Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
131. Hubungan Baru


__ADS_3

"Padma, duluan ke meja makan ya! Nanti Kakak nyusul." Ucap Panji diiringi senyum lebar.


Padma mengangguk. Sedikit membungkukkan punggung saat harus melewati Bunda Ratih sebagai bentuk tata krama.


Tinggallah Panji berhadapan dengan Bunda yang sedang memperhatikan punggung Padma sampai tak terlihat karena berbelok ruangan.


"Namanya Padma Syahreza. Dia.....adiknya Panji, Bun." Panji melihat bola mata bundanya yang membulat sempurna.


"Ayah pindah dari Jogja. Dan ternyata sudah sebulan tinggal di komplek ini karena ingin dekat sama Panji. Padma juga ingin bertemu kakaknya yang selama ini hanya tahu dari foto yang diambil dari ig. Panji baru tiga hari akrab dengannya, Bun." Panji menatap sang bunda dengan rasa serba salah. Apalagi Bunda sama sekali tak bersuara. Hanya menatapnya datar.


"Ayah hanya tinggal berdua dengan Padma ditambah Mbok Yeti pengasuh Padma sejak bayi hingga sekarang, juga satu ART. Panji nggak punya ibu tiri." Panji sengaja tidak bercerita gamblang. Untuk memancing rasa penasaran Bunda.


Bunda Ratih terlihat menggigit bibir dengan mata mengerjap-ngerjap gelisah. Lalu menghembuskan nafas panjang.


"Kalian mau makan, kan? sana makan dulu. Bunda mala solat." Bunda Ratih mengusap lengan Panji. Bersiap beranjak ke kamar.


"Kita makan sama-sama ya, Bun. Aku akan tunggu Bunda." Panji menatap penuh harap.


Bunda Ratih menggeleng. "Duluan aja. Bunda belum lapar. Mau istirahat dulu."


Panji memperhatikan dulu bundanya yang berlalu. Ia pun berjalan mengarah ke ruang makan. Nampak Padma tersenyum menyambut kedatangannya.


"Kenapa belum mulai makan?" Panji menarik kursi di samping sang adik.


"Kan nunggu dulu Kakak." Padma menggelayut manja di lengan Panji.


Panji mengacak rambut Padma dengan gemas. Merasa hatinya menghangat memiliki adik yang bermanja padanya. Dengan senang hati melayani sang adik, menuangkan nasi dan ayam goreng serta kerupuk udang. Sebanyak tiga kali, ia menyuapi dari piring miliknya.


"Alhamdulillah, kenyang." Ucap Padma dengan wajah berbinar usai meneguk segelas air putih. Ia turun dari kursi untuk mencuci tangan yang diikuti pula oleh Panji.


"Kak, tante tadi bundanya Kak Panji ya?" Padma menerima satu cup es krim yang diambil Panji dari kulkas. Menatap sang kakak yang masih setia duduk di sampingnya.


Panji nampak bingung untuk menjawab. Sudah cukup dewasakah Padma untuk mengetahui kenyataan tentang status keluarga mereka. "Iya. Baru datang dari Ciamis." ujarnya sambil mengamati raut wajah sang adik.


"Bundanya Kak Panji bukan bunda Padma, ya? Padma nggak tau wajah bunda Padma seperti apa. Nggak punya fotonya juga." Padma menunduk sambil menusuk-nusuk es krim dengan sendoknya.


Panji tercekat. Es krim vanilla di tangannya tak lagi berselera. Mendongakkan wajah menahan kedua mata yang tiba-tiba memanas. Laki-laki harus tegar. Ia mensugesti diri.


"Tapi kata Ayah, Padma harus bersyukur punya masih punya Ayah dan punya Kakak. Padma suka diajak Ayah ke panti asuhan ngasih sedekah. Kasihan mereka malah nggak punya ayah bunda. Padma bahagia kok punya Ayah dan punya kakak." Sorot mata yang sejenak redup kini kembali berbinar menatap Panji.


Panji merengkuh sang adik dengan rasa sesak di dada karena haru biru. Sambil mengecup puncak kepala Padma, ia berjanji akan selalu ada untuk melindungi adik beda ibu itu.


"Kakak suapin ya!" Panji mengambil alih es krim milik Padma karena hanya memainkan sendoknya saja dengan diputar-putar. Ia tak ingin melanjutkan pembahasan yang hanya membuat suasana melankolis.

__ADS_1


"Besok Kakak yang akan antar Padma sekolah." Ucap Panji usai menyuapi sebanyak tiga kali.


"Beneran, Kak?" Padma melebarkan mata tak percaya. Lalu bersorak girang melihat sang kakak mengangguk kuat.


"Kak, Padma nggak jadi nginep. Mau pulang aja." Padma menatap serius.


"Loh kenapa?" Panji mengernyit heran.


"Padma takut Bunda Kakak nggak suka Padma. Mau pulang aja ah. Lain kali aja nginepnya kalo Bunda Kakak nggak ada di rumah."


"Bunda orangnya baik kok. Padma nya aja belum kenal. Nanti kita ngobrol santai sama Bunda. " Tapi Panji tetap saja tidak bisa merayu sang adik yang keukeuh memilih pulang. Ia akhirnya mengalah.


Panji menuju kamar Bunda Ratih sambil menunggu Padma yang naik ke kamar lantai dua untuk mengambil kerudung. Ia masuk usai mengetuk pintu. Nampak sang bunda masih duduk di atas sajadah berbalut mukena.


"Bun, Panji mau nganterin dulu Padma pulang." Panji menangkap raut wajah bunda sedang murung.


"Kirain mau tidur di sini. Apa dia pulang karena keganggu ada Bunda ya?" tanya Bunda Ratih yang tiba-tiba merasa tidak enak hati.


"Nggak sama sekali, Bun. Padma lupa nggak bawa buku pelajaran. Ada PR buat besok." Panji terpaksa berbohong demi menjaga perasaan Bundanya. Padahal prasangka bundanya itu benar.


...***...


Bunda Ratih memilih meringkuk di ranjangnya usai menunaikan salat isya. Rumah terasa senyap karena Panji belum kembali sudah setengah jam lamanya. Menatap kosong pada dinding kamar berwarna putih. Ia sengaja datang ke Bandung karena perasaan yang tidak tenang setelah Panji bilang akan bertemu Ayah Anjar.


"Masuk aja." Sahut Bunda Ratih mendengar suara Panji memanggil dari luar pintu. Ia bangun merubah posisi duduk bersandar di kepala ranjang.


Panji duduk di tepi ranjang dengan tatapan menelisik. "Bunda kenapa belum makan?" Ia mengetahui dari bibi jika bundanya belum keluar kamar sejak tadi.


"Belum lapar. Nanti aja kalo mau pasti makan kok." Bunda Ratih beralasan.


"Ayo Panji temenin. Panji nggak mau Bunda sakit." Panji menarik lembut tangan sang ibu yang kemudian luluh oleh bujukannya.


Sepanjang menemani makan Panji memperhatikan Bunda yang kurang bersemangat. Tak seperti biasanya yang setiap datang ke Bandung dengan wajah ceria melepas rindu.


"Padma tadi nanya, itu bundanya Kak Panji ya. Padma sendiri tidak tahu siapa ibunya. Fotonya pun nggak punya. Sungguh Panji tadi nyesek dengernya, Bun." Panji mulai membuka obrolan usai Bunda makan.


"Panji tidak tahu siapa sebenarnya yang egois. Panji tidak akan menghakimi Ayah ataupun Bunda. Takdir masa lalu tidak bisa diubah. Kami lah yang harus menerima kenyataan. Panji terpisah dari Ayah. Padma juga tidak punya ibu." keluhnya. Panji bermaksud ingin memancing bundanya.


"Memangnya ibunya Padma kemana?" Bunda Ratih mulai terpancing ingin tahu.


"Ayah kemarin cerita panjang lebar. Kita bicara sebagai sesama laki-laki dewasa. Ayah bilang ingin sekali menambah anak. Bahkan komitmen sebelum menikah, Bunda setuju untuk punya anak tiga. Saat Panji kelas satu SD Ayah membicarakan hal itu. Tapi katanya Bunda belum siap. Ayah sabar menunggu bertahun-tahun sampe Panji SMP. Tapi katanya bunda menolak untuk punya anak lagi. Sampe akhirnya Ayah membuat keputusan sendiri. Menikah kontrak dengan janda miskin anak empat. Itu dilakukannya demi ambisi punya anak lagi. Dan saat bayi Padma satu tahun, Ayah membawanya dengan menceraikan ibunya Padma."


Bunda Ratih jelas terhenyak selama menyimak ucapan Panji.

__ADS_1


"Bunda boleh percaya boleh tidak. Katanya Ayah menyentuh wanita itu hanya dua kali di awal pernikahan sirinya. Bulan berikutnya hamil, Ayah hanya memberikan kewajiban nafkah lahir hingga bayi Padma umur setahun. Ayah bilang sebenarnya tidak ingin mengkhianati Bunda. Terpaksa melakukan itu karena Bunda menolak punya anak lagi. Padahal kondisi Bunda sehat tidak punya riwayat penyakit."


Bunda Ratih menelan ludah sambil memejamkan mata.


"Ayah bilang sampai sekarang pun masih cinta dan sayang sama Bunda. Tidak ada wanita lain di kehidupan Ayah. Ayah fokus membesarkan Padma sambil hijrah memperbaiki diri. Karena Ayah tetap merasa bersalah sudah mengkhianati Bunda." Pungkas Panji menceritakan hasil pertemuannya dengan Ayah Anjar.


"Jujur, Bunda. Panji merasa senang punya adik Padma. Panji merasakan seperti Ayah dulu saat muda. Yang kesepian menjadi anak tunggal. Panji harap Bunda mengizinkan kehadiran Padma di rumah ini. Panji harap Bunda sama Ayah tetap menjalin silaturahmi meskipun sudah memilih jalan hidup masing-masing."


Alhasil, sepanjang malam tidur Ratih gelisah. Ucapan Panji terus terngiang. Ia baru tahu fakta pernikahan siri Anjar, mantan suaminya itu, setelah sekian tahun lamanya.


Pagi harinya terasa kurang segar karena Ratih baru bisa tidur pukul tiga dinihari. Panji pamit padanya karena akan mengantar Padma ke sekolah. Ia menangkap raut ceria dan penuh semangat di wajah sang anak. Andainya dulu ia bersedia hamil lagi, tentunya yang diantar Panji adalah anak kandungnya juga. Ia menggeleng sambil mengurut kening. Menyesal tiada guna.


Membersihkan tanaman dari daun-daun yang layu sambil berjemur di taman depan, dilakukan Ratih untuk menghalau gundahnya perasaan. Ia menyibukkan diri berjongkok mematahkan ranting kering dengan pisau khusus. Sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang mendorong pintu gerbang dan kini berdiri memperhatikannya dari belakang.


"Assalamu'alaikum."


Ratih memutar badan begitu mendengar ucapan salam. Deg. Jantungnya mendadak berdebar kencang sekaligus kaget melihat siapa yang yang sedang menatapnya sambil tersenyum tipis. "Wa'alaikum salam," lirihnya sedikit gugup saking tidak menyangka akan bertemu mantan suami.


"Ratih, apa kabarnya?" Anjar menyapa ramah.


"Baik, Mas." Ratih masih nampak kaku menjawab dengan tangan mencengkram kuat gunting taman.


Keduanya kini duduk di kursi teras. Dua gelas teh tersaji di meja. Bagaimana pun Ratih ingin terkesan tuan rumah yang menghormati tamunya. Meski tamu itu suaminya di masa lalu.


"Saya ke sini karena Panji yang ngasih tahu ada bundanya datang." Anjar memecah kebisuan diantara keduanya. "Alhamdulillah bisa lagi berjumpa sama bundanya Panji. Saya harap kita bisa menjalin silaturahmi lagi sebagai teman. Karena saya bakal bertemu tiap hari dengan Panji. Saya warga baru di sini. Tinggal di blok Kemuning. Saya nggak ingin jauh lagi dari anak kita."


Rati menjalin jemari dengan kepala menunduk selama mantan suaminya berbicara. Diakui, ada yang berubah dari fisik sang mantan. Bertambah matang usia, semakin tampan dan berkharisma wajah ayahnya Panji itu.


"Baiklah. Demi kebahagiaan Panji, saya menuruti permintaan Mas Anjar." Ratih memutuskan memulai semuanya dari nol lagi. Dalam arti, melupakan masa lalu. Tiada guna menyesali yang sudah berlalu.


Anjar mengangguk dan berucap syukur. "Saya nggak lama, mau permisi pulang." Ia pun bangkit dari duduknya.


"Kenapa buru-buru?" Ratih turut berdiri. Tapi kemudian terkaget sendiri karena ucapan spontannya itu. Ia bingung mau meralat bagaimana.


Anjar melengkungkan senyum manis. "Jika Ratih bersedia, nanti malam saya ingin mengajak Ratih dan Panji makan malam bersama di luar. Saya juga akan membawa Padma. Anggap sebagai syukuran hubungan baru kita sebagai teman. Gimana bisa, Bunda. Eh maaf. Gimana bisa, Ratih?" ujarnya terkaget sendiri karena keceplosan dengan kebiasaan masa lalu.


"Saya terserah Panji aja. Nanti Panji yang akan mengabari Mas Anjar." Dada Ratih berdesir mendengar kata Bunda terucap dari bibir tipis Anjar.


Ratih menatap nanar punggung Anjar yang hanya bertamu sekitar 10 menit. Pria yang tak berubah dalam berpenampilan, tetap perlente dengan outfit favorit sejak dulu. Celana jeans dan polos shirt membalut tubuh ramping yang rajin berolahraga itu.


...****************...


Lunas ya. Aku dah kabulin permintaan readers. Next bagian RamPut

__ADS_1


Suguhan kopi donk akunya 🙃🙃🙃


__ADS_2