
Puput menahan nafas selama rentetan kalimat ungkapan perasaan yang diucapkan dengan tegas dan lugas, mengalir dari bibir Rama. Siaga. Sudah memasang alarm lebih dulu sehingga selama itu bibirnya pakem mengatup.
Ini bukan pertama kali bagi Puput mendengar ungkapan "menembak". Beberapa pria sebelumnya pernah menyatakan cinta padanya. Namun karena rasa hati yang biasa, sangat tenang dan mudah baginya merangkai kata penolakan secara halus.
Tidak kali ini. Puput sudah berusaha menyangkal dan menekan benih-benih cinta yang terus bersemi di hati. Apalagi interaksi di dapur tadi membuat sebuah rasa di hati melesat tumbuh dan merambat. Egonya telah kalah akan hadirnya anugrah cinta yang tidak bisa disangkal lagi. Tapi bisikan lain menggoda untuk menolak lamaran ini.
"Put, bisa jawab sekarang?!"
Puput mengerjap. Kesadarannya kembali dari perang batin yang belum final, mendengar pertanyaan Rama. Ia menatap sosok tampan di hadapannya itu tengah menunggu dengan raut wajah yang cool. Tak ada gugup-gugupnya. Berbanding terbalik dengan dirinya.
Puput menghembuskan nafas panjang. Harus bisa rileks sebelum memberi jawaban. Kepetusan penentuan yang bisa jadi akan merubah warna hidup ke depannya.
"Kak Rama, kalaupun aku menolak, aku harap tidak ada kecanggungan dan kebencian setelahnya. Aku akan tetap bekerja di RPA seperti biasanya. Karena sudah nyaman."
Raut wajah Rama yang awalnya tenang kini berubah. Mengatupkan bibir rapat. Terbaca sedikit gelisah dan tegang. Karena ucapan Puput tersirat penolakan.
Puput mengambil kotak mungil itu dengan kedua tangannya. Menatap dan menimangnya sambil tertegun. Dalam satu tarikan nafas, dalam satu kedipan mata, menutupkan kotak itu dengan yakin dan menyimpannya di depan Rama.
"Maaf, Kak. Aku kembalikan." Wajah Puput tenang. Wajah Rama memucat. Terhenyak kaget. Sudah percaya diri jika lamarannya akan diterima. Di luar ekspektasi, kotak cincin itu ditutup dan dikembalikan.
"Put, kamu serius-----"
"Ini dipakainya di kiri apa di kanan?!" Puput memotong ucapan Rama. Membuka telapak tangan kiri, memperlihatkan sebuah cincin dengan diamond yang berkilauan itu.
"Ya Tuhan, Puput----" Rama menengadahkan wajah, mengusap dengan kasar sambil berucap syukur. Tersenyum sangat lebar. Berakhir dengan mengepalkan tangan ke udara. Yes.
Puput terkekeh kecil menyaksikan selebrasi Rama. Yang membuat sebagian pengunjung resto menolehkan wajah karena mendengar kehebohan.
"Huft. Kamu bikin aku jantungan." Rama menatap gemas karena berhasil kena prank. "Coba aja pasnya dimana. Soalnya serba mendadak. Baru dapat cincin itu tadi pas magrib." Sambungnya jujur apa adanya. Dengan tolak ukur jari Cia, ia memilih cincin itu.
Puput mencobanya di jari manis kiri. Longgar. Beralih ke jari manis kanan. Pas.
"Makasih, Kak. Cantik sekali cincinnya." Puput mengulurkan tangan. Memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Berarti aku diterima kan?!" Rama menahan tangan Puput yang tersemat cincin itu. Menatap dengan mengharap jawaban kepastian.
"Masih butuh penjelasan?!" Giliran Puput membalikkan ucapan Rama kemarin. Tersenyum dengan lirikan menggoda.
Rama menggeleng. "Gak butuh. Senyum manis kamu udah cukup sebagai jawaban."
"I love you, Neng."
Puput terkejut dengan mulut menganga. Tak menyangka ungkapan cinta Rama diiringi dengan mengecup tangannya. Rasa raga dialiri ribuan volt listrik. Setruman yang tidak menyakitkan. Malah merasa mengawang. Seolah kaki tak lagi menginjak bumi. Beruntung kedatangan dua orang waiters mengantarkan menu, menyadarkan keriaan di atas awan menjadi kembali membumi.
Meski tanpa iringan biola ataupun saxophone yang mengalunkan instrumen romantis ala-ala drama Korea, namun suasana resto yang tenang cukup mengantar dan mendukung dua insan yang tengah berbahagia menikmati menu sajian makan malam. Senyum semringah tiada henti tersungging. Terutama Rama yang paling kentara menampakkan aura bahagia. Asa yang dinanti, malam ini terpatri.
"Eh, kok belok kanan?!" Puput terheran. Keluar dari parkiran hotel harusnya belok kiri arah pulang.
"Cari angin dulu ya, Neng. Belum jam 9 ini." Rama tidak meminta persetujuan. Masih betah menikmati kebersamaan berdua meski malam ini bukan malam minggu. Melajukan mobil dengan kecepatan rendah ke arah pusat kota.
Neng. Panggilan sederhana, khas panggilan perempuan Sunda. Namun mampu membuat Puput tersanjung, tersipu, dan berdesir. Karena jika diucapkan oleh orang terkasih, maknanya penuh sayang.
__ADS_1
"Tapi jangan ke tempat sepi ya. Takut ada kuntilanak." Pinta Puput yang direspon kekehan oleh Rama.
Jalanan kota Ciamis yang selalu lengang tiap harinya. Dipadu cuaca malam yang cerah. Kesunyiannya mampu mengantar setiap penghuni rumah untuk beristirahat malam dengan tenang.
Alun-alun Ciamis yang merupakan ruang terbuka publik menjadi pilihan kedua tempat hangout. Beratapkan langit pekat yang bertabur bintang, keduanya duduk bersisian di bangku beton yang tersedia. Hilir mudik pejalan kaki juga anak-anak yang bermain kejar-kejaran dalam pengawasan orangtua, menghiasi area alun-alun yang ramai pedangang berjajar di sisi trotoarnya.
"Asyik juga ya nongkrong di sini." Rama mengamati sekitar. Tua muda dan anak-anak berbaur. Deldom (delman domba) dan beca mini melintas membawa penumpang anak-anak.
"Emang Kak Rama belum pernah?!" Terpaan angin malam menerbangkan daun-daun kering. Satu daun jatuh di atas kepala Puput tanpa disadari.
"Nggak pernah. Cuma lewat-lewat aja." Rama mengusap puncak kepala Puput. Memperlihatkan daun kering yang menempel di jilbab. "Apa mungkin yang bikin asyik itu karena ditemani kamu kali ya." Senyum manisnya terkembang.
"Hmm, pinter ngegombal ternyata." Puput mencebikkan bibir sambil melipat kedua tangan di dada. Mencoba menanggapi biasa. Padahal hati mendesah. Bisa-bisanya pria di sampingnya tersenyum seperti itu yang membuat jantungnya ser-seran.
Rama tertawa renyah. Tawa yang pertama kali diperlihatkannya di depan Puput. Status hubungan yang sudah jelas membuatnya bersikap lepas tanpa jaim.
"Selamat malam Aa Teteh....izinkan kami bernyanyi demi sesuap nasi..." Dua pengamen mendekat dan berdiri di hadapan Rama dan Puput. Yang satu membawa gitar dan satunya lagi sebagai vokalis sekaligus peminta upah recehan.
"Boleh request lagu tema jatuh cinta gak?!" Usul Rama dengan pandangan mengarah Puput.
"Boleh Aa. Mau lagunya siapa? Andmesh Kamaleng, Rizky Febian, atau Andra and the backbone?"
"Lagunya siapa ya, Neng?!" Rama malah meminta pendapat Puput.
"Lagunya Budi doremi tau gak kang?!" ujar Puput. Yang ternyata dijawab sang pengamen vokalis dengan acungan satu jempol.
Jreng. Gitar dipetik.
Ku rasa ku sedang jatuh cinta 🎶
Oh apakah ini memang cinta
Selalu berbeda saat menatapnya
Rama nampak tertarik dengan lirik lagu yang sungguh mewakili perasaannya itu.
Mengapa aku begini
Hilang berani dekat denganmu
Ingin ku memilikimu
Tapi aku tak tahu
Bagaimana caranya?
Tolong katakan pada dirinya
Lagu ini kutuliskan untuknya
Namanya selalu ku sebut dalam doa
__ADS_1
Sampai aku mampu ucap, maukah denganku?
Rama melirik Puput. Tersenyum simpul. Yang dilirik bukannya tidak peka. Membiarkan seolah acuh saja.
Ku rasa ku sedang jatuh cinta
Karna rasanya ini berbeda
Oh apakah ini memang cinta
Selalu berbeda saat menatapnya
Rama dan Puput menoleh bersamaan. Sama-sama saling melempar senyum dengan sorot mata yang berbinar. Gemerlapnya seolah cahaya kunang-kunang yang beterbangan di malam hari.
...***...
Damar dan Cia menatap sorot lampu yang mengarah ke pintu gerbang. Keduanya yang belum mengantuk, memilih berbincang santai di kursi teras. Diantaranya membicarakan rencana besok siang berangkat ke Jakarta.
"Itu mobil Kak Rama." Cia bersiap ke depan membukakan pintu gerbang. Namun dicegah Damar yang akan mewakilinya.
Turun dari mobilnya, Rama bersiul kecil. Mengundang perhatian Cia yang menatapnya dengan menyipit.
"Cie-cie...yang baru pulang nembak. Roman-romannya diterima ini mah." Cia langsung menginterogasi. Penasaran ingin mendengar hasilnya. Ia yang direpotkan sang kakak harus mencari informasi toko perhiasan yang menjual cincin berlian dalam waktu yang mepet. Alhasil, petugas toko perhiasan dari Tasik bersedia datang ke rumah memberikan privat service dengan membawa tujuh model cincin berlian. Dan cincin seharga 26 juta dipilih Rama. Yang kini sudah tersemat di jari manis sang pujaan hati.
"Alhamdulillah, congrats Kak. Aku ikut happy." Cia memeluk sang kakak. Tulus mengucapkan selamat dan memberi dukungan. Setelah selama ini tertekan dalam ikatan pertunangan dengan Zara. Kini rona bahagia memancar sempurna di wajah kakaknya itu.
"Akhirnya modus kang panci berhasil juga." Damar menyusul memberi pelukan selamat. Membuat Rama tertawa mengingat nama panggilan itu.
Melihat waktu yang sudah merangkak lewat jam 10 malam, semuanya masuk ke dalam rumah. Apalagi udara malam semakin dingin menggigit.
Rama menjatuhkan badannya di ranjang. Perjalanan saat mengantar Puput pulang terasa cepat padahal menjalankan mobil dalam kecepatan rendah. Menyerahkan kepada Ibu Sekar sambil meminta maaf karena terlambat pulang. Molor 10 menit dari yang seharusnya pulang jam 21. Dan kini, rasa kangen melanda hati. Padahal belum satu jam berpisah.
Hahhh... Puput....Puput. Jatuh cinta sama kamu bikin aku gila.
Rama menggeleng dan terkekeh pelan. Menatap foto selfie bersama Puput di taman alun-alun tadi. Sama-sama tersenyum semringah menatap kamera dengan latar patung bunga raflesia.
"Dih, kambuh lagi gilanya." Damar yang baru keluar dari kamar mandi mencebikkan bibir. Memposisikan tidur di samping Rama yang tengah senyum-senyum menatap galeri foto.
"Lo akan ngerasain juga nanti kalau punya pacar. Bisa-bisa lebih sin ting dari gue." Rama menanggapi santai.
Tak ada tanggapan dari Damar yang memilih memejamkan mata. Berdo'a dan melangitkan asa tanpa putus asa. Berharap keajaiban akan masa depan bisa hidup bersama dengan gadis yang namanya selalu bertahta di hati.
Rama sigap membuka chat begitu notif terdengar. Dan chat dari Puput sekilas lewat di layar atas.
"Kak.... Ibu mengundang Kak Rama makan siang besok di rumah. Apa ada waktu?"
Rama tersenyum lebar. "Insya Allah aku datang." Balasan pesan dikirim dengan cepat.
"Oke, Kak. Aku bilangin sama Ibu. Met rehat ya..."
"❤" Satu emot melayang sebagai balasan. Rama menunggu barangkali ada balasan emot dari Puput. Nihil.
__ADS_1
Putri Kirana....akhirnya aku memenangkan hatimu.
Rama membatin penuh syukur. Menerawang merancang masa depan. Mengabaikan suara dengkuran Damar yang keras.