
"Jangan bilang kamu suka sama gadis itu."
Andreas menoleh ke samping dimana ibunya sudah berdiri sejajar. Tangannya menyugar rambut ke belakang dengan senyum meringis. Ia tidak mengelak karena sang ibu sangat tahu karakternya.
Pemuda sipit itu merangkum bahu Mami tercintanya. Berjalan santai meninggalkan tempat itu. Tanpa ragu mencurahkan isi hatinya seperti berbicara kepada teman dekat. "Mami, padahal aku tiap hari biasa ketemu cewek-cewek berjilbab. Di sini aja berseliweran. Tapi yang barusan itu punya pesona beda. Kesan pertama yang hmm gimana ya. Kayak dia yang di Bandung..."
Maminya terkekeh. Mengusap punggung sang anak yang membawanya memasuki gerai pakaian branded. "Sudah Mami bilang kalau suka tipe perempuan seperti itu jangan setengah hati. Harus dimulai dengan menyamakan pedoman hidup. Pokoknya, apapun yang bikin kamu happy, Mami akan dukung. Masa seumur-umur pacarannya sama nenek tua gini." Pungkasnya diiringi decakan. Membuat anaknya itu tertawa lepas dan mengecup rambutnya.
Biarkan obrolan ringan yang terus mengalir itu menjadi milik mereka berdua. Sepasang ibu dan anak yang penuh kasih.
Saaf ini Puput tengah diliputi resah karena belum ada kabar dari Rama. Sengaja selama makan, ponselnya ditaruh di meja agar bisa leluasa melihat layar. Namun sampai berlanjut salat Duhur pun, telepon atau pesan dari nomor luar negeri belum ada juga.
"Cia, kenapa Kak Rama belum ngabarin ya? Secara hitungan waktu harusnya dah sampe kan?" Puput mengemukakan kegundahannya sambil berdiri menunggu Mami yang tengah berada di toilet.
"Hmm, mungkin lagi otewe ke apartemen. Tenang, Teh. Pasti bakal ngabarin kok." Cia dengan yakin menenangkan kakak iparnya itu.
"Kita lanjut belanja ya!" Ujar Mami yang menghampiri keduanya.
"Gaskeun, Mam. Asal Mami yang bayarin." Cia terkekeh sambil bergelayut di lengan Mami yang merespon dengan memanyunkan bibir. Membuat Puput pun terkekeh dan berjalan di sebelah kiri.
Mami bukan hanya mentraktir dua anak perempuannya itu tapi juga membelikan oleh-oleh untuk besannya serta ketiga adiknya Puput. Bahkan Puput mendengar percakapan mertuanya itu dengan Bibi Ratih yang membahas skin care juga menyebut nama Kartika. Nama yang masih asing di telinganya.
Waktu terasa cepat bergulir selama menikmati kebersamaan di mall. Tak terasa sudah sore. Jam lima sore barulah ketiganya pulang dengan tangan penuh tentengan. Saat mobil separuh jalan meninggalkan mall, ponsel yang sedari tadi digenggam Puput berdering dengan tampilan panggilan video dari nomer asing kode negara + 1. Senyum lebar menghiasi wajah cantiknya saat menggeser icon jawab dengan tangan gemetar.
"Assalamu'alaikum, sayang." Rama tersenyum manis.
Jantung Puput berdebar kencang menatap wajah yang dirindukannya itu tampil di layar. Meski terlihat lelah namun tetap terlihat tampan.
"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah...aku nunggu kabar Aa dari tadi." Sahut Puput yang kini terlihat lega dan semringah.
"Rama, kamu udah sampai, nak?" Mami menyahut riang setelah mendengar jelas percakapan anak dan menantunya itu. Membuat Puput mengarahkan layar ponselnya ke arah Mami. Kemudian Cia pun ikut bersuara dari jok belakang.
Obrolan ringan mengalir dengan semuanya ikut nimbrung. Rama menceritakan jika baru tiba di apartemen setengah jam yang lalu. Sambungan video itu tidak berlangsung sekadar untuk memberitahu agar istri dan keluarganya tidak khawatir. Ia tiba dengan perjalanan yang lancar dan selamat sampai tujuan. Lalu berjanji akan menghubungi lagi Puput nanti malam waktu New York.
__ADS_1
...***...
Malam selepas makan menjadi quality time tiga orang wanita dalam rumah dengan furnitur serba modern itu. Mami mengajak Puput dan Cia duduk bersama di ruang perpustakaan. Bukan hanya banyaknya koleksi buku yang memenuhi lemari berbahan kayu. Tapi juga tempat menyimpan dokumen dan album foto keluarga.
"Ini album foto Rama dari lahir sampai besar. Mami sendiri yang nyusunnya. Kalau yang ini album foto Cia. Satunya lagi foto keluarga."
Puput menerima uluran tiga album besar yang diambil Mami dari laci. Album berwarna hitam milik Rama lebih dulu dibukanya dengan antusias. Lembar pertama adalah beberapa foto bayi montok dalam beberapa pose photoshoot berikut nama dan tanggal lahir. Lucu dan menggemaskan. Penuh senyum Puput mengamatinya.
Lembar-lembar berikutnya adalah pertumbuhan Rama dari masa ke masa. Transformasi wajah tampan dari masa ke masa yang ternyata Rama pernah berambut gondrong sebahu saat kuliah S1. Membuat mata Puput membelalak. Dalam album ini barulah ada pose suaminya itu yang mejeng di atas motor sport dengan balutan jaket kulit warna hitam dan kacamata hitam. Bak foto model.
"Kalau aku dulu pernah gendut waktu SMP kelas 9 sampai SMA, Teh. Di sekolah kenyang dibully. Untung punya dua bodyguard yang siaga melindungi. Kak Rama sama Kak Damar." Cia lebih dulu menjelaskan saat Puput mulai melihat album coklat miliknya.
"Heran, selalu ada aja ya orang yang body shaming. Merasa diri paling sempurna gak ada cela. Dulu juga Aul ngalamin gini waktu SD dia gemuk. Pulang-pulang sering nangis dan pengen pindah sekolah."
"Lama-lama aku cegat di jalan teman sekelasnya Aul itu, ada 2 cowok dan 1 cewek pelakunya. Yang 2 cowok aku kasih pelajaran pakai jurus tendangan sampai jatuh dan aku ancam sampai ketakutan. Sejak itu Aul aman dari bullyan deh." Puput terkekeh mengenang cara perlindungannya dulu pada adiknya. Ia dikenal tomboy dan galak.
"Widih kakak yang keren ini mah." Cia mengacungkan dua jempolnya. Takjub.
"Wahhh gak nyangka mantu Mami ini pendekar yang sangar juga. Tapi bagus tuh biar Rama takut kalau ada godaan cewek di luar. Takut dihajar istrinya nih." Canda Mami yang disambut tawa Puput dan Cia.
Subuh menyapa. Puput memutuskan salat dulu dan melanjutkan packing baju juga oleh-oleh dalam satu koper. Kemeja putih dan navy yang pernah dipakai Rama kemarin ini, dibawanya sebagai pengobat rindu. Jam 8 nanti ia akan berangkat pulang bersama Dwi.
Ponsel yang tersimpan di meja rias berdering usai Puput menyegarkan tubuh. Masih berbalut handuk, ia melihat nama yang tertera di layar. Senyum tipis tersungging di bibir saat nama "Suamiku" tampil melakukan panggilan video. Ia menerimanya dengan berucap salam.
"Aduh, kamu menggodaku, Neng!" Rama menggeram, meremas rambut usai menjawab salam sang istri. Dengan lidah menjilat bibir.
Puput terkekeh. "Aku baru mandi. Kalau Aa nggak kuat tunggu ya, aku pakai baju dulu." Padahal ia memang ada niat menggoda suaminya itu.
"No. Aku suka pemandangan ini." Rama beralih naik ke ranjang. "Aku jet lag, sayang. Dari tadi beres-beres barang sengaja biar ngantuk. Tapi belum bisa tidur sampe sekarang. Di sini baru jam 10 malam."
Puput menatap dalam, wajah yang kurang segar itu. "Aku harus bantu apa biar Aa bisa tidur?"
"Buka handukmu!"
__ADS_1
"Hah?!"
"Jangan mangap gitu, Neng. Aku jadi pengen nyium." Rama terlihat gemas sendiri. Menggigit bibir.
Membuat Puput cepat melipat bibir dengan wajah tersipu.
"Aku mau liat buah....dan semuanya. Pintu kamar di kunci kan, sayang?" Suara Rama memberat dalam damba. Bahkan sorot tajamnya berubah sayu.
Puput mengangguk. "Pintu di kunci. Tapi aku malu ah buka handuknya. Aa di apartemen sama siapa?"
"Aman, Neng. Aku tinggal sendiri. Ben tinggal di rumahnya Jo. Come on sayang, biar jadi obat tidur." Rama kembali merajuk. Meminta handuk yang menampakkan belahan dada itu disingkirkan.
Puput menurut. Selanjutnya yang terdengar hanyalah suara-suara yang de sahan dan erangan. Rama bekerja sendiri, memuaskan diri dengan caranya.
...***...
"Maaf, telat. A' Rama barusan vicall. Aku pamitan dulu sama Aa." Ucap Puput saat bergabung dengan Mami dan Cia di meja makan. Meresa tidak enak karena baru keluar kamar. Dan mereka sudah selesai dengan sarapannya.
"Nggak papa. Pengantin baru kangen-kangenan itu hal wajar." Ucapan Mami santai. Tapi berhasil membuat wajah Puput merona.
Puput menyamarkan dengan menunduk sambil menyendok nasi yang baru diambilnya. Entah Mami tahu versi kangen-kangenan yang baru saja terjadi itu. Yang membuat Rama terkulai lemas dan memejamkan mata. Sehingga ia yang memutus sambungan karena suaminya itu sepertinya berhasil tidur dan terdengar samar mendengkur halus.
Jam delapan, Damar datang bersama Dwi yang sudah ditugaskan menjadi asisten Puput.
"Teh, ini titipan dari Rama buat Aul katanya."
Puput menerima dengan wajah kaget sekaligus bingung. Box berwarna putih dengan tulisan Macbook Pro dengn logo apel kini ditentengnya. Ia menatap Damar. Sorot matanya meminta penjelasan .
"Sebelum terbang Rama telpon nyuruh aku beli ini buat Aul. Biar tugas kuliahnya lancar." Damar seolah faham arti tatapan Puput.
"Owh, iya." Sahut Puput singkat. Masih penasaran sebenarnya. Karena Rama sama sekali tidak membahas akan memberi hadiah macbook untuk Aul. Apa mungkin takut dilarang karena harganya ini sama dengan satu unit motor NMax. Suaminya itu hanya mengingatkan untuk menemani Zaki memilih motor sport sesuai yang sudah dijanjikan.
Pamit kepada semua orang dan tak lupa titip salam pada Papi Krisna yang baru akan tiba nanti siang, Puput meninggalkan rumah mewah itu ditemani Dwi. Doni menjadi sopir yang dipercaya mengantar menggunakan mobil Alphard ke Ciamis.
__ADS_1
Tbc