Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
99. Ujian Lagi?


__ADS_3

Rama menduga ada sekelompok orang tengah melakukan kemping di kawasan hutan pinus yang luas itu. Titik cahaya merah bisa jadi berasal dari api ungun dan orang-orang mengelilinginya untuk menghangatkan badan sambil bernyanyi. Ia pernah mengalami saat masa SMA dan mahasiswa. Sebuah asa kini terbit.


"Tolooong!" Rama menjadikan kedua telapak tangan sebagai corong di mulut. Berteriak sekeras mungkin. Berharap angin meniupkan suaranya sampai kepada mereka yang terdengar masih bernyanyi.


Tiga kali Rama mengulang berteriak meminta tolong. Mulai merasa putus asa karena nyanyian tidak juga berhenti. Bisa jadi teriakannya jadi tidak terdengar. Ia berdiri memegangi teralis besi menunggu suara nyanyian itu usai.


Pintu kamar bergeser. Rama menoleh. Salah seorang yang biasa mengantarkan makanan berkacak pinggang diiringi seringai di wajah. "Percuma kamu teriak sampe pagi juga. Mereka tidak akan dengar. Jauhhhh!"


Rama bergerak mendekat sambil meraih gelas di nakas. Sekuat tenaga melemparkannya mengarah pada penjaga itu. Gelas yang membentur dulu teralis pecah berhamburan dan mengenai wajah sang penjaga. Meninggalkan goresan luka di pipi kiri dan kening.


"An jing! Kalo saja big boss gak bawel kudu merhatiin kondisi lo tetap sehat. Gue bakalan biarin lo kelaparan, mati perlahan." sang penjaga menggeser pintu kayu, menutupkannya dengan keras saking marah.


Big boss?! oke...berarti yang datang siang tadi bukan dalangnya. Berarti bukan hanya Puput yang jadi target, aku juga.


Rama berpikir keras merangkai setiap kepingan fuzzle yang tengah disusunnya selama dua hari ini, agar menjadi informasi utuh. Ia menutup jendela. Benar, percuma berteriak. Titik cahaya itu menandakan jarak yang jauh. Ia beralih ke sisi springbed yang sudah dirobeknya sejak tiga hari yang lalu. Mengandalkan tangan kosong, melanjutkan kegiatannya. Tidak mudah mematahkan pegas dan besi kecil yang dibutuhkan sebagai upaya untuk meloloskan diri.


...***...


Puput melipat mukenanya usai mengaji subuh diakhiri memanjatkan do'a memohon pentunjuk titik terang keberadaan sang suami. Hari keenam ini masih belum mendapatkan kabar baik dari pihak kepolisian juga detektif swasta yang disewa Papi Krisna.


Puput menghela nafas panjang bersama dengan terbukanya jendela menghadap balkon. Ia menatap langit yang mulai beranjak terang. Berharap seiring terbitnya matahari, hadir pula ilham ke hati dan pikirannya. Hadir petunjuk tentang kemana harus melangkah. Hampir seminggu ini hanya diam di rumah menunggu kabar. Cemas dalam penantian.


Menuruni anak tangga terakhir bermaksud menuju dapur, Puput berpapasan dengan Akbar.


"Pagi---" Akbar mengulas senyum manis. "Aku semalam nginap di sini sama Leo dan Damar. Nemenin Om Krisna. Ngasih support." Ia seolah bisa membaca raut heran yang tergambar di wajah Puput.

__ADS_1


Puput mengangguk dan tersenyum. "Makasih ya, Mas." Ia pamit pergi ke dapur. Ternyata Akbar mengikuti di belakang.


"Mas Akbar mau minum apa? Biar aku bikinin." Puput melihat pria yang memakai kaos abu itu mengambil gelas. Di samping itu, dua ART terlihat sibuk menyiapkan sajian untuk sarapan karena di rumah sedang banyak orang.


"Ada minuman apa ya selain kopi? Aku nggak minun kopi soalnya."


"Ada teh, coklat, minuman sereal...."


"Coklat! Aku mau hot cocholate aja. Di mana tempatnya? Aku mau bikin sendiri. Tapi kasih tau takarannya ya!" Akbar memotong kalimat Puput dengan menaikkan satu alisnya.


Puput tersenyum tipis. "Biar sama aku aja. Sekalian aku juga mau bikin. Mas Akbar tunggu aja di dalam."


"Oke deh." Akbar penuh senyum melenggang kembali ke dalam. Menjatuhkan bo kong di samping Leo yang sedang menatap tab dengan serius.


"Kenapa lo senyum-senyum?" Leo melirik sinis bossnya itu.


Tak berselang lama Puput menghampiri membawa nampan berisi segelas minuman pesanan Akbar. Membuat Leo kini paham apa yang menyebabkan akbar begitu semringah.


"Mas Leo mau dibikinin minuman juga?" Puput menatap Leo usai menyimpan gelas yang mengepulkan uap panas dan menguar aroma harum paduan coklat dan susu.


"Nggak usah, Put. Leo mau pulang sekarang ngambil koper punya aku." Akbar lebih dulu menjawab padahal Leo siap membuka mulut.


"Oh, ya udah. Aku tinggal dulu ya. Mau nyiapin buat sarapan." Puput berlalu meninggalkan keduanya.


Leo menoyor bahu Akbar dan mendengkus kesal. "Tega lo! Gue pengen kopi. Malah ngusir pergi."

__ADS_1


"Kasian Puput. Masa dijadiin pembantu. Lo beli aja di jalan sekalian sarapan." Jawab Akbar santai. Ia tidak ingin imajinasinya rusak. Ia tengah menikmati peran menjadi suami yang dilayani istri. Dan rasanya dadanya penuh luapan bahagia.


"ISTRI ORANG!" Leo berbisik penuh penekanan. Kemudian berlalu pergi menuju pintu keluar. Tujuannya ke apartemen untuk mengambil koper yang sudah disiapkan. Karena bossnya itu akan terbang ke Tasik dengan pesawat jam 10 pagi.


Akbar terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. Sang asisten ternyata bisa membaca isi pikirannya. "Iya...sayang sekali, istri orang." membatin pasrah.


Di ruang makan semua orang berkumpul untuk sarapan. Krisna mulai kembali bekerja dan akan memantau perkembangan pencarian Rama dari kantornya. Damar pun sudah rapih dan siap berangkat ke kantor menggantikan peran Rama. Meski suasana hati masih dirundung gelisah menanti kabar baik, mobilitas perusahaan harus tetap sehat terkendali.


Cia memilih di rumah menemani Mami Ratna yang kurang sehat. Tidak bisa dipungkiri, saat keluarga dan dari luar banjir dukungan perhatian untuk sabar dan tenang, batin seorang ibu tetap saja pilu dan was-was memikirkan nasib sang anak. Dan itu mempengaruhi pada kesehatannya.


"Neng Puput, maaf... ini hape bunyi terus. Bibi bawa kali aja ada penting." Bi Lilis yang sedang bertugas membersihkan kamar Puput, datang menghampiri dengan membawa ponsel yang rerus-terusan berdering di meja rias.


"Oh, iya. Makasih, Bi." Puput menerimanya. Membuka layar dan mengerutkan dahi melihat 4 miss called dari Aul. Ia beranjak dari kursinya,.berjalan menuju jendela yang tembus pemandangan kolam renang.


"Aul, ada apa?" Puput mengeratkan ponselnya menempel lebih lekat di telinga. Karena suara adiknya itu terdengar kecil dan intonasi tegang.


"Apa? Aul jangan becanda!" Tanpa sadar Puput meninggikan suara. Membuat semua orang yang tengah sarapan menatap dengan raut penasaran.


Mami sampai bangkit dan menghampiri Puput.


"Innalillahi......" Puput mengusap wajahnya yang memucat. Berita pagi yang sungguh mengejutkan. "Teteh akan pulang sekarang. Aul tetap temani Ibu ya!"


Mami menggoyangkan bahu Puput yang mematung dengan ponsel yang ditekankan ke kening. "Puput, ada kabar apa? Siapa yang telpon, nak?"


Puput mengerjapkan mata karena sentuhan Mami di bahunya. Barusan sejenak menenangkan diri, meredam ketegangan, karena berita mengejutkan yang disampaikan Aul.

__ADS_1


"Mami, aku mau pulang ke Ciamis sekarang. Ibu kecelakaan---" Puput menatap sendu sambil menggigit bibir. Berusaha tetap stabil, tetap tegar menghadapi ujian kedua, disaat ujian pertama belum usai.


Tbc


__ADS_2