
Selasa
Puput mengeringkan rambut yang masih basah usai keramas subuh. Semalam, lingerie merah kembali lagi dipakainya atas permintaan Rama. Yang kemudian mengajaknya berdansa di depan cermin meja rias sambil menatap pantulan.
Bukan romantis yang didapat, tapi hal yang menggelikan dan menciptakan tawa. Betapa tidak, keduanya sama-sama amatir berdansa. Sehingga saat adegan Puput memutar tubuh, malah tangan Rama yang dipegangnya terpelintir sampai mengaduh dan menghentikan dansa. Puput lupa, itu ternyata salah satu jurus silat untuk mencederai tangan lawan. Membuatnya cekikikan sambil memijat-mijat tangan sang suami yang cemberut.
Dan akhir dari semua itu adalah memanaskan ranjang king size sampai acak-acakan karena aksi Rama yang mengeksplorasi isi di balik gaun tidur seksi berwarna merah itu.
"Neng...." Rama menghampiri dengan membawa dasi. Ia sudah rapih memakai setelan kantor, kemeja lengan panjang warna putih slimfit, serta celana panjang hitam membalut tubuh proporsionalnya.
Puput mematikan hairdryer. Rambut yang sudah kering dibiarkan dulu tergerai. Menerima uluran dasi warna navy salur putih. "Ajarin dulu, ya! Aku belum bisa." Dengan meringis malu, ia berkata sejujurnya.
Dengan dua kali tutorial dari Rama, Puput mempraktekannya. Wajahnya serius mulai mengalungkan dasi ke leher sang suami. Mengatur panjangnya lalu membuat simpul. "Hmm, kurang rapih ah. Bentar ya, aku ulang."
Keseriusan Puput tak luput dari perhatian Rama yang menahan senyum. Lucu melihat ekspresi sang istri yang mengetuk kening, mengernyitkan dahi, saat memberi penilaian. Ia dengan sengaja melingkarkan tangan di pinggang ramping itu, sampai bawah perut keduanya rapat.
"Sudah. Rapih, nggak?" Puput tersenyum usai menepuk pelan bawah kerah sebagai akhir dari sentuhannya.
Memberi kecupan di kedua pipi sang istri menjadi jawaban Rama. "Yuk, siap-siap!"
Semalam sudah dibicarakan jika hari ini akan mengajak Puput ke kantor dan pulangnya ke hotel untuk melanjutkan quality time selama dua malam. Satu koper kecil sudah siap ditenteng.
Puput mengangguk dan menyerahkan jas yamg sudah disiapkan di sofa. Memperhatikan Rama yang memakainya sambil bercermin. Ia juga memang pasminanya sampai rapih dengan ujung kain yang dibentuk menutupi dada. Wajahnya berbinar dengan senyum yang dikulum.
"Kenapa senyum-senyum? Lagi travelling bayangin semalam ya?" Rama memeluk dari belakang dengan dagu disandarkan di bahu Puput.
"Otakmu yang mesti disapuin. Ngeres!" Puput mencubit punggung tangan Rama yang merayap ke dada. Ia membalikkan badan, menyentuh permukaan jas dan berkata, "Aku baru liat Pak boss pakai jas. Gantengnya pake banget." Mengerling dan melengkungkan bibir menggoda, lalu segera menjauh. Karena bahaya mengintai.
"Sayang, jangan dulu keluar!" Rama tertawa gemas karena tidak sempat menahan Puput yang setengah berlari ke arah pintu. "Tanggungjawab dulu sini. Kamu dah bikin hidungku terbang." Ia mendekat namun istrinya itu balas tertawa dan melambaikan tangan, keluar dari pintu.
Rama merangkum bahu Puput yang membawakan tas kerjanya, dengan satu tangan menenteng koper. Keduanya menuruni tangga bersiap sarapan.
"Makan dulu, baru ngopi ya! Lambung tuh harus dijaga. Jangan nabung penyakit untuk hari tua." Puput kembali mengingatkan setelah memperhatikan setiap pagi, Rama mendahulukan kopi daripada sarapan.
"Siap, Nyonya Rama." Rama mengecup mesra telinga Puput yang terhalang hijab.
"Haiss....tolong kondisikan woy. Ada anak di bawah umur nih." Teriak Cia yang bersiap meniti tangga turun. Tapi malah disuguhkan kebucinan sang kakak.
Membuat Rama dan Puput berbarengan menoleh ke belakang. Rama berwajah datar saja, sementara Puput tersipu malu.
Bertemu dengan Mami dan Papi di meja makan, Puput menanyakan waktu kedatangan mertuanya itu. Setelah berbincang santai, sambil sarapan bersama, ia menuju dapur untuk membuat kopi. Bi Lilis sudah memberitahu kadar kopi dan gula sesuai selera Rama.
Damar yang biasanya datang untuk menjemput Rama, kini datang untuk Cia. Karena Rama akan membawa mobil sendiri. Tiga mobil berangkat beriringan meninggalkan Mami yang melepas kepergian suami dan anak-anaknya itu dengan wajah semringah. Hatinya tenang, kedua anaknya mendapatkan pasangan yang tepat.
Mobil sedan sport warna merah dengan logo kuda jingkrak berada di urutan kedua setelah mobil sedan warna hitam dengan logo ring empat milik Papi Krisna. Perjalanan dengan kecepatan sedang keluar dari komplek perumahan elit, membuat Rama leluasa menyetir sambil menggenggam tangan Puput. Waktunya semakin menyempit, terasa berlalu begitu cepat. Semakin berat untuk pergi setelah merasakan nikmatnya surga dunia.
"Neng, mau tukeran mobil nggak? Yang ini bawa ke Ciamis. Yang Pajero simpan di sini." Rama mengecupi tangan Puput saat arus lalu lintas tersendat macet.
"Nggak ah. Ini terlalu mencolok untuk di kota kecil seperti Ciamis. Bisa jadi pusat perhatian. Kalau aku lagi pengen nongkrong di alun-alun, bisa-bisa ada paparazi dadakan yang candid. Lalu di upload di medsos dengan judul "Ini dia sosok wajah di balik mobil Ferari merah yang tiap hari melintasi alun-alum Ciamis". Hmm, nggak banget."
Rama tertawa lepas mendengar cerocosan panjang berbumbu analisis itu. "Kamu lain dari yang lain, Neng. Orang lain khususnya cewek, malah suka narsis, bikin sensasi, pamer barang branded, seneng di viralin, biar follower naik. Kamu malah sebaliknya. Kenapa?"
__ADS_1
"Hmm, kenapa ya?" Puput seolah mempertanyakan diri juga. "Intinya aku ingin nyaman jadi diri sendiri. Tidak mau menderita oleh gaya hidup atau penilaian orang. Bayangkan, banyak orang jaman now, dikit-dikit upload foto atau video, dengan tujuan pamer. Dia akan resah mungkin stres kalau yang like dan komen dikit. Akan bahagia kalau like banyak dan banjir komen pujian. Ketergantungan seperti ini, lama-lama jadi sakit jiwa."
"Aku respect sama Aa. Seorang pengusaha muda yang serba punya tapi tidak pernah pamer. Di IG aja fotonya dikit. Tanpa pose di depan Ferrari, tanpa Harley, ataupun Ducati."
"Beda sama yang ngaku crazy rich, yang sekarang lagi viral. Pamer kemewahan dan kesombongan, eh ternyata hasil menipu."
Rama terkekeh. Perjalanan pagi menuju kantornya tidak membosankan karena diisi obrolan santai bersama sang istri yang cantik dan ceria. Sampai mobil pun tiba di lobi kantor. Sudah ada petugas yang berdiri menyambutnya dengan sopan. Mengambil alih mobil yang akan dibawa ke parkiran khusus direksi perusahaan.
Puput berusaha menekan rasa tegang, berjalan di sisi Rama yang menggenggam tangannya. Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di gedung perkantoran Adyatama Grup. Merupakan kantor pusat RPA juga. Ia mengulas senyum sepanjang bertemu dengan karyawan yang membungkuk memberi hormat akan kehadiran Rama tentunya.
Memasuki lift khusus direksi yang kosong, Puput yang sedang tarmangu, dikagetkan oleh rasa hangat dan kenyal di pipinya. Tak sadar, jika Rama mengecup pipinya.
"Kenapa malah ngelamun, hmm?" Alisnya terangkat menatap Puput yang mengerjap.
Puput meringiskan wajah. Terlalu malu untuk jujur betapa ia sangat terpana dengan kemewahan gedung dan banyaknya karyawan dengan style formal yang keren. Berbeda dengan keseharian karyawan RPA cabang Ciamis, yang bebas memakai outfit formal atau semi formal untuk staf kantor. Outfit casual untuk karyawan toko, asal sopan dan rapih.
Hmm, wajarlah kan beda lingkungan. Ini kantor pusat, itu mah supermarket bahan bangunan.
"Malah bengong lagi. Sini aku cium dulu!"
Puput memundurkan wajah sambil menangkup bibir dengan tangan. "Ada cctv. Aa mau adegan privasi kita dilihat orang lain." Ujarnya dengan gerak mata menunjuk pada kamera pengawas di sudut atas. Membuat Rama mengalah hanya merangkum bahu. Bersamaan pintu lift terbuka di lantai 10.
...***...
"Nova, ingat-ingat wajah istri saya! Kapanpun boleh masuk ke gedung ini meski saya nggak ada di sini. Dan perlakukan dengan istimewa!" Ujar Rama setelah memperkenalkan Puput pada sekretarisnya.
"Baik, Pak." Nova mengangguk sopan dan tersenyum ramah menatap Puput. Ia keluar ruangan setelah memberitahu agenda hari ini serta menyerahkan kelengkapan dokumen perjalanan lusa ke Amerika.
Puput mencerna. Ia jadi bisa menilai jika didikan orangtua suaminya itu tidaklah memanjakan anak meski harta berlimpah. Malah menjadi ingat, SD nya Rama di Ciamis demi mendapatkan lingkungan dan pendidikan agama yang baik. Yang ternyata satu almamater dengannya.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Rama dibuka dari luar. Spontan membuat Puput kaget karena ia tengah berada di pangkuan sang suami yang meraup bibirnya.
"Bro, ini ada----" Damar yang masuk tiba-tiba terkaget dan menggantung ucapan. Lekas keluar lagi dengan menutup pintu setengah keras.
"Astaga! Mata gue----" Damar geleng-geleng kepala dan menghela nafas kasar.
Nova dari balik mejanya tertawa cekikian. "Pak Damar, liat yang hot ya? Main serobot masuk aja sih. Tadi saya mau cegah, keburu Pak Damar masuk." Ia melipat bibir berusaha tidak terus mentertawakan asisten bossnya itu.
"Biasanya juga gue langsung masuk aja." Damat berjalan lunglai menuju kursi di depan meja sekretaris. Menjatuhkan bo kong dengan keras. Berkas yang dibawanya di taruh di meja Nova.
"Iya. Tapi kali ini harus berubah. Kan Pak Rama udah punya istri. Mana masih pengantin baru. Wherever, whenever, hot terus. Jadi, Pak Damar udah nggak bisa maen nyelonong. Harus tekan itu dulu kalo mau masuk atau tanya saya dulu." Nova menunjuk dengan dagu pada interkom yang ada di samping pintu. Menahan senyum geli melihat Damar yang mendengkus.
"Beda nih yang dah pengalaman. Dulu kamu gitu, ya?" Damar menaik turunkan alis. Membuat sekretaris yang sudah 2 tahun menikah itu tersipu malu.
...***...
Puput memberengut, lalu menutup muka yang memerah. "Aa sih maen nyosor aja. Mau dikemanakan nih muka aku. Ya Allah, malu...." Keluhnya.
Rama santai saja menyikapinya. Tetap menahan Puput yang akan beranjak. "Woles aja, Neng. Kita kan lagi pacaran halal. Salah si lampu minyak yang nyelonong masuk."
Puput hanya menggelengkan kepala dengan jawaban Rama.
__ADS_1
Dua jam kemudian, meeting virtual diadakan dengan jajaran petinggi RPA cabang Ciamis. Puput sudah berkoordinasi dengan Pak Hendra pagi tadi tentang rapat dadakan ini.
Ini adalah ide Rama yang dengan resmi memperkenalkan Puput sebagai direktur operasional yang akan memimpin cabang terbontot yang baru beroperasi 5 tahun jalan. Karena mendadak menikah, planning rapat langsung di Ciamis tidak terealisasi.
Selesai meeting berdurasi kurang dari satu jam itu, Puput memilih duduk di sofa. Membiarkan Rama larut dengan pekerjaannya. Meski suaminya itu menginginkan jangan jauh-jauh darinya.
"Aa nggak akan fokus kerja kalo kayak gini." ujar Puput mengurai tangannya yang memeluk bahu Rama dari belakang karena disuruh suaminya itu. Memberi kecupan penghibur di bibir yang marajuk, sebelum beranjak ke sofa.
Sambil menunggu Rama yang mulai fokus penuh menatap layar laptop, sesekali menerima panggilan dari ponsel, Puput membunuh waktu dengan berkirim pesan dengan sahabatnya, Via. Menanyakan respon orang-orang setelah meeting virtual tadi.
"Yang aku liat sih wajah-wajah bahagia. Kecuali satu orang itu....tau lah ya siapa. Aseeem."
Puput membacanya dan membalas dengan emot tawa.
"Put, share pengalaman MP dong. Aku kan bentar lagi nyusul. Bagi tutorialnya, plis 😋"
Puput membaca lagi pesan dari Via. Dan memberi balasan, "ASEEEM!"
Ia menyimpan ponsel. Mengabaikan suara notif yang pastinya balasan dari Via. Yang ia lihat sepintas di layar berupa emot tawa dan lari. Tertarik menoleh pada kedatangan Nova yang masuk dan menyimpan paper bag di meja Rama. Kemudian pergi lagi setelah mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
"Sayang, sini!"
Puput melangkah ke meja Rama yang melambaikan tangan padanya.
"Ini untuk nanti di hotel."
Puput menerima uluran paper bag dan menengok isinya. Matanya membelalak sempurna. "Aa beli lagi saringan hampas tahu?"
Puput menghela nafas sambil membuka kotak dengan brand yang kemarin. Kali ini berisi warna hitam dan coklat muda. Menelan ludah melihat harga. Karena yang sekarang ada price tag di kotaknya.
Rama tertawa dan menarik lagi istrinya itu dudul di pangkuan. "Kan buat 2 malam, Neng. Menyenangkan suami itu pahala." Lagi, kalimat itu membungkam bibir Puput tak lagi protes.
Usai salat dan makan siang delivery order, Rama melanjutkan meeting virtual dengan Jo dan Ben dari New York. Dari sofa, Puput sesekali memperhatikan dan menyimak pembicaraan serius yang kadang terdengar obrolan dalam bahasa ingris. Kadang Rama memijat pelipis. Kening mengkerut tanda rumitnya masalah yang harus dipecahkan.
Sambil menyandarkan kepala ke sandaran sofa yang empuk dan nyaman itu, angan Puput melayang pada permintaannya dulu pada Rama. Ia bersedia menikah cepat, tapi belum bisa jauh dari Ibu. Dan Rama menyetujui dengan dia yang akan mengalah pulang pergi Jakarta-Ciamis sampai dirinya siap diboyong ke Jakarta.
Tapi melihat kenyataan hari ini. Betapa suaminya itu super sibuk, punya tanggungjawab yang besar pada perusahaan yang bukan hanya satu. Ia tidak bisa egois. Akan meralatnya. Siap kapanpun sang suami akan membawanya menetap di Jakarta.
Entah karena hembusan sejuk pendingin ruangan. Atau karena masih lelah dan pegal karena berbagi peluh semalam. Lamat-lamat kesadarannya menurun dan mata mengatup rapat dalam posisi duduk bersandar dengan wajah menengadah ke arah plafon ruangan. Terasa tenang dan damai. Bahkan bermimpi bermain air di tepi pantai bersama Rama. Saling mencipratkan air ke muka dan tertawa bersama. Tak sadar, senyum tersungging dalam tidur lelapnya. Kemudian merasakan tubuhnya melayang di udara karena Rama mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Lalu diturunkan perlahan di hamparan pasir putih yang luas tanpa penghuni. Hanya mereka berdua.
Antara sadar dan tidak. Puput merasa pasir putih itu begitu empuk. Pandangannya teduh tanpa silau sinar matahari. Udaranya juga sejuk. Membuat matanya berani terbuka lebar tanpa menyipit lagi. Pandangannya menubruk pada sosok sang suami yang tengah mengungkung diatasnya. Berusaha membuka dasi dengan tergesa dan melemparnya. Lalu membuka kancing kemeja.
"Eh, ini dimana?" ujarnya dengan serak khas bangun tidur. Puput mengedarkan pandangan. Sebuah kamar dengan cat tembok nuansa abu. Berarti ada di kantornya Rama. Baru ingat jika tadi shalat duhur di kamar itu.
"Kamu ketiduran di sofa. Senyum-senyum menggoda. Mimpi apa, hmm? Kan aku jadi lapar liatnya." Rama berhasil membuka kemeja putih dan kaos dalamnya. Menyimpannya di tepi ranjang.
"Buka, sayang!"
"Aa, ini kan di kantor. Nanti....."
"Nggak akan ada yang masuk. Udah dikunci. Cepetan buka, Neng!" Dengan tidak sabar dan suara memberat, Rama membantu melorotkan rok. Sementara Puput berpasrah membuka jilbab dan pakaian atasnya.
__ADS_1