
Puput duduk di samping Enin setelah sepuh itu menepuk ruang kosong di sebelah kiri. Semua orang sedang berkumpul di ruang tengah. Kecuali bibi Ratih yang belum pulang dari butik.
"Gimana sekarang lukanya masih sakit?" Enin mengamati cara duduk Puput yang terlihat sangat hati-hati.
"Masih ada, Nin. Tapi nggak terlalu. Sebagiannya sudah ada yang mengering." Sahut Puput sambil menoleh ke arah pintu utama yang terbuka dimana Rama masuk dan bergabung duduk di sisi kanan Enin.
"Pi, kita berangkat jam berapa?" Rama menatap Papi Krisna yang duduk satu sofa dengan Mami Ratna.
"Abis magrib aja. Perjalanan malam itu lebih adem."
Rama mengangguk. "Nah, mumpung lagi ngumpul, aku mau ngasih kabar rencana resepsi sama Papi, Mami, juga Enin. Tanggal 29 bulan ini aku udah putusin mau menggelar resepsi. Sebelum itu mau nyari rumah dulu buat kehidupan baru kami."
Mami terdengar menghembuskan nafas kasar. "Soal resepsi, Mami seneng. Tapi soal pindah rumah terus terang Mami sedih. Pengennya sih kalian tetap tinggal bareng Mami. Rumah kita itu besar. Tapi ya....jika itu sudah menjadi keputusan terbaik, Mami terpaksa ngalah deh." Jelasnya dengan wajah sendu.
"Ratna, perasaanmu itu persis sama waktu Ibu dulu saat melepas kamu dibawa pindah oleh Krisna. Nangisnya sampe seminggu, sambil meluk foto. Almarhum ayahmu sampe ngeledek Ibu cengeng." Enin terkekeh mengingat masa lalu. "Masih mending Rama pindahannya masih di Jakarta, kalau kangen bisa tiap hari ketemuan."
"Iya, Bu. Sekarang aku yang ngalamin harus melepas anak hidup mandiri. Rasanya ternyata sesak ya. Padahal dulu juga lama ditinggal Rama kuliah di Amerika. Tapi kali ini momennya beda." Ratna terkekeh disela rasa sedih, haru, campur aduk yang memenuhi dada. Krisna sigap merengkuhnya dan mengusap-ngusap bahu istri tercintanya itu.
Puput yang diam dan menyaksikan kehangatan keluarga mertuanya itu hanya melengkungkan senyum.
Giliran Rama merangkum bahu Enin dan mencium kepala yang berbalut hijab instan itu dengan penuh sayang. "Nanti kalau Rama udah pindah, pengen dikunjungi Enin. Enin harus nginep lama di rumah baru Rama ya."
"Insyaa Allah. Mudah-mudahan Enin masih diberi umur dan sehat." Enin mengusap-ngusap punggung tangan cucu pertamanya itu yang menempel di bahunya.
Semua yang berkumpul serempak mengaminkan.
"Dan kabar bahagia satu lagi, Damar pernah bilang mau melamar Cia setelah aku pulang dari US. Nanti aku akan bicara sama Damar agar ngadain acara lamarannya secepatnya sebelum resepsi." Ujar Rama.
Membuat kalimat hamdallah terucap dari bibir Papi, Mami, juga Enin secara bersamaan. Wajah semringah penuh syukur terpancar jelas.
...***...
__ADS_1
Ami melongokkan kepala di pintu kamar Aul yang sedikit terbuka. "Ihh Teteh, kok belum dandan? Kak Panji udah otewe." Ia mengernyit melihat penampilan kakak keduanya itu.
"Ini Teteh udah siap. Emang harus dandan seperti apa? Kita mau hangout bukan ke kondangan." Aul menilai penampilannya sudah cukup.
"Oh no! Nggak banget itu sih ootd ke warung. Liat dong Ami yang makin cantik dan imut pake overall dan sneaker putih. Awas aku yang milihin bajunya!" Ami mendorong lengan Aul yang menghalangi jalan menuju lemari.
"Mi....aduh, jangan diacak-acak nyari bajunya." Aul meremas kepalanya melihat si bungsu yang semangat memilah-milih baju yang malah membuat berantakan.
"Nah, ini bagus. Ayo pake, Teh. Aku kasih waktu 10 menit. Di tunggu di ruang tamu!" Ami mengabaikan omelan Aul. Malah dengan riang menunjukkan padu padan rok warna dasar baby pink motif bunga dengan atasan polos warna telor asin.
Aul menghembuskan nafas panjang saat Ami berlalu ke luar kamar.
Driver yang ditunggu datang juga bersamaan dengan Aul yang baru keluar dari kamar berganti baju pilihan Ami. Sudah siap dengan tas selempang yang tersampir di bahu.
"Nah kan bener. Teteh makin cancik dengan baju itu." Ami tidak mengindahkan pelototan Aul karena memuji di depan Panji. "Menurut Kak Panji gimana?"
Aul mengepalkan tangan. Sudah gatal ingin menjitak adiknya itu yang malah meminta penilaian sama Panji. "Bikin malu," batinnya.
"Teh Aul cantik dan anggun. Ami juga sama, cantik dan imut." Sahut Panji dengan tatapan hangat mengarah pada Aul yang tersipu.
Panji terkekeh. Aul menepuk jidat diiringi geleng-geleng kepala. Lalu ketiganya pamit pada Ibu yang berada di dapur. Tidak ada Zaky. Karena sore ini jadwalnya pertandingan sepakbola persahabatan lapangan desa, melawan tim dari Tasik.
Perjalanan sore yang cerah menuju mall teramai di Tasik. Ami duduk sendiri di jok baris kedua. Menikmati pemandangan dengan leluasa, bergantian melihat dari jendela kiri dan kanan.
"Teh, sakit gigi?" Ami memecah kebisuan. Menilik Aul yang menatap lurus jalanan.
Sontak Aul menoleh ke belakang. "Enggak. Kenapa emang?" keduanya alisnya bertaut.
"Ya kalo nggak sakit gigi speak-speak atuh. Meni sepi kayak lagi antri di dokter gigi."
Panji terkekeh sambil melirik Ami dari rear vission mirror. Ia sendiri agak kesulitan membuka topik pembicaraan jika dekat dengan Aul. Padahal menghadapi klien di butik Sundari cabang Bandung sudah biasa dilakukan tanpa grogi.
__ADS_1
Aul memalingkan wajah ke arah jendela. Menyembunyikan wajah malu dari Panji karena ledekan Ami barusan. Ia sendiri dari tadi sedang memikirkan untuk memulai bicara membahas apa. Malah buyar oleh pertanyaan absurd adiknya itu.
"Kak Panji!"
"Ya, Aul." Panji menoleh sekilas. Kemudian beralih lagi menatap lurus jalanan yang cukup padat di sore akhir pekan ini.
"Maaf ya jadi direpotin harus nganter kita jalan-jalan. Padahal rencananya mau naik motor aja. Tapi Ami nya manja pengen naik mobil. Aku kalau bisa nyetir sih bakal bawa mobil sendiri yang ada di rumah." Aul menatap Panji dengan sorot sungkan.
"Ahh telat, Teh. Harusnya bicara begitunya pas tadi baru naik. Ini udah setengah jalan. Udah kadaluwarsa." Ami menyambar lebih dulu saat Panji bersiap menjawab. Membuat Panji tergelak dibuatnya.
Aul memutar kepala ke belakang. Memelototkan mata dengan raut galak. Membuat Ami mengatupkan bibir dengan telunjuk dan jempol disatukan membentuk kode menggembok bibir.
"Nggak direpotin kok. Lagian Ami nggak nyuruh. Dia kan kayak bikin sayembara. Dan ternyata aku pemenangnya." Sahut Panji diiringi kekehan. "Mumpung lagi santai dan masih di Ciamis. Kamu kalo butuh bantuan aku bilang aja jangan malu. Kita kan sahabat," Sambungnya sambil menoleh sekilas dan tersenyum tipis.
"Wow, persahabatan bagai kepompong," Ami merespon dengan bernyanyi. "Kalo aku dianggap apa, Kak Panji?"
"Kalo Ami sih dianggap adik. Adik yang cantik dan selalu ceria." Sahut Panji bersamaan dengan mobil berhenti di lampu merah.
"Ada yang kurang, Kak. Kata imut nya ketinggalan," ralat Ami dengan penuh percaya diri.
"Ah iya lupa. Ami yang cantik, imut, dan ceria." Panji menuruti meralat ucapannya sambil menahan senyum.
"Aseeek." Ami bertepuk tangan dengan riang. "Kalo aku dianggap adik Kak Panji, berarti___"
"AMI DIEM!" Aul segera memotong ucapan si bungsu dengan tatapan tajam. Ia khawatir ujung-ujungnya keluar modus.
"Nggak papa, Aul. Biarin Ami bicara biar perjalanan nggak bosen." Tegur Panji.
"Oh, itu artinya kalo aku diam membosankan, ya? Jadi Kak Panji nggak suka sama sikapku, gitu?" Aul menatap dengan ekspresi datar pada sang driver yang terlihat membelalakkan mata.
Panji belum menjawab karena mobil mulai berbelok ke area mall dengan mengambil tiket parkir di portal parkir. Barulah saat mobil berhenti di parkiran ia menatap Aul dengan lembut. "Aku suka kamu apa adanya, Aulia. Nggak mungkin bosan," ujarnya diiringi senyum penuh arti.
__ADS_1
"Cut cut cut! Udah sampe, malah tatap-tatapan. Ayo kita kemon!" Teriakan Ami yang kemudian membuka pintu mobil, mengagetkan Aul dan Panji yang sesaat saling mengunci pandangan.
Tbc