Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
103. Akhirnya Ku Menemukanmu


__ADS_3

Rama berdiri memepetkan badan di dinding tembok. Seutas kawat per yang sudah diluruskan ada dalam genggaman tangan. Tak peduli telapak tangan yang luka dan lecet-lecet karena siang malam berupaya memutus per dan potongan besi dari dalam spring bed dengan tangan kosong. Saat ini, ia menunggu jadwal orang yang akan mengantarkan makanan.


Suara langkah mulai terendus. Denting kunci yang beradu dengan teralis mulai terdengar. Kemudian suara kunci diputar pada pintu kayu terdengar pula. Rama menatap pintu yang mulai bergeser ke arahnya. Ia menahan nafas sejenak. Butuh gerak hitungan detik sebelum pintu teralis dikunci kembali setelah menyimpan nampan makanan.


Dalam sekali hentakan, Rama menarik tangan si penjaga. Menjatuhkannya masuk ke dalam kamar, menjerat leher dengan seutas kawat. Nampan berisi nasi lauk terburai berantakan karena terkena sepakan. Pergulatan terjadi karena si penjaga memberontak menarik kawat yang menjerat leher. Merasa bakal terpepet oleh lawan yang memiliki jurus silat itu, Rama menusuk-nusukkan sepotong besi ke punggung lawan hingga oleng dan terjermbab saat tali pengerat leher dilepaskan . Kesempatan itu digunakannya untuk kabur dengan menutupkan pintu kayu itu dan menguncinya dari luar.


...***...


Di sebuah rutan Jakarta, Krisna duduk di ruang besuk narapidana. Jarinya mengetuk-ngetuk meja pelan. Sudah 15 menit menunggu. Seorang napi yang ingin ditemuinya belum juga muncul. Johan berdiri di sudut ruangan dengan siaga. Akhirnya, yang dinanti pun datang memgenakan seragam tahanan dikawal seorang petugas.


"Apa kabar, kawan? Tersanjung sekali kedatangan tamu kehormatan, Tuan Krisna Adyatama." Rio menatap dengan seringai tipis begitu duduk berhadapan dengan Krisna.


"Aku nggak mau basa basi. Katakan! Dibawa kemana anakku Rama?" Krisna menatap tajam dengan wajah yang dingin. Peribahasa 'menggunting dalam lipatan' sangat cocok diterapkan pada orang yang tidak tahu balas budi itu. Bersahabat lama, dibantu biaya saat kuliah, dibantu modal saat memulai wirausaha, bahkan sampai direkomendasikan kepada investor, sampai kemudian sukses jadi pengusaha, berakhir menusuk dari belakang.


"Kamu waras? Gimana bisa seorang tahanan melakukan penculikan?" Rio tertawa mengejek dengan kedua bahu terguncang.


"Gimana bisa seorang napi memilik hape di dalam sel? Berapa duit yang dikeluarin untuk menyogok sipir?" Krisna membalas dengan senyum sinis. "Entah kenapa, aku masih saja selalu ngasih kesempatan sama orang tidak tahu diri macam kamu. Atau kamu memang ingin perpanjang tinggal di prodeo ini? Baik. Akan aku kabulkan."


Krisna menatap tajam namun tenang. Rio menatap dengan kilat amarah dengan gigi mengerat.


Johan mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Krisna. Membuat Krisna tersenyum semringah. Ia pun berdiri.


"Kamu sudah menggali nerakamu sendiri, Rio. Sekarang ditambah anak kesayanganmu itu akan menyusulmu. Sampai kapanpun, benar dan salah tidak akan tertukar. Hanya soal waktu yang akan mengungkapkan." Krisna pun berlalu meninggalkan ruang besuk itu dengan langkah cepat. Meninggalkan seorang paruh baya yang terlihat lebih tua. Yang kini sedang memucat wajahnya dengan jari-jari tangan yang mengerat meja.


"Johan, pesan heli untuk ke Tasik sekarang juga! Bawa 2 detektif untuk ikut. Hubungi polisi juga!" Titah Krisna yang melangkah lebar ingin segera keluar dari rutan. Kabar terbaru dari hasil penyadapan semakin menguatkan siapa pelakunya. Bapak dan anak berada dibalik perencanaan apik ini. Dan kini Zara tengah menuju Tasikmalaya.


...***...


Enam orang berkumpul di rumah Puput, diantaranya ada Akbar. Mereka tengah menunggu dua orang yang diutus memetakan jalur masuk ke sebuah villa tersembunyi di kawasan hutan pinus yang akan dituju.


Selembar kertas dengan noda darah yang kini mengering, memberikan informasi dimana Rama disekap.

__ADS_1


Puput...


Aku tidak tahu surat ini akan sampai kepadamu atau tidak. Aku sudah ketahuan berkhianat. Inilah cara aku meminta maaf padamu. Dengan cara masuk ke permainan Zara, menjadi anteknya.


Siang ini Zara akan datang mengeksekusi Pak Rama. Dia cewek sycho. Cepatlah selamatkan suamimu. Lokasi di villa hutan pinus xxxxxx Tasik.


Jika aku sampai mati, titip Nabila dan Ibuku. Dan maafkan kesalahanku selama ini.


Septi


Puput sudah menugaskan Via dan Dwi untuk mengurus kasus tabrakan Septi. Ia pun bertanggungjawab sepenuhnya membiayai perawatan di rumah sakit. Info terakhir, Septi mengalami koma.


Dua jam menunggu, dua orang ahli pemetaan itu datang menggunakan motor trail. Meeting serius berlangsung, semua orang menyimak penjelasan peta pada selembar kertas polos dengan berbagai kode sandi yang hanya dimengerti oleh para jawara silat tertentu. Sementara Akbar meringis dan terus mengerutkan kening. Tidak paham.


"Yang terlihat berjaga di luar ada empat orang, tidak tau yang di dalam." Pungkas seorang utusan.


Salat Duhur usai ditunaikan. Puput memisahkan diri salat di kamarnya. Pakaian kebesarannya sudah dikenakan, serba hitam berikut jilbab instan warna senada. Beralih membuka laci dan mengambil sebuah pisau belati, warisan dari sang ayah.


Puput mengangguk. Seolah Ayah ada di depannya menyampaikan nasehat. Itu adalah nasehat yang melekat diingatan Puput saat dilatih jurus menggunakan pisau yang belum pernah dipamerkannya. Juga diajari almarhum sang ayah jurus tambahan, yaitu tekhnik lempar pisau ala Ninja.


Ia menghubungi Aul setelah sebelumnya mengirim pesan, meminta adiknya keluar dulu dari ruang perawatan Ibu. Ponsel dilekatkan di antara telinga dan bahu sambil menyiapkan tas yang akan dibawa.


"Aul, Teteh pergi dulu. Jika Ibu nanyain, bilang aja Teteh lagi ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Rawat Ibu dengan baik ya." Puput mendengar dengan jelas adiknya menangis terisak. Setelah sebelumnya ia ceritakan jika lokasi Rama sudah ditemukan dan bersama tim kang Acil akan melakukan misi.


"Teteh hati-hati. Harus pulang dengan selamat. Hiks---" Aul jelas tidak bisa membendung rasa khawatirnya. Ia menangis.


"Hei, anak ayah nggak boleh ada yang cengeng. Do'ain aja ya, Dek. Ingat, jangan keliatan sedih di depan Ibu. Teteh berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Puput tidak ingin mendengar lagi sang adik yang resah. Ia memejamkan mata, menghela nafas panjang. Jawaban salam Aul terdengar lemah dan tak rela. Ia menggeleng, tidak boleh terbawa perasaan.


Aa, tunggu aku datang!


Puput mencium foto pernikahan yang terbingkai dalam figura 10R, terpajang di nakas.

__ADS_1


Begitu membuka pintu kamar, Puput dikagetkan oleh adanya Zaky yang berdiri dengan memakai pakaian yang sama dengannya.


"Zaky?!" Puput memicingkan mata.


"Guru ada rapat. Jadi aku bisa pulang awal. Kang Aris di bawah udah cerita. Dan aku mau ikut gabung." Zaky menjawab arti tatapan kakaknya itu.


Puput menggeleng. "Tugasmu adalah belajar!"


"Kata Ayah, tugasku juga melindungi keluarga karena aku anak laki-laki satu-satunya. Meskipun ilmu silat aku dibawah Teteh, tapi seorang Zaky Wijaya punya semangat melindungi saudara perempuannya." Tegas Zaky dengan tatapan percaya diri.


Puput lagi-lagi harus menghela nafas. Zaky tidak akan akan bisa dibujuk jika sudah tegas seperti itu. Mirip Ayah. Ia menepuk bahu adiknya itu. "Ayo!"


...***...


Berangkat dengan satu mobil, rombongan tiba di bukit bawah hutan pinus. Diiringi pula dua orang pengawal Puput yang berboncengan dengan satu motor.


"Mas Akbar, kami akan mulai masuk. Sinyal hanya ada sampai sini. Jadi kami simpan semua ponsel di dalam mobil. Ingat, satu setengah jam dimulai dari sekarang, susul kami, bawa polisi!" Puput mengingatkan lagi tugas Akbar.


"Oke. Bukan hanya polisi. Tapi Om Krisna juga akan datang. Sekarang lagi terbang pake heli." Dalam hati sebenarnya Akbar sangat cemas. Puput perempuan satu-satunya diantara rombongan jawara ini. Sebenarnya, bisa saja langsung penggerebekan oleh polisi. Namun sang jawara punya alasan lain. Yaitu harus memberi pelajaran dulu pada anggota grup silat yang telah berkhianat.


"Putri Kirana, hati-hati!" Dengan tatapan cemas berbalut perhatian, Akbar berkata dari hati. Puput menjawab dengan anggukkan.


Puput, Kang Acil, Kang Aris, Zaky, Sony, serta Dani, berdiri membentuk lingkaran. Semua tangan kanan direntangkan kedepan, menyatukan seluruh telapak tangan. Do'a dalam hati dimulai dengan kepala menunduk penuh khidmat.


"Berdo'a selesai." Ucap Kang Acil. Semua orang menegakkan kepala.


"JAWARA SEJATI HARUS BERANI, PANTANG LARI!"


Kompak, satu suara, motto motivasi diucapkan dengan tegas dan lugas. Penyatuan telapak tangan pun mengurai. Semua mulai memasuki hutan. Berpencar sesuai strategi yang sudah disusun. Zaky mengikuti langkah kakaknya.


Seumur hidup, Akbar baru menyaksikan pemandangan di depannya barusan. Ia merasa tengah menonton film laga, plot ******* sebuah cerita. Tapi ini nyata, bukan sandiwara. Ia sampai saling pandang dengan dua pengawal Puput yang sama-sama geleng-geleng kepala penuh kekaguman.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2