
Sudah dua kali menguap panjang. Padahal tidak biasa tidur siang. Namun rasa kantuk kali ini tidak bisa ditahan. Puput baru saja mengantar Ibu dan Aul sampai teras, yang pulang dijemput oleh Zaky. Ia langsung masuk ke dalam kamar. Nyaman sekali merebahkan badan di kamar yang biasa dipakai sebagai kamar Rama.
"Aa." Tiba-tiba Puput terduduk begitu teringat sang suami. Ada rasa kasihan melihat wajah suaminya itu yang selalu menatap sayu dari jarak aman. Ia beranjak turun dari ranjang untuk meraih ponselnya yang tergeletak di sofa tunggal.
"Neng, pengen apa?" Baru satu kali nada sambung, Rama langsung menyambar.
"Nggak pengen apa-apa kok. Aku mau boci dulu, ngantuk banget nih. Aa nanti intip ke kamar ya. Kalo aku udah pulas, Aa coba aja masuk. Boleh peluk aku dari belakang. Kali aja kalo lagi tidur aku gak berasa mual dideketin Aa. Gimana?" Puput menyampaikan idenya.
"Asiap, sayang. Pasti gak akan mual. Aa udah eksperimen." Suara Rama yang sedang berada di ruang tengah terdengar riang.
"Hah? Eksperimen apa?" Puput menautkan kedua alisnya.
"Tadi malam Aa masuk kamarmu, Neng. Udah kayak maling aja jalannya juga. Aa berhasil peluk sama cium Umma. Lumayan jadi bisa tidur, hehehe."
"Idih si Aa gak bilang-bilang." Puput mendecak sekaligus mengulum senyum. Banyak akalnya juga si calon Papa.
"Kalo bilang dulu takutnya malah diusir kamu, Neng. Tapi sekarang udah dikasih lampu ijo gini jadi semangat. Udahan teleponnya ya. Cepetan tidur gih. Yang lama ya sampe empat jam."
"Sampe magrib dong." Puput geleng-geleng kepala yang tentu saja tidak terlihat oleh Rama yang terkekeh di ujung telepon.
Bantal dan guling serasa sudah melambai-lambai. Puput membuka jilbabnya. Menggerai rambut panjangnya. Segera naik ke peraduan. Sekali nempel langsung terlelap.
Rama mendorong pintu kamar pelan-pelan. Sejenak berdiri memperhatikan Puput yang tidur di sisi kanan membelakangi pintu. Berjalan mengendap untuk memperhatikan wajah yang sedang tidur miring itu. Senyum terbit di wajah tampannya. Ia segera naik ke atas ranjang dengan hati-hati agar pergerakkannya tidak membangunkan istrinya itu. Senang sekali bisa memeluk lagi calon Umma dan mencium pipinya. Hingga ia pun terbawa suasana dan menyusul terlelap.
Hoek-hoek.
Suara orang muntah membuat Rama terbangun dari tidur siangnya. Puput yang dipeluknya sudah tidak ada lagi di sisinya. Ia segera turun begitu mendengar lagi suara muntah yang berasal dari kamar mandi.
"Neng." Rama mengetuk pintu yang terkunci.
"Aa, keluar dari kamar! Aku mual-mual lagi. Tadi harusnya Aa duluan yang bangun." Teriak Puput dari balik pintu kamar mandi.
"Iya maaf, sayang. Aa kebablasan." Rama terkekeh. Bergegas keluar kamar sembari meminta tolong Cia membawakan air minum untuk Puput.
Rama harus pasrah sore harinya Puput pergi ke rumah Ibu Sekar untuk menginap. Sang istri diantar Cia dan Damar sekalian calon pengantin itu pergi malam mingguan ke kota. Pengganti rasa kesepiannya, malam hari bertelepon ria sekadar bertanya ingin mendengar suara istrinya itu yang akan tidur sekamar dengan Ibu.
Minggu pagi waktunya pulang ke Jakarta pun Rama harus legowo pisah mobil dengan Puput. Ia bertukar mobil dengan Mami Ratna yang memakai Alphard bersama Papi Krisna dan Puput. Ia bersama Cia dan Damar memakai mobil SUV keluaran Jerman. Semuanya pergi meninggalkan rumah tinggal Enin yang mengantar sampai teras bersama Ratih.
Belum ada perubahan selama tiga hari berada di rumah Jakarta. Puput tetap mual-mual, tidak mau dekat-dekat dengan Rama. Rasanya sungguh payah saat baru saja makan lalu tiba-tiba mual dan keluar semua yang baru saja masuk perut. Karena ulah suaminya itu yang tiba-tiba memeluknya sebelum berangkat kerja.
Melihat itu semua, Rama mengalah. Tidak lagi egois memaksakan keinginannya untuk selalu dekat dengan Puput. Sembari membaca artikel seputar kehamilan sebagai bahan edukasi untuknya.
"Nova, ke ruangan saya sekarang!" Ucap Arya mendahului sang sekretaris yang sudah membuka mulut untuk menyapa.
Nova membuntuti usai menganggukkan kepala. Ia duduk di hadapan sang boss yang sudah tiga hari ini irit bicara dan sedikit lesu.
"Nova, dulu waktu hamil gimana sih ngidamnya? Aneh-aneh gak?" Tanya Rama.
Nova mengerutkan kening. Mengira minta dibacakan agenda hari ini. "Dulu trimester pertama saya selalu mual muntah di malam hari. Terus....hm, jadi muncul kebiasaan baru. Suka sama bau keteknya suami," ujarnya dengan malu-malu mengatakannya.
Rama menghembuskan nafas panjang. Kenapa Puput berbeda, keluhnya dalam hati.
"Ngidamnya Bu Putri seperti apa emang, Pak?" Nova sudah bisa menebak jalan pikiran bossnya itu.
__ADS_1
"Istri saya udah hampir seminggu suka mual muntah kalo deke-deket saya. Jadinya kita di rumah pisah kamar. Kayak lagi gencatan senjata." Keluh Rama.
Nova berusaha menahan senyum. Raut wajah sang boss yang biasanya penuh wibawa, pagi ini seperti anak ayam kehilangan induknya.
"Sabar Pak Rama, biasanya cuma trimester pertama kok. Nanti kalo udah masuk 4 bulan bakalan biasa lagi. Itu sesuai pengalamanku." Nova berucap yakin.
"Istri saya sekarang masuk 8 minggu. Masa iya harus nunggu 4 minggu lagi biar bisa bobo bareng. LAMA." Rama melanjutkan sesi curhatnya. Mendecak.
"Eh,___" Nova bingung harus menanggapi apa.
"Mana wedding Damar sama Cia seminggu lagi. Masa iya saya gak bisa menggandeng istri. Beri masukkan dong, Nov. Kamu tuh diangkat jadi sekretaris karena pintar dan cekatan." Rama bersidekap tangan di dada.
"Eh,___" Lagi-lagi Nova bingung harus menjawab apa. Harus berpikir mengucapkan kalimat yang menyenangkan boss nya itu.
"Pak Rama, coba deh tanya pengalaman teman-teman sesama pria yang sudah punya anak. Saya yakin istri-istrinya mengalami ngidam yang berbeda. Nah, siapa tau ada yang sama dengan Bu Putri. Jadi bisa sharing."
Rama menautkan kedua alisnya sebagai bukti keseriusan berpikir. Tak lama menjentikkan jari sembari tersenyum lebar. "Huh. Kenapa saya bisa lupa punya grup hot daddy. Thank you, Nova. Kamu boleh keluar," ujarnya dengan wajah berubah semringah.
Nova tersenyum simpul. "Saya bacakan dulu agenda hari ini ya, Pak."
"Oke, Nov." Rama kembali bersikap cool. Menyimak sang sekretaris yang membuka Tab dan menerangkan agenda kerja hari ini.
...***...
Puput menghubungi Rama di jam istirahat. Untuk memastikan menu makan siang yang dikirimkan sudah dimakan atau belum. Panggilan teleponnya dirubah menjadi panggilan video oleh suaminya itu.
"Neng, ada apa?" Wajah Rama muncul di layar ponsel berikut box lunch yang sudah berjajar di meja.
"Mana mungkin menunda makan buatan istriku. Maknyus." Rama mengirim kecupan jarak jauh sebagai apresiasi tulusnya.
"Oh ya, soal nanti malam gimana? Aa belum ngasih jawaban." Ucap Puput beralih tema, mengingatkan. Semalam ia sudah bervideo call dengan Rama yang tidur di kamar bawah. Jika besok malam sabtu, adalah pesta pernikahannya Idam. Jika diizinkan akan pergi sendiri.
"Oh iya, Aa lupa. Boleh pergi tapi ditemani Bi Lilis ya. Bukan karena gak percaya, tapi Aa khawatir. Kamu kan lagi hamil, sayang."
"Iya, gak papa. Aku malah seneng jadi punya teman ngobrol. Inginnya pergi sama Aa tapi apalah daya..." Puput tersenyum kecut.
"Iya, sayang. Aa juga maklum kok." Rama tersenyum dan mengangguk.
Sambungan video sudah berakhir. Rama bersemangat menyelesaikan pekerjaan agar bisa pulang sore tanpa perlu membawa beban pekerjaan ke rumah.
Tiba di rumah jam lima sore. Segera mandi dikamar bawah dengan baju ganti yang sudah disiapkan Puput di atas kasur. Terlalu bersemangat ingin memulai chat di grup Brotherly Club yang memiliki rules dilarang membahas pekerjaan, grup just for fun. Dan biasanya mulai rame dari sore sampai malam dengan pembahasan gesrek. Karena rata-rata anggota grup mulai santai dari rutinitas pekerjaan.
[Assalamu'alaikum, para suhu. Curhat dong đ]
Rama mulai membuka obrolan yang masih sepi. Ia menata bantal di kepala ranjang agar lebih nyaman duduk santai.
Satya : [Wa'alaikum salam. Curiga butuh kopi buat maljum đ¤Ŗ]
William : [Kang kopinya lagi di Singapura. Minta ramuan sama si Iky aja, Bro]
Rama terkekeh sendiri membaca pesan balasan. Yang lainnya belum ada yang online. Ia segera mengirimkan lagi pesan.
[Bukan itu, Bro. Malah udah seminggu puasa. Istri lagi hamil muda. Ngidamnya gak mau dideketin. Mual muntah jadinya]
__ADS_1
[Tolong tipsnya, brother. Mana tahan tidur pisah kamar tiap hari âšī¸]
Arya : [Dulu istri gue malah sebaliknya. Pengennya nempel terus kayak perangko]
Ricky: [Istri gue malah nyeleneh. Gue tiap malam harus tidur pakai daster đ]
Mizyan: [đ¤Ŗđ¤Ŗđ¤Ŗ]
Nico: [đđ¤Ŗđ¤Ŗ]
Semua penghuni grup akhirnya bermunculan.
Mizyan: [Pak dokter....mana pak dokter. Kayaknya dia bisa bantu]
Ricky: [Pak dokter lagi nyangkul kayaknya]
Nico: [Wah, mau magrib masa nyangkul]
Rendi : [Sorry baru on. Pantes telinga gue panas]
Satya : [Noh...muncul. Kasih saran pak dokter. Kasian si bontot jadi jablay đ¤]
Rama terus-menerus terkekeh membaca semua pesan.
Rendi : [Tips dari gue. Lo harus jadi bayi besar, Ram]
William: [Lah, kan si Rama gak bisa deketin istrinya]
Pertanyaan Rama sudah diwakili oleh William. Ia urung mengetikkan pesan. Lanjut menyimak.
Rendi : [Maksud gue bayi besar beneran bukan anu ih. Coba lo mandi pakai sabun bayi, abis tuh baluri tubuh pakai minyak telon. Jadi bener-bener aroma bayi dah]
Nico: [Hihihi kok jadi geli ngebayanginnya. Parfum telon]
Arya : [Haha...Demi bisa anu harus rela jadi bayi berkumis ya bro. Moga aja tips pak dokter manjur]
Rama: [Gak masalah, broh. Gue akan coba. Daripada tiap hari gegana cuma bisa mandang istri dari jauh. Makasihnya nanti ya kalo sukses đđđ]
Suara Puput yang memanggil sembari mengetuk pintu, bersamaan dengan Rama yang menyudahi chattingannya.
"Aa, magrib." Suara Puput kembali terdengar mengingatkan.
"Iya, Umma. Otewe ke masjid." Sahut Rama dari balik pintu.
Rama bersiap mengenakan baju koko serta celana panjang. Keluar kamar dan menyambar kunci motor dari dalam laci di ruang kerjanya. Pulang dari masjid akan ke minimarket yang ada di depan komplek. Penasaran ingin mempraktekan saran dokter Rendi. Menjadi bayi besar.
"Mbak, pilihin sabun bayi yang paling bagus. Sama minyak telon yang paling bagus juga." Ucap Rama begitu tiba di depan kasir Indo April.
"Sabun cair atau batang, Mas? Minyak telon ukuran yang mana?" Tanya kasir dengan ramah.
Rama menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Bingung harus memilih. "Cair sama batang aja deh coba 2 dulu. Minyak telonnya yang 2 liter aja."
Mbak kasir sejenak melongo. Lalu kemudian berusaha menahan tawanya.
__ADS_1