadi saksi dua insan yang tengah dimabuk rindu. Meski harus dibatasi dulu.
Pelan-pelan, hati-hati, tetap sadar, tak ingin menyakiti. Rama menyatukan kembali luapan kerinduan yang ditumpahkan melalui ciu man lembut bergelora dan penuh eksplorasi. Kecapan dan lenguhan sang istri menambah hasrat semakin naik ke ubun-ubun. Sementara harus ditahan. Sabar. Pelan-pelan saja.
...****************...
Besties,
Mengingatkan GA awal ya! Yuk berlomba mencapai lencana fans DIAMOND. Karena akan mendapatkan souvenir cantik dari RamPut tanpa diundi.
__ADS_1
RamPut harus mandi kembang dan minum kopi nih. Biar cepet sembuh dan menggelar resepsi yang tertunda. 🤗