
Teras belakang menjadi tempat bercengkerama Puput, Via, dan Adi. Suasana heboh dan gelak tawa menghiasi senja yang cerah. Sengaja memisahkan diri dari keluarga yang juga sedang berbincang santai di ruang tengah dengan ayahnya Panji yang ditahan Enin tidak boleh menginap di hotel.
"Mbak Dwi itu ternyata bisa sengklek juga. Padahal wajahnya setelan judes. Tiap sidak bikin karyawan pada murungkut. Eh, kemarin pas beres rapat, ngajak duet nyanyi sama Pak Hendra lagu Kerinduan nya Bang Rhoma. Aku ditugasin mukulin galon kosong buat musiknya. Beneran duet sengklek. Dua leader RPA nyanyi sambil joget-joget. Hilang wibawa dah." Ucap Via diiringi tawa lepas.
"Itu di ruangan siapa? Ide siapa? Ditonton peserta rapat gitu?" Puput ikut tertawa. Bisa terbayang Pak Hendra yang kalem, dan Mbak Dwi si wajah judes padahal kalau bicara baru kelihatan ramahnya, berubah jadi sengklek.
"Di ruangan Mbak Dwi. Aku aja saksinya sekaligus pemain kendang galon. Santuy dulu biar otak gak tegang, sebelum bikin laporan ke pusat katanya." Via masih terkekeh.
"Terus kabar Septi gimana?" Tanya Puput.
"Septi udah kerja di pabrik pengolahan kayu. Jadi staf administrasi. Baru kerja bulan ini, katanya. Aku taunya pas ketemu di pecel lele. Dia sekarang pakai jilbab. Lebih kalem. Udah gak ada lagi aura kanjeng ratu penguasa pantai selatan. Hihihi."
"Kita ketemu Septi kapan ya, yang? Senin bukan ya?" Sambung Via menoleh ke arah Adi yang sedang menyeruput kopi. Lupa-lupa ingat.
"Selasa, beb." Sahut Adi yakin.
"Syukurlah Septi udah berubah. Jadi pengen nitip buat ibunya Septi sama Nabila. Via, besok bisa anterin amplop ke rumahnya nggak?" Puput ingin berbagi rejeki.
Via mengangguk. "Paling pulang kerja ya, Put."
Obrolan ringan masih berlangsung hingga Via dan Adi ikut pula makan malam bersama selepas magrib. Karena keduanya dipaksa oleh Mami Ratna.
Puput melirik jam dinding usai mengantar Via dan Adi yang pamit pulang usai makan. Pukul tujuh. Ia sudah merasakan kangen ingin bertemu Rama yang diprediksi akan tiba jam sepuluh malam. Masih harus menunggu tiga jam lagi. Ia memutuskan ke kamar. Ingin berkirim pesan dengan suaminya itu.
Petikan gitar terdengar dari arah teras depan. Panji dan Anjar duduk bersama menikmati semilir angin malam usai isya berjama'ah di masjid. Panji mulai memainkan intro, mengisi kesunyian malam. Sebuah lagu 'Tentang Rindu' milik Virzha mulai mengalun apik. Bibir melafalkan lirik, hati dan pikiran membayangkan sosok gadis cantik, Aulia.
Pagi telah pergi
Mentari tak bersinar lagi
Ntah sampai kapan kumengingat
Tentang dirimu
Kuhanya diam
Menggenggam menahan
Sgala kerinduan
Memanggil namamu
Disetiap malam
Ingin engkau datang dan hadir
Dimimpiku, rindu
"Dalam banget nyanyinya. Pasti for someone special." Anjar menarik sudut bibirnya usai memberi applause untuk Panji.
Panji hanya tertawa kecil. Ia memang belum jujur pada sang ayah tentang sosok gadis yang didambakannya.
"Ayah nyanyi ya!" Panji mengalihkan pembahasan. Ia terus memetik gitar melanjutkan lagu hanya dengan akustik saja.
"Lagu apa? Ayah gak tau lagu zaman now. Taunya lagu-lagu lawas." Anjar menaikkan satu alisnya. Ia berani menerima tantangan Panji.
__ADS_1
"Apa ada lagu favorit ayah sama Bunda?" Panji tersenyum miring menatap sang ayah yang duduk di bangku panjang yang sama dengannya.
"Ada dong. Ayo mainkan Love of My Life dari Queen! Lagu itu selalu Bundamu request setiap ayah pulang dari Jakarta. Ayah kan pulang ke Ciamis nya dua minggu sekali. Kadang kalau di kantor sibuk, sebulan sekali baru ke sini. Jadi lagu love my life itu curhatan kita berdua. Dulu mainnya di teras belakang." Anjar terkekeh mengenang masa lalu. Ia bersemangat sembari menegakkan posisi duduknya. Menjadi bernostalgia akan kisah kasih romantis bersama ibu dari anaknya itu.
"Wuah romantis juga Ayah sama Bunda. Lagu lawas mah Panji gak tau kuncinya, Yah. Ayah aja yang main." Panji menyerahkan gitarnya. Ia bisa bermain gitar juga karena dulu pernah diajarkan oleh sang ayah.
Anjar dengan percaya diri menerima gitar. Petikan akustik mulai mengalunkan intro.
Love of my life, you've hurt me,
(Cinta dalam hidupku, kau menyakitiku)
You've broken my heart and now you leave me.
(Kau patahkan hatiku dan sekarang kau tinggalkan aku)
Love of my life can't you see
(Cintaku tidak bisakah kau lihat)
Bring it back, bring it back
(Bawa itu kembali, bawa kembali)
Don't take it away from me because you don't know what it means to me
(Jangan mengambilnya dariku karena kau tidak tahu artinya bagiku)
Panji senyum-senyum sembari merekam aksi sang ayah yang bernyanyi penuh penghayatan. Alunan syhadu berpadu suara yang bagus yang begitu menjiwai seolah ungkapan isi hati.
(Cinta dalam hidupku, jangan tinggalkan aku)
You've stolen my love, you now desert me
(Kau telah dicuri cintaku, kau sekarang meninggalkanku)
Love of my life, can't you see
(Cinta hidupku, tidak bisakah kau lihat)
Bring it back, bring it back
(Bawa itu kembali, bawalah kembali)
Don't take it away from me because you don't know what it means to me
(Jangan mengambilnya dariku karena kau tidak tahu apa artinya bagiku)
You will remember
(Kau akan ingat)
When this is blown over
(Bila ini berakhir)
__ADS_1
And everything's all by the way
(Dan semuanya berlalu)
When I grow older
(Ketika aku menua)
I will be there at your side to remind you how I still love you, I still love you.
(Aku akan berada di sana di sisimu untuk mengingatkanmu betapa aku masih mencintaimu, aku masih mencintaimu)
Hurry back, hurry back
(Kembali, cepat kembali)
Please, bring it back home to me because you don't know what it means to me
(Tolong, membawanya kembali ke rumah untukku karena kau tidak tahu apa artinya bagiku)
Love of my life
Love of my life
Suara nyanyian itu terdengar sampai ke dalam. Seseorang yang berada di ruang tamu hendak keluar membawa nampan berisi dua minuman bandrek. Hanya bisa mematung dengan menggigit bibir yang bergetar serta mata terpejam menahan desakan air mata yang ingin tumpah.
"Sini sama teteh aja!" Tiba-tiba Ratna sudah berada di depan Ratih yang masih memejamkan mata dan mengatur nafas. Saat mata terbuka, air bening pun luruh membasahi pipi. Pasrah nampan yang dipegangnya diambil alih oleh Ratna.
"Teteh tau, nama Anjar belum terhapus dari hatimu, Ratih." Ucap Ratna yang kini berpindah tempat ke kamar adik satu-satunya itu.
"Masih ada rasa cinta yang tersisa, kan? Tapi hatimu lebih didominasi rasa sakit dan kecewa karena dikhianati. Apakah luka bertahun-tahun itu udah mengering dan sembuh, hm?" Sambung Ratna. Ia duduk di tepi ranjang menatap Ratih yang duduk bersandar ke kepala ranjang.
Yang diajak bicara masih diam, bungkam melipat bibir. Netra yang memancarkan kerapuhan serta wajah cantiknya berubah sendu. Ratna dengan sabar menunggu sang adik mau mencurahkan isi hatinya.
"Aku juga punya andil salah. Udah melanggar komitmen. Godaan kesuksesan karir membuat aku merasa cukup punya anak satu aja. Cukup membesarkan Panji saja. Akan repot jika punya bayi lagi. Sekerdil itu pemikiranku dulu." Ratih menundukkan wajah dengan mata terpejam. Tersirat nada penyesalan.
"Teteh benar. Egoku sebagai seorang wanita merasa kecewa dan sakit hati. Suami yang sangat aku cintai diam-diam nikah lagi dan punya anak. Aku marah dan menyudutkan Mas Anjar. Tapi hati kecil tidak bisa dibohongi, akulah yang jadi pemicunya. Akulah yang egois." Tes. Setetes air jatuh lagi dari kedua mata Ratih.
Ratna mengusap-ngusap bahu Ratih penuh sayang seorang kakak terhadap adiknya.
"Lalu sekarang mau gimana? Kalo Ratih bisa menerima kehadiran anak perempuan Anjar, kenapa gak rujuk aja sekalian." Saran Ratna. Ia masih ingat saat sang adik bercerita jika anak perempuan Anjar bernama Padma, menginap semalam di rumah ini sepulang dari liburan bersama Ami dan Aul di Pangandaran.
"Entahlah." Ratih menggeleng lemah. Suasana hatinya sedikit membaik usai apa yang mengganjal di hati diungkapkan pada sang kakak.
"Ratih, gimana tanggapan hatimu saat bertemu anak perempuannya Anjar?" Ratna menatap wajah sang adik penuh selidik.
"Pertama ketemu Padma di rumah Bandung, ada rasa perih di hati. Anak itu satu garis wajah sama Panji. Sama-sama dominan gen ayahnya. Sepintas orang akan menyangka jika mereka saudara kandung. Aku saat itu merasa takut kehilangan Panji. Takut Panji lebih condong bersama ayah dan adiknya. Karena mereka sangat dekat sekali."
"Tapi Panji alhamdulillah tidak berubah. Dia tetap pulang ke sini seperti biasanya. Bahkan dia berubah lebih ceria setelah punya adik. Panji semangat bercerita pada ibu soal adiknya. Tapi padaku tidak pernah membahas. Mungkin Panji sungkan. Takut aku gak bisa menerima kehadiran Padma. Dan memang iya, aku tidak mau menerimanya. Melihat Padma menjadi terbayang masa suram dulu."
"Tapi ucapan Ibu benar-benar membuatku membuka mata dan hati. Kamar di rumah ini banyak. Pintu rumah ini terbuka. Tapi pintu hati pemiliknya tertutup rapat. Aku jadi tersadar. Langsung telepon Panji buat ngajak Padma nginep di sini pulang dari Pangandaran."
"Sehari semalam Padma di rumah ini, aku baru tersentuh hati. Dia anak manis. Tentu dia tidak tahu dengan kesalahan masa lalu orangtuanya. Tidak adil jika aku harus membencinya. Naluriku sebagai seorang ibu hadir begitu aku memeluknya saat Padma pamit pulang." Pungkas Ratih dengan iringan senyum getir.
Ratna menghembuskan nafas panjang usai mendengar penjelasan panjang lebar. Ia manggut-manggut dan tersenyum tipis. "Kalo seandainya Anjar ngajak rujuk, Ratih mau?"
__ADS_1
Ratih menatap sang kakak yang nampak bertanya serius. Menggelengkan kepala. "Belum bisa jawab karena aku gak mau berandai-andai."