
Jam 7 pagi, Via sudah menyembulkan wajah di rumah Puput. Apalagi kalau bukan ingin tahu tentang dinner semalam. Keriaannya berteriak seperti suporter bola begitu heboh sampai terdengar ke lantai bawah. Dimana Aul dan Ami tengah berbagi tugas pekerjaan rumah.
"Alhamdulillah, Siput. Aku seneng banget tau. Akhirnya doaku terkabul. Kamu bakal jadi nyonya mboss. Hihihi----" Via terkikik riang. Kasur yang sudah dirapihkan, spreinya acak-acakan lagi karena Via gak bisa diam saat menyimak cerita Puput.
"Mana-mana... lihat cincinnya!" Via terkesan dengan cerita Pupit soal cara Rama menyatakan perasaan. Sungguh gentleman.
"Ow em ji....cantik banget cincinnya." Via mengambil cincin dalam kotak hitam, mengamati dengan seksama, lalu mencobanya. "Hwuaaa jiwa misquenku meronta, Siput...ini sih diamond asli. Adi mana mampu beliin kayak gini. Bisa jual ginjal dia." sambungnya sambil memutar-mutar cincin sehingga kilaunya semakin hidup.
"Emang harganya berapa?! Masa sampe harus jual ginjal segala." Puput yang sama sekali awam, mencemooh perkataan Via yang menurutnya lebay. Ia bersiap memulai ritual maskeran wajah dengan melakukan peeling terlebih dahulu.
"Aku gak tahu ini berapa karat. Tapi taksiran harga sih di atas 20."
"Dua juta mungkin." Sahut Puput sambil menggosok perlahan wajah yang sudah dipakailan krim peeling. Berguna untuk merontokkan sel kulit mati sehingga kulit menjadi wajah menjadi halus.
"Dua puluh jutaan lebih....bukan dua juta."
"Bohong ya!" Todong Puput yang jelas kaget mendengar harga tersebut. Sampai menghentikan memijat wajah dengan mimik tidak percaya.
"Kalau gak percaya minta noh surat pembeliannya sama Aa Rama."
"Dih...enak aja ganti manggil Aa. Aku aja belum kepikiran ngerobah panggilan." Puput mendelik sewot, tidak terima.
"Hadeuuh...." Via menepuk jidat. "Kirain dah punya ayang gelar miss Lola bakal berubah. Tetap aja jadi siput. Mulai mikirin dong ngasih panggilan mesranya mau apa."
"Apa ya...?! Ah nanti aja lieur." Puput tidak mau pusing. Untuk saat ini perawatan wajah lebih penting. Bukan karena mau kedatangan Rama. Tapi sudah menjadi rutinitasnya dua minggu sekali. Apalah daya, pergi ke klinik skin care harus berpikir 100 kali. Keuangan yang ada di tabungannya harus dibagi-bagi untuk membantu biaya sekolah ketiga adiknya.
"Put, denger ya!" Via kini memasang wajah serius. "Kak Ram rela memberimu cincin yang mahal ini, itu tandanya dia serius suka sama kamu. Jaga cincin ini bukan hanya karena berharga tapi juga karena hatinya yang diberikan padamu."
Puput terdiam merenungi ucapan Via. Terkadang dibalik sengkleknya mereka berdua, saat hal serius bisa saling bijak mengingatkan.
"Oke, mak. Eneng denger dan Eneng patuh." Puput mengangguk serius. Mencium tangan Via yang berbuah jitakan di kepalanya. Kekonyolan itu membuat keduanya tertawa bersama.
"Sekarang mah kamu telpon Adi. Nanti jam satu aku undang kamu dan Adi ikut makan siang disini. Aa eh apa ya....ah pokoknya dia juga mau datang." Puput masih bingung memilih panggilan untuk Rama. "Sekalian aku pengen ngenalin. Biar dia tahu siapa-siapa temen deket aku." sambungnya yang disambut Via dengan tepuk tangan girang.
...***...
Cia memutuskan berangkat pagi dari rencana awal akan berangkat siang. Melihat berita di media sosial juga televisi jika sampai hari ini pun masih terjadi kemacetan di jalan raya. Kopernya sudah masuk ke bagasi mobil Damar. Semua keluarga mengantar sampai teras.
"Cia sayang, yakin gak takut di rumah sendirian?! Bi Lilis udah Mami telepon. Paling bisa lusa datangnya. Mami sama Papi senin baru bisa pulangnya." Mami Ratna bertanya untuk kesekian kalinya. Memastikan anak gadisnya yang keukeuh mau pulang ke rumah tidak mau nginap di rumah orangtua Damar.
__ADS_1
"Mami jangan khawatir. Aku udah gede...udah gak takut hantu, Mam." Cia memang dulunya penakut. Tidak berani jika ditinggal di rumah sendirian. Sehingga sering mengajak ART untuk menemaninya tidur di kamar jika orangtuanya bepergian ke luar kota.
"Papi udah telepon Parto buat siaga jaga rumah. Jangan menerima tamu kalau bukan teman-temannya Cia." Papi Krisna sudah menghubungi salah satu security yang shift liburnya senin depan.
"Damar, Om percayain Cia sama kamu. Tolong nitip Cia sebelum Om sama Tante tiba di Jakarta!" Papi Krisna menepuk bahu Damar. Sahabat anaknya itu sudah dipercaya penuh bukan hanya di perusahaan tapi juga di keluarga.
"Tenang, Om. Pasti aku akan jaga Cia." Damar menjawab yakin. Tanpa dipinta pun tentu akan menjaga dan melindungi orang spesial di hatinya itu.
"Idih, Papi. Ngomongnya kayak nitipin balita aja." Cia geleng-geleng kepala. Tapi hatinya senang memiliki keluarga yang penuh perhatian dan kasih sayang.
"Karena kamu anak gadis Papi satu-satunya. Sangat berharga makanya harus dijaga!" Krisna menguyel-nguyel rambut di puncak kepala Cia. Gemas dengan protes si bungsu.
Rama menutup kap mobil milik Damar. Membantu memastikan kondisi mobil mulai dari rem dan bagian komponen lainnya. Perjalan jauh serta akan melewati jalur tanjakan Gentong yang berbelok-belok, kondisi mobil harus fit.
"Semuanya oke. Kalian hati-hati di jalan. Jangan lupa berdo'a dulu!" Rama memeluk bergantian Cia dan Damar. Melepas kepergian mobil sampai keluar meninggalkan pekarangan.
"Andainya Cia mau sama Damar, Enin mah setuju. Damar laki-laki baik...udah seperti cucu Enin juga."
Semua keluarga minus Panji yang sudah berangkat ke Bandung, mendengar ucapan Enin yang berbicara setengah menerawang. Yang duduk di kursi goyang, menjadi singgasana kesayangan.
"Tapi Cia udah milih Adit, Bu. Sejauh ini aku lihat Adit orangnya baik dan sopan." Ratna yang menanggapi. Rama hanya mencerna dalam diam. Bukannya tidak sepemikiran dengan Enin. Tapi kebahagiaan sang adik yang utama. Ia melihat Cia yang bahagia dengan laki-laki pilihannya sendiri, Aditya.
Usai melepas anak gadinya, Ratna mengajak sang suami masuk ke kamar.
"Papi udah menunggu dari semalam. Sampe gak bisa tidur. Mami kemarin nemuin Kartika, kan?!"
Ratna terkaget mendengar jawaban Krisna yang datar. Baru memperhatikan wajah sang suami ternyata benar kurang segar.
"Papi tahu dari Mang Ade?!" Tebakan Ratna mendapat anggukkan Krisna.
"Kenapa semalam gak nanya?!" Ratna menatap menyelidik.
Krisna menghela nafas panjang. Pandangannya lurus ke depan dengan mimik lesu. "Gak ada tenaga. Karena mungkin Mami sengaja ingin membalas ketidakjujuran Papi selama ini."
Ratna menyentuh pundak suaminya itu. Sehingga kini Krisna menatap kepadanya.
"Papi gak boleh su'udzon. Bukan itu alasan Mami belum bicara. Tapi sikon belum pas. Semalam kan ngobrol lama sama Ibu. Makanya sekarang ini dirasa pas untuk bicara."
Ratna meraih tangan Krisna. Menyimpannya di dada. "Maafin Mami, Pi. Mami hanya wanita biasa yang sulit untuk ikhlas saat tahu suaminya pernah mendua. Meskipun itu karena jebakan orang lain."
__ADS_1
"Kemarin pulang dari mall, langsung menuju rumah mang Ade. Emang sebelumnya sudah niat. Maaf tidak ngasih tahu dulu....karena takut Papi gak ngijinin."
Krisna menurunkan tangannya. Beralih menggenggam tangan Ratna. Menyimpan di pangkuannya. Tak menanggapi. Ia menunggu sang istri melanjutkan cerita.
"Sekarang Mami sudah plong setelah ketemu dan berbicara dengan Kartika. Dia....terlihat menyedihkan ya. Mami jadi kasihan."
Ratna menarik nafas panjang. Menghembuskan perlahan. "Sekarang Mami sudah percaya penuh lagi dengan kesetiaan Papi. Maafin Mami....udah ragukan kejujuran Papi." Ratna memeluk sang suami. Dengan tulus meminta maaf.
Krisna balas memeluk dengan erat. Ia yang sebulan lebih bersabar melihat sang istri yang kadang jutek, kadang mendengar sindiran-sindiran halus. Kini bahagia melihat sikap Ratna sudah kembali seperti dulu.
...***...
Ratna menuju kamar sang adik, Ratih. Keputusannya bulat ingin menolong Kartika. Sudah dibicarakan dengan Krisna. Dan suaminya itu menyerahkan dan mempercayakan keputusan padanya.
"Jika niatnya tulus ingin menolong, Papi ijinin."
Berbekal restu itu, disinilah Ratna berada. Berbicara empat mata bersama Ratihnyang bersiap pergi ke butik.
"Ratih....Teteh minta lowongan kerja untuk satu orang. Dia masih familinya Mang Ade, mantan sopir dulu."
"Laki atau perempuan?!" sahut Ratih.
"Perempuan. Dia janda, gak tahu umurnya berapa. Belum lama ini anak satu-satunya meninggal."
"Innalillahi....kasihan sekali." Ratih menanggapi dengan mimik empati.
"Makanya Teteh juga kasihan. Apalagi sekarang kerja di kampung jadi petani serabutan, malamnya ngajar ngaji. Jadi kelihatan tua karena keadaan. Padahal sebenarnya dia menarik."
"Teteh ingin dia mendapat pekerjaan lebih layak. Kayaknya kerja di butik kamu cocok. Biar urusan gajih dia Teteh yang bayar. Siapa tahu ketemu jodoh juga di butik."
"Sampe segitunya Teh nolongin dia. Eh dia itu siapa namanya?!" Ratih merasa perlu tahu nama orang yang tengah dibicarakan itu.
"Namanya Kartika."
...***...
Bestiee....jan lupa lagi ya sentuh Like....like....Like.
Kisah Kartika aku skip sampai sini. Karena akan ada story khusus tentang janda berusia 37 tahun itu. Dengan judul novel KARTIKA.
__ADS_1
Bocorannya sudah ada di ig @me_niadar.
Nantikan pengumuman rilisnya di ig juga.