
Dua petarung yang sudah saling berhadapan urung memulai. Karena ada break tambahan selama 10 menit. Sepertinya panitia tengah mendiskusikan sesuatu hal.
Atmosfer di area pendopo mulai terasa menegangkan bagi yang menonton. Antusiasme yang sangat tinggi sekitar 60 orang penonton yang diantaranya adalah mantan peserta yang kalah. Bagaimana tidak, dua petarung yang masuk final adalah gender yang berbeda. Nama Putri Kirana tidak masuk dalam prediksi mayoritas orang. Sama sekali tidak dijagokan karena perempuan. Mengira akan bertahan sampai babak semi final. Tapi Leo yang menjadi lawan Puput, yang merupakan utusan dari padepokan Garut, memang dari awal sudah dijagokan. Mengingat ia pernah menjadi juara dua pertandingan silat resmi tingkat nasional.
Kasak kusuk obrolan bisik-bisik segelintir orang yang berjudi sama pula tegangnya. Belum ada yang taruhan memilih Putri Kirana. Semua penjudi pro Leo. Belum ada yang mau ambil resiko untuk kalah jika harus memilih Putri.
"Ini yang bener aja. Bisa batal taruhan kalo gak ada yang milih si Putri. Cepetan...dah mau mulai nih!" Inisiator taruhan berkata pelan pada tiga kawannya yang berniat ikut taruhan.
"Oke, 500 ribu an ya. Gue milih Putri. Biarin kalah juga...kehibur sama wajahnya yang geulis. Siapa tahu mau diajak kenalan." Seorang berkaos abu mengeluarkan uang lembaran merah diserahkan kepada sang inisiator.
"Maneh jangan mimpi. Tuh liat yang ngawalnya itu calon lakinya, tadi uing ngadenge (saya dengar)." Timpal seorang yang memakai topi hitam.
Membuat dua rekan lainnya mentertawakan. "Dah lah...wajah lo diobral di kaki lima juga gak akan laku. Apalagi mau jadi saingan onoh." Semua masih memperhatikan ke arah Rama yang tengah berbicara berbisik dengan Puput. Jadilah taruhan 500 ribuan dilakukan empat orang. Tiga lawan satu.
"Mohon perhatian rekan-rekan semua!" MC mengambil peran di menit-menit akhir pertarungan dimulai. "Ada tiga orang partisipan yang akan menambah hadiah buat jawara 1. Silakan kepada yang bersangkutan untuk mengumumkan sendiri."
Tidak hanya penonton yang memusatkan perhatian kepada tiga orang senior yang kini berdiri di tengah arena, pun Puput dan Leo yang duduk di dua sudut berbeda.
"Sebelumnya terima kasih kepada kang Acil yang telah sukses mengadakan event Jawara SILATurahmi sekaligus dalam rangka halal bihalal dan ulang tahun beliau. Sebagai rasa bangga dan respect, saya akan menambah hadiah buat jawara 1 sebesar dua juta rupiah." Partisipan pertama menyampaikan prakatanya. Ditanggapi dengan tepuk tangan dari hadirin.
Partisipan kedua mengambil alih mic. "Dari saya juga sama. Dua juta rupiah." Kembali disambut riuh tepuk tangan.
Partisipan ketiga yang merupakan pengusaha asal Tasik menerima uluran mic. "Kalau dari saya, sebagai respect adanya pendekar perempuan yang sampai di level tertinggi. Maka jika Putri yang menjadi jawara, ini motor Vario saya hadiahkan untuknya." Sambil mengacungkan kunci motor dan STNK. Riuh tepuk tangan hadirin semakin membahana mendengar hadiah menggiurkan itu.
"BPKB nya masih di leasing ya, kang?" Celetuk seorang penonton yang membuahkan derai tawa hadirin.
"Ini motor beli cash. BPKB aman di rumah. Gampang...nanti akan menyusul dikirim." Jawab partisipan tenang menanggapi celutukan penonton.
Kerisauan malah menimpa Rama. Menatap Puput yang menanggapi pengumuman dengan tersenyum lebar dan mata berbinar. "Neng, sayang. Jangan ambisius. Ingat seperti yang kamu bilang tadi. Nothing to lose. Tanpa predikat juara satu pun kamu tinggal bilang pengen mobil terbaru merk apa? Aku beliin!"
Puput menatap Rama dengan sorot penuh sayang. "Makasih udah diingetin. Gak usah mobil. Beri aja ucapan manis kayak tadi buat booster." Kedua alisnya dinaikkan ke atas.
"Love you, Neng. The first winner in my heart. Semangat, sayang!" Rama menepuk-nepuk punggung tangan Puput, mentransfer motivasi untuk booster sang kekasih hati.
...***...
Dua pesilat dari sudut berbeda kembali ke tengah arena yang dilapisi matras setebal 1 cm. Body protector sudah terpasang di tubuh masing-masing. Tak lupa pelindung kema luan telah pula dipakai oleh pesilat. Berdiri tegak dan membungkukkan badan memberi hormat kepada pendamping, juri, dan ketua pertandingan. Wasit mulai mengingatkan aturan yang harus dipatuhi. Jika melanggar akan didiskualifikasi.
Puput lebih fokus memindai lawannya untuk mengatur strategi. Ia dengan tinggi 162 cm menghadapi Leo yang ditaksir tingginya 175 cm. Dalam hitungan detik otaknya harus membuat keputusan cerdik. Menyerang atau bertahan.
Wasit memberi aba-aba. Ajang prestise siap dimulai. Penonton mengunci mulut, terbius ke arah dua petarung yang mulai memasang kuda-kuda. Dua orang juri harus lebih jeli membuat penilaian. Karena babak final lebih fokus pada kesempurnaan jurus dan teknik.
Zaky siaga di samping Rama. Mereka menonton di jajaran depan sebelah kanan sesuai sudut Puput berada. Fokusnya harus terpecah dua, ke arena dan ke Rama. Karena sebelumnya Puput sudah memberinya tugas.
"Zaky, jagain Kak Rama. Dia belum pengalaman nonton silat. Jangan sampai Kak Rama deketin Teteh. Tahan sampai ronde akhir!"
Dan ia melihat raut ketegangan di wajah Rama. Menggigit bibir dan menahan nafas saat ronde pertama, tendangan lawan hampir mengenai dada Puput.
"Kak, duduk aja! Teteh udah ada kang Aris sama Teh Aul." Zaky menahan setengah menekan paha Rama yang akan bangkit menemui Puput disaat break menuju ronde kedua.
"Tapi----"
__ADS_1
"Biarin Teteh fokus, Kak. Ada Kang Aris yang jadi penasehat." Zaky dan Rama sama-sama menatap ke arah Puput yang tengah mendengarkan arahan Aris. Dan Rama terpaksa menurut. Apalagi waktu istirahat memang singkat hanya 1 menit.
Gong dipukul. Ronde kedua dimulai.
Puput mulai enjoy tidak seperti saat ronde pertama yang sedikit tegang dan hampir kehilangan poin jika tendangan Leo sampai mengenai body protectornya. Ia berhasil mengelak dengan menyuguhkan teknik pembelaan dengan memperhatikan pola langkah kembali ke awal. Durasi babak final lebih singkat hanya 1,5 menit setiap rondenya, harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Ayo serang, Leo.
Puput menantikan aksi Leo yang memasang kuda-kuda samping. Sudah bisa terbaca akan serangan pukulan penuh tenaga itu siap menyerangnya. Dan.....
Aksi pembelaan dimulai. Puput tidak lagi mengelak. Menangkap tangan Leo, melakukan serangan balik. Melakukan beberapa teknik serangan tangan dan tendangan kaki dengan cepat dalam hitungan detik. Leo bukanlah lawan ecek-ecek. Ia pun mendapatkan perlawanan dan tangkisan cepat. Segera merubah pola langkah sambil memasukan pukulan ke arah rusuk kanan lawan. Dan...
"BERHENTI!" Wasit mengultimatum. Saatnya break 1 menit menuju ronde ketiga. Babak akhir penentuan.
Keringat yang mengucur di kedua dahi Rama diabaikan. Rasanya lupa berkedip menyaksikan skil kedua pesilat yang nampak seimbang itu. Tentu saja yang ia khawatirkan adalah Puput. Doa terus dirapalkan dalam hati agar sang kekasih baik-baik saja.
Gong babak penentuan dipukul kembali. Gaungnya menambah aura tegang terhadap semua penonton yang nampak menghembuskan nafas panjang. Siapakah sang jawara baru SILAT-urahmi tahun ini.
Bismillah... la hawla wala kuwwata illaa billaah.
Setiap memulai ronde, Puput tak lupa membaca doa di dalam hati. Babak pamungkas 1,5 menit ke depan menjadi penentuan. Ia bersiap membentuk pola langkah tanpa melewati garis batas.
Ia tidak menunggu serangan Leo. Kali ini berinisiatif menyerang lebih dulu. Duel yang seimbang kembali disuguhkan. Menyerang, mengelak, saling menangkis dan membalikkan serangan dengan cepat.
Teknik pamungkas hasil gemblengan sang ayah, yang belum pernah dikeluarkan jurusnya. Kini disuguhkan Puput. Secepat kilat dengan pekikan keras, kekuatan penuh di kaki kanan, dengan gerakan memutar setengah terbang, tendangan lurus kakinya full power berhasil mengenai punggung lawan.
Leo limbung. Dimanfaatkan Puput didetik-detik terakhir dengan memasukkan teknik guntingan dan kuncian. Menjepit tungkai kaki sehingga Leo terjatuh dan menguncinya dengan menekan lutut di punggung lawan.
Dengan nafas terengah-tengah kedua pesilat kembali ke sudut masing-masing. Disambut para pendamping. Aul sigap memberikan botol minum untuk Puput.
Zaky masih siaga mengawal Rama. "Sabar dulu, Kak. Belum boleh. Nanti ngurangin poin Teteh lho. Tunggu dulu pengumuman pemenang!" ujarnya menakuti Rama agar jangan dulu menghambur menemui Puput.
Rama mengusap wajah kasar. Memang sudah tak sabar. Rasanya ingin sekali memeluk Puput. Andainya punya penyakit jantung mungkin dari tadi sudah anfal saking tegangnya. Total durasi 9 menit yang menguras emosi jiwa.
Juri telah berunding. Wasit melangkah ke tengah arena memanggil kedua petarung untuk berdiri di samping kiri dan kanannya. Wasit memegang lengan keduanya. Semua penonton seolah menahan nafas. Menunggu siapa yang akan menjadi pemenang. Mengingat aksi petarung secara kasat mata nampak imbang.
Gemuruh tepuk tangan dan teriakan riuh terdengar saat wasit mengangkat tangan Putri Kirana. Mengukuhkan sebagai jawara baru SILATurahmi.
...***...
"Darah silat Kang Ramdan benar-benar nurun sama kamu, Put. Hebat." Kang Acil menjamu khusus sang juara beserta keluarga di mejanya. Semua orang tengah menikmati hidangan prasmanan makan siang. Penyerahan penghargaan sudah diberikan. Uang tunai 10 juta untuk jawara 1 berikut tropi bergilir. Uang tunai 6 juta dan 3 juta masing-masing untuk jawara 2 dan 3.
Puput menanggapi dengan tersenyum. "Semua adik juga belajar silat. Zaky terpilih ikut porda, kang." melirik sejenak ke arah Zaky yang anteng menekuri piringnya.
Kang Acil mengangguk-ngangguk. "Bagus. Keturunan Kang Ramdan harus terus berprestasi." Ia mengenang kebersamaan dulu dengan almarhum ayahnya Puput yang menjadi seniornya di padepokan.
"Ngomong-ngomong, mau nikah kapan ini teh? Jangan lupa undang semua member." Kang Acil beralih topik. Menatap silih berganti Puput dan Rama.
"Insya Allah tahun ini. Tunggu aja undangannya dari kami." Rama mantap menjawab. Tersenyum miring terhadap Puput yang menoleh dan menatapnya dengan raut terkejut.
Acara selanjutnya membuat Rama harus mengelus dada, tetap tersenyum ramah, meski hati keki. Betapa tidak, orang-orang dengan seragam serba hitam berlogo warna oren dengan tulisan SILAT-turahmi antri ingin berswafoto dengan Puput. Ada yang foto rame-rame, ada yang selfie berdua, ada pula yang memintanya menjadi kang foto. Puput bak selebritis baru.
__ADS_1
"Maaf, agak renggang, Mas!" Rama menegur seorang pria yang ingin selfie. Yang menurutnya terlalu rapat ke lengan Puput. Ia bak bodyguard yang siaga mengatur jarak aman untuk special person yang dikawalnya.
"Put, tunggu!" Leo menahan langkah Puput yang tengah berjalan menuju parkiran. "Aku cari-cari di dalam. Kenapa gak bilang kalau mau pulang? sambungnya yang juga mendapat tatapan Rama dan Aul. Sementara Zaky mendapat tugas membawa pulang vario, hadiah dari partisipan.
"Ini hadiah kamu!" Lanjutnya lagi menjegal Puput yang akan bersuara.
Puput menggeleng. "Gak usah, Leo. Itu hadiah kamu. Aku tadi gak serius kok."
"Seorang ksatria pantang ingkar janji." Lugas, Leo masih mengulurkan amplop agar diterima Puput.
"Dan ksatria sejati tidak pernah berjudi." Telak, Puput membalikkan serangan balasan. Membuat Leo speechless.
"Itu hadiah hak kamu. Alhamdulillah hadiahku cukup besar. Permisi ya, aku pulang duluan!" Puput meninggalkan Leo yang masih mematung. Pria itu tidak menyangka dengan jiwa ksatria yang dimiliki Puput.
Kamu memang pantas dinobatkan sebagai jawara.
Ia menatap laju pajero hitam yang melaju keluar gerbang.
"Teteh, emang tadi sama Leo taruhan?!" Aul mengungkapkan penasarannya setelah mobil melaju jauh meninggalkan kediaman kang Acil. Melewati jembatan yang dibawahnya adalah sungai citanduy yang airnya mengalir deras dan bergemuruh setelah semalam hujan lebat.
"Iya. Si Leo yang nantangin duluan." sahut Puput yang duduk di samping sang driver.
"Apa taruhannya?!" Aul semakin ingin tahu. Menggeser duduk ke jok sebelah kanan agar dapat melihat wajah sang kakak dari samping.
"Kalau Teteh menang, hadiah runner up semuanya akan diberikan."
"Kalau kalah?!" Desak Aul karena Puput tak lantas melanjutkan cerita.
"Kalau Teteh kalah, harus mau diajak dinner dan nonton sebanyak lima kali."
Mobil yang dipinggirkan mendadak diiringi pengereman mendadak pula karena diinjak sekaligus oleh Rama, mengagetkan Puput dan Aul. Sampai badan terdorong ke depan. Beruntung bisa menahan karen tadinya laju mobil berada pada kecepatan 40 km/jam.
"Astaga. Taruhan seperti itu kamu terima?!" Rama mengabaikan gerutuan Puput. Lebih kaget setelah menyimak obrolan Puput dan Aul barusan.
"Coba kalau bilangnya tadi. Akan aku damprat itu si Leo."
"Sabar....sabar. Kan akunya menang." Puput berkata lembut. Berusaha meredam kekesalan Rama.
"Tapi kan kalau kalah. Kamu harus dinner dan nonton sama itu cecunguk. ENAK AJA!" Rama meradang, masih tak terima.
Aul mulai tegang karena menjadi penonton dialog dua orang di depannya.
"Jangan berandai dong, Aa. Kan itu gak terjadi. Kalaupun terjadi, pasti dinnernya minta dikawal sama kamu." Puput tersenyum miring. Masih berusaha merayu yang lagi ngambek.
"Aku masih gak terima." Rama menggeleng dengan wajah ditekuk. "Apa sebaiknya aku telpon Mami sama Papi biar besok bisa datang rame-rame ke rumah kamu?!
Puput menatap dengan kening mengkerut. "Mau demo?! Sampe segitunya ih." giliran ia yang kesal. Menganggap Rama childish. Melipat tangan di dada dan memalingkan wajah ke arah kaca jendela.
Aul yang mendengar sampai terkaget dan menganga. Ingin menyela ucapan sang kakak yang salah faham.
Ihh si teteh miss lola.
__ADS_1
Hanya membatin, karena melihat Rama menghembuskan nafas panjang.