Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
122. Fly Me To The Moon


__ADS_3

POV Puput


Aku baru tiba di kantornya Rama jam satu siang karena terjebak macet ada mobil yang mogok di jalur padat. Aku membawa bekal makan siang yang kumasak dengan penuh cinta. Hihihi, kenapa aku jadi lebay gini.


Saat masuk ke ruangan, Rama baru saja selesai salat. Ia menyambutku dengan ciuman mesra di pipi. Kentara sekali ia begitu senang. Lalu memangkuku duduk di kursi kebesarannya sambil bercerita mengenai kabar Zara. Membuatku terhenyak dan berucap Innalillahi.


"Kenapa memilih mati konyol ya. Kasian...." Aku sangat menyayangkan dengan jalan pintas yang dipilihnya.


"Dia terbiasa manja. Selalu berada di zona nyaman dan tukang perintah. Kata pengacara, di dalam sel dia dijadikan kacung oleh senior. Sampai mengalami depresi dan memilih gantung diri." Jelas Rama. "Sudahlah, tutup cerita soal Zara. Kita bahas soal resepsi kita. Undangan untuk teman-temanmu jangan sampai ada yang kelewat, Neng."


Aku mengurai belitan tangannya karena mau menyiapkan makan di meja sofa. "Udah, Aa. Temenku gak banyak yang bisa datang ke Jakarta. Beda kalau acaranya di Ciamis pasti pada datang."


"Sayang, kalau mau, kita adain resepsi juga di Ciamis." Rama mengikuti duduk di sofa dengan kedua lengan baju masih tergulung sampai sikut.


Aku menggoyangkan tangan. "Tidak perlu, Aa. Cukup di sini aja." Untuk apa terus-terusan ngadain pesta. Sudah cukup akad nikah kemarin yang termasuk meriah untuk ukuran di kotaku.


Usai makan tetap berada di ruangan Rama karena suamiku itu meminta pulang bersama. Aku mengisi waktu dengan review email dari Dwi juga Hendra tentang perkembangan RPA Ciamis. Alhamdulilah aman terkendali. Tak lupa berbalas pesan dengan Via membahas hal random yang diantaranya absurd sambil sesekali cekikikan pelan, takut mengganggu suami yang sedang fokus menatap macbook.


Aku menatap jam di pergelangan tangan. Masih dua jam lagi ke waktunya pulang. Rasanya bosan kalau cuma diam. Kuputuskan menghampiri meja suami yang makin tampan dan dewasa saat sedang seriu kerja. "Aa, boleh ke mall dulu gak? Mau belanja buat isi kulkas. Lumayan, sambil nunggu waktunya pulang."


"Nggak nanti aja sekalian kita pulang?"Rama menarik pinggang aku agar rapat dengannya. Satu tangannya tetap bermain di atas keyboard.


"Nanti mah suka macet. Bisa-bisa pulang ke rumah malam. Sekarang aja aku berangkat sama sopir. Boleh, ya?" Rayuku sambil tangan bergerak memijat bahu Rama.


"Duh mantap, Neng. Apalagi kalau pijat plus-plus." Rama memberi ekspresi penuh kenikmatan.


"Hm, yang busung lapar. Sabarrrr." Aku mengusap rahang Rama dengan gemas sambil tersenyum geli. Kasihan sih yang sudah lama berpuasa. Aku juga tidak memungkiri merindukan itu. Apa boleh buat, ada saja halangannya.


...***...


Aku menyambangi mall yang tidak begitu jauh dari kantor. Fokusku hanya untuk membeli stok isi kulkas serta pelengkap kebutuhan rumah tangga. Satu persatu barang yang dipilih sudah masuk ke dalam trolly. Lumayan banyak.


Praaang.


Suara barang pecah terdengar. Mencuri perhatian pengunjung di sekitar termasuk pula aku jadi ingin menoleh. Seorang pramuniaga laki-laki tampak berdiri menunduk saat seorang perempuan berambut pirang memarahi dengan tangan menunjuk-nunjuk. Membuat aku tergelitik ingin melihat lebih dekat.


"Enak aja minta ganti rugi. Gue nggak mau."


"Tapi saya lihat tangan mbak menyenggolnya. Silakan mbak baca keterangan itu. Memecahkan berarti membeli! Kalau mbak tidak membayar, saya yang harus ganti. Gaji saya kecil mbak. Kasihani saya....." Pramuniaga memelas dengan wajah pias karena stand barang pecah belah itu tanggung jawabnya.


"Bodo amat. Bukan urusan gue!" Perempuan cantik itu mengibaskan rambut panjangnya dengan wajah ketus.


"Harga barang yang pecah itu berapa, mas?" Aku bersuara. Nuraniku tersentuh karena kasihan melihat pramuniaga yang putus asa. Membuat perempuan berambut pirang itu menoleh. Lalu memicingkan mata dengan kening mengkerut.


"Yang pecah toples kristal. Harganya 230ribu, mbak." Jelas pramuniaga dengan wajah lesu.


"Saya aja yang akan bayar. Tolong notanya, Mas." Aku balas menatap perempuan judes itu yang seolah sedang memeras otak. Sepertinya dia lagi meraba-raba. Beda dengan aku yang ingat betul siapa dia.


"Kenapa, mbak? Merasa kenal sama aku? Aku ingetin deh. Kita pernah bertemu di parkiran resto Turki. Aku istrinya Rama Adyatama." ucapku dengan tenang. Bertemu mantannya suami harus cool dan percaya diri.


Perempuan yang tak lain adalah Karenina terhenyak dengan mata membulat.


"Hei Mas, sini notanya. Aku akan bayar. Maaf sekarang baru inget, emang aku tadi nyenggol toples itu." Karenina merebut nota yang akan diberikan padaku. Wajah judesnya berubah ramah dalam hitungan detik. Hm, cocok jadi pemain sinetron.


"Hai, senang sekali bisa bertemu dengan istrinya Rama." Karenina mengulurkan tangan dengan iringan senyum manis. "Ah, kita belum kenalan dengan benar ya. Namaku Karenina. Rama biasa memanggilku Aren." Sambungnya dengan gestur anggun dan keramahan yang dibuat-buat.


Hoek, aku jadi pengen muntah.


Aku balas tersenyum ramah. Berbanding terbalik dengan isi hatiku yang enek. "Namaku Putri Kirana. Tapi suamiku sukanya manggil aku Neng. Dalam bahasa sunda itu maknanya panggilan sayang, penuh cinta." sahutku sambil menyambut uluran tangan itu. Dan sekilas aku melihat dia mengeratkan gigi. Wah sepertinya hareudang.

__ADS_1


Karenina tersenyum kaku. "Oh ya, selamat ya untuk pernikahannya. Teman-teman sudah pada menerima undangan. Tapi aku tidak. Apa aku tidak diundang? Meskipun aku masa lalunya Rama, aku berharap kita bisa jadi teman jangan jadi musuh."


Sorot matanya menyiratkan kesungguhan. Sayangnya, aku bukan perempuan lugu yang mudah tertipu. Bersyukur banget belajar silat sampai level puncak. Aku belajar membaca siasat lawan. Yang bisa diaplikasikan juga untuk membaca sifat lawan bicara.


"Suamiku mengundang semua teman-teman dan semua relasi, kecuali mantan. Begitu katanya, mbak." Aku berlagak sok polos.


"Jangan panggil mbak, nggak nyaman dengernya. Panggil nama aja, oke?" Pintanya. Dan aku mengangguk saja.


"It's oke. Aku gak bisa maksa. Next time, gimana kalo kita shopping bareng or ke salon bareng? Berteman denganmu kayaknya seru deh." Karenina menyentuh lenganku penuh senyum.


"Aduh maaf gak bisa. Jadwalku padat. Selain punya kerjaan, Aa Rama tipe suami yang gak bisa jauh dari aku. Dia tuh kayak perangko kadang kayak lintah. Kalau udah nempel, bakal menghisap. Ups, maaf terlalu vul gar ya." Padahal aku sengaja membuatnya makin hareudang.


Dia diam dengan ekspresi berubah-ubah, antara mau senyum dan mau sinis. Dan kini sepertinya bingung mau bicara apa lagi.


"Maaf, aku duluan ya. Mau lanjut ke kantornya Aa Rama. Pengen pulang bareng katanya." Aku mengangguk dan tersenyum manis. Berbalik badan sambil mendorong trolly ke arah kasir. Dari pantulan ponsel yang aku pegang seperti spion, wajah si kakaren terlihat kesal dan menahan marah.


Aku menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Berada di lingkungan baru. Bukan hanya harus beradaptasi dengan cuaca Jakarta yang panas, tapi juga beradaptasi dengan datangnya mantan si Aa yang sepertinya penasaran ingin mendekati lagi.


...***...


Bersyukur dan bahagia, menjalani hari dan malam bersama Rama yang kentara sangat menyayangiku. Aku pun balas memperlihatkan rasa cinta padanya dengan sikap. Karena aku tidak suka mengumbar kata-kata cinta. Biarlah, pertemuanku dengan si kakaren tak perlu aku laporkan. Daripada nanti suamiku sampai kepikiran.


Hari ini aku dan Rama ditemani pengacara, memenuhi panggilan polisi untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Lumayan menyita waktu. Dari jam 9 pagi, baru selesai jam 4 sore terpotong ishoma. Otomatis hari ini tidak ke kantor. Selesai menjawab puluhan pertanyaan itu, kami langsung pulang ke rumah.


"Tiga hari lagi resepsi kita, Neng. Udah gak sabar deh." Rama yang rebahan di pangkuanku, mendongak sambil tersenyum lebar dengan mata berbinar.


Dari list susunan acara yang diberikan pihak WO, hanya satu yang belum siap, yaitu sesi dansa. Meski durasinya 8 menit, tapi kita dancer amatir yang tidak pernah mahir.


"Aa, itu sesi dansa dicoret aja ya nggak usah. Mau romantis malah jadi dramatis kalau aku reflek ngeluarin jurus. Entar Aa keseleo kayak dulu. Hihihi." Aku jadi terkikik mengingat dulu Rama sok sok an mengajak dansa.


"Nggak boleh dicoret, Neng. Itu wajib. Dan tamu undangan yang udah nikah boleh ikutan berdansa. Nanti sabtu akan ada pelatih datang. Minggu siangnya kita gladi resik di venue. Kita akan jadi Prince and Princess semalam." Rama beralih memiringkan badan. Menelusupkan wajah ke perutku. Ya sudah, aku menurut saja. Semoga tidak gugup saat dansa nanti.


"Aa, mau buka puasanya berarti nanti malam resepsi ya?" Aku ingin memastikan keinginannya.


Raut wajah tampannya berganti nelangsa. Malah membuatku tertawa geli. Rama tiap hari menghitung mundur menunggu waktunya buka puasa.


Aku mengiyakan saja. Padahal malam ini aku yakin hari terakhir. Sengaja bangun awal jam tiga dinihari dan mandi di kamar bawah sekaligus mengeringkan rambut. Niatku ingin memberikan surprise. Sambil menunggu waktu subuh, aku salat tahajud dulu. Baru naik lagi ke kamar atas usai salat subuh, untuk membangunkan Rama.


Seperti biasanya setiap akan berangkat ke kantor, Rama menahanku di ruang tamu. Kita melakukan morning kiss satu menit lamanya. Dilanjutkan aku mencium tangannya dan Rama mencium keningku. Lambaian tanganku di teras mengiringi kepergiannya berangkat kerja.


Baiklah. Waktunya menyiapkan surprise. Aku tersenyum lebar dan bersemangat untuk rencana hari ini. Semua ruang terpasang CCCTV, kecuali kamar tidur. Jadi aman. Aku leluasa menyulap kamar dengan tema romantis tanpa takut ketahuan Rama yang sewaktu-waktu mengecek rekaman CCTV rumah dari ponselnya. Tak terasa sudah tengah hari dan aku melanjutkan luluran di kamar mandi.


"Fly me to the moon, hubby." Aku mengetik caption kalimat itu di bawah foto yang kulampirkan. Aku berpose seksi dan menggoda memakai lingerie merah.


Tak butuh waktu lama, Rama menghubungiku lewat video call.


"Ah...ugh, sayang." Rama men desah dengan tatapan berkabut gairah.


Aku balas memberi kecupan jauh dengan gaya sensual. "Aa, udah pengen buka puasa kan? Hidangan udah siap nih."


"Neng, aku buka chat kamu pas lagi rapat. Langsung break dulu dan lari ke ruanganku ingin vc dulu. Aku gak tahan, sayang. Tapi aku baru bisa pulang jam 5." Rama menggeram dengan wajah prustasi.


"Selesaikan dulu kerjaannya, ya. Aku akan sabar menunggumu pulang, sayang." Aku mengedipkan mata dan memberi semangat.


Rama menghembuskan nafas kasar. "Aku yang nggak sabar, Neng. Kamu sih malah menggoda gitu. Kan jadi anu..."


Aku terkekeh melihat Rama yang merajuk. "Kan biar Aa semangat kerja, semangat pulang cepat. Sudah dulu ya, aku mau masakin buat yang mau buka puasa." Aku sengaja menurunkan sebelah tali lingerie. Yang membuat Rama menjilat bibir.


"Sayang, awas ya! Aku akan buat kamu begadang sampai subuh."

__ADS_1


"Hm." Aku menantangnya dengan kerlingan. Lanjut mengakhiri sambungan dengan melayangkan sun jauh.


Baju dinas malam aku buka lagi, dan beralih memakai baju rumahan. Ada waktu untuk bersantai sebelum nanti sore memasak menu spesial untuk makan malam.


Fly me to the moon


Let me play among the strars


Let me see what is like on A jupiter and Mars


In other words, hold my hand


In other words, baby, kiss me


Aku bersenandung kecil sambil menuruni tangga. Merefleksikan suasana hati yang riang karena malam ini akan menjadi malam spesial.


Yang mau tiba di rumah jam lima ternyata terlambat. Rama mengabari jika baru bisa keluar kantor jam lima lebih karena pekerjaan belum selesai. Aku sih tenang tenang saja. Yang blingsatan dan menggerutu malah Rama yang ingin segera menemuiku.


Bertemu mantan si Aa yang kuakui wajahnya cantik dan bodynya seksi bak gitar Spanyol, membuatku harus melakukan proteksi dengan membuat Rama semakin jatuh cinta padaku. Aku berdandan cantik usai salat magrib dengan memakai mini dress. Yang hanya kupamerkan keseksian tubuhku untuk suamiku seorang.


Pas sekali bel berbunyi begitu aku menuruni tangga. Dari lobang intip, aku lihat Rama berdiri seorang diri di depan pintu.


"***___"


Aku mengulum senyum melihat Rama tidak melanjutkan ucap salam. Malah ternganga menatapku tanpa kedip.


"Aa, tamatin dulu salamnya!" Aku menjentikkan jari di depan wajahnya. Seolah baru sadar dari hipnotis, Rama mengerjapkan mata. Segera menutup pintu dan menguncinya sambil berucap salam.


"Eh, lepas ih pusing..." Aku terkaget karena Rama mengangkat tubuhku dan memutarnya dengan gemas.


"You look so sexy, sayang." Rama menciumi wajahku bertubi-tubi. Berakhir meraup bibirku dengan agresip.


"Mandi, salat, lalu makan." Aku membantu membuka kancing-kancing kemeja karena Rama tak mau melepas pelukan.


"Lalu makan kamu." Ujar Rama yang merangkum bahuku sambil menaiki tangga.


"Lalu salat isya dulu dong. Kita berjamaah."Aku meralatnya. Dan saat membuka pintu kamar, Rama menatap seisi ruangan dengan takjub, lalu beralih menatapku dengan pandangan dan senyuman penuh arti.


...***...


"Season pertama ini kayaknya akan cepat, sayang. Karena aku udah gak tahan. Masih ada long time, season kedua dan ketiga." Rama men cumbuku dengan nafas memburu. Kentara haus dan laparnya. Aku hanya menjawab dengan anggukkan karena seluruh tubuhku sudah dialiri gelenyar dan setruman. Lingerie merah yang kembali ku pakai di jam 8 malam ini hanya berumur hitungan menit. Sudah robek tak bisa dipakai lagi.


Dalam remang cahaya lampu tidur serta harum aromateraphy, Rama begitu bersemangat menjelajah dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak ada yang terlewat. Dan aku pasrah dalam damba.


"Aa, hmmm...ughhh." Aku menggigit bibir karena sentuhan tangan Rama yang menggurita.


"Jangan ditahan, sayang. Lepaskan saja. Aku milikmu....dan kamu milikku."


"Aa....fly me to the moon." Mohonku tanpa malu, dengan lirih disela rin tihan nikmat. Rama yang berada di atas tubuhku tersenyum manis sekali.


"Sure, baby. Dan kita akan terbang bersama menuju surga."


Tak ada lagi ucap. Berganti senyap. Tak lama berubah gaduh. Dan kita kompak berakhir melenguh.


...****************...


Au ah. Paksu mana paksu 🏃🏃🏃


Ket :

__ADS_1


Fly me to the moon- Frank Sinatra


Yang penasaran dengan lagunya. Play in yutub. Lirik sederhana tapi bermakna and easy listening.


__ADS_2