Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
41. Kala Cinta Menggoda


__ADS_3

Ditatap terus-menerus oleh sepasang mata dengan manik hitam yang sorotnya berkilat, namun memancarkan hangat. Memberi efek pada kerja jantung yang berdegup lebih kencang dan darah yang berdesir. Bukan Puput namanya jika tidak bisa mengendalikan suasana canggung menjadi santuy.


"Selamat! Anda orang kedua yang meledek penampilan baru saya setelah Zaky." Puput melipat kedua tangan di dada, memalingkan wajah ke sebelah kiri dengan mimik ditekuk. Sejatinya ia tengah alibi, menenangkan ritme jantung agar kembali berdetak normal.


Rama terkekeh. Dengan kedua tangan yang gregetan ingin memalingkan lagi wajah ayu itu kembali menghadapnya. Pesona Puput semakin meracuni hati dan pikiran. Bagaikan magnet yang mampu menyedot seluruh atensi hanya untuk memikirkan dia seorang. Cinta telah membuatnya gila. Beruntung masih ada waras yang mengendalikan logika. Sehingga sikapnya masih terjaga mengedepankan etika.


"Siapa yang meledek. Aku pengen make sure aja. Ini Putri Kirana atau bidadari dari surga?! Cantiknya pakai banget soalnya." Rama berkata sungguh-sungguh tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan. Tulus memuji bukan bualan.


"Ehem. Sisi lain dari pak boss jago gombal ternyata." Puput mencebikkan bibir. Menatap lagi wajah tampan yang ternyata memiliki bulu mata panjang dengan kedua alis hitam yang tegas.


Rama menggeleng. "Aku gak pernah gombalin cewek. Emang gak bisa. Ini pujian tulus." Sorot kesungguhan terpancar. Sejenak tatapan saling beradu dan mengunci dalam hening.


"Ah lupa, mohon maaf lahir dan batin ya, Kak. Maaf, selama kita kenal, saya dan keluarga jadi sering merepotkan Kak Rama." Puput memutus lebih dulu tatapan yang terpaut sepuluh detik lamanya itu. Yang membuatnya kikuk. Memajukan kedua tangan untuk bersalaman dengan sedikit membungkukkan punggung.


"Sama-sama. Mohon maaf lahir dan batin juga. Gak ada kata ngerepotin sama sekali. Biasa aja." Rama menyambut salaman Puput dengan wajah semringah yang tidak luntur sejak dari berangkat untuk menjemput sampai berdiri berhadapan saat ini di ambang pintu. "Dan satu hal lagi. Please, bicaranya jangan formal terus. Layaknya sama teman aja. Aku - Kamu!" sambungnya sambil menunjuk dada sendiri dan ke arah Puput.


"Oke, Kak. Kita jalan sekarang ya? Aku kunci pintu dulu."


Rama mengangguk dengan raut senang. Puput yang sekarang makin mencair tidak lagi bersikap canggung.


Jalan raya di hari lebaran sangat lengang. Jauh berbeda dengan hari - hari biasanya. Kendaraan pribadi banyak berjejer di tepi jalan dengan didominasi kendaraan milik pemudik. Nampak pula pintu rumah-rumah yang terbuka. Tentunya menyambut tamu yang berdatangan hendak silaturahim.


Suasana di dalam mobil hening tanpa percakapan. Masing-masing larut dengan pikiran yang berbeda. Puput menatap lurus jalanan di depannya. Memilih diam saja karena bingung harus memulai topik pembicaraan apa.


Rama hanya beraksi curi-curi pandang. Ia hampir lupa melanjutkan trik begitu menatap penampilan baru Puput yang membuatnya terhipnotis. Hampir saja menampakkan perhatian yang mencerminkan perasaan yang sesungguhnya. Untuk itu, kali ini ia memulai aksi cooll lagi.


"Kenapa gak diangkat?!" Rama menoleh sekilas. Ponsel Puput baru saja berdering tapi hanya ditatap oleh pemiliknya.


"Nanti aja deh aku telpon balik." Puput menyimpan lagi ponselnya ke dalam sling bag yamg diletakkan di pangkuan.


"Dari pacar ya?!" Takut aku bakal nguping ya." Rama menatap lurus jalanan. Tidak ingin menoleh. Merasa was-was dengan jawaban yang akan didengarnya.

__ADS_1


"Bukan. Teman SMA yang keukeuh maksa minta aku ikut reunian tanggal 3 syawal. Aku gak bisa soalnya jadwalnya bentrok dengan reuni SD. Udah daftar duluan ke reuni SD."


"Owh----"


...***...


Aul dengan langkah tergesa keluar rumah. Raut wajah khawatir berubah lega melihat motor NMax milik Puput yang dipakainya masih terparkir di pekarangan samping. Berganti mimik bingung mencari keberadaan kunci motor. Di dalam tasnya tidak ada. Kemungkinannya lupa mencabut, masih menggantung di motor. Faktanya begitu didekati, kunci yang dimaksud tidak ada juga.


Aduh kunci motor mana sih....


Aul gelisah sendiri sambil menggigit bibir. Sudah mencari-cari di sekitaran beberapa motor yang terparkir. Tetap nihil.


"Cari apa?!" Seorang pemuda datang mendekat. Memakai kurta warna pastel biru langit. Bisa dipastikan ia adalah anggota keluarga Enin.


"Lagi nyari kunci motor ini." Aul menunjuk N-Max warna merah. "Gak tau jatoh atau apa. Soalnya di tas nggak ada." Ia tidak ingin orang tahu jika ia punya sifat jelek yang ceroboh dan pelupa. Lanjut termenung mencoba mengingat kilas balik dari awal datang ke rumah Enin yang kini berangsur para tamunya mulai berkurang.


"Yang ini bukan?!" si pemuda itu mengangkat tangan yang memegang kunci motor dengan gantungan dompet kulit warna coklat.


"Nemunya di mana Kak....?" tanya Aul penasaran campur bingung harus menyebut nama apa.


"Aku lihat ada kunci menggantung di motor. Khawatir ada yang nyuri makanya aku amankan."


"Namaku Panji. Sepupunya Cia." Pemuda bernama Panji itu lanjut mengulurkan tangan mengajak kenalan.


"Aulia. Panggi saja Aul. Aku adiknya Teh Puput." sahut Aul sambil balas menjabat salam perkenalan itu. "Berarti anaknya Bibi Ratih ya?! sambungnya ingin meyakinkan.


Panji mengangguk. "Iya benar. Ngomong-ngomong kok rasanya baru lihat."


"Emang belum lama kenal dengan keluarga Enin. Tanya Kak Cia aja deh kalau penasaran." Aul menutup obrolan dengan berterima kasih lagi dan pamit lebih dulu masuk ke dalam.


Panji menyunggingkan senyum tipis. Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, menatap punggung Aul sampai menghilang tak terjangkau pandangan.

__ADS_1


...***...


Kedatangan Puput yang berjalan bersisian dengan Rama, menjadi pusat perhatian anggota keluarga. Cia mencibir ke arah Rama yang tengah tersenyum semringah. Berbanding terbalik saat tadi yang nampak galau dan gelisah. Enin yang lebih dulu mendapat sungkeman dari Puput, memberi cipika cipiki sambil memuji penampilannya yang semakin cantik dengan berhijab.


"Masyaa Allah ini teh Puput?! meni geulis pisan.... (cantik sekali)" Ratna memeluk Puput dengan bahagianya saat mendapat giliran kedua.


"Mohon maaf lahir dan batin, Bu." ujar Puput dengan takzim terhadap ibunya Rama itu.


Hal yang sama dilakukan Puput terhadap ayahnya Rama juga Bibi Ratih dan tiga orang lainnya yang berkumpul di ruang tengah. Sudah tidak ada tamu yang datang menjelang sore ini. Hanya tinggal keluarga Puput yang tengah duduk santai di gelaran karpet ditemani Cia dan Panji. Aneka kue dan buah-buahan tersaji sebagai suguhan. Puput dan Rama pun bergabung duduk.


Obrolan para orang dewasa mulai membuat Ami bosan. Ia berbisik kepada Teh Aul minta diantarkan ke rumah paman Dana untuk bermain dengan para sepupu yang seusia dengannya.


"Nanti balik lagi ke sini kan?! Panji bersuara begitu mendengar Aul pamit akan mengantarkan Ami. Yang dijawab Aul dengan anggukkan.


"Ayo aku anterin pakai mobil. Biar gak panas-panasan." Tawar Panji yang melihat cuaca menjelang ashar ini masih panas terik.


"Gak usah, Kak. Mau pakai motor aja." Tolak Aul dengan halus.


"Aku mau diantar pakai mobil ah. Biar wajah cantik aku tidak kepanasan dan kena debu." Ami malah menyetujui dengan rasa percaya diri tingkat tinggi. Membuat Cia tertawa lepas dengan kecentilan Ami yang mengipas-ngipas wajah dengan tangan.


"Iya, Aul. Diantar sama Panji aja toh nanti balik lagi kesini." Cia mendukung keinginan Panji yang sudah tercium bau-bau modus.


Aul mengalah menurut. Bersama Ami, mengikuti langkah Panji ke luar rumah menuju mobil CRV yang terparkir di luar gerbang.


Mami Ratna mengajak Ibu Sekar berpindah duduk ke teras belakang. Ada hal yang ingin dibicarakan dan tidak ingin didengar orang lain.


"Bu Sekar, langsung aja saya mah sama tujuan." Mami Ratna nampak antusias dan tidak sabar ingin menyampaikan maksudnya. Saya mau meminta Puput buat jadi menantu saya. Boleh ya Bu Sekar?!"


Ibu Sekar mengerutkan kening mendengar pertanyaan yang menuntut itu.


"Rama sangat menyukai Puput. Tapi dia belum berani bilang sama Bu Sekar apalagi sama orangnya." Ratna lanjut menjelaskan melihat Ibu Sekar yang masih diam itu. Ia pun berbicara sebenarnya atas inisiatif sendiri. Tidak ada konfirmasi dulu terhadap Rama. Karena jika tidak buru-buru dipinta, khawatir keduluan orang lain melamar Puput.

__ADS_1


__ADS_2