
Puput pasrah, mengalah. "Aku nggak tanggung jawab lho ya akibatnya. Aa kan lagi puasa."
"Hm, gimana nanti aja." Keinginan Rama tidak bisa ditahan. Seperti halnya si kecil yang meronta-ronta dalam sangkarnya. Ia mulai menarik simpul handuk. Beberapa kali harus menelan saliva menatap pemandangan mempesona di hadapannya itu.
Mata yang berkabut gairah itu mulai tidak bisa mengendalikan diri. Mulut mulai mengeluarkan kata-kata pujian. Tangan mulai menyentuh dan bermain-main di area bukit indah. Puput memilih memejamkan mata sambil menggigit bibir.
"Teh. Teteh....ada tamu. Mbak Via sama A' Adi."
Suara ketukan di pintu dan teriakan Aul membuat Rama menghentikan aksinya. Wajahnya berubah memberengut. Membuat Puput terkekeh-kekeh dan kegirangan. Bebas dari hawa panas yang sempat menjalar pada aliran darah.
"Iya. Nanti Teteh turun." Puput balas berteriak menyahut. Ia beralih mengusap pipi Rama yang memanyunkan bibir sambil memasangkan lagi handuk. "Jangan cemberut. Nanti gantengnya berkurang. Mau mandi sekarang nggak? Aku siapin baju."
Rama mengangguk lemah. Dengan lunglai melangkah membuka pintu kamar mandi.
Puput terkikik pelan sambil memakai baju. Gaya merajuk Rama mengingatkannya pada Ami yang akan mogok bicara jika ada keinginan yang belum terlaksana.
Ah...jadi kangen Ami.
Ia turun lebih dulu turun menemui sahabatnya itu.
"Alhamdulillah keliatan lebih seger sekarang mah. Cepet sehat lagi ya,bestie." Via memeluk girang sambil menjaga jarak agar tidak menyinggung perut Puput.
"Alhamdulillah. Tinggal nunggu kering jahitan perut aja." Puput setiap kali duduk harus turun perlahan dan punggung tegak. Ia lantas mendengarkan cerita Via tentang kondisi terbaru Septi.
"Dokter memperkirakan kurang dari seminggu sudah bisa pulang. Oh ya, ibunya Septi juga nanyain kamu, Put. Katanya pengen sekali ketemu. Aku sempat bingung saat dia bilangnya pengen ketemu Neng Kiran. Tapi Septi yang dengerin obrolan ibunya bilang, maksudnya Kiran itu kamu, Puput. " Jelas Via.
Puput terkekeh diiringi anggukkan. "Emang dulu waktu aku nyelidikkin soal Septi nyamar pake nama Kiran. Gini aja, besok siang ajak Ibunya Septi dan Nabila datang ke sini jam 11. Minta antar sama Pak Mamat pakai mobil inventaris kantor. Nggak ada waktu lagi. Soalnya sorenya aku ikut pulang ke Jakarta."
"Oke deh." Septi mengangguk mengerti. Ia tidak berlama-lama karena sebentar lagi menjelang magrib. Bersama Adi kemudian pamit, tidak hanya kepada Puput tapi juga pada Ibu dan Aul yang berada di dapur.
"Via, Adi, makan dulu di sini ya! Jangan dulu pulang." Ibu meminta dengan sungguh-sungguh pada dua orang yang sudah dianggap bagian keluarganya juga.
"Makasih, Bu. Lain waktu aja. Abis magrib ada undangan makan di rumah tetangga yang baru pindahan." Sahut Adi yang sudah dua minggu menempati rumah baru di sebuah komplek perumahan.
"Lho, kok udah mau pulang?" Seru Rama yang baru turun dengan pakaian santai dan rambut setengah basah, melihat Via dan Adi keluar dari pintu utama diantar Puput.
"Iya, Mas. Pengen nengok Puput dan Ibu aja. Nggak bisa lama. Abis magrib ada acara soalnya." Adi yang menjawab sambil mengulurkan tangan bersalaman.
Rama merangkul bahu Puput yang mengantar tamu sampai teras. "Masuk yuk!" Ajaknya, saat mobil Adi sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah.
"Sebentar. Nunggu satu orang lagi." Puput memanjangkan leher menatap sebrang jalan.
"Nunggu siapa?" Rama beralih memeluk dari belakang. Melingkarkan kedua tangan di dada Puput dan memberi kecupan di kepala istrinya itu. Tidak peduli beberapa orang yang akan masuk ke Dapoer Ibu menoleh ke arahnya.
"Nunggu Ami. Dia lagi dijemput Zaky. Katanya hari libur pengen pulang." Puput melonggarkan dekapan tangan Rama karena sedikit mencekik lehernya. "Itu dia...panjang umur." Senyumnya mengembang melihat mobil carry warisan dari sang ayah berada di sebrang jalan akan menyebrang.
Zaky memasukkan mobil ke pekarangan dengan arahan parkir oleh Rama. Begitu mobil berhenti, Ami lebih dulu turun dengan riang.
"Assalamu'alaikum, bestie. Aku pulaaaang!" Ami berseru riang. Lebih dulu menyalami kakak iparnya karena dekat dengan mobil. Lalu berlari menghambur ke teras untuk memeluk kakak pertamanya.
"Stop!" Puput menahan bahu Ami. "Jarak aman meluknya jangan kena perut teteh." Ia lebih dulu memeluk si bungsu yang punya kebiasaan memeluk erat sambil loncat-loncat. Mencium kedua pipinya penuh sayang.
__ADS_1
"Perut teteh kenapa? Ada bayinya ya?" Ami menatap ke arah perut sang kakak dengan berbinar.
Rama yang menyaksikan interaksi kakak beradik itu tersenyum simpul.
"Bukan. Perut teteh terluka dan dapat jahitan. Tapi beberapa hari lagi juga kering. Ayo ah masuk dah mau magrib." Puput memangkas obrolan agar Ami tidak terus bertanya. Merangkum bahu adiknya itu masuk ke dalam.
...***...
Selepas magrib, makan malam berlangsung di meja makan. Ibu sangat bahagia karena semua anaknya berkumpul lengkap. Hanya satu orang yang makan dengan wajah memberengut sebagai bentuk aksi demonya. Yaitu Ami.
Ami begitu menemui Ibu di kamar, membelalak kaget melihat tangan kanan ibunya itu berbalut gips dan di gendong dengan kain kasa ke leher. Ia ngambek karena tidak ada seorang pun yang mengabari saat kejadian kecelakaan yang menimpa Ibu. Ia demo dengan memanyunkan bibir karena baru tahunya sekarang.
"Karena Ibu nggak ingin Ami khawatir. Ibu nggak papa kok bentar lagi juga gipsnya bakal dilepas."
Tetap saja penghiburan Ibu tadi tidak bisa diterima oleh Ami. Hingga sampai saat ini masih memberengut.
"Mi...Ibu suapin sama Ami ya? Masa tega liat Ibu makan pakai tangan kiri." Aul mencoba mencairkan wajah yang membeku itu.
Ami menoleh ke arah Ibu yang duduk di sampingnya. Ia baru menyadari itu. Bergegas mengambil alih sendok yang dipegang Ibu.
"Ibu, makannya aku suapin. Ibu nggak boleh bantah!" Perintah tegas Ami membuat Ibu mengulum senyum dan mengangguk menurut.
Puput dan Aul saling tatap dan menahan senyum. Lumayan, Ami sedikit mencair.
"Aku tahu obat manjur untuk Ami." Rama berbisik pelan di telinga Puput. Membuat Puput menoleh dan menaikkan kedua alisnya. Namun hanya dibalas kode kedipan mata.
"Ami, cerita dong di pesantren ngapain aja?" Zaky pun mencoba menghidupkan Ami yang soak batrenya. Biasanya adiknya itu yang paling heboh dan paling ramai saat sedang santai bersama di ruang tengah seperti saat ini.
"Ya gitu deh. Aa juga tau sendiri di pesantren itu bangun jam tiga terus mandi, terus tahajud, terus subuh berjama'ah, terus tadarus dan hafalan. Pagi-pagi sarapan lalu sekolah sampai siang, lanjut eksul bagi yang ikutan. Sorenya bebas. Abis salat magrib ngaji dan setor hafalan. Jam 9 malam wajib tidur biar bangun tahajud tidak ngantuk." Jelas Ami meski masih dengan mimik wajah yang belum normal. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel miliknya yang selama di pesantren tidak dibawa.
Suara bel pintu terdengar.
"Ami, tolong bukain pintunya. Kayaknya ada tamu." Rama memberi perintah. Telunjuknya digerakkan di depan wajah saat Zaky akan bangun dari rebahannya di karpet.
Ami menurut tanpa kata meski terlihat terpaksa.
"Dengan Rahmi Ramadhania?" tanya Mamang ojol begitu pintu dibuka dan nampak menenteng kantong kresek putih berlogo khas.
"Iya. Tapi aku nggak pesen donat madu." Ami menggeleng meski air liurnya tiba-tiba membanjiri rongga mulut saat tercium wangi harum aroma donat madu.
"Sudah dibayar kok, Neng. Cuma mau ngantar aja. Ada suratnya di dalam." Mamang ojol menunjukkan secarik kertas di atas dua dus donat madu masing-masing isi 6 pcs itu.
Ami menutup pintu usai berterima kasih. Penasaran diambilnya kertas yang direkat selotip bening itu.
...To. Ami yang cantik dan imut...
...from : Kak Rama & Teh Puput...
Sontak Ami berlonjak-lonjak kegirangan dan berlari ke ruang tengah.
"Kak Rama...Teteh....masih inget aja kesukaan aku. Makasih...." Ami menghambur akan memeluk Puput. Kali ini Rama yang sigap menjegal dengan merentangkan tangan.
__ADS_1
"Ehehe....lupa." Ami cengengesan. Ia lanjut duduk sila di karpet dan mengeluarkan kotak donat.
"Mi, bagi!" Zaky berseru dari arah dapur setelah menyimpan gelas kotor bekas jusnya.
"Sabar atuh...semua bakal aku bagi." Sahut Ami. "Ibu dulu. Ibu mau topping apa, Bu?" Ia bangkit dan menyuapi Ibu yang memilih donat dengan taburan serbuk kelapa.
"Udah ah, kenyang. Abisin sama Ami." Ibu menggeleng saat si bungsu memaksa untuk memakan yang setengahnya lagi. Akhirnya dilahap habis oleh Ami dengan pipi menggembung.
Bel pintu kembali terdengar. Rama lagi-lagi menyuruh Ami membukanya.
Ojol berdiri di depan pintu dan menanyakan nama Rahmi Ramadhania.
"Wuahhh...Pizza." Ami berjoget-joget di depan semua orang dengan centilnya sambil memangku big box pizza.
"Makasih egen ya Kak, Teteh. Alapyu pul pokoknya mah."
Rama tertawa lepas melihat kecentilan Ami yang kembali pada sifat aslinya. Malam ini suasana rumah kembali berisik oleh satu orang itu.
Menjelang tidur, sepasang pengantin sudah berada di perpaduan. Rama menyingkap baju tidur Puput. Membantu mengoleskan salep terbaik untuk mempercepat proses kering luka jahitan. Setelah Puput lebih dulu mengkonsumsi obat yang harus diminum. Ia juga makan dengan menu khusus pepes ikan gabus yang sudah diakui berkhasiat untuk membantu mempercepat proses penyembuhan.
"Sayang."
"Ya..." Puput memperhatikan Rama yang dengan hati-hati mengoleskan salep.
"Aku keinget ucapan Damar waktu nganter ke bandara dulu. Dia berniat melamar Cia setelah aku pulang. Gimana kalo sebelum resepsi kita, dahulukan acara lamaran Cia dulu? Mepet waktu nggak ya?" Rama mendongak. Meminta pendapat istrinya itu. Ia menyimpan salep di nakas beralih tiduran memiringkan badan di samping Puput.
"Menurutku sih, niat baik harus disegerakan. Permasalahan kita dengan Zara bisa dibilang sudah selesai. Kita hanya memantau proses hukumnya. Aku setuju dahulukan dulu lamaran Cia biar sama-sama bahagia."
"Oke. Nanti di Jakarta aku akan bicarakan ini dengan Damar. Jangan sampai dia sungkan bicara karena melihatmu sedang terluka." Rama mengecup bibir Puput dan beralih telentang dengan kedua tangan dijadikan bantal. Pandangannya menerawang menatap plafon kamar.
Tiba-tiba Puput terkikik. Membuat Rama menoleh dan menatap heran.
"Aku keinget kelakuan Ami. Ternyata Aa bisa jadi pawangnya jadi bisa sembuh ngambeknya dengan cepat." Puput menjawab tatapan keheranan suaminya itu.
Rama tersenyum lebar. "Tau dong. Ami bakal luluh sama oleh-oleh. Itu kan cara aku dulu buat deketin kamu, sayang. Sogok Ami," ujarnya terkekeh karena Puput mencubit hidungnya dengan wajah merona.
"Sekarang obatin aku, please. Aku sakit kepala gara-gara tadi sore gagal." Rama merajuk sambil menelusupkan wajah ke ceruk leher Puput.
"Hm, modus kang panci." Puput meremas punggung Rama karena merasa geli dan meremang oleh gesekan hidung sang suami di lehernya itu.
Lampu terang berganti lampu tidur yang temaram. Saling melepas rindu terus berlanjut, dengan keterbatasan. Tapi tak apa. Bisa kembali bersama, tidur nyata saling bersentuhan, bertukar saliva sebagai ungkapan perasaan yang sama saling mendaba, mereka syukuri. Suatu hari nanti, masa penyatuan itu akan tiba.
...****************...
Besties,
Aku udah mulai mengalami stuck. Penyakit yang sering dialami author di tengah-tengah perjalanan menulis. Ide macet, otak buntu. Jadi mohon maaf, harus harus hiatus dulu mungkin 2-3 hari . Jika dipaksakan malah garing alurnya.Aku butuh healing biar fresh lagi. 🙃 yang mau ikut healing ditunggu besok jaman 8 pagi di pengkolan.
Story KARTIKA di sebelah masih lanjut ya. karena inspirasinya sudah full. Hanya jam tayangnya random menyesuaikan waktu luang.
Salam cinta dari RamPut ❤
__ADS_1