Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
40. Gelisah...Hati Gelisah


__ADS_3

Mobil melaju meninggalkan rumah Puput dengan perlahan. Sang pengemudi tiada henti melirik spion, mengawasi ke belakang. Berharap orang yang baru saja dikunjungi berlari ke tepi jalan menatap kepergianya dengan wajah kecewa. Faktanya pintu pagar besi itu tetap tertutup rapat.


"Ha ha ha....baru mulai trik dikit ngarep hasil." Cia meledek sikap kakaknya yang mendecak kecewa sambil menyugar rambut dengan kasar. "Sabar atuh Kakang Rama. Sukses itu tidak bisa diraih dengan instan. Termasuk urusan cinta," sambungnya sambil melanjutkan tertawa dengan puas melihat muka ganteng sang kakak yang makin ditekuk karena mendengar ceramahnya.


Sudah tidak ada asa saat rumah sang pujaan makin berjarak jauh dan hilang dari pandangan saat mobil melaju di jalan yang menurun.


"Sabar.....sabar!" Setengah berteriak, Rama melepaskan kekecewaan yang bercokol di hati, menyesak di dada. Membuat Cia mengulang tawa ceria merasa terhibur dengan penderitaan kakaknya itu.


"Kita lanjut ke mana nih, Kak?!" Cia mengangkat kedua kaki. Memilih duduk sila di atas jok sambil menghidupkan audio.


"Balik. Jalan-jalan juga macet mending diem di rumah." Rama masih dalam mode kecut.


"Dih yang lagi bete. Tapi kalau jalan-jalannya sama Puput, macet malah seneng kan. Jadi bisa berlama-lama." Cia masih senang menggoda sang kakak.


"Itu malah anugrah." Rama teringat kemarin perjalanan pulang dari bandara. Meski tidak macet parah, tapi lumayan bisa berdua lebih lama selama dua jam. Dari waktu perjalanan yang normalnya hanya 40 menit.


Dering ponsel dari sling bag milik Cia terdengar nyaring. Mengecilkan volume player music sambil memekik girang saat tahu siapa yang menghubunginya.


"Kak, pasang smile! Adit vc nih." Cia tidak ingin wajah memberengut sang kakak terlihat oleh kekasihnya yang tanpa diduga menghubunginya. Setelah terakhir kali berkomunikasi dua hari yang lalu yang mengabarkan akan pulang ke Indonesia.


Cia merapihkan dulu tatanan rambut serta berdehem sebelum menerima panggilan video itu. Hati yang berbunga-bunga tercermin dari mata yang berbinar diiringi senyum semringah.


"Hai, sweety. I miss you." Wajah Aditya terpampang di layar. Kacamata dengan bingkai hitam bertengger di hidung mancungnya. Senyum manis menampakkan satu lesung pipi menambah pesona pemuda tampan itu. Menyapa lebih dulu Cia yang kini merona mendapat panggilan manis dan ungkapan rindu itu.


"Adit---- aku juga kangen banget." Cia merajuk dengan tatapan manja. "Kamu udah sampe Jakarta?!" Sebenarnya tanpa dikonfirmasi juga sudah pasti sang kekasih sudah tiba di tanah air. Nampak dari nomer ponsel yang digunakan.


"Iya. Aku baru sampe rumah. Langsung kontek kamu. Udah gak sabar pengen ketemu kamu, sweety." Adit memutar ponsel. Memperlihatkan jika ia sedang berada di dalam kamarnya.


"Kamu lagi di jalan ya?! Sama siapa?!" sambung Adit yang baru menyadari backround tempat Cia duduk.


"Iya. Aku lagi jalan sama cowok ganteng." Cia melirik Rama yang merespon dengan mencebikkan bibir.


"Jangan becanda, sweety. Aku gak percaya kamu selingkuh." Adit meminta Cia memperlihatkan wajah sang driver itu.


"Eh, Kak Rama ternyata. Apa kabar, Kak?!" Adit merubah intonasi yang tadinya bernada mesra menjadi normal. Merasa sedikit malu karena pasti calon kakak iparnya itu mendengar ucapannya dari awal.


"Lanjoot terus aja mesra-mesraannya. Serasa dunia milik berdua. Yang laen cuma pasrah kena gusuran." Rama mengabaikan pertanyaan Adit. Memilih meledek sepasang kekasih LDR itu. Yang dijawab Adit dengan tertawa lepas.


...***...


Baju baru alhamdulillah šŸŽ¶


Tuk dipakai di hari raya


Tak beli pun tak apa-apa

__ADS_1


Masih ada dari Kak Rama


Ini kali ketiga Ami berganti pakaian sambil bernyanyi dan menari-nari di depan kedua kakaknya serta ibu. Sudah tidak sabar ingin cepat-cepat besok lebaran. Ingin segera memakai baju baru dan sepatu baru.


"Euhhhh besok bajunya bisa-bisa bau keringet, Ami." Aul geleng-geleng kepala melihat tingkah centil si bontot yang berlenggak-lenggok bak peragawati. Yang juga didukung Puput yang tengah menata kue ke dalam toples. Mendadak tadi sore ingin membuat kue semprit. Ditunjang bahan baku kue yang masih tersedia di lemari dapur.


"Tenang bestie...aku kan cuma nyobain sebentar. Sekarang mau dilepas lagi." Ami berlari ke kamar untuk berganti pakaian. Tiga baju baru didapatnya dari Kak Rama, Kak Cia, dan Enin. Sehingga melarang Ibu membelikan baju baru lagi karena sudah banyak.


"Ini mah persis si Teteh waktu kecil. 11 12 pokoknya." Ibu mengomentari. Kesibukan membuat ketupat dan opor ayam untuk hari raya esok sudah selesai dibantu kedua anak gadisnya. Kini menikmati suasana santai malam sambil mencicipi kue semprit dengan selai nanas itu, dipadu teh tawar panas.


Puput cengengesan. Kenangan bahagia masa kecil masih tersimpan apik di memorinya.


"Bedanya yamg sulung tidurnya mangap dan ileran, yang bungsu tidurnya mingkem cantik." Aul tertawa. Merasa ada kesempatan meledek sang kakak yang bereaksi melotot tajam.


Suara takbir menyambut hari kemenangan terus menggema bersahutan. Bedug yang bertalu penuh semangat memecah kesunyian jalan di malam yang cerah. Anak-anak dan pemuda melakukan takbir keliling menggunakan kendaraan bak terbuka. Zaky termasuk diantaranya yang ikut serta dalam takbir keliling itu.


Sudah jam 10 malam. Puput masuk ke dalam kamarnya. Duduk di tepi ranjang membuka kembali hadiah pemberian Rama. Tercenung, masih tidak menyangka. Mengelus gaun yang cantik berwarna pastel satu set dengan kerudung. Hadiah dari Rama bertepatan dengan niat bulatnya untuk berhijab dimulai hari lebaran esok. Niatnya sudah diutarakan terhadap Ibu. Membuat Ibu berucap syukur dengan mata berkaca. Haru.


"Alhamdulillah, Teteh. Istiqomah ya, Neng geulis."


Puput tersenyum dalam keharuan mengingat sang ibu tadi selepas shalat magrib berjamaah, mencium puncak kepalanya. Aul juga memeluknya dengan erat.


Puput bukannya tidak tahu akan kewajiban seorang muslimah. Sejak sekolah SD sampai SMA, kerudung menjadi seragam wajib di sekolah. Tapi karena belum ada ketetapan dalam hati, di luar sekolah ia biasa membukanya. Bahkan kuliah di Bandung, melepasnya sama sekali. Namun ia tetap berpakaian sopan dan menjaga pergaulan.


Apabila seorang perempuan yang sudah baligh tidakĀ menutup auratnya, dosa tidak hanya menjadi miliknya tetapi juga mengalir pada orang tuanya. Jika perempuan tersebut sudah menikah, dosanya juga akan mengalir kepada suaminya.


Hari lebaran telah tiba. Menjadi lebaran pertama di rumah baru serta shalat Id di lingkungan baru.


Lebaran selalu menjadi hari yang syahdu untuk semua anggota keluarga. Terkenang sang ayah yang kini sudah empat kali lebaran tidak lagi membersamai.


Bahkan Ibu berkali-kali menyeka sudut mata yang berair sepulang dari masjid. Beliau biasanya yang akan lebih dulu bersimpuh di depan ayah yang duduk di sofa, memohon maaf. Disaksikan dan diikuti ke empat anaknya. Kini, kenyataan menjadi orangtua tunggal. Menghadapi anak-anak yang bersimpuh dan meminta maaf di depannya dengan kepala tertunduk di pangkuannya.


Ibu yang selalu berusaha tegar. Mengusap dan mengecup kepala diiringi do'a terbaik untuk sang anak yang tidak pernah dibeda-bedakannya. Diakhiri dengan pelukan hangat. Lalu bersama-sama saling berpelukan, saling menguatkan.


Usai makan ketupat bersama. Melanjutkan tradisi dengan ziarah ke makam ayah yang satu komplek dalam makam keluarga. Serta mengunjungi Uwa di Sukamaju, dimana keluarga besar berkumpul. Kesedihan mulai menguap dengan berbaurnya bersama keluarga besar dan tetangga. Berganti canda tawa. Apalagi ditambah keriuhan anak-anak yang antri untuk mendapatkan amplop THR.


...***...


Wajah Rama nampak gelisah. Berkali-kali melayangkan pandangan ke arah pintu utama yang terbuka lebar. Berharap tamu yang sudah diundang via telepon oleh Enin segera datang.


Acara open house yang setiap tahun diadakan di rumah Enin masih ramai oleh kedatangan para tamu satu dusun yang sengaja ingin bersilaturahmi. Rama turut berdiri menerima salaman. Tampak gagah mengenakan kurta dalam balutan dresscode yang sama dengan keluarga besarnya. Warna pastel biru langit. Senyum ramahnya terkembang, namun pikirannya resah melayang dalam praduga.


Keluarga Puput bakal datang gak ya?!


Rama menghela nafas panjang dalam kegusaran. Bahkan kumandang adzan duhur sudah lewat dua jam yang lalu. Haruskah pupus dalam penantian? Ia mundur dari keramaian. Beralih mencari tempat yang sepi dan melihat rentetan chat yang berjumlah ratusan yang belum dibukanya. Hendak mencari satu nama yang berharap berkabar padanya.

__ADS_1


"Kak, ih dicariin....malah ngumpet di sini." Cia yang tampil cantik dan anggun mengenakan gamis dan pasmina warna senada datang dengan wajah kesal. Karena kakaknya lebih dulu berpesan minta dikonfirmasi jika ada keluarga Puput datang.


"Itu keluarga Puput datang sudah datang," sambungnya sambil lalu tanpa menunggu jawaban sang kakak.


Rama setengah berlari mendahului langkah Cia. Wajah gusarnya berubah cerah ceria menuju teras melewati orang-orang. Menyalami dan mengajak Ibu Sekar langsung masuk tidak usah antri seperti tamu lainnya.


"Puput di mana, Bu?!" Rama hanya melihat Aul dan Ami di yamg baru saja menyalaminya.


"Puput masih di rumah mau dijemput Zaky. Kita kesini pakai 2 motor. Soalnya mobil mogok di rumah Uwa Halim." Ibu menunjuk Zaky yang menggendarai motor supra bersiap keluar pekarangan.


Rama tanpa kata berlari mengejar Zaky sampai pintu gerbang yang terbuka. Mencegatnya di depan.


"Zaky, biar aku aja yang jemput Teh Puput! Kamu masuk aja langsung ke dalam sama Ibu."


"Oh, oke Kak." Zaky mengangguk patuh.


Rama meminta Mang Jaja mengurai jalan. Ia mengeluarkan mobil kesayangannya untuk menjemput seseorang yang sudah membuatnya nyeri beuheung sosonggeteun.***


...***...


Puput mematut penampilannya lagi di depan cermin. Berangkat shalat Ied dan silaturahmi ke keluarga besar memakai gamis putih yang dibelinya secara online. Kini berganti memakai baju yang diberikan Rama waktu itu. Andainya sang boss tidak berpesan harus dipakai di hari lebaran, ia akan memilih menyimpannya untuk lain waktu.


"Teteh....cantik banget kayak putri!" Komentar Ami waktu tadi selepas duhur dengan raut kekaguman.


"Emang Teteh namanya Putri. Putri Mangap eh salah, Putri Kirana!" Sahutan Zaky yang meledek serta dibalas tawa cekikikan Aul dan Ami. Membuat Puput yang semula hidungnya mekar menjadi menciut lagi.


"Baru aja maaf-maafan dah bikin dosa lagi ya kalean!" Puput berkacak pinggang dengan wajah memberengut. Pura-pura kesal. Tapi kemudian pecah tawa puas karena ketiga adiknya mendapat teguran Ibu.


Kini rumah menjadi sepi. Karena Puput mengalah berangkat paling akhir menunggu Zaky menjemputnya setelah membonceng ibu. Mendadak mobil mogok. Motor beat milik Aul juga kempes ban. Bengkel pada tutup di hari lebaran.


Puput menoleh ke arah pintu utama yang terdengar diketuk. Ia merapihkan lagi kerudungnya pada cermin kecil yang berada di nakas. Pintu memang dikuncinya saat semua orang pergi.


"Iya bentaaar----" Puput menyahut sambil berjalan ke arah pintu begitu mendengar ketukan ketiga kalinya.


Pintu dibuka. Sosok yang berada di depan pintu membuatnya terkaget dan menganga. Buru-buru menutup mulut dengan tangannya.


"Eh....kirain Zaky. Kok Kak Rama----" Puput tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mendadak grogi.


"Aku sengaja datang jemput kamu." Rama menatap lekat gadis berjilbab di hadapannya itu. Terus menatap dengan pancaran mata penuh kekaguman.



"Eh, tapi benar gak sih ini Putri Kirana?!" sambungnya tanpa berkedip. Senyum manis yang kini tersungging di wajah cantik itu begitu menghipnotis. Terlalu takut jika ini hanya ilusi ataupun mimpi.


Tbc...

__ADS_1


...***...


Nyeri beuheung sosonggeteun, adalah peribahasa sunda yang artinya lama menanti orang yang seharusnya sudah datang.Ā 


__ADS_2