Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
38. Menjemputmu


__ADS_3

Waktu yang bergerak merubah siang menjadi malam, mengganti hari. Seiring sikap optimis yang digaungkan Puput memberi bukti. Bersama Pak Hendra jalan-jalan di lantai dua, mengawasi interaksi para pengunjung yang dilayani dengan baik oleh pramuniaga. Turun ke lantai satu lebih ramai lagi. Karena disana pusatnya cat dan aneka keramik dan granit. Ada pula Septi yang hilir mudik dari meja admin ke tempat kasir. Siaga membantu transaksi yang macet karena sistem. Minggu terakhir ini, peningkatan pengunjung nampak signifikan. Bisa dibilang puncaknya omset penjulan di dua hari terakhir menjelang toko tutup.


"Kita bakal nyampe target kan, Put?!" Pak Hendra memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Wajah yang semringah memantau dari depan meja costumer service. Berdiri bersisian dengan Puput menyaksikan ramainya pengunjung yang keluar masuk.


"Insyaa Allah melampui target, Pak." Puput menjawab optimis. Ia sudah melakukan audit dibantu rekan sesama akuntan. Per hari kemarin grafik omset sudah naik 19%. Besok akan menjadi hari yang sibuk dan lembur. Semua lini akan membuat laporan akhir sesuai tanggung jawabnya masing-masing. Karena besok hari terakhir toko buka.


"Tenang, Put. Kamu juga akan kecripatan bonus. Tidak akan saya makan sendiri." Pak Hendra tidak akan lupa dengan jasa dan ide yang diberikan Puput. Reward yang akan cair di bulan berikutnya mesti dinikmati pula oleh karyawan yang paling dekat dengannya itu.


"Uhh... jadi happy dengernya. Makasih sebelumnya, Pak." Puput tanpa canggung mengekspresikan rasa bahagianya dengan senyuman merekah.


Sore waktunya pulang, Puput menemani Via yang tengah menunggu jemputan Adi. Duduk sila di teras mushola sambil memainkan ponsel.


"Bakpia, jadinya mudik kapan?!" Puput mengunci layar ponselnya usai mengecek deretan chat yang masuk dan belum terbaca.


"Tanggal 28 aja abis subuh biar gak kejebak macet. Adi mau nganterin katanya."


"Syukurlah dianterin. Kalau aku tanggal 28 ada tugas dari Param." Puput baru sempat bercerita. Karena selama seminggu kemarin Via sebagai ketua tim admin, disibukkan pekerjaan di lantai bawah.


"Calon imam ngasih tugas apa?!" tanya Via dengan santainya dan rasa penasaran yang akut.


Dijawab Puput kerlingan galak dan keplakan di lengan Via.


"Calon Nyonya boss jangan galak-galak dong!" Via mengusap-ngusap lengannya sambil meringis.


"VIAAA-----" Puput menggeram. Kesal dengan sahabatnya itu yang mulai kambuh menggodanya lagi.


"Hiss lagi puasa jangan esmosi, Siput." Via sama sekali tidak terpancing dengan kekesalan Puput. "Oke-oke...jadi Param ngasih tugas apa?! sambungnya dengan wajah serius.


"Ngejemput Param ke bandara Wiriadinata Tasik. Dia mudiknya pakai pesawat. Mobil Pajeronya lebih dulu dianterin sopir kantor. Udah ada di rumah Enin. Nanti aku pakai mobil itu jemputnya."


"Wahh bakalan dapat bonus lagi dong." Via menaik turunkan alisnya.


Puput menggeleng. "Ngejemput doang, Via. Sama sekali gak ngarepin bonus. Kalau dikasih pun aku akan nolak. Enin dan Cia udah terlalu baik ngasih baju lebaran buat kita semua. Diajak milih langsung di butiknya Bibi Ratih." Puput menceritakan jika minggu kemarin Cia dan Enin datang menjemput ke rumah secara mendadak. Tidak bilang mau dibawa kemana. Surprise, ternyata jika pemilik Butik Sundari yang terkenal sebagai langganan para ibu pejabat dan pengusaha, adalah milik Bibinya Cia. Brand butik diambil dari nama belakang Ratih Sundari.


"Puput, Enin sama sekali tidak bermaksud menghinakan keluarga Puput. Enin suka melihat kalian yang tegar dan bisa mandiri tanpa sosok Ayah. Izinkan Enin menyayangi kalian semua ya!"

__ADS_1


Rayuan Enin saat Puput menolak dengah halus begitu keluarganya disuruh memilih baju sesuka hati. Apalagi sekilas melihat harganya yang membuat perut mules. Memang harga sebanding dengan kualitas. Bahkan Bibi Ratih pun mengusap-ngusap bahunya dan membisikkan kata jika menolak, Enin akan bersedih. Akhirnya mengalah.


"Malah bengong." Giliran Via yang mengeplak lengan Puput yang tiba-tiba melamun. Membuat Puput mengerjapkan mata. Terkaget.


"Put, seandainya ini mah ya. Kalau misalkan Param naksir sama kamu gimana. Mau diterima gak?!" Via menopang dagu menatap Puput sambil senyum-senyum.


"Nggak mungkin lah. Kita ini kerja profesional. Tugasku jadi dobel merangkap sekretarisnya kalau Param ada di sini. Gitu doang."


"Fokusku sekarang nabung buat Ami. Dia berubah pikiran gak mau ke SMP negeri. Pengen sekolah sambil mondok di Cijantung. Hmm....lumayan biayanya. Tapi gak papa demi masa depan menjadi orang yang tidak hanya pinter tapi juga saleha." Curhat Puput yang sama sekali tanpa diiringi keluhan.


"Yowis kalau kamu masih teguh sama komitmen itu. Tapi hari esok gak ada yang tahu, Put. Dan jika hati udah tumbuh benih cinta, siapapun itu cowoknya, gak usah mengelak apalagi mengubur. Ikuti alur aja....yakin tanggung jawab yang ada di pundakmu akan ada jalan keluarnya."


"Du du du....calon manten jadi bijak gini." Puput membulatkan mata dengan senyum meledek. "Mohon do'anya ya Mak...anakmu ini biar sehat dan dimudahkan segala urusannya," sambungnya sambil mencium tangan Via.


"Waras ihh Sipuuut---" Via mendorong bahu Puput. Lalu tertawa bersama. Memang keduanya tak pernah bisa bicara serius lama. Ujung-ujungnya akan saling becanda. Suara klakson motor menghentikan tawa keduanya. Adi datang menjemput.


"Put, kita duluan ya!" Pamit Adi usai Via duduk manis di belakangnya sambil melambaikan tangan.


Puput membulatkan jarinya. "Ti ati...calon manten!"


...***...


Tiba di depan gerbang, tidak lantas masuk. Memperhatikan lima mobil mewah berjajar dua baris di pekarangan yang luas itu. Puput mengabsen. Pajero milik Rama, Civic kepunyaan Enin. Innova, kalau gak salah pernah lihat Bibi Ratih memakainya. Alphard dan CRV, ia menggeleng tidak tahu.


"Neng Puput, kenapa gak langsung masuk." Suara Mang Jaja menghentikan lamunan Puput yang berandai-andai bisa memiliki salah satu mobil impiannya itu. Untung memakai helm fullpace sehingga tidak nampak kalau dari tadi tengah mengabsen mobil.


"Gak papa di sini aja. Lagi nunggu Cia, Mang." Puput memang sudah mengirim pesan pada Cia jika ia sudah berada di depan rumah.


"Panas atuh, Neng. Ayo ke dalam aja." Mang Jaja mendorong pintu gerbang. Seringnya Puput datang mengunjungi Enin, membuatnya mengenal sosok gadis berkulit putih itu.


Bersamaan dengan itu Cia muncul di teras memanggil Puput. Tidak sendiri. Didampingi seorang wanita dewasa berjilbab warna mocca.


"Puput, belum pernah ketemu Mami aku, kan?!" Cia dengan wajah riang melirik wanita disampingnya. "Kenalin ini Mami Ratna....ah pas sekali, ini Papi Krisna." Sambungnya begitu sosok sang ayah juga menyusul keluar. Kedatangan dulu waktu kejadian menimpa Cia, memang tidak sempat bertemu muka dengan Puput. Hanya tahu nama tidak kenal wajah.


"Oh...ini yang namanya Puput." Ratna tersenyum semringah sambil lekat memandangi Puput yang mengulurkan tangan menyalaminya juga menyalami Krisna.

__ADS_1


"Masuk dulu yuk!" Ratna meraih lengan Puput. Ingin sekali bercengkrama dengan gadis yang sudah mencuri hati anak bujangnya itu.


"Maaf, Bu. Saya gak bisa lama-lama. Mau mengambil mobil aja. Soalnya harus segera berangkat ke bandara menjemput Pak Rama." Tolak Puput dengan sopan sambil melirik jam yang tangannya.


"Iya, Mam. Nanti aja lain waktu. Kak Rama udah take off. Jakarta - Tasik cuma satu jam." Cia mengingatkan. Gurat kecewa nampak di wajah maminya itu. Ia lantas memberikan kunci mobil kepada Puput.


"Ck ck...Rama kok tega nyuruh perempuan jadi sopir. Kenapa gak nyuruh Panji aja." Protes Krisna usai memperhatikan Puput yang tapis memundurkan mobil sampai keluar gerbang dan melaju menjauh sampai tak terlihat.


"Papi, Puput ini bukan sembarang sopir. Si kakak lagi pedekate. Ya caranya harus sering jalan bareng soalnya Puput orangnya cuek bebek. Ih si Papi kayak gak pernah modus aja dulu ngedeketin Mami." Ledek Cia sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya sih. Hasil modus itu jadilah si ganteng kalem sama si cantik bawel." sahut Krisna sambil menjawil hidung Cia yang mendapat gelar si cantik bawel itu. Ratna hanya mengerling sambil lalu masuk ke dalam.


Menyusuri jalan nasional Simpang Lima Tasik, belok kiri melewati tiga titik lampu merah. Puput melajukan mobil lurus mengarah ke jalan raya Cibeureum. Beberapa kali tersendat di titik-titik pertigaan karena volume kendaraan meningkat padat di dua hari menjelang lebaran itu. Ponselnya belum berbunyi. Berarti Rama belum tiba di bandara Wiriadinata yang merupakan landasan udara militer Tasikmalaya.


Sampai di parkiran bandara, barulah ponselnya berdering. Nama Param tertera di layar.


"Put, posisi dimana?!" Rama lebih dulu menyerobot dengan pertanyaan.


"Saya baru sampai parkiran, Pak eh Kak." Puput membuka safety belt nya tanpa turun dari mobil. Cuaca siang menjelang sore yang terik, membuatnya memilih menunggu di dalam mobil dengan Ac yang menyala sejuk.


"Aku baru sampe. Tunggu aku keluar!"


Puput menyimpan ponsel usai menjawab iya. Beralih mengamati ada sekitar 10 mobil yang yang berjajar di parkiran khusus itu. Menurunkan sandaran jok ke belakang agar leluasa rebahan santai. Kembali meraih ponsel di dashboard untuk iseng membuka-buka laman sosmednya yang jarang sekali update status.


Tak berselang lama pintu kanan diketuk dari luar. Dari balik kaca jendela yang hitam, sosok Rama nampak berdiri sambil mengulas senyum. Bukannya menekan tombol unlock pintu, Puput malah menekan tombol kaca sampai turun bawah sehingga pandangan saling beradu.


Mulut Puput sedikit terbuka. Terpana dengan wajah baru bossnya itu. Rambut yang dipotong pendek, jambang yang dicukur bersih, kumis tipis-tipis.


Aahh.....ini beneran Param bukan sih?!


"Masih betah natapnya?! Nanti aja lanjut di mobil. Aku panas nih---"


Tbc.....


...***...

__ADS_1


Guys! Manaaaaa saweran kembang dan kopinya....


Babak baru Ramput udah dimulai nih. 💃💃💃


__ADS_2