Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
114. Restu Untuk Damar


__ADS_3

Senin datang menyapa. Pagi ini gerimis mengundang. Menggoda makhluk bernama manusia untuk kembali menarik selimut. Namun senin adalah waktu memulai hari kerja. Mau tidak mau, ikhlas atau terpaksa, hari pertama kerja dalam kurun seminggu itu harus disambut.


Di dalam kamar utama lantai dua, di ruang walk ini closet, Rama memeluk pinggang ramping sang istri yang tengah fokus memasangkan dasi di lehernya. Bibirnya melengkungkan senyum manis. Bahagia. Momen sederhana namun manis ini kembali terulang. Dulu, sebelum terbang ke Amerika, baru merasakan dilayani seperti ini dalam waktu singkat, hanya dua hari.


Rama mengecup kening Puput, jeda sejenak. Beralih mengecup pipi kanan kemudian pipi kiri. Aksinya mau meraup bibir ranum yang selalu menggoda imannya itu, gagal. Sang istri memundurkan wajah.


"Aa diem dulu napa. Jangan goyang-goyang atuh. Ini dasinya jadi nggak rapih." Puput mengerucutkan bibir tanda protes. Padahal pekerjaannya hampir selesai, tapi suaminya itu malah tidak bisa diam.


"Aduh, si Eneng ngode. Udah nggak tahan pengen digoyang, hm?" Rama menjawil bibir manyun itu dengan gemas.


"Hm, bisa aja nuduh. Kebalik kali." Akhirnya selesai juga tugas memasang dasi. Puput meraih jas yang tergantung di hanger. Memberikannya pada Rama yang sudah rapih dan wangi.


"Nanti mau dibawain menu makan siang nggak?" Puput menatap punggung Rama yang sedang bercermin memakai jas.


Rama membalikkan badan dan menatap Puput dengan kening mengkerut seolah sedang mempertimbangkan.


"Lihat dulu perutnya!" Terakhir kali mengecek kondisi luka di perut istrinya itu semalam sebelum tidur sambil membantu mengoleskan salep.


Puput sedikit mengangkat baju atasannya. Rama dalam posisi setengah berjongkok mengamati dengan seksama. Diakhiri dengan mengecup beberapa titik di perut rata istrinya itu.


"Pengen banget dibawain sekaligus ditemenin makan siang di kantor. Tapi lukamu masih ada yang basah. Sebaiknya istirahat aja di rumah. Tunggu seminggu lagi deh." Rama merangkum bahu Puput dengan mesra. Keluar dari ruang ganti


"Sarapan pertama dulu, Neng." ujarnya menahan tangan Puput yang akan membuka pintu kamar. Bibirnya segera meraup, pelan tapi berefek memabukkan. Bibir sang istri yang ranum, merah muda alami itu disesapnya. Dilanjutkan menekan tengkuk untuk memperdalam morning kiss nya.


Sementara di kamar utama lantai satu, Krisna bermanja dengan melingkarkan tangan di perut Ratna. Sang istri sedang memasang jilbab segi empat. Ia sengaja mengganggu dengan menyandarkan kepala di bahu istrinya itu.


"Mi, dingin. Enaknya anu nih." Krisna dan Ratna saling beradu tatap pada pantulan cermin.


"Papi, udah tua masih saja genit ih. Malu sama umur." Ratna mencebikkan bibirnya.


"Papi kan genit cuma sama Mami. Tidak diobral ke setiap wanita. Atau Mami mau ngijinin Papi genit sama sekretaris?" godanya sambil mengedipkan mata.


Membuat Ratna memutar tubuhnya dan kini saling berhadapan.


"Papi minta disunat lagi, ya? Sini Mami sendiri yang akan eksekusi." Ratna dengan sengaja menekan sangkar burung Krisna. Membuat suaminya itu mengaduh sambil mengerutkan bahu.


"Papi kan becanda, Mi." Krisna meraih tubuh Ratna ke dalam pelukan. Mendekap dengan erat. "Jangan kasar sama aset Papi. Kalau kenapa-kenapa nanti nggak bisa bikin Mami mendesah dong," bisiknya.

__ADS_1


Kepala Ratna yang bersandar di dada Krisna menyunggingkan senyum tipis. Kalimat mesum suaminya itu dari dulu tidak pernah berubah. Selalu membuat pipinya merona.


"Papi, ngeledek Mami gendut ya?" Ratna beralih menegakkan badannya saat tangan Krisna mempermainkan lipatan lemak di pinggangnya. "Dulu juga Mami waktu masih muda ramping seperti Puput, seperti Cia. Mentang-mentang perut Papi nggak buncit," ujarnya dengan wajah memberengut.


Krisna terkekeh melihat Ratna merajuk. "Bukan ngeledek, sayang. Tapi lagi ngebayangin kalau tanpa baju pasti anget. Mana cuaca pagi lagi dingin gini," godanya. Namun Ratna tetap memasang wajah marah. Membuatnya menghela nafas. Kenapa wanita selalu sensitif jika menyangkut bentuk badan, pikirnya.


"Mami nggak gendut kok. Sedikit lipatan lemak gini masih kategori normal secara kesehatan. Lagian perubahan ini karena Mami udah melahirkan dua anak yang manis, penyejuk jiwa kita. Malah bikin Papi bertambah sayang setiap harinya. Kamu adalah istri dan Ibu terbaik. I love you."


Semilir angin pagi yang menelusup dari jendela menerpa dua tubuh yang saling berdiri rapat menyatukan dua bibir. Saling memagut pelan, saling mengecap penuh perasaan. Getarannya masih sama, tetap ada seperti dulu. Tanda cinta masih tetap tertanam dalam jiwa.


"Sepertinya kita harus honeymoon lagi, sayang." Krisna mengusap bibir Ratna yang basah dengan tatapan hangat. Pun Ratna menyapukan jari membersihkan noda lipstik di bibir Krisna.


"Nggak bisa bulan ini. Kita akan disibukkan oleh acara anak-anak." Aksi merajuknya mencair oleh perlakuan romantis suaminya itu.


...***...


Puput mengantar sampai teras usai sarapan bersama. Semua orang pergi. Mami menemani Papi ke kantor karena akan ada pertemuan dengan komunitas pengusaha dimana para istri ikut serta mendampingi. Cia ikut satu mobil dengan Rama yang kini memakai sopir pribadi. Merupakan salah satu bodyguard yang pernah mengawal Puput.


"Puput, Mami tinggal dulu ya. Paling jam dua an juga udah pulang." Mami mengusap bahu menantunya itu. Merasa tidak tega meninggalkannya seorang diri di rumah.


"Ingat, sayang. Jangan angkat yang berat-berat. Kalau perutmu kenapa-kenapa kasih tau aku ya." Rama mengecup kening. Masih saja merasa cemas meninggalkan Puput. Meski istrinya itu tidak pernah mengeluhkan sakit. Inginnya menemani di rumah. Tapi permasalahan di kantor membutuhkan penanganan serius.


"Iya, sayang." Puput tersenyum dikulum. Sudah berapa kali Rama mengulang kalimat warning itu.


Dua mobil meninggalkan gerbang tinggi yang terbuka. Petugas keamanan segera menutup kembali bersamaan dengan Puput yang berbalik badan masuk ke dalam rumah.


Kedatangan Rama disambut Damar di lobi. Berdua, pria tampan itu berjalan dengan tegap menuju lift khusus melewati para karyawan yang mengangguk dan tersenyum saat berpapasan. Rama tersenyum tipis. Suasana kantor yang begitu dirindukannya setelah dua bulan lebih cuti.


Kejutan terjadi saat lift terbuka di lantai tempat ruangannya berada. Para manajer tiap divisi menyambut dengan berdiri berjajar, termasuk pula sekretarisnya. Semua menjabat tangan dan mengucapkan "welcome back". Rama tersenyum penuh haru.


"Lo, yang nyiapin surprise ini?" Tanya Rama pada Damar yang mengekori ke ruangannya. Semangat paginya semakin meningkat karena sambutan hangat para karyawan.


"Jangan ge er. Gue cuma konfirmasi aja sama Nova. Mereka yang punya ide begitu." Damar terkekeh melihat Rama yang mendengkus karena ucapannya itu.


Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum memulai rapat internal. Rama mengajak Damar duduk di sofa.


"Mar, gue mau resepsi akhir bulan ini. Tapi sebelum itu, gue pengen acara lo dulu." Rama menatap serius.

__ADS_1


"Maksudnya acara gue yang mana? Ada tugas keluar kota kah?" Damar menautkan kedua alisnya.


"Bukan acara kerjaan. Lo nggak amnesia, kan? katanya mau ngelamar Cia setelah gue balik dari US. Dan gue harap acara lamaran itu dilaksanakan sebelum resepsi gue dan Puput."


Sontak Damar menegakkan punggung dengan mata membelalak. Setelahnya kerjasama dengan Nova menyiapkan acara kejutan penyambutan Rama, kali ini ia mendapat kejutan dari boss sekaligus sahabatnya itu.


"GPL. Gak pakai lama, Bro. Gue dengan senang hati akan siapin lamaran. Nanti gue telpon Cia karena dia udah siapin konsepnya. Dan nanti malam gue akan menghadap sama Om Krisna dan Tante Ratna, untuk minta restu melamar Cia." Damar menjelaskan dengan penuh semangat dan wajah semringah.


"Nah gitu. Jadi pria sejati harus sat set. Gue suka gaya lo!" Rama acungkan dua jempol.


Damar berpindah duduk ke samping Rama. "Makasih atas restunya my broh. Kau memang kakak ipar terbaik ," ujarnya sambil merangkum bahu calon kakak iparnya itu, lalu mencium pipi saking euforia nya.


Membuat Rama mendelik dan bergidik. Bersamaan dengan mendengar suara barang yang jatuh. Ternyata ada Nova yang berdiri mematung dengan mata melotot dan mulut menganga.


"Ma- ma af, pintunya terbuka jadi aku langsung masuk aja," ujar Nova yang terlihat takut kena marah. Berkas untuk rapat yang dibawanya terjatuh karena sajian pemandangan barusan.


Rama berdiri sambil menggosok-gosok keras pipi kanannya dengan raut jijik. "Nova, buang pikiran negatif kamu! Si Damar hanya becanda barusan. Harusnya gue cuci ini pipi sama tanah dan air."


"Nova, si boss gak dapat jatah dari istrinya jadinya minta dicium buat moodboster sebelum rapat," sahut Damar dengan wajah tanpa dosa. Ia segera menghindar saat Rama akan menendangnya.


"Gue cabut lagi nih restu untuk ngelamar Cia!" Hardik Rama dengan wajah kesal.


"Eit, tidak bisa! Tidak boleh men jilat ludah sendiri. Sudahlah kakak ipar, pagi-pagi jangan marah-marah. Ayo, waktunya mimpin rapat." Damar mengulurkan tangan untuk merangkul bahu Rama. Namun mendapat tepisan. Membuatnya terkekeh.


Nova yang kadang menyaksikan keabsurd an sikap Damar terhadap Rama, hanya geleng-geleng kepala. Ia kini percaya yang dilihatnya tadi hanya candaan. Setelah mendengar asisten bossnya itu minta tolong menyiapkan data perwakilan divisi yang akan diundang pada acara lamaran.


...****************...


Besties yang baik hati dan rajin menabung,


Aku minta tolong agar mau membantu KCM tetap bertahan di ranking 10 besar sampai bulan September 2022. Demi mendapat penilaian positif dari pihak NT karena konstan di 10 besar dari awal liris sampai tamat.


Insyaallah, sebagai feedback nya, karya baru story Andreas Chong akan segera meluncur. Tapi jika KCM keluar dari 10 besar, karya baru akan dipeti es kan dulu sampai tahun depan. Atau bisa jadi pindah lapak.


Ini dia sedikit gambar bocorannya....


__ADS_1


__ADS_2