Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
50. Jam 7, On Time!


__ADS_3

Raut wajah kusam itu pada dasarnya cantik. Bahkan memiliki aura menarik. Meskipun sebagai wanita, Ratna bisa menilai itu. Ada rasa cemburu menyelinap ke relung hati. Benarkah Krisna tidak terpikat, belum pernah "menyentuhnya". Ratna masih menatap tajam wanita bertubuh kurus yang kini duduk di hadapannya, menundukkan wajah sambil menjalin jemari, nampak resah dan takut.


"Jujur, saya kesini ingin bertemu wanita yang pernah menjadi maduku." Ratna membuka suara usai lama dalam kebisuan. "Apapun sebab yang melatar belakangi, sebagai seorang istri, sebenarnya saya tidak rela suami berpoligami." sambungnya mengungkapkan unek-unek yang mengganjal di hati.


"Maafkan saya." Kartika memberanikan diri menatap wanita cantik dengan berpenampilan beda kelas itu. Ia hanya mengenakan daster batik dengan kerudung instan. Sedangkan lawan bicara mengenakan setelan tunik bahan sutra serta kerudung sutra motif floral. Pastinya ditambah rutin perawatan kulit di klinik kecantikan sehingga nampak pada kulit wajah yang halus bersih tanpa kerutan.


"Semua terjadi bukan kehendak saya maupun Pak Krisna. Kami dijebak." sambung Kartika. "Jika Anda ingin marah, silakan. Saya terima. Saya mengerti perasaan Ands. Tapi jangan khawatir. Demi Allah, pernikahan kami hanya sebatas lisan. Tidak melakukan lebih."


Ratna mencerna. Apa yang dikatakan Kartika sama dengan yang diucapkan Krisna. Tatapannya menyelidik. Mencoba mencari celah kegelisahan sebagai ciri sebuah kebohongan. Tidak ada. Wanita di depannya itu malah terlihat terluka.


"Kamu punya anak?!" Ratna ingin mengorek keterangan langsung dari yang bersangkutan.


"Iya. Punya satu anak gadis umur 9 tahun. Namanya Dara Kinasih." Kartika menelan saliva. Tersenyum meringis dengan tatapan mulai berkaca. Yang berusaha tegar. "Dia itu separuh jiwa, dia penyemangat, dia yang membuat saya kuat menjalani kejamnya fitnah dunia. Dia pula yang membuat saya ingin mengakhiri hidup karena kehilangannya." Suaranya berubah serak. Disekanya buliran air mata yang lolos tak terbendung membasahi pipi. Pedih karena kehilangan buah hati satu-satunya itu masih terasa dan kini tersayat lagi.


"Maaf....maaf. Gak usah dilanjutkan. Maaf...udah buat kamu sedih." Ratna merasa bersalah karena sudah mengungkit kesedihan Kartika. Tadinya tujuannya untuk meyakinkan lagi akan kejujuran Krisna. Tapi pemandangan di depannya membuat ia percaya dengan cerita sang suami. Tidak mengada-ngada.


Beranjak duduk bersisian dan mengusap-ngusap bahu Kartika sebagai bentuk dukungan, menguatkan diiringi permintaan maaf. Hilang sudah rasa cemburu beralih empati. Bisa dibayangkan. Tidak mudah menjalani hidup seperti Kartika.


"Boleh tahu, apa yang membuat kamu tegar setelah kehilangan?!" Ratna berubah melembutkan suara setelah sebelumnya berbicara dengan nada tegas


" Alhamdulillah Allah masih memberi saya iman. Disaat saya tak berdaya dan berpasrah oleh beratnya beban ujian hidup yang saya jalani, sholat malam menjadi infus yang membuat saya kuat."


"Kedua, Mang Ade dan Bi Ipah. Saya yang terbuang dari keluarga dan lingkungan, mereka merangkul dan menganggap saya seperti keluarganya sendiri. Saya merasa berharga lagi."


"Saya juga punya pekerjaa bertani. Malamnya mengajar di program Magrib Mengaji anak-anak kampung. Sakitnya kehilangan anak semata wayang terobati oleh kegiatan itu." Pungkas Kartika yang tak lagi sendu.


"Saya juga berhutang budi pada Pak Krisna. Beliau telah membantu membiayai pengobatan Dara. Mohon Bu haji jangan salah sangka. Tak ada..."


"Sudah...gak usah dilanjut. Suami saya sudah cerita semuanya." Ratna menggeleng. "Dan jangan panggil saya seperti itu. Panggil saya Teh Ratna aja!"


Reka adegan itu tergambar sempurna di ingatan. Keputusannya bulat. Berdamai penuh dengan masa lalu sang suami. Membuat Ratna merasakan dadanya lebih plong. Malah timbul empati yang kuat. Ada niat mengulurkan tangan untuk menolong Kartika.


"Mami, kalau gak mood, kita pulang aja." Rama menatap cemas. Masuk ke dalam mobil usai memilih buah-buahan sama sekali tidak diketahui oleh sang ibu. Sepertinya anteng dalam lamunan.


Ratna terperanjat. Menoleh kepada sang putra yang tengah menatapnya cemas.


"Mami cuma lagi merenung kok. Ayo jalan ah. Mami gak sabar pengen tahu rumah Puput."


...***...


Sebulan penuh selama ramadhan tidak mengolah fisik. Alhasil latihan perdana ini membuat badan Puput serasa pegal-pegal. Sehingga siang menjelang sore ini memilih tidur mengistirahatkan badan.


"Teh---Teteh bangun....ada tamu." Ami menepuk-nepuk lengan Puput yang tidur dalam posisi miring.

__ADS_1


Puput bukannya bangun malah memeluk erat gulingnya. Masih enggan membuka mata.


"Teteh itu ada tamu cowok....ada dua. Mau ditemui atau tidak?!" Ami beralih menggoyangkan lengan sang kakak.


"Siapa?!" Puput sontak membuka mata dengan suara yang masih serak.


"Katanya teman SD Teteh. Gak tau namanya...da Ibu yang nemenin tamunya."


Puput bangun. Merentangkan tangan sambil mulut menguap panjang.


"Ih si Teteh....tidur siang aja ileran. Hihihi---" Ami menunjuk sudut bibir kanan yang terdapat lelehan bening. Menarik bantal untuk melihat bagian sarung bantal yang nampak basah. Membuat si bungsu itu makin meledeknya.


"Teteh mau bikin pulau apa lagi? Stop atuh bikin pulaunya. Bingung mau ngasih nama apa. Indonesia udah banyak pulau, Teh." Ami mengintip ke dalam sarung bantal yang semua permukaannya seperti peta.


Puput spontan menyusut dengan punggung tangan. Tidak menjawab. Memilih melempar guling kepada si bungsu yang cekikikkan sampai terjengkang di kasur kena lemparan. Buru-buru beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka.


"Miller, Roy---?! Puput menyapa dengan raut kaget dua tamu yang tengah ditemani ibunya itu. "Tahu dari siapa rumah aku disini?!" lanjutnya sambil duduk di bekas ibunya yang kemudian pamit ke belakang.


"Dari yang ngontrak rumah kamu. Kita tadi ke rumah yang di Sukamaju. Kirain kamu masih tinggal di sana." Roy mewakili menjawab.


Puput manggut-manggut.


"Put, kita kesini mau minta maaf soal kemarin. Pasti kamu marah makanya pulang gak bilang dulu." Miller berkata dengan raut bersalah. Meski dalam keadaan mabuk tapi ia masih memiliki kesadaran. Tahu jika Pupit ke toilet dan tidak kembali lagi.


Tak ada yang menjawab. Kedua tamu itu mengatupkan bibir sambil menekuri lantai keramik.


"Aku gak bermaksud menggurui. Kalian pasti tahu lah...mana yang benar mana yang salah. Harusnya kalau mau maksiat jangan ajak-ajak apalagi menjerumuskan!" Tegas Puput dengan tatapan tajam terhunus. Membuat nyali dua pria itu menciut.


"Aku juga meminta maaf mewakili Selly. Dia malu untuk datang langsung. Merasa bersalah. Dia mengaku menyampurkan obat agar kamu ikut mabuk. Sebagai bentuk solidaritas katanya." Roy menyampaikan amanat Selly.


Puput geleng-geleng kepala. "Aku tak sebodoh itu untuk dipengaruhi. Sudahlah. Aku udah maafkan kalian bertiga. Tapi kapok diajak ngumpul lagi. Hanya bisa berdo'a semoga kalian segera kembali lurus."


Miller dan Roy kembali meminta maaf penuh penyesalan diiringi ucapan terima kasih.


"Alhamdulillah...untung kemarin ada yang datang nyelametin aku. Ngantar aku pulang." Puput tersenyum kecil saat terbayang wajah marah Rama yang menarik tangannya pergi.


"Siapa orangnya, Put?!" Miller nampak penasaran.


"Assalamu'alaikum----"


Serentak Puput, Miller dan Roy menoleh ke arah pintu sambil menjawab salam.


...***...

__ADS_1


Puput tidak menduga akan kedatangan Rama bersama Ibu Ratna. Membuatnya serba salah harus bagaimana. Apalagi sedang ada tamu Miller dan Roy. Segera menyambut dan mengajak ke ruang tengah, sekalian memanggil Ibu yang ada di halaman belakang.


"Eh ada Kak Rama...." Ami yang baru turun dari kamarnya Puput di lantai dua, berseru girang. Segera menyongsong mencium tangan Ibu Ratna dan Rama.


"Ibu Ratna...Kak Rama....maaf ya aku belum bisa nemenin. Lagi ada tamu dulu." Puput meminta izin menemani tamu. Sekilas melirik raut wajah Rama yang datar tanpa ekspresi.


"Gak papa, Puput. Santai aja...Mami kan ditemani sama ibu kamu, sama Aul juga." Sahut Ratna tidak mempermasalahkan. Berbeda dengan Rama yang diam tidak menanggapi. Memilih duduk sila digelaran karpet karena ruang tengah itu tidak ada kursi. Otaknya berpikir keras.


"Mi, ambil oleh-oleh yuk di mobil." Rama merasa ada jalan agar bisa hilir mudik ke ruang tamu. Niatnya mau mengganggu tamu untuk mengusir secara halus.


Ami membelalakkan mata mendengar kata oleh-oleh. Mengacungkan dua jempol. Tanpa disuruh dua kali segera ikut berdiri mengekori ke luar. Semangat 45.


"Lusa aku akan pulang ke Bali. Jadi plong kalau udah ketemu gini. Tolong ya, Put. Jangan block nomer aku. Aku harap kita masih lanjut berteman. Adain lagi reunian tahun depan khusus angkatan kita. Janji deh, gak akan seperti kemarin lagi. Aku akan tahu diri." Miller berkata sungguh-sungguh yang juga didukung Roy.


Sebelum menjawab, Puput melirik dulu Rama dan Ami yang sudah dua balikan keluar masuk menenteng kresek kecil-kecil.


"Oke, Miller. Soal reuni, kita diskusikan aja di grup. Aku gak bisa ambil keputusan sendiri." Puput mengerutkan kening melihat Rama dan Ami keluar lagi yang tentunya melewati belakang sofa tempatnya duduk.


"Ya udah, Put. Kita balik dulu. Sorry dah ganggu waktumu. Lagi kumpul keluarga ya?!." Miller beranjak berdiri disusul juga oleh Roy, tanpa menunggu jawaban Puput. Merasa waktu berkunjungnya sudah cukup karena kedatangan tamu lain.


"Itu siapa, Put?!" Roy menunjuk dengan dagu ke arah Rama yang tengah tertawa dengan Ami di depan pintu gerbang yang terbuka.


Puput bingung mau menjawab apa. "Itu kakaknya Ami beda nenek." Dalam hati ia meminta maaf kepada Rama sudah mengarang bebas. Beruntung Miller dan Roy tidak memperpanjang. Malah menyalami Rama yang masih berdiri di dekat pintu pagar seolah penjaga pintu.


"Kayak anak kecil aja dadah-dadah." Lirih Rama dengan bibir mencebik sinis di samping Puput. Mencebik melihat Puput mengantar sampai pintu gerbang sambil melambaikan tangan begitu mobil tamu memberi klakson.


Puput hanya melongo dengan kedua alis bertaut. Heran. Sikap Rama nampak jutek.


"Nanti siap-siap jam 7 malam aku jemput!" Rama melanjutkan percakapan karena Puput tidak menanggapi.


"Eh, mau kemana, Kak?!" Puput terkaget dengan ajakan bernada perintah wajib itu.


"Dinner!"


"Eh, tapi----"


"Ingat! Jam 7, on time!"


Puput membuka mulut bersiap protes. Namun Rama berlalu masuk ke dalam rumah menyusul Ami yang sudah lebih dulu masuk. Spontan meraba dada yang berdebar kencang.


Ngajak dinner?!


Lagi, Puput mengulang kata dalam hati. Terpaku di tempatnya berdiri. Masih tidak percaya dengan ajakan tiba-tiba itu.

__ADS_1


__ADS_2