Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
Surat Perjanjian Pengasuhan Anak


__ADS_3

Mobil yang dikendarai si botak berhenti di depan bangunan tiga lantai yang tak terlalu besar. ada tulisan Star Entertainment yang memiliki tagline : Tunjukan Pesona Superstarmu, Raih Mimpimu.


Kala mengirim pesan singkat kepada Cinta yang tak boleh ikut. Ia mengatakan jika ia tak dibawa ke kantor polisi dan keadaannya baik-baik saja.


Teman si botak, lelaki berambut cepak yang wajahnya dipenuhi kumis, jenggot dan jambang membukakan pintu untuk Kala. Membuat Kala bingung, mengapa ia diperlakukan seperti ini? Jika memang ia bersalah, atau memiliki hutang bukannya tak pantas dibukakan pintu seperti ini?


" Mari ikuti saya," ucap si bewok, kemudian berjalan masuk.


Kala mengekor di belakang si Bewok, sambil melihat-lihat sekeliling ruangan utama yang tak terlalu besar. Hal yang paling pertama Kala lihat adalah kursi tunggu yang berjejer di sebelah tanaman aglonema. Seorang perempuan yang berdiri di belakang meja bertuliskan resepsionis menyapa si Bewok. Tak peduli dengan sapaan itu, Kala dapat melihat beberapa foto berjajar di dinding. Dari ketiga foto itu, Kala cukup familiar dengan wajah-wajah di dinding. Mereka adalah orang-orang yang sering muncul di televisi dan film layar lebar.


Kala sangat yakin jika ia benar-benar tidak di kantor polisi, namun ia sama sekali belum bisa memastikan keberadaannya saat ini. Namun, satu kemungkinan terkuat, Kala sedang berada di kantor penyalur artis?


Si Bewok membuka pintu di depannya. Kala membaca nama yang tertulis di sana. RUANGAN PRIBADI DIAN MIRANTI.


Dian Miranti? Kala merasa tak asing dengan nama itu. Tapi ia lupa dimana pernah mendengarnya. Memasuki ruangan, punggung perempuan berbalut blazer putih menyambutnya. Rambutnya pendek sebahu. Perempuan itu sedang menerima telepon dari seseorang. Kala dapat mendengar suara yang keluar dari mulut perempuan di depannya begitu lembut.


Si perempuan yang Kala yakini bernama Dian Miranti itu mematikan ponselnya dan berbalik. Kala terkejut bukan main ketika melihat wajahnya yang sering menghiasi layar lebar. Kala baru sadar jika Dian Miranti adalah artis papan atas yang sangat digemari Ibunya di kampung!


" Mbak Dian, saya membawa Kala Adiguna, anak dari pasangan Wiwit Priyati dan Burhan Aminudin. Pasangan itu punya anak empat, Kala Adiguna, Kalila Andini, Praya Sartika dan Pevita Rahayu. Kala Adiguna berusia dua puluh dua tahun dan sekarang sedang menjalani kuliah semester akhir di Universitas Pancarona di Tangerang."


Kala mendengarkan bingung, namun Dian Miranti mengangguk puas dengan penjelasan si Bewok.


" Johan, kamu boleh keluar sekarang. Saya mau bicara empat mata dengan anak ini."


Si Bewok yang dipanggil Johan menunduk, memberi hormat dan keluar dari ruangan.


Kini hanya tersisa Kala dan Dian Miranti yang cantik jelita. Meski usianya sudah empat puluh tahun, wajahnya masih kencang seperti perempuan berusia dua puluh tahunan. Tubuhnya langsing dan kencang. Pantas saja Ibunya sangat mengidolakan Dian Miranti dan bermimpi ingin memiliki rupa macam perempuan di depannya. Namun kenyataannya, uang memang berbicara segalanya. Ibunya yang berusia sama dengan Dian Miranti sudah terlihat sangat tua. Bahkan, kulitnya saja tak terawat. Jika memang warna kulit asli ibunya tidak putih, barangkali akan sangat memprihatinkan.


" Kala Adiguna?" Dian Miranti tersenyum manis. Membuat Kala klepek-klepek.

__ADS_1


" Dari mana Ibu tahu saya ya?" Kala mengutuk dirinya. Barusan ia memanggil Dian Miranti Ibu? Astaga. Kala seperti salah orang. Panggilan itu sama sekali tak cocok untuk wanita sekencang itu.


" Ambil minum dulu, habis itu duduk. Kamu akan dapat kejutan hari ini," lagi-lagi Dian Miranti tersenyum. Tangannya menunjuk dispenser air minum di pojok ruangan.


Kala ingin segera tahu apa yang terjadi. Oleh karena itu, ia menurut saja apa yang diperintahkan Dian Miranti kepadanya. Kala mengambil gelas paling besar di dekat dispenser, sepertinya Dian Miranti benar-benar akan memberinya kejutan pada siang hari bolong ini. Kemudian Kala duduk di kursi yang menghadap Dian Miranti. Ada meja setinggi dada yang menghalangi mereka di tengah-tengah.


" Jadi, kenapa saya dibawa kesini?" Kala semakin penasaran. Ia tak pernah mendaftar untuk menjadi artis seumur hidupnya. Dan sekarang ia berada di penyalur artis.


" Kamu tahu siapa kamu sebenarnya?"


Bagi Kala itu pertanyaan yang aneh. Kala jelas tahu siapa dirinya, " tahu."


" Kamu siapa?"


" Kala Adiguna..." dan menyebutkan sama persis seperti yang di sebutkan lelaki bewok bernama Johan tadi.


" Kamu tahu Adiguna itu siapa?"


Perempuan itu tertawa dan mengangguk, " Kala, kalau saya bilang Adiguna adalah nama Papa kamu, apa kamu percaya?"


Kala semakin bingung, " nama belakang Ayah saya Aminudin. Burhan Aminudin."


" Pak Burhan nggak pernah cerita apa-apa ya ke kamu?"


" Cerita apa? tolong segera jelaskan kenapa saya dibawa kesini. Jangan muter-muter. Saya pusing."


Lagi, Dian Miranti tertawa, " kamu lucu."


Kala tak merespon. Meski Dian Miranti cantik, tapi jika membosankan seperti ini, Kala lebih memilih mengobrol bersama Cinta yang bawel dan manja.

__ADS_1


" Kalau saya bilang Pak Burhan Aminudin adalah Ayah angkat kamu, apa kamu percaya?"


Omong kosong apa yang dikatakan artis papan atas itu? Mana mungkin! Jelas-jelas, Kala sangat dekat dengan Ayahnya sejak kecil. Tak mungkin Burhan Aminudin bukan ayah kandungnya.


" Saya bilang Burhan Aminudin adalah ayah angkat kamu. Ayah kandung kamu punya nama belakang Adiguna, seperti nama belakang kamu."


Kala berdiri dan hendak pergi. Ia seperti dipermainkan di sini. Tak peduli siapa perempuan di depannya, apapun status sosialnya, yang jelas, jika membawanya kemari hanya ingin memberitahukan omongan kosong tak penting, Kala tak ada waktu.


" Kala, kamu jangan marah dulu. Saya belum jelasin semuanya."


" Jelasin apa sih? Saya nggak paham apa yang Ibu Dian Miranti bilang dari tadi."


" Duduk," perintahnya sambil menunjuk kursi di belakang Kala.


Kala menurut lagi, " jadi maksudnya apa?"


Dian Miranti mengamati Kalau cukup lama, kemudian mengatur napas, " Kala... kamu anak kandung saya."


Apa-apaan ini? Kala meminum air putih dalam gelas besar yang tadi ia ambil. Setelah mengatakan ia bukan anak kandung Burhan Aminudin, kini Dian Miranti mengatakan jika Kala adalah anak kandungnya.


Mendengar pengakuan itu, bukan hanya membuat Kala terkejut. Kala masih tak mengerti dengan jalan pikiran Dian Miranti. Kenapa dia rela mengaku-ngaku sebagai Ibu kandungnya? Drama apa yang sedang ia rencanakan untuk menaikkan pamornya?


" Kala, kamu dengar kan?"


Kala menyatukan alis. Memandang lekat-lekat perempuan paruh baya berwajah kencang di depannya, " saya nggak bisa percaya gitu aja. Kalau kamu dan Adiguna yang kamu sebut tadi orang tua saya, apa buktinya?"


Dian Miranti tersenyum lagi. Ia mengambil sesuatu dari laci mejanya. Meletakkan amplop cokelat di atas meja dan mengambil segepok kertas yang dijilid layaknya buku dari dalam amplop cokelat tersebut. Perempuan itu menggeser buku jilidan ke arah Kala, membiarkan lelaki di depannya membacanya.


Kala meraih buku yang diberikan Dian Miranti. Matanya membelalak melihat sederet judul tulisan yang dicetak tebal menggunakan huruf kapital : SURAT PERJANJIAN PENGASUHAN ANAK.

__ADS_1


...


***


__ADS_2