Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
152. Jangan Kepo


__ADS_3

"Yah, mau kemana?" Panji mengamati sang ayah yang pagi ini mengganti baju koko dan sarung dengan setelan kaos dan celana panjang yang semalam digunakan sebagai baju tidur. Kemudian menyisir rambut di depan cermin.


"Mau jogging sama Om Krisna. Ayah pergi dulu ya." Anjar keluar usai mematut diri memastikan penampilannya.


Panji meraih ponsel. Ayah Anjar sudah ada teman ngobrol. Sejak pergi ke masjid subuh rame-rame, sang ayah asyik berjalan sambil ngobrol dengan Om Krisna. Kini gilirannya bebas dengan acara sendiri.


"Wa'alaikum salam. Aul, ke kampus gak pagi ini?" Ucap Panji yang duduk di tepi ranjang. Suara lembut wanita di ujung telepon membuat matanya berubah penuh binar.


"Libur, Kak. Kenapa emang?"


"Nyabu yuk. Yang enak di mana? Bentar lagi aku jemput." Panji berdiri dan berjalan ke arah cermin. Ponsel masih melekat di telinga sembari berkaca mengoreksi penampilan diri.


"Hayuk. Jam berapa jemputnya?"


Panji mengepalkan tinju dan berteriak 'yes' tanpa suara. "Jam tujuh aku jemput. Sekarang mau mandi dulu."


"Oke, Kak. Ditunggu!"


Panji melempar ponsel ke kasur dengan hati riang. Sembari bersiul, ia berjalan masuk ke kamar mandi. Masih ada waktu tiga puluh menit menuju pukul tujuh.


"Nji, mau kemana?" Rama mencegat langkah Panji yang berpapasan di depan pintu kamar.


"Ke rumah Bu Sekar. Mau ngajak Aul nyabu." Panji melambaikan tangan dan berlalu dengan tergesa. Memutus obrolan. Padahal Rama sudah membuka mulut untuk melanjutkan tanya.


Rama hanya mendecak melihat Panji yang happy. Ia berjalan menuju arah dapur karena mendengar suara tawa Puput ada di sana.


"Aa, plis jauh-jauh! Aku jadi mual lagi nih." Puput memasang wajah ingin muntah mengetahui Rama berjalan mendekatinya. Kerak telor yang sedang dihangatkan untuk sarapan, ditinggalkan begitu saja. Segera menghindar dengan berjalan cepat menuju ruang makan.


"Aeh-aeh......Rama. Kasian Puput mau sarapan malah dideketin. Udah tau istrimu lagi bau an sama kamu." Omel Mami Ratna yang sama-sama berada di dapur. Ia berinisiatif mematikan kompor dimana kerak telor sedang dipanaskan di atas fry pan.


"Neng, Aa udah mandi pake sabun kamu biar wanginya sama. Aa gak pake parfum. Coba cium, Neng. Itu bau cuma sugestimu aja, sayang." Rama merayu Puput yang mepet di pojokan. Perlahan berjalan mendekat.


"STOP! Aa masih sama baunya kayak tadi malam. Malah jadi nambah. Aku jadi sebel liat wajah Aa. Aa ngilang dulu lah....aku lapar pengen makan kerak telor." Puput memasang wajah memelas antara mual, lapar, dan tidak enak hati. Karena bukan keinginannya harus merasakan mual dan sebal melihat sosok suaminya itu.


Rama terpaksa berjalan mundur, kembali menjaga jarak aman. Hanya bisa menatap dengan wajah prustasi.


"Hihihi....calon Papa ditolak debay judulnya. Kacian kakak aku ini. Sabarrrr." Cia mendekati Rama dan mengusap-ngusap bahu kakaknya itu dengan memasang wajah empati sekaligus meledek.


Damar berdehem agar tawanya tidak meledak. Ia bersama Cia mau bergabung sarapan di meja makan. Malah disuguhkan drama calon orangtua yang saling menjaga jarak.


Kini Rama berada di teras belakang. Mengalah sarapan terpisah ditemani Enin yang memang sengaja ingin menghibur cucunya itu. Sementara yang lain sarapan di meja makan. Minus Krisna dan Anjar yang sedang pergi jogging sembari bernostalgia. Juga Panji yang meluncur menjemput Aul.


"Enin, waktu hamil Mami ngidamnya apa?" Tanya Rama sembari makan dengan kurang semangat. Hanya bisa menatap dari kaca memperhatikan Puput yang sedang makan kerak telor pakai nasi dengan berselera.


"Ngobrolnya abis makan. Keselek nanti." Tegur Enin. Rama pun menurut. Sehingga ia mempercepat makannya sampai habis.


"Dulu Enin sering pusing tiba-tiba tiap pagi dan sore. Pas diperiksa ke dokter ternyata lagi hamil enam minggu. Pas tau hamil, besoknya jadi mual-mual tiap waktu. Sampe sakit dan di rawat di rumah sakit seminggu karena gak masuk nasi. Hamil sama Mami kamu parah. Mual muntahnya sampe umur empat bulan. Tapi Enin jadi manja gak mau jauh-jauh dari kakek. Alhamdulillah kakekmu selalu siaga." Enin tersenyum simpul mengenang masa lalu.


"Padahal Puput kayak Enin gitu. Kan aku bisa selalu deket sama Puput." Rama menggerutu.


"Sabar. Orang hamil itu beda-beda ngidamnya. Bersyukur Puput malah doyan makan. Yang lain malah lihat nasi langsung mual karena merasa bau. Puput mah baunya cuma sama Rama aja kan. InsyaAllah perkiraan Enin mah calon jagoan."

__ADS_1


Rama mengaminkan tapi tetap nelangsa. Apalagi sekarang Puput akan pergi ke dokter bersama Mami dan Cia serta menjemput Ibu Sekar yang akan ikut juga. Damar yang menjadi sopirnya. Hanya bisa melepas kepergian sang istri dari jendela ruang tamu.


...***...


Krisna dan Anjar memasuki pekarangan usai jogging sejauh total 4 km pulang pergi. Tentu menyenangkan dan sangat dinikmati karena berjalan sembari diisi dengan obrolan ringan sekaligus bernostalgia.


"Mas Anjar, Mas Krisna, sarapan dulu. Yang lain udah." Ucap Ratih yang duduk bersama Rama dan Enin di kursi teras.


"Nanti saja. Kita udah sarapan serabi oncom. Masih kenyang." Anjar yang menyahut. Dan mendapat anggukkan Krisna.


"Kok sepi. Pada kemana?" Krisna bergabung duduk di bangku panjang bersama Anjar. Menoleh ke arah garasi terbuka yang tidak terlihat dua mobil di tempatnya.


"Panji tadi pergi sarapan bubur sama Aul. Yang lain nganter Puput ke dokter kandungan." Sahut Ratih.


"Kenapa Rama gak ikut?" Krisna menatap sang anak sulung dengan raut wajah heran.


"Bukannya gak mau ikut, Pi. Puput nya masih mual kalo deket aku. Padahal udah ganti sabun, gak pake parfum juga." Keluh Rama.


"Wah, calon cucu Papi ngidamnya lain dari yang lain. Bagus. Belum lahir udah ngasih pelajaran sama bapaknya. Pro ibunya nih anak." Ucap Krisna enteng.


Rama mendecak mendengar sindiran sang ayah. Yang lain terkekeh.


Selang dua jam kemudian mobil yang dikemudikan Damar memasuki pekarangan. Beriringan dengan mobil Panji yang datang bersama Aul, mengikuti di belakang.


Rama berdiri di teras sendirian dengan wajah semringah menyambut kedatangan Puput. Tak sabar ingin mendengar kabar hasil cek kandungan.


"Aduh Ibu, liat Aa mual lagi." Puput berlindung di balik punggung Ibu Sekar sembari menyembunyikan wajah.


"Rama, kita masuk duluan. Kasian Puput sampe ngumpet gitu." Mami Ratna tak lagi meledek sang putra. Ia menjadi kasihan melihat Rama yang tersiksa tidak bisa mendekati Puput. Lain halnya Cia yang terus terkikik menikmati penderitaan kakaknya itu.


Rama kini duduk di ruang tengah bersama Ibu dan Mami. Puput, Aul dan Panji serta Cia dan Damar berada di halaman belakang membawa serta camilan memenuhi meja.


"Nak, lihat nih. Ini calon anak Aa dan Teteh. Masih mungil. Kata dokter, ini seukuran buah ceri. Usia kehamilan Teteh 7 minggu. Alhamdulillah kandungannya kuat dan sehat." Ibu Sekar mewakili memberi penjelasan. Ia memperlihatkan foto USG pada Rama yang duduk satu sofa dengannya.


Rama memandangi foto USG yang belum jelas memperlihatkan bentuk janin. Hanya sebuah titik seukuran kisaran 1 cm. Namun mampu memberikan keharuan. Membuat matanya berkaca-kaca.


"Mumpung lagi ada di Ciamis, Ibu mau minta izin Aa Rama. Malam ini Teteh nginepnya di rumah Ibu ya. Kalian kan besok akan pulang ke Jakarta." Ibu menatap sang menantu dengan sorot penuh permohonan.


Rama tidak lantas menjawab. Merasa berat harus berjauhan pisah rumah dengan Puput. Tapi permintaan Ibu juga wajar. Karena kangen dengan anaknya.


"Izinin aja, Rama. Siapa tau si utun besok-besok jadi luluh mau dideketin papa nya." Mami Ratna memberi pencerahan.


Rama mengangguk. "Boleh, Bu. Tapi nanti sore ya ke sananya."


Ibu Sekar mengangguk dan tersenyum. Ia mengerti jika menantunya itu masih ingin lama-lama bersama Puput. Meskipun berbeda ruangan.


Di ruang tamu. Sedang berlangsung percakapan serius antara Anjar dan Enin. Anjar memang meminta waktu khusus berbicara dengan mantan mertuanya itu. Karena selepas Duhur akan pulang ke Bandung.


"Sepertinya ada yang kepo nih." Ucap Ratna yang menemani sang suami di meja makan. Makan pagi yang kesiangan karena kenyang jajan serabi. Ia menyindir Ratih yang berdiri mengawasi ke arah pintu penyekat ruang tamu dan ruang tengah.


"Apa sih, Teh." Ratih mendelik kemudian berlalu ke arah kamar. Menyembunyikan wajah yang memerah dan kaget karena ketahuan, tertangkap basah.

__ADS_1


Ratna menahan tawa dengan menangkup bibirnya diiringi geleng-geleng kepala. "Ratih.....Ratih," gumamnya.


"Papi tau apa yang lagi dibicarakan Anjar sama Ibu?" Ratna beralih menatap sang suami yang baru selesai makan.


Krisna mengangguk sebagai jawaban.


"Apa, Pih?" Ratna mendekatkan telinganya dengan antusias.


"KEPO." Ucap Krisna yang berbisik penuh penekanan. Beralih mendaratkan ciuman di pipi istrinya itu.


"Astaga. Mataku ternoda ini. Haisss, mesum gak liat sikon." Cia memekik sembari menutup mata dengan tangannya. Tujuannya mau mengambil minuman di kulkas. Malah disuguhkan keromantisan orangtuanya.


"Papi kamu nih rese, Cia." Ratna memundurkan kursinya usai mencubit pinggang suaminya itu yang sudah usil. Ia berlalu pergi bergabung lagi dengan besan yang masih setia berbincang dengan Rama. Sementara Krisna terkekeh-kekeh merasa senang dan menang.


...***...


"Aul, aku mau pulang ke Bandung sekarang. Padma udah nelpon terus katanya bosen, kesepian." Panji terkekeh menyampaikan ucapan sang adik yang sudah dua kali menghubunginya juga menghubungi Ayah Anjar. Pulang sesuai rencana, selepas Duhur.


Aul mengangguk. "Salam sama Padma. Eh lupa. Makasih traktiran sabu nya ya." Ia menemani Panji di samping mobilnya.


Panji tersenyum simpul. "Buburnya enak. Kapan-kapan kita nyabu di sana lagi deh." Ia sudah siap dengan mesin mobil yang sudah dinyalakan. Menunggu ayahnya yang sedang pamit kepada semua orang.


Krisna merangkum bahu Anjar berjalan menuju mobil. "Slow but sure, Bro. Udah keliatan kan hasilnya," bisiknya. Yang kemudian mendapat sikutan Anjar karena takut koalisinya dicurigai target.


"Sampe ketemu di Jakarta. Awas kalo gak datang!" Ancam Krisna berpelukan untuk yang kedua kali di samping mobil Panji.


"Insya Allah, kawan. Sekalian misi, kan?!" Anjar tertawa. Sebuah percakapan penuh kode rahasia. Namun Panji senyum-senyum mendengarkannya. Paham.


"Aul, kapan main ke Bandung? Ditunggu lho." Ucap Anjar beralih pada Aul yang mencium tangannya.


"Insyaa Allah, Paman. Kapan-kapan, hehe." Aul tersipu malu di samping Panji yang tersenyum simpul.


Panji sudah lebih dulu berpamitan pada semua orang. Langsung masuk ke kursi kemudi dan memasang seat belt. Satu kali membunyikan klakson begitu mobil mulai melaju keluar pekarangan.


"Bu...." Ratih menggandeng lengan Enin yang masuk ke dalam rumah usai sama-sama mengantar sampai teras.


"Apa." Sahut Enin dengan tenang. Sudah bisa menduga arah pembicaraan anak bungsunya itu. Ia terus melangkah menuju kamarnya.


"Hm, tadi Ibu ngobrol apa sih sama Mas Anjar?" Ratih tidak bisa menyembunyikan rasa keingin tahuannya.


"Ngobrol ngalor ngidul aja."


"Bahas apa?" Ratih berdiri di ambang pintu karena sudah sampai di depan kamar ibunya.


"Anjar minta maaf lagi soal kisah lama. Ibu bilang udah maafin sejak dulu juga. Ngapain nyimpen sakit hati lama-lama. Bisa jadi penyakit."


"Terus?" Ratih menaikkan satu alisnya.


"Terus ibu ngantuk mau boci. Jangan kepo sama obrolan orang." Enin tersenyum miring dan melambaikan tangan sebelum menutup pintu.


"Isshh, Ibu." Ratih merajuk. Menatap kecewa pada pintu kamar yang sudah tertutup rapat.

__ADS_1


__ADS_2