Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
108. Menjenguk


__ADS_3

Di hari ketiga, Puput sudah diperbolehkan pulang. Kondisi fisiknya sudah lebih baik. Sakit pada jahitan di perutnya pun mulai berkurang. Tak mengira begitu sampai di rumah selepas Duhur, Kang Acil dan timnya menyambut di teras.


"Tadinya mau nengok lagi ke rumah sakit, tapi kita makan dulu di sini." Kang Acil menunjuk Dapoer Ibu. "Kata Bu Sekar, kamu akan pulang jam 2. Ya sudah kita di sini aja nunggu." Jelasnya.


Puput tersenyum. Mempersilakan empat orang tamunya masuk. Ada Zaky yang baru pulang sekolah membantu membawakan tas pakaian dari dalam mobil. Rama dengan tulus berterima kasih pada Kang Acil dan rekan-rekannya. Perbincangan ringan itu tidak berlangsung lama. Sang tamu mengerti jika Puput perlu istirahat.


Selembar cek diserahkan Rama pada Kang Acil saat bersalaman. Namun pimpinan grup SILATurahmi itu menolak dengan tegas. "Kami membantu dengan ikhlas. Cukup kemarin biaya operasional yang diberikan Puput untuk kelancaran misi."


"Mohon jangan ditolak, Kang. Aku bukannya menghinakan Akang dan rekan-rekan. Tapi ini cara keluarga kami membalas kebaikan orang-orang yang sudah menolong."


"Diterima ya, Kang!" Puput memperkuat keputusan melihat kebimbangan di wajah senior itu. Akhirnya, Kang Acil mau menerimanya.


Masuk ke kamarnya, Puput duduk di tepi ranjang. Membaca pesan masuk dari Via jika Septi sudah sadarkan diri dan dipindahkan ke ruang perawatan. Sebuah berita yang membuatnya berucap syukur.


"Kenapa senyum-senyum?" Rama yang baru menyusul masuk, merebahkan badan di samping Puput dengan kedua kaki menjuntai ke lantai.


"Ada kabar dari Via kalo Septi udah sadar. Sekarang sudah keluar dari ICU, pindah ke kamar perawatan." Kemarin Puput sudah menceritakan perihal Septi dari awal sampai akhir. Termasuk keterlibatan dalam korupsi di bagian gudang hingga berakhir penyesalan dengan memberikan informasi tempat penyekapan suaminya itu. Dan yang melegakan, Rama mengizinkan pemakaian uang dari kartu debit untuk biaya pengobatan Septi selama di rumah sakit.


"Aa, apa Septi juga akan dipenjara karena pernah jadi anak buah Zara?" Puput baru terpikirkan akan hal itu.


Rama terdiam sejenak dengan kening mengkerut. "Tergantung. Jika Zara menyeretnya dan ada bukti kuat keterlibatan, bisa jadi akan dipenjara."


"Tapi aku juga punya bukti surat dari Septi. Bisa buat bebasin tuduhan nggak, A'? Kasian punya anak dan Ibu yang harus diurus.


"Nanti aku coba bantu deh." Rama bangun dan mengecup pipi Puput. "Sekarang aku mau pergi dulu. Pak Johan dan Akbar nunggu di depan." ujarnya menerima telpon singkat.


"Aa, mau kemana?" Puput menatap heran karena merasa tiba-tiba.


"Ada urusan penting dulu. Nanti pulang sebelum magrib."


Puput menerima kecupan di bibir sebelum Rama beranjak meninggalkan kamar. Merasa ada hal yang ditutupi. Tapi ia tidak bisa memaksa suaminya itu untuk bicara terbuka.


...***...


"Lo belum cerita gimana bisa terdampar di Tasik." Rama menoleh ke arah Akbar yang duduk di jok sampingnya. Sementara Pak


Johan di depan bersama Doni sang driver.


Akbar menyeringai. "Gue sekarang stay di Jakarta udah sebulan lah. Karena saham mayoritas PT. Limas udah gue beli. Jadi mall yang di Jaktim itu udah gue kuasai. Kalo di Tasik lagi ada project bikin hotel. Itu udah program 2 tahun lalu waktu lagi di Singapura. Kebetulan ada teman orang Tasik yang nawarin kerjasama. Prospeknya udah keliatan. Kenapa tidak gue ambil peluang." Jelasnya.

__ADS_1


"Pertama kali ketemu istri lo, kita satu pesawat dari Tasik." Sambung Akbar.


"Iya. Puput udah cerita itu." Rama mengakhiri obrolan karena sudah sampai ke tempat yang dituju. Yaitu rumah sakit dr. Soekardjo.


"Mas Rama sebaiknya pakai masker. Masih ada wartawan di depan lobi." Johan memberikan sebuah masker yang sudah disiapkan dalam tasnya. Ia menuruti anak majikannya itu yang ingin menemui Zara dan Leo yang masih dirawat di rumah sakit ini dalam penjagaan ketat polisi.


Rama mengikuti arah pandangan sang asisten Papi Krisna. Benar saja, ada beberapa wartawan sedang berkerumun mewawancarai seorang pria berjas abu tua.


Bertiga berjalan cepat dengan pandangan lurus ke depan. Melewati kerumunan wartawan sambil acuh. Mereka tiba di ruang perawatan Zara lebih dulu, Johan meminta izin kepada polisi penjaga dengan membawa surat pengantar.


"Maaf, Anda tidak boleh menemui klien kami."


Langkah Rama yang akan masuk ditemani Akbar terhenti dan berbalik badan. Ternyata yang berbicara adalah orang yang tadi berada di depan lobi diwawancarai reporter.


"Saya pengacara Zara." Sambungnya.


"I don't care. Saya hanya ada urusan penting dengan Zara." Rama memandang sinis pengacara itu. Namun bahunya ditepuk Johan dengan maksud agar menjaga sikap.


"Maaf, klien saya ingin bertemu Zara. Tidak akan lama kok. Kami sudah mendapat izin dari polisi." Johan bersikap lebih tenang dan sopan terhadap pengacara Zara itu. Dan berhasil membuat sang pengacara mengalah.


Rama yang masuk dikawal pengacara Zara, serta seorang polisi, memandang ke arah bed. Dimana Zara terbaring lemas dengan satu tangan dan kaki di borgol. Lemparan pisau Puput memutus urat nadi yang menyebabkan Zara kehilangan banyak darah dan mendapat transfusi darah sebanyak 5 labu. Hilang sudah aura licik dan picik di wajahnya. Berganti raut depresi.


"Selamat menikmati hasil kerja lo, Zara. Penjara seumur hidup menunggumu." Rama menatap tajam dengan kedua tangan terlipat di dada.


Zara mengangkat satu sudut bibirnya, tersenyum sinis. "Mimpi lo! Gue lebih baik mati daripada dipenjara seumur hidup. Tidak sudi."


"Menyedihkan sekali nasib lo. Dasar cewek gi la. Psychopat!" Rama ingin puas melampiaskan kekesalannya.


"Anda kalau kesini hanya untuk menghina klien saya, silakan keluar!" Sang pengacara tidak tinggal diam melihat Zara yang berubah raut wajah seperti tertekan.


Rama mengibaskan tangan pengacara yang menyentuh lengannya. "Gue pastikan akan memperberat kasus lo. Pengacara hebat sekalipun tidak akan mampu nolong lo. Camkan ucapan gue!" Pungkasnya sambil lalu keluar ruangan. Tidak mempedulikan Zara yang kemudian berteriak-teriak memakinya.


Kamar perawatan kedua yang akan dikunjungi berada berdampingan. Satu orang polisi mengawal masuk. Seperti tadi, Johan menunggu di luar. Membiarkan Rama dan Akbar yang masuk.


Seorang pesakitan bernama Leo menatap kedatangan Rama yang mendekat. Raut wajah yang masih babak belur hasil karya Zaky itu tak lagi bertaring. Berubah menundukkan wajah takut dengan tatapan tajam suaminya Puput itu.


Luka dalam di bagian dada akibat tendangan Puput membuat Leo masih harus dirawat lama. Berbeda dengan rekan-rekannya yang langsung mendekam di balik jeruji besi.


"Gue pengen denger sekali lagi lo ngomong soal istri gue!" Tantang Rama dengan nada dingin.

__ADS_1


"Ma-maaf." Leo mengaku kalah. Ia meminta maaf dengan menundukkan pandangan. Tangannya yang diborgol membuatnya pasrah akan perlakuan Rama terhadapnya.


Rama menoleh ke arah Akbar. Yang disambut Akbar dengan anggukkan kecil. Sebuah kode yang sudah direncanakan sebelumnya.


Begitu polisi lengah karena diajak berbincang oleh Akbar, Rama sekuat tenaga melayangkan tinju mengarah ke hidung Leo. Membuat Leo mengerang sakit dengan darah mengucur. Dipastikan tulang hidungnya patah. Tonjokkan berikutnya mendarat di perut. Membuat Leo meraung.


Polisi sigap menarik pinggang Rama yang ingin memukul lagi. Kegaduhan itu membuat polisi yang berjaga di luar, ikut mengamankan Rama yang wajahnya memerah diliputi amarah.


Rama mendapat teguran polisi. Tapi ia tidak peduli. Meski inginnya merobek pula mulut Leo mengingat betapa menjijikannya laki-laki itu bicara saat kemarin dirinya terpenjara di vila.


...***...


Sesuai janji, Rama pulang sebelum magrib diantar sampai depan rumah. Dengan raut wajah yang kembali tenang seperti awal mula berangkat. Ia berterima kasih pada Akbar yang mendukung sikapnya tadi. Berbeda dengan Johan yang geleng-geleng kepala karena tidak memprediksi akan aksinya itu.


Ada Ibu yang sedang berbincang santai menurunkan ilmu memasak pada Aul saat Rama berucap salam. Keduanya berada di ruang tamu dan Aul tampak serius menuliskan pada sebuah buku.


"Puput dimana, Bu?" Rama bergabung sejenak duduk di sofa.


"Baru aja ke atas. Mau mandi katanya." Sahut Ibu. Rama mengangguk dan pamit menuju tangga.


Masuk ke dalam kamar yang tidak terkunci, bersamaan dengan Puput yang keluar dari kamar mandi berbalut handuk dan rambut basah yang berbungkus handuk kecil.


Puput menyambut dengan senyum manis. "Aa, sejak kapan datang?"


Rama bukannya menjawab. Malah mengunci pintu dan melangkah mendekati Puput. Hidungnya mengendus leher jenjang yang wangi sabun aromateraphy mawar.


"Sayang, kamu menggodaku." Rama menatap sayu. Satu stempel berhasil menghiasi kulit putih istrinya itu.


"Aku abis mandi bukannya sengaja menggoda." Puput menahan tangan Rama yang mau melepas simpul handuknya. Menggelengkan kepala.


"Aku cuman mau ngecek perut kamu, sayang." Rama beralasan. Namun sorot mata yang berkabut tidak bisa relevandengan lisannya.


"Aman kok. Nggak kena air. Awas ah aku mau pakai baju." Puput menyadari modus Rama. Ia keukeuh menahan simpul handuknya agar tidak melorot.


"Aku yang akan mastiin aman tidaknya!"


Puput pasrah, mengalah. "Aku nggak tanggung jawab lho ya akibatnya. Aa kan lagi puasa."


"Hm, gimana nanti aja." Keinginan Rama tidak bisa ditahan. Seperti halnya si kecil yang meronta-ronta dalam sangkarnya. Ia mulai menarik simpul handuk. Beberapa kali harus menelan saliva menatap pemandangan mempesona di hadapannya itu.

__ADS_1


Selanjutnya....author lepas tangan ah.


__ADS_2