Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
97. Mencari Jejak


__ADS_3

Sirine ambulance meraung di jalanan ibukota dini hari ini. Jalan raya cukup lengang disaat sebagian penduduknya tengah lelap. Mobil yang mengawal di belakang ambulance tak kalah melaju cepat dikemudikan oleh Doni, sopir keluarga Krisna.


Ada Puput di dalam mobil yang mengawal ambulance itu, bersama Cia juga Mami. Damar yang sebelumnya berada di rumah sakit di wilayah Tangerang, akan dipindahkan ke rumah sakit milik keluarga Adyatama di Jakarta demi mendapatkan perawatan terbaik.


Harusnya malam ini, Puput mengenakan lingerie warna marun seperti yang dipinta Rama saat akan take off dari bandara John F Kennedy, New York. Harusnya malam ini, ia tengah berada di peraduan, saling menyatu melepas rindu bersama sang suami. Tapi realita tak sesuai ekspektasi. Orang suruhan Papi mengabarkan suaminya itu hilang jejak di parkiran terminal 3 bandara Soekarno Hatta.


Puput mengingat bagaimana paniknya Mami saat dikabari tentang kecelakaan di tol. Bersama Papi Krisna, kemudian menyusul ke rumah sakit Tangerang. Melihat kondisi Cia yang sudah siuman setelah pingsan karena pengaruh obat bius, mertuanya itu bernafas lega. Sementara Damar yang tetap sadar, didiagnosis mengalami pendarahan otak dan butuh penanganan intensif.


Puput memandangi room chat Rama. Dimana jam 6 lebih 15 menit sore tadi, suaminya itu miss called sebanyak dua kali. Disusul pesan, "Sayang, aku udah ditempat penjemputan. Kamu dimana, sayang?"


Namun pesan itu baru 15 menit kemudian ia baca. Dan saat telpon balik, ponsel Rama tidak aktif.


Apakah ini sebuah kebetulan atau bukan. Rencana menjemput Rama menjadi terhambat karena tragedi di tol. Kemudian suaminya itu pun hilang tanpa kabar. Awalnya sempat berpikir positif jika Rama mungkin saja pulang memakai taksi online. Tapi jam 2 dini hari ini, tidak ada kabar baik dari rumah. Pun dari orang suruhan Papi yang masih stay di bandara.


"Puput, tenang ya! Papi pasti akan ngasih kabar baik sama kita." Mami mengusap bahu Puput yang duduk di depan, di samping sopir. Sementara ia terus merengkuh Cia yang masih syok dengan keadaan Damar.


Puput menoleh ke belakang diiringi anggukkan dan senyum samar. "Iya, Mi." Ia memang berusaha tenang dan tegar, berpikir positif diiringi do'a. Ia tahu, sebenarnya Mami juga tengah menguatkan diri untuk tenang dan berpikir positif. Bisa tertangkap bagaimana raut cemas seorang ibu meski berusaha disembunyikan.


Sampai di rumah sakit yang dituju, Damar sigap mendapatkan perawatan super intensiv. Cia memilih menemani Damar di rumah sakit bersama kedua orang tua kekasihnya itu yang baru tiba. Sementara Puput dan Mami memilih pulang ke rumah. Harap-harap cemas menunggu kabar dari Papi yang entah berada di mana sekarang.


Masuk ke dalam kamar, Puput menyandarkan punggung di pintu yang sudah dikuncinya. Kepala mendongak ke atas dengan mata terpejam. Sungguh saat ini otaknya belum bisa berpikir jernih. Kejadian sore tadi masih terbayang di pelupuk mata. Bersyukur memiliki ilmu bela diri sehingga terhindar dari tindak kejahatan. Tapi apa yang sebenarnya pelaku incar? Mobilkah? Atau dirinyakah? Sampai harus melumpuhkan Damar dan Cia. Kenapa bisa bersamaan dengan Rama yang hilang tanpa kabar? Puput menggeleng lemah. Otaknya benar-benar buntu.


...****...


Jam 8 pagi, ada petugas dari kepolisian datang ke rumah. Puput duduk dengan kondisi wajah lesu dan mata panda karena sampai subuh tidak bisa memejamkan mata. Ditemani Papi Krisna yang baru tiba di rumah pagi buta dan juga Mami Ratna, ia ditanya sebagai saksi. Menjawab semua pertanyaan penyidik apa adanya.


"Pak, tolong usut secepatnya kasus ini!" Ucap Krisna saat tiga orang petugas itu hendak pamit. Mereka mengangguk dan menjawab pasti. Polisi sudah melakukan olah TKP di area tol tersebut. Mobil Fortuner milik Damar pun diderek ke kantor polisi sebagai barang bukti.


Atmosfer rumah berubah menegangkan. Seisi rumah merasakan gelisah tidak bisa tidur, tidak enak makan, menanti kepastian orang-orang suruhan Krisna yang tengah mengusut. Krisna belum bisa melaporkan kehilangan Rama kepada pihak kepolisian karena harus menunggu 1 x 24 jam setelah dinyatakan hilang. Sehingga ia bergerak sendiri mengerahkan orang-orang yang terpercaya.


"Pi, kabar dari Johan gimana?" Ratna menatap suaminya yang selama sibuk dengan obrolan di telepon genggamnya, berdiri mondar mandir tidak bisa diam.


"Tunggu Johan lagi di jalan. Dia baru dapat rekaman cctv bandara." Krisna beralih menatap Puput yang duduk di ujung sofa. Melihat menantunya itu menatap kosong ke arah layar televisi yang memberitakan olah TKP kejadian di tol kemarin sore.


Dua jam kemudian, asisten Johan datang menghadap. Ia memutar rekaman kamera pengawas bandara di smart tv. Rekaman dimulai dari saat Rama berjalan menarik koper sampai berdiri di ruang penjemputan dan menempelkan ponsel di telinga.


"Itu saat Aa telepon aku, Pi." Puput bersuara saat mencocokkan jam yang tertera di layar cctv.


Papi dan yang lainnya manggut-manggut.


"Johan, itu seperti seragam sopir kantor?!" Krisna menatap asistennya.


"Seragamnya betul, Pak. Tapi orangnya bukan. Saya sudah cocokkan dengan database perusahaan.


"Ya Allah! Berarti anakku diculik?!" Mami histeris. Puput yang juga terkaget, memeluk mertuanya itu. Ia tegar, mampu menahan tangis meski hati sedih.


Selanjutnya rekaman terakhir di depan parkiran tidak bisa menjangkau posisi Rama dan seorang berseragam sopir yang berjalan menjauh menuju mobil yang entah posisi sebelah mana.


Papi merengkuh istri dan menantunya. Mengusap bahu keduanya. "Mami dan Puput tenang, Papi akan cari Rama dan cari pelaku penyerangan Damar dan Cia. Jangan pernah keluar rumah ya!"

__ADS_1


Krisna pamit pergi ditemani Johan. Masuk ke dalam mobilnya dengan menghela nafas berat. Mobil yang dikemudikan sang asisten melaju keluar gerbang. Johan tahu kemana arah melaju. Ada rasa penasaran yang ingin dituntaskan bossnya itu.


"Aku lengah, Johan. Kirain situasi sudah kondusif." Krisna mengusap wajah kasar. Ia telah menghentikan pengawalan untuk anak-anaknya setelah dirasa selama satu bulan ini suasana aman tenteram.


Johan diam. Ia menjadi pendengar sang boss yang tengah mengeluh dirundung penyesalan.


Perjalanan setengah jam itu sampai di kawasan pergudangan milik Adyatama Group. Kedatangan mobil disambut dua orang petugas keamanan dan langsung menutup rapat rolling door. Tidak sembarangan karyawan bisa masuk ke area khusus itu.


Ruangan yang dari luar seolah gudang itu, ternyata di dalamnya adalah ruangan meeting yang bersih dan nyaman. Sudah ada satu orang pria duduk di kursi dengan tangan terikat, mulut dibekap, mata tertutup kain.


"Buka!" Satu kata, Krisna memberi perintah dan duduk di kursi kebesarannya dengan wajah datar.


Begitu ikatan tangan, lakban mulut, dan penutup mata dibuka, pemuda itu terkejut dengan mata membelalak. "Om Krisna?!"


Krisna tidak menyahut. Matanya menyelidik ke dalam netra pemuda mantan tunangannya Cia itu.


"Om kenapa lakuin ini sama aku?" Adit hendak berdiri mendekat, namun bahunya ditahan dua orang yang mengawalnya.


"Om dulu udah peringatin. Jangan pernah lagi dekatin Cia, kalau melanggar tau akibatnya." Krisna menatap datar.


Adit menggeleng. "Aku patuhi warning Om. Meskipun sejujurnya ingin sekali diberi kesempatan kedua, tapi aku tahu diri. Aku sadar kesalahanku sangat fatal. Aku tidak pernah dekati Cia meskipun pernah melihatnya ada di mall bersama tante Ratna."


"Jangan bohong!" Sarkas Krisna. "Apa kamu sudah baca berita hari ini soal kecelakaan yang menimpa Cia dan Damar?"


Adit tampak memasang wajah kaget. "Maksud Om, apa?"


Dengan isyarat kepala, Krisna menyuruh Johan memperlihatkan video berita yang sedang viral hari ini kepada Adit.


"Demi Tuhan, Om. Aku gak tahu apa-apa. Aku masih waras. Tidak mau melakukan tindakan kriminal gitu."


Krisna yang terus menatap tajam, menilai pemuda di depannya itu tidak berbohong. Ia pancing lagi dengan ancaman akan bisa memecat orangtuanya Adit yang seorang dosen jika masih saja tidak mengaku. Namun Adit keukeuh tidak tahu menahu.


Krisna menghela nafas panjang. "Baiklah, Om percaya kali ini. Kamu boleh pulang dan harus tutup mulut soal introgasi ini!"


Adit harus pasrah dirinya diikat lagi tangan, dibekap lagi mulut, dan ditutup lagi mata. Protesnya ditanggapi penjelasan jika ia tidak boleh tahu lokasi tempatnya disekap ini.


...***...


Setelah dua hari dirawat, Damar diperbolehkan pulang. Hanya tinggal menjalani kontrol seminggu ke depan. Namun berbeda keadaan, setelah dua hari bergulirnya waktu, pencarian terhadap Rama belum menemukan titik terang. Baik pencarian independen, maupun dari pihak kepolisian.


Di sebuah unit apartemen, seorang pria tampan dan tegap sudah rapih dengan setelan jas. Bersiap berangkat ke kantor menunggu asistennya datang menjemput.


"Anda akan terkejut dengan berita yang saya bawa, Boss." Leo, sang asisten yang baru datang itu tersenyum misterius. Membuat Akbar menyepakkan kakinya namun Leo berhasil mengelak diiringi tawa.


"Sialan! Gue gak pernah suka denger cerita yang digantung. Langsung ceritain!" Akbar mendengkus kesal dengan kebiasaan sahabat sekaligus asistennya itu.


Membuat Leo tertawa renyah dan puas. Ia segera mengeluarkan berkas dari tas kerjanya. "Informasi tentang Putri Kirana." ujarnya sambil menaik satu alis.


Akbar urung menyeduh kopi yang sudah ditakar ke dalam gelas. Lebih tertarik dengan berita pagi tentang wanita yang berhasil membuatnya tidur gelisah.

__ADS_1


"Dia perempuan sunda umur 25 tahun asli Ciamis. Baru menikah----" Leo menggantung ucapan dan melihat reaksi Akbar yang memelototkan mata kemudian mengusap wajah kasar.


"Lanjutin jangan, boss!" Leo tersenyum smirk menggoda Akbar yang semangatnya berubah melempem seolah kerupuk terkena air.


"Lanjut!"


Leo mengangguk. "Baru menikah dua bulan kurang. Dan....nama suaminya bakalan bikin lo kena serangan jantung. So, baca aja sendiri!" ia menjatuhkan berkas informasi itu mengenai tangan Akbar.


Tanpa menunggu, Akbar membuka berkas itu penuh rasa penasaran. Matanya melotot tajam begitu membaca nama suami Putri Kirana berikut data orangtuanya.


"Astaga! Dunia begitu sempit. Rama----" Akbar menyandarkan punggung dengan lunglai.


"Dan lo harus baca berita yang lagi viral sekarang!" Leo menyerahkan tab dengan link berita yamg sudah tampil di layar.


"Apa? Rama diduga diculik?!" Akbar bangkit dari duduknya. Ia terkaget untuk yang kesekian kalinya dengan kejutan pagi ini.


"Leo, kita ke rumah Om Krisna sekarang! Meeting diundur sore!"


Leo melajukan mobil membelah jalanan ibukota. Meski Akbar berkali-kali minta ngebut, ia anggap angin lalu. Bagaimana bisa ngebut di jam masuk kerja ini, jalanan padat merayap. Perjalanan normalnya 30 menit itu berubah menjadi 50 menit,.barulah tiba di depan gerbang tinggi sebuah rumah mewah.


"Saya mau bertemu keluarga Pak Krisna. Saya kerabatnya." Akbar melapor kepada penjaga yang mendekati mobil. Dan petugas keamanan itu menanyakan identitas dan memeriksa ke dalam mobil dengan melongokkan wajah ke kaca mobil yang dibuka.


"Maaf, Pak. Nama anda tidak ada dalam daftar keluarga yang boleh masuk. Saya tidak bisa membuka gerbang." Penjaga hanya menjalankan tugas yang diembannya. Harus selektif dan ketat apalagi dengan musibah saat ini yang tengah menimpa sang majikan.


Akbar mendengkus kesal. Nomor Rama tidak aktif. Ia tidak punya nomor kontak Om Krisna. Meminta penjaga untuk memberitahu kedatangannya kepada Krisna, namun ditolak dengan gelengan.


Tin tin.


Suara klakson mobil di belakang, membuat Akbar dan Leo berbarengan menatap spion. Mobil dengan plat Z itu sepertinya hendak masuk ke dalam.


"Maaf, Pak. Mobilnya menghalangi." Masih dengan sopan, penjaga meminta mobil Akbar mundur.


Bukannya mundur, Akbar malah turun dan menghampiri sedan civic di belakangnya. Siapa tahu ada yang dikenalnya.


Pengemudi mobil civic pun keluar.


"Mas Akbar, bukan?!"


"Panji, bukan?!


Keduanya saling tunjuk jari dengan mata menyipit. Kemudian keduanya saling berpelukan dan bertanya kabar.


"Ngobrol panjangnya nanti aja. Tolongin gue pengen masuk dari tadi gak bisa." Pinta Akbar. Yang mendapat kekehan Panji.


"Pak, dia keluarga dari Om Krisna. Lama di Singapura. Bolehin masuk aja!" Panji meyakinkan sang penjaga.


Akhirnya mobil Akbar bisa lolos masuk ke dalam gerbang. Parkir bersisian dengan mobil yang dikemudikan Panji di pekarangan yang bisa menampung sampai 10 kendaraan roda empat.


Akbar dan Leo menyalami orang-orang yang keluar dari mobil bersama Panji.

__ADS_1


"Masih ingat nggak? Ini Enin, ini Bunda. Kalau ini ibu mertuanya Kak Rama." Panji memperkenalkan satu persatu.


__ADS_2