Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
104. Akhirnya Ku Menemukanmu (2)


__ADS_3

Pelarian Rama hanya berhasil sampai ambang pintu utama villa. Ia tertangkap dua orang penjaga dan kini tak berdaya. Duduk di kursi ruang tengah dengan tangan dan kaki terikat. Ia menatap nyalang pada kedatangan seseorang yang jelas terobsesi terhadap istrinya, Puput.


"Lo mau lari ke mana? Sabar, lubang kuburanmu masih digali, belum beres." Dengan melayangkan satu pukulan di pipi Rama, pria itu tersenyum menyeringai. Puas.


"Cih." Rama meludah ke samping. Rasa asin dan perih dari sudut bibir yang luka ia abaikan. Menatap tajam tanpa rasa takut seolah menantang lagi untuk menerima pukulan berikutnya.


"Sekarang gue ingat. Lo orang yang kalah tanding lawan Puput. Seorang ban ci yang dikalahkan oleh perempuan. Sekarang pengen dapetin Puput dengan cara nyulik gue? Mana jiwa ksatria seorang pendekar silat. Benar-benar ban ci!" Rama sengaja memancing amarah untuk mengorek siapa aktor utama di balik penculikannya itu.


"Gue terlibat di sini demi duit, juga demi bisa menikmati tubuh seksi istrimu. Sebuah kerjasama saling menguntungkan yang ditawarkan big boss." Pria yang tak lain bernama Leo mencengkram kerah Rama dengan kilat amarah. "Sekarang istrimu itu pasti akan ke sini untuk membebaskan arjunanya. Eh bukan, tapi untuk menyerahkan diri padaku. Dia kan punya utang kencan lima kali. Haha---"


Rama membelalakkan mata. Benarkah Puput akan ke sini? Antara senang dan takut berbaur jadi satu.


"Kita akan ucapkan selamat datang pada mereka di villa penuh ranjau ini. Itu artinya harus menggali lagi banyak lobang kubur biar aman, hilang tanpa jejak." Lagi, Leo tertawa puas. Ia berniat memukul lagi wajah Rama. Namun seseorang mencegahnya.


"Stop! Jangan sampai gantengnya calon suamiku ini rusak."


Rama menoleh ke arah pintu utama. Tatapannya nyalang terhadap kedatangan seorang perempuan dikawal dua orang preman bertubuh tinggi besar.


"ZARA!"


"Jadi lo----" Rama mengeratkan giginya. Sekuat tenaga menggoyang-goyangkan kursi, berontak ingin lepas.


Zara mendekat. Mengusap wajah Rama dengan tatapan memuja. "Sabar, sayang. Segitu antusiasnya menyambutku datang. Aku juga sama ingin segera bercinta sama kamu."


"Dasar cewek gila! Lo pengen masuk penjara nyusul bokap lo, hah?" Rama memalingkan muka ke kiri beralih ke kanan. Jijik mendapat sentuhan tangan Zara.


Zara duduk di kursi yang disiapkan ajudannya. Duduk di depan Rama, bersilang kaki. Merogoh tas dan mengeluarkan sebatang rokok yang kemudian dinyalakan. Asap yamg dihirup dengan dalam, dihembuskannya pada wajah pria di depannya yang wajahnya berhias memar.


"Gue jadi gila karna lo juga. Beraninya main-main dengan seorang Zara. Lo harus tau. Apapun yang gue inginkan harus terlaksana. Lo malah manfaatin gue buat ngejebak Papa. Sekarang....rasakan akibatnya." Dengan wajah datar, Zara menghisap lagi rokok putihnya. Kembali dihembuskan ke arah Rama.


"Apa yang lo mau? Mau maksa gue buat nikahin lo?" Rama memicingkan mata.


Zara menyandarkan leher ke belakang. Menghisap lagi roko dengan tenang. Dan membumbungkan asapnya ke atas. "Ternyata benar, cinta dan benci itu beda tipis. Kemarin aku memujamu, tergila-gila. Sekarang aku membencimu dan menginginkan kematianmu. Barulah aku bahagia." Ia beralih menatap Rama dengan menarik sudut bibir. "Lubang kuburmu tinggal setengahnya lagi beres. Aku sendiri yang akan membuatmu jatuh ke dalamnya, sayang."


Zara berdiri. Menjatuhkan rokok yang terselip di jari yang tersisa setengahnya lagi. Bara rokok diinjak dan digerus dengan sepatu bootnya.


"Tapi gue pengen bercinta dulu sebagai salam perpisahan, sayang. Gue pengen ngilangin dulu jejak sentuhan bini kampungan lo itu." Zara maju dua langkah. Tangannya menggerayangi dada Rama yang berupaya berontak.


"Mana minumannya!" Zara menoleh pada ajudan di belakangnya.


"Lo mau apa?" Rama melotot begitu Zara mendongakkan dagunya, dengan satu tangan memegang botol minuman yang entah apa isinya.


"Biar kuat bercinta, sayang. Sstt diamlah! Waktu kita tidak banyak. Bini lo pasti bawa polisi ke sini. Tapi dipastikan sebelum mereka sampai, villa ini sudah kosong." Zara bersiap mengucurkan minuman ke mulut Rama yang mengatup rapat, dipaksanya dibuka.


"Arggh!" Zara menjerit sakit. Tubuhnya oleng dan botol di tangannya lepas dan tumpah. Ia memegang tengkuknya yang sakit terkena lemparan batu. Tiga orang pria yang tengah mengawasi tingkahnya pun ikut terkaget dan menatap ke arah pintu utama secara bersamaan. Pintu yang tadinya tertutup meski tidak rapat, tanpa diketahui sudah terbuka lebar.


...***...


Setelah berjalan 20 menit lamanya, enam orang berpakaian serba hitam yang menyisir secara gerilya lewat tiga titik, sudah sampai di dekat villa dan bertemu di titik kumpul yang sudah ditentukan berdasarkan peta kesepakatan. Kang Aris menggunakan teropong untuk mengamati sekitaran villa yang berjarak sekitar 10 meter dari tempat persembunyiannya itu.


"Ada satu mobil off road terparkir sama dua motor trail." Kang Aris melapor sambil tetap menggunakan teropongnya.


"Bisa jadi Zara sudah datang." Gumam Puput dengan otak yang mulai berpikir keras.


"Tunggu-tunggu! Ada jebakan menanti. Sepertinya mereka sudah menanti kedatangan kita." Kang Aris memutar lensa teropong jarak jauh itu untuk menambah zoom. Membuat semua orang yang duduk sambil berisitrahat itu penasaran menunggu penjelasan selanjutnya.


"Ada apa, Ris?" Kang Acil, yang paling sepuh diantara yang lainnya, menepuk bahu Aris.


Aris melepas teropongnya. Memberikannya kepada sang ketua. "Aku melihat ciri ranjau tali. Coba akang lihat arah arah kiri kordinat 30°."


Kang Acil menuruti intruksi Aris. Hampir 5 menit ia mengamati tidak hanya pada satu titik, tapi ke semua arah. Lalu tersenyum smirk. "Bodoh juga mereka. Itu ilmu tanam ranjau aku yang ngajarin. Berarti mereka nggak tahu kalau suhu nya akan datang ke sini.


"Kalian masih ingat ciri ranjau tali, kan?" Kang Acil menatap pasukannya satu persatu. Ranjau tali, dimana terinjak akan membuat kaki terikat dan tertarik ke atas pohon, menggantung dengan posisi kepala terbalik ke bawah. "Hati-hati salah langkah! Bawa batang kayu untuk menyasar jalan jika ragu dengan adanya tumpukan daun kering yang sedikit menggunung, tancapkan batang kayu di atasnya."

__ADS_1


Semua mengangguk mengerti, kecuali Zaky. Pelajarannya belum sampai pada ilmu ranjau. Membuat keringat bercucuran dari kedua pelipisnya saking tegang.


"Zaky, kamu takut?" Puput menangkap gelagat adiknya itu.


"Aku belum belajar ilmu ranjau." Zaky berkata sejujurnya sambil mengusap keringat yang mengembun di dahi.


"Zaky jalan di belakang teteh aja. Ingat, tugasmu masuk membebaskan Kak Rama saat musuh sedang lengah melawan kita. Oke?" Puput membesarkan nyali sang adik dengan menepuk-nepuk bahunya. Dan Zaky mengangguk kuat. Rasa tegangnya turun.


"Ayo action!" Sang ketua memberi komando. Mulai berpencar dengan langkah mengendap dan badan membungkuk, merangsek di sela batang pohon pinus dan rumput yang tinggi.


Sony lebih dulu mendapatkan musuh di sebelah kanan bangunan villa. Saat si penjaga tengah kencing membelakanginya, ia bersiul. Begitu orang itu menoleh ke belakang, ia menyerang penuh kekuatan pada bagian dahi. Membuat lawan limbung karena sakit dan pusing. Satu tendangan dimasukkan ke dalam perut membuat lawan terpental dan mengerang tak berdaya.


"An jing! Berani sekali kau berkhianat. Rasakan akibatnya!" Sony tanpa ampun menarik baju lawan yang dulunya kawan itu. Menyandarkan pada pohon pinus. Dengan gerak cepat mengeluarkan tambang dari sakunya. Hanya dalam waktu semenit, lawan terikat di pohon pinus dengan mulut dibekap kain.


Kang Acil, Aris dan juga Dani sudah berhadapan pula dengan lawan. Berkesempatan mencaci maki dulu musuh yang awalnya anggota komunitas SILATurahmi itu. Meski tertangkap ada raut kaget di wajah para pengkhianat itu, namun mereka penuh keberanian menyerang.


Tinggal Puput dan Zaky yang mengendap menuju pintu utama villa yang sedikit terbuka. Ia menggenggam batu dengan telinga tegak menguping pembicaraan di dalamnya. Dengan isyarat tangan, ia meminta Zaky memepetkan badan ke samping pintu agar tak terlihat oleh musuh di dalam.


Pembicaraan seorang wanita dengan kalimat menjijikkan terdengar ke telinganya. Dadanya menghangat saat mendengar pula suara Rama. Pelan tapi pasti, Puput membuka pintu dan melempar batu ke arah bagian belakang kepala Zara.


"Puput! Sayang!"


Matanya bersirobok dengan sosok sang suami yang terikat di kursi, berseru memanggil namanya. Haru biru menyeruak di dada. Ia hampir lengah karena saling pandang. Beruntung, Dani ada di belakangnya menghalau serangan salah satu preman yang tiba-tiba menyerangnya. Ia selamat.


"Wow, ada jawara yang mau menolong arjunanya ternyata!" Leo bertepuk tangan dengan penuh senyum. Memberi isyarat, menahan preman yang akan menyerang lagi.


Puput menatap tajam mantan lawan tandingnya itu. Ia abaikan dulu Rama agar konsentrasinya tidak pecah.


"Nggak nyangka, seorang jawara silat tingkat nasional jadi pengkhianat. Bikin malu padepokan Garut. Bikin malu nama IPSI." Puput menggelengkan kepala dengan tatapan fokus ke arah Leo.


"Karna order ini mengiurkan. Dapat duit, dapat tubuhmu juga. Bukankah double keungtungan." Leo berkacak pinggang dengan satu alisnya diangkat.


"Sudah, Leo. Jangan malah ngobrol. Waktu kita mepet. Bawa gadismu itu keluar! Nikmati apa yang lo inginkan." Zara menginterupsi.


"Ayo kita duel lagi! Dan aku pastikan kali ini kamu akan kalah. Dan aku akan memiliki tubuhmu!" Leo menatap Puput dengan seringai.


"Kamu yang akan lebih dulu mati di tanganku!" Balas Puput tanpa takut sedikit pun. Ia mengikuti langkah Leo ke halaman luar. Tak menyangka di sebelah kanan, pertarungan tengah sengit karena lawan Kang Acil cs bertambah.


Di dalam villa, Dani dan Sony melawan 2 preman ajudan Zara. Suara bantingan serta pecahan kaca terdengar oleh Zaky yang bersembunyi di bawah jendela lain, mengamati keadaan di dalam. Melihat duel tengah berlangsung, ia segera masuk menuju Rama yang terilat di kursi.


"Kak Rama!"


"Zaky, tolong buka talinya. Cepat!" Rama merasa senang ada adik iparnya membantu.


Dengan pisau belati yang disematkan di pinggang, Zaky memutus tali tambang yang mengikat kaki dan tangan Rama.


"Makasih, Zaky. Kamu bantu yang lain, Kakak mau ngejar Zara." Rama bangkit dan berlari ke arah belakang. Di mana tadi ia memperhatikan langkah Zara yang melarikan diri ke arah sana. Ia tidak akan membiarkan perempuan sycho itu bebas.


...***...


Mobil double cabin datang beriiringan dengan 2 mobil polisi. Krisna, Johan, dan yang lainnya turun dari mobil. Akbar menyambutnya dengan mimik serius. Satu jam sudah berlalu dari waktu para jawara memasuki hutan dengan bergerilya. Berarti tersisa waktu 30 menit segera menyusul ke dalam hutan pinus.


"Kalian, kenapa tidak kawal mantu saya?" Krisna menatap marah pada dua bodyguard suruhannya.


"Maaf, Tuan. Yang dikawal lebih jago daripada yang mengawal. Kami disuruh menyusul nanti masuknya bersama tim polisi." jawab salah satu pengawal sambil menundukkan kepala.


"Benar, Om. Puput dan rekannya punya misi sendiri. Sekarang waktunya kita masuk. Karena kita pakai trek off road, masuknya bukan dari sini." Sahut Akbar. Ia memegang petunjuk masuk ke lokasi lewat jalur off road, di mana jalannya harus memutar melalui perkampungan. Mungkin akan membuat heboh warga kampung yang akan dilewati konvoy mobil ini. Tapi tidak masalah, karena ini tugas misi akhir yaitu penangkapan. Tidak perlu lagi bergerak dalam senyap seperti yang dilakulan tim Puput.


Mobil Pajero yang dikemudikan Akbar melaju paling depan, berbalik arah turun gunung menuju perkampungan. Ia mengamati jam yang melingkar di tangannya, jangan sampai terlambat.


Setelah melewati jalan kampung yang menurun, Akbar pun menemukan petunjuk jalur off road. Ia membelokkan mobil ke arah kanan memasuki kawasan pinus dengan lebar jalan tanah kering dan sebagian lembab, yang cukup untuk mobil saja.


...***...

__ADS_1


Duel nyata tengah berlangsung, bukan lagi sebuah pertandingan yang mengedepankan peraturan. Saling serang dengan beradu jurus belum usai. Puput mampu memasukkan beberapa tendangan dan pukulan yang membuat Leo oleng tubuhnya. Bahkan tendangan kaki Puput baru saja menghantam rahang Leo. Darah segar diludahkan pria itu dari mulutnya. Ia keteteran.


"Nyerah saja, Leo. Daripada kamu mati di tangan aku!" Puput menggertak Leo dengan siaga memasang kuda-kuda.


"Jangan sombong dulu, Puput. Aku akan melumpuhkanmu dengan caraku. Harusnya kamu yang nyerah agar aku tidak nyakitin kamu." Leo mengeluarkan pisau dari saku samping yang bersleting.


"Aku terima tantanganmu!" Puput mengeluarkan pula pisau belati dari sarungnya. Pisau lawan pisau.


Sementara Zaky membantu Dani yang keteteran dengan serangan preman. Ruang tengah villa hancur berantakan karena dua duel terjadi di sana.


Rama berteriak memanggil Zara. Perempuan jahat itu tidak terlihat batang hidungnya di area belakang villa. Ia berlari kecil menyusuri pepohonan pinus dan menyibak rumput liar.


"Zara, keluar kamu! Tidak ada lagi tempat untuk lari."


Rama menyisir dengan teliti ke setiap pelosok area belakang itu. Tidak mungkin Zara lari ke depan karena di sana ada tim Puput. Suara ranting pohon yang terinjak kaki, membuat langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah kiri.


"Jangan bergerak! Atau lo mati sekarang juga." Zara mengarahkan pistol ke arah kepala Rama yang berjarak tiga meter dari tempatnya berdiri. "Angkat tangan ke atas!"


"Lo akan kena pasal berlapis kalau membunuh, Zara. Lo bakal dipenjara seumur hidup." Tak urung Rama mengangkat kedua tangannya karena Zara menarik pelatuk.


"Gue nggak peduli. Yang penting gue puas bisa lihat lo mati. Lo udah hancurin hidup gue, Rama! Lo dan bokap lo udah bikin keluarga gue berantakan. Nyokap gue gugat cerai Papa karena malu punya suami seorang napi. LO HARUS MATI DI TANGAN GUE!"


Dorrrr.


Sebuah letusan terdengar saat Rama memejamkan mata, pasrah. Bersamaan dengan pekikan kesakitan.


Rama membuka mata. Sebuah belati menancap kuat di lengan Zara. Membuat tembakan melesat ke arah lain. Ia menoleh ke belakang. Puput berjalan terseok-seok ke arahnya.


Bugh.


Sebuah pukulan dilayangkan Rama ke rahang Zara. Membuat perempuan itu ambruk karena pingsan.


Rama memutar badan berlari menyongsong kedatangan Puput. Ia memeluk tubuh sang istri dengan erat. "Sayang---" Matanya berkaca-kaca haru. Untuk saat ini tak ingin berucap apapun. Hanya ingin memeluk dengan erat. Biarlah rengkuhan yang mewakili rasa hati yang teraduk-aduk.


"Sayang---" Rama menyanggah punggung Puput yang tiba-tiba melorot dari pelukannya. Ia berubah panik melihat sang istri yang melemah dan hampir jatuh.


Rama beralih duduk di tanah menyanggah tubuh Puput. Baru sadar, kaos abu bagian depannya menjadi basah oleh darah segar. Ia baru menyadari perut sang istri terluka.


"Astaga sayang, kamu terluka!" Rama menepuk-nepuk pelan wajah Puput penuh kepanikan. "Bangun, sayang. Kamu kuat!"


" Toloooong!" Seumur hidup Rama tak pernah merasakan takut seperti ini. Rasa takut kehilangan yang teramat dalam. "Toloooong!" ia tak mampu membedung air mata sambil menciumi wajah Puput yang mulai mengatupkan mata. Segera digendongnya tubuh yang terkulai tak berdaya itu.


Puput samar mendengar suara Rama memanggil namanya diiringi tangisan. Alam bawah sadarnya juga menangkap suara deru mobil juga sirine meraung-raung mendekat. Tubuhnya kini terasa melayang ringan.


Di sisa kesadarannya yang makin melemah, Puput melihat Ayah berjalan dengan wajah semringah mendekatinya. Ayah mengulurkan tangan penuh senyum. Ia pun mengulurkan tangan menyambutnya dengan senyum manis. Namun semuanya menjadi gelap saat tangan hampir bersentuhan. Kesadarannya hilang total.


...****************...


Tamat


.


.


.


Tapi bo'ong.


Besties,


Tanggal 1 agustus, author akan hadir dengan KCM musim kedua. Juga hadir membawa pengumuman 5 orang pemenang GA "Tanda Kasih Author".


Dan jangan lupa, tgl 1 pun rilis novel Kartika di sono ya.

__ADS_1


See u next monday. InsyaAllah ❤


__ADS_2