
Puput menepuk-nepuk kedua pipi di depan cermin. Mau menyambut kedatangan Rama untuk pertama kalinya setelah jadian, membuat perasaan dag dig dug tak menentu. Kedua pipi tak henti merona karena terbayang lagi tentang semalam di alun-alun Ciamis. Dimana usai dihibur sang pengamen, lanjut jalan-jalan santai mengitari trek joging dalam suasana malam yang cerah dengan langit pekat bertabur kerlip bintang. Berakhir swafoto memakai ponsel Rama, untuk pertama kalinya melakukan selfie.
Begini ya rasanya jatuh cinta.
Puput geleng-geleng kepala masih menatap pantulan dirinya di cermin. Sejak mau tidur semalam sampai siang hari ini, tak henti bibir senyum-senyum sendiri secara tiba-tiba. Alhasil menjadi bahan godaan ketiga adiknya.
"Ibu, Teteh harus dirukyah nih. Kesambet jin di kamar mandi kayaknya."
Ledekan Zaky membuahkan aksi kejar-kejaran dan berakhir berkelahi adu jurus di halaman depan. Yang terjatuh lebih dulu, dia yang kalah. Ibu hanya geleng-geleng kepala. Sudah biasa melihat kelakuan dua anaknya yang seperti anak kecil itu. Aul dan Ami tentunya jadi suporter yang bersorak.
Puput yang sudah keluar dan menutup pintu kamar, kembali berbalik. Lupa belum memakai cincin. Diangkatnya ke depan cermin, tangan kanan yang tersemat cincin di jari manis. Bukti sebagai jawaban lamaran pribadi seorang Rama Adyatama. Tersenyum lagi sambil menatap kilau diamond yang cantik bersinar itu.
Turun ke lantai bawah bersamaan dengan kedatangan Via dan Adi. Sengaja pintu utama dibuka lebar agar suasana riang gembira terasa. Memilih mengobrol di ruang tamu sambil menunggu Rama yang belum datang.
"Di, gimana jadwal show padat?!" Puput membuka percakapan. Menatap sepasang kekasih yang duduk satu sofa, yang tak lama lagi akan melepas lajang.
"Alhamdulillah bulan ini cukup padat. Besok sabtu dan minggu full. Siang ngisi di wedding, sore di cafe, malamnya di coffe shop." Sahut Adi dengan wajah semringah.
"Alhamdulillah dong. Rejeki calon manten ngalir terus. Jangan lupa jaga kesehatan. Kamu sekarang keliatan kurusan." Puput bisa menilai wajah Adi yang lebih tirus.
"Aku selalu ingetin kok, Put." Via menyela dengan sewot. Takut dikira ia tidak perhatian kepada calon imamnya itu. "Tapi kata orang hal biasa setiap calon manten kalau udah dekat waktu suka kurusan karena kan cape persiapan, pikiran jadi tegang. Aku aja sekarang turun 1 kg." sambungnya menyampaikan lagi pengalaman yang ia dengar dari teman yang sudah menikah.
"Iya gitu?!" Sahut Puput yang lebih tepatnya ingin meyakinkan diri sendiri.
Terdengar suara pintu mobil ditutup, Puput menoleh keluar. Nampak mobil Rama sudah terparkir di luar pagar tembok. Ia beranjak menuju teras. Status baru membuatnya merasa deg degan menyambut kedatangan Rama untuk pertama kalinya.
Eh..kenapa jadi kayak nyambut suami datang...
Baru sadar. Tapi terlanjur sudah keluar dan berdiri di teras Bahkan Rama kini berjalan mendekat sambil mengumbar senyum manis. Puput pun membalasnya.
"Lagi ada tamu, Neng?!" Rama menunjuk dengan ekor mata pada mobil Ayla yang terparkir di depan mobilnya.
__ADS_1
"Itu mobil Adi. Ayo aku kenalin!"
"Emang siapa dia?!" Rama menahan lengan Puput yang akan melangkah. Menatap dengan sedikit merajuk.
Puput mengerutkan kening. Mencoba memahami arti tatapan itu. Kemudian beralih mengulum senyum "Cemburu bilang, boss," dengan santai mengerlingkan mata. Ngeloyor lebih dulu ke dalam rumah.
Tidak terpikirkan oleh Puput. Jika lirikan itu menjadi racun untuk Rama. Membuat pria yang selalu berpenampilan keren itu menggeram dalam hati saking gemas.
"Kak, ini Novia. Bestie aku yang juga staf RPA. Biar Kak Rama tahu siapa orang-orang terdekat aku."
"Dan ini Adi. Dia ini teman duet aku waktu reunian kemarin. CALON SUAMINYA Novia. Sebulan setengah lagi mereka akan menikah." Puput sengaja bicara dengan menekankan kata. Dalam hati ingin tertawa melihat reaksi Rama yang kini berbinar, berubah tersenyum ramah. Menerima jabat tangan Adi dan Novia, saling berkenalan.
...***...
Damar membiarkan Cia yang tertidur dengan kepala miring menyentuh pundaknya. Perjalanan pulang ke Jakarta sama mengalami macet namun tidak separah saat perjalanan ke Ciamis. Ditambah Damar dengan sengaja mampir dulu di dua tempat wisata yang dilalui. Ingin memuaskan kebersamaan dengan Cia. Karena mungkin esok gadis pujaannya itu tak akan punya waktu untuknya.
Cemburu?! Tentu saja. Apalah dikata, resiko cinta dalam hati. Tak ada hak untuk melarang Cia bertemu Adit. Laki-laki yang ia nilai secara karakter, tidak cocok menjadi kekasih Cia. Kalau boleh arogan, Hanya aku yang pantas!
Damar membiarkan Cia yang masih lelap. Yang tertidur sejak keluar dari gerbang tol. Kapan lagi punya kesempatan seperti ini, bisa mengecup puncak kepala seseorang yang disayanginya, penuh perasaan. Meski tidak disadari oleh yang bersangkutan.
Cia menggeliat. Membuat Damar terkejut, meluruskan pandangan. Ia seolah maling yang takut tertangkap basah.
"Ini di mana, Kak?!" Cia menegakkan duduk diiringi menguap panjang. Baru sadar dengan mata memembelalak setelah nyawa terkumpul. "Eh udah sampai rumah?!" menatap Damar dengan raut girang.
"Tidur kayak orang pingsan sih." ledekan yang membuahkan cubitan di lengan Damar.
Dua bulan lebih meninggalkan rumah. Memilih healing di Ciamis menemani nenek tercinta. Kini waktunya melepas rindu akan rumah dan kamar pribadinya. Ingin sekali menjatuhkan tubuh di ranjangn namun ditahan dulu. Nanti setelah membersihkan badan.
"Kak, gimana kalau tidur di sini aja? Pulangnya besok pagi aja ya!" Cia berubah pikiran saat mengantar Damar keluar sampai teras. Rasa takut mulai melanda jika harus sendirian di rumah yang besar itu.
Damar mengangkat kedua alisnya. Ia sudah menemani Cia di dalam dan memastikan semua pintu akses dan jendela terkunci. "Katanya gak takut di rumah sendirian," meledek sambil tersenyum menyeringai. Di satu sisi, hatinya sangat senang karena Cia yang meminta. Di saat ia mau usul menawarkan diri menemani. Karena khawatir jika harus meninggalkan Cia sendirian.
__ADS_1
"Kalau tidur sendiri sih berani. Tapi di rumah sendiri jadi takut." Cia tersenyum meringis. "Jangan pulang ya, plis!"
...***...
Pagi menjelang. Cia mengetuk pintu kamar tamu di lantai bawah, tempat dimana Damar tidur. Sudah jam 7 lebih tapi laki-lakinyang sudah dianggap kakaknya itu belum nampak batang hidungnya. Ia sudah membuatkan sarapan untuk berdua. Sudah pula berdandan cantik bersiap pergi ke rumah Adit.
"Kak Damar...udah bangun belum?!" Teriak Cia sambil mengetuk pintu. Tiga kali diulang tapi tidak ada sahutan.
"Nyari siapa, Non?!"
Cia membalikkan badan dengan terkejut. Tak menyangka orang yang dikira belum bangun malah nampak bercucuran keringat dan tengah mengatur nafas.
"Ish, kirain belum bangun. Dari mana, Kak?!" Cia mengikuti langkah Damar yang berjalan menuju dapur.
"Abis jogging dua putaran komplek. Biar fresh lagi soalnya kemarin banyak duduk." Damar meneguk segelas air putih. Bulir keringat masih menetes dari rambutnya yang basah.
"Ya udah. Sarapan dulu yuk mumpung masih hangat. Aku sengaja masak lho buat Kak Damar."
"Emang bisa masak?! Paling ceplok telor ya." Giliran Damar yang kini mengikuti langkah Cia menuju meja makan.
"Sembarangan! Aku tuh selama di Enin sambil belajar masak. Jadi dah bisa dong." Dengan bangga Cia memperlihatkan nasi dan dua macam lauk yang ada di meja. Dan ternyata Damar mengapresiasi rasa dengan dua acungan jempol. Membuat Cia tersenyum senang.
Jam 9 menuju rumah Adit dengan diantar Damar. Padahal tadinya Cia berencana pergi membawa mobil sendiri. Namun alasan melaksanakan amanah dari Papi, membuat Cia mengalah.
"Stop, Kak. Ini rumahnya." Cia memberhentikan mobil di samping rumah Adit. Sengaja agar kejutannya berhasil. "Kak Damar pulang aja. Nanti aku pulangnya diantar Adit. Makasih ya, Kak." Tanpa menunggu jawaban Damar, Cia keluar dari mobil lalu melambaikan tangan.
Damar hanya bisa mengatupkan bibir dengan wajah tanpa ekspresi. Keriaan Cia berbanding terbalik dengan suasana hati Damar yamg kecewa dan level cemburu naik. Hanya bisa melampiaskan dengan memukul stir dan meremas rambut dalam kondisi mobil melaju perlahan.
Dari rear vision mirror terlihat, Cia masuk ke dalam pintu gerbang dengan mendorongnya hati-hati. Sosok tubuh sang gadis pujaan pun menghilang diiringi perih hati seperti teriris sembilu.
Lemah lunglai Damar mengemudikan mobilnya tanpa gairah. Tujuannya pulang ke rumah orang tua. Begitu bersiap menancap gas, pandangannya dari spion terubruk pada tas yang tergeletak di jok baris tengah. Baru ingat, itu tas milik Cia yang memang sengaja disimpan di sana saat berangkat.
__ADS_1
"Cia...Cia...." Damar menggerutu pelan. Bisa-bisanya Cia lupa dengan barang penting. Yang ia periksa di dalamnya ada dompet dan ponsel. Terpaksa harus memutar arah. Harus memberikan tas itu pada pemiliknya.