Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
69. Cinta, Yang Pergi Dan Datang


__ADS_3

Sesederhana ini nge date mengikuti kemauan Puput. Makan malam menu sate maranggi di sebuah warung nasi, berlanjut duduk berdua di ruang publik. Dimana lagi kalau bukan di kawasan alun-alun Ciamis. Di bangku yang dulu, bangku kenangan usai Rama menyatakan ikrar cinta saat dinner malam minggu. Sekarang, ditemani sebungkus kacang rebus hangat dan sebotol air mineral tersimpan di tengah bangku panjang tempat duduk keduanya.


"Malam kemarin aku janjian ketemu sama teman lama. Teman SMA tapi beda sekolah." Puput mulai membuka percakapan santai, diselingi makan kacang rebus yang dibelinya dari pedagang yang mangkal di sana.


"Cewek or cowok?" Rama menyimak dalam mode waspada. Menyambar tangan Puput yang akan memasukkan kacang ke mulut, dibelokkan ke mulutnya. Ia acuh melihat reaksi Puput yang terkesiap dan menganga karena tangan kekasihnya itu tercium bibirnya saat meraup kacang rebus.


"Cewek." Puput memalingkan wajah sembarang arah. Menyembunyikan wajah yang merona dan jantung yang mendadak dag dig dug karena sikap Rama barusan. Menjeda sejenak untuk menormalkan kerja jantung.


"Tapi teman aku batal datang karena sakit perut. Aku malah ketemu Zara yang mengaku mantan tunanganmu." Puput menatap wajah Rama untuk melihat reaksinya.


Rama terkejut. Mengerutkan kening, lalu menggeleng. "Mana mungkin dia ada di Ciamis?" merasa tak percaya. "Apa mungkin ada yang ngaku-ngaku?"


"Aku sempet mencuri fotonya." Puput mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya. Memperlihatkan layar yang terpampang sebuah foto. "Gimana, ori or kw?" Memperhatikan reaksi Rama yang membulatkan bola mata.


"Iya bener itu Zara. Dia bicara apa aja, Neng? Hati-hati....anak manja itu mulutnya seperti ular berbisa." Rama menangkap perubahan raut wajah Puput yang kini ditekuk.


"Makanya aku pengen bicara empat mata begini untuk membahas soal dia."


"Aa bilang aku harus hati-hati sama dia. Dia malah nyuruh aku hati-hati jangan mau tertipu sama penampilan luarmu, A."


"Aa itu katanya buaya. Dia, Aa putuskan setelah habis manis sepah dibuang. Eksekutif muda kayak Aa, tampan, mapan, sudah biasa bermain wanita katanya, gak aneh. Aku sempat menyanggah, membelamu. Karena sikapmu selama ini baik, tidak kurang ajar sama aku. Tapi dia memberikan bukti yang bikin hati aku sakit." Puput mengerucutkan bibirnya dengan tatapan lurus ke depan. Menghela nafas kasar. Perih hati terasa. Enggan menatap Rama yang membeliak mendengar penjelasan panjangnya.


"Neng, liat aku!" Rama memutar wajah Puput agar melihat ke arahnya. Menautkan tatapan.


"Jangan pernah percaya sama ucapannya si Zara. Semua itu fitnah. Demi Allah aku tidak pernah tidur dengannya. Ataupun sama mantanku yang dulu. Aku tidak pernah pacaran sampai sebebas itu."


"Aku bukan cowok breng sek. Jika aku mencintai wanita, aku akan menjaga dan menghormatinya, bukan merusaknya. Karena apa? Karena aku punya adik perempuan kesayangan, Cia. Saat tahu si Adit melakukan pelecehan sama Cia, aku sangat marah dan ingin menghajarnya tapi sudah diwakili Damar. Jadi mana mungkin aku bersikap sama seperti si Adit." Rama menjelaskan dengan wajah serius.


Puput ingin mengalihkan tatapan ke arah lain, Namun Rama memutarnya lagi agar tetap bicara saling menatap.


"Tetap seperti ini. Agar kamu bisa melihat apakah ada kebohongan di mataku." ujar Rama.


"Jujur, saat ini kepercayaanku sama Aa lagi turun 50%. Karena foto itu terlihat real bukan editan. Di depan Zara, aku masih bisa bersikap tenang. Tapi di depanmu sekarang ini, terus terang aku bilang....hatiku sakit banget. Aku gak pengalaman punya pacar. Sekalinya pacaran gini, belum juga sebulan malah dapat pahit. Sesak ini dada...." Puput mengeluh dengan tangan menggosok-gosok dada kirinya.


Rama sempat tersenyum samar melihat kepolosan Puput mengungkapkan rasa saat ini tanpa tedeng aling-aling. Wajah memberengut itu malah terlihat imut. "Mana bukti foto yang udah bikin neng geulis cemburu gini hmm?"


"Aku gak cemburu. Hanya hati jadi hareudang. Sakit, Aa----" sahut Puput ketus. Membuka lagi kunci layar ponselnya. Ia memang sempat mengambil dua foto dengan menjepret ulang dengan ponselnya. Tidak mau dengan share karena enggan berbagi nomer kontak dengan perempuan itu.


"Oh, ini-----" Rama tetap tenang. Bahkan menyuruh Puput untuk menghapus foto itu.


"Kemarin aku gak jelasin panjang lebar soal mantan karena itu masa lalu. Karena aku pikir udah gak penting. Yang penting masa depanku adalah bersamamu." Rama penuh senyum menatap Puput.


"Baiklah, aku jelasin semuanya biar nanti gak ada lagi yang ganggu hubungan kita. Terutama biar kamu gak kehasut omongan orang." Rama mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapan.


"Pertama, aku putusin Karenina karena aku mergokin dia selingkuh. Hubungan udah ke tahap pertunangan. Di saat aku pulang dari Amerika, mau ngasih kejutan dengan menetukan tanggal nikah, eh dia kepergok lagi bergulat sama cowok bule di apartemennya." Rama mendecak bukan karena sakit hati karena terungkit. Hanya merasa malas untuk membahas. Rasa sakit itu sudah hilang seiring waktu. Tak tersisa setelah hati terisi penuh sosok baru, mojang Ciamis.


Puput diam menyimak dengan seksama.


"Kedua, Zara. Bisa dibilang tunangan sama dia itu kepaksa karena dijodohkan oleh Papi. Berharap hubungan sampai setahun itu ada rasa tumbuh, nyatanya hati ini gak bisa menerima. Aku gak suka dengan sikap dan pergaulannya. Ternyata setelah setahun baru aku tahu jika tunangan itu hanyalah siasat Papi. Papi gak sungguh-sungguh menjodohkan aku sama Zara. Semua ada sangkut paut sama kejahatan papanya Zara."

__ADS_1


"Maksudnya?! Puput membeliakkan mata. Dibuat penasaran ingin mendengar cerita lengkapnya.


"Oke, aku ceritain. Tapi tolong jaga rahasia ini. Cia aja gak tahu soal ini."


Puput mengangguk dengan badan yang sedikit menegang seolah akan mendengar cerita horor.


...***...


Pagi menyapa. Tentu saja hari ini lebih baik dari hari kemarin. Komunikasi saling terbuka semalam membuat kepercayaan Puput terhadap sang kekasih naik lagi 100%. Wajah riang berhias senyum tatkala ia duduk bersama di mobil usai berpamitan pada Ibu. Kembali mengukir momen berangkat bersama yang terlewat sehari kemarin.


"Cia merengek kayak anak kecil minta permen, nagih nge mall sama kamu. Kapan bisanya katanya." Rama mengadu saat mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang.


Puput terkekeh. "Ijini aku kerja setengah hari ya pak boss. Biar waktunya luasa, bisa halan-halan sampe puas."


"Nanti abis makan siang kalian pergi dah sepuasnya. Kabarin aja Cia nya dari sekarang." Rama mengalah. Memberi kesempatan dua wanita yang disayanginya untuk bersenang-senang dan makin akrab.


Puput tersenyum merekah. "Iyes, pagi-pagi udah disuguhin good news. Makasih, Aa kasep." ujarnya diiringi kekehan. Lalu merogoh ponsel untuk menghubungi Cia. Ia luput melihat Rama yang menyetir dengan hidung yang kembang kempis karena tersanjung dengan panggilan Aa kasep.


Sampai di parkiran gedung RPA, Puput berjalan bersisian tanpa malu lagi. Menebar senyum saat berpapasan dengan karyawan lain saat masuk ke dalam kantor. Berbeda dengan Rama yang bersikap cool sepanjang jalan.


Rama berubah pikiran. Memutuskan mengundur pelaksanaan meeting pengangkatan Puput sebagai direktur operasional nanti setelah lamaran. Dengan pertimbangan agar sang kekasih fokus dulu mempersiapkan acara lamaran sebelum menerima tanggung jawab besar pekerjaan. Ia memanfaatkan waktu sampai hari esok berkantor di cabang Ciamis ini dengan memberi training. Merasa senang dan puas sekali, Puput mudah menyerap ilmu yang diterangkannya. Nampak serius dan semangat membuat catatan di buku kecil untuk diingat, katanya.


Puput seolah diberi materi pengayaan selama dua jam lamanya. Break karena Rama mendapat telpon dari kantor pusat dimanfaatkan Puput untuk keluar ruangan sang Ceo RPA. Meminta ijin dengan isyarat menunjuk dadanya dan pintu. Yang mendapat anggukan Rama.


Puput masuk ke kubikel Via dan berbicara setengah berbisik. "Via, Septi ada di mana?" karena ia melihat meja kerja supervisor toko itu kosong.


Puput beralih mengetuk ruangan Pak Hendra. "Lagi sibuk gak, Pak?" Menarik kursi di depan meja sang manajer setelah dipersilakan masuk.


"Nggak terlalu sibuk kok. Lagi meriksa laporan gudang." Pak Hendra membuka kacamatanya usai lelah membaca grafik angka yang sangat banyak.


"Aku mau tanya soal Bu Septi. Kinerja dia selama ini gimana, Pak? Dia kan kerja di sini sejak awal RPA berdiri." Puput masih diliputi penasaran ingin tahu profil Septi di perusahaan. Setelah tahu profil kehidupan pribadinya.


"Septi itu-----" Ucapan Pak Hendra tergantung karena ponsel Puput berdering. Menunggu calon direktur itu selesai bicara di telpon.


"Pak Hen, nanti disambung lagi deh. Pak Rama nyariin aku." Puput sedikit tersipu malu. Yang mendapat anggukan diiringi senyum simpul sang manajer.


"Betewe, kemarin kemana sih Bu Boss? Itu Pak Boss sampe gelisah banget kehilangan ayangnya." Pak Hendra cengengesan karena mendapat tatapan galak dari Puput yang bersiap membuka pintu.


"Aku ini masih Puput yang sama. Gak usah manggil bu boss!" Ujarnya ketus. "Dan Pak Hen mau tau aku kemarin kemana?"


Pak Hendra menganggukkan kepala.


"KEPO!" Puput membuka pintu dan keluar. Masih terdengar derai tawa Pak Hendra saat pintu sudah ditutup kembali.


...***...


Cia berangkat menuju kantor sang kakak dengan diantar Mang Yaya. Enin sempat terkejut lalu memuji penampilannya saat pamit karena penampilan baru. Berhijab. Jilbab yang dipakainya minta dari koleksinya Bibi Ratih yamg ada di lemari. Yang dengan senang hati memberikannya dan nanti sore akan dibawakan yang baru dari butik sebagai hadiah.


"Cia, Damar ada nelpon gak?" Semalam Rama menghampirinya saat tengah berada di meja makan. Ia tahu sang kakak baru pulang dari rumah Puput.

__ADS_1


"Baru aja beres vc an. Kak Damar lagi kurang fit. Telat makan mulu sih dia. Jadinya asam lambung naik. Mesti aku ingetin terus, baru nurut."


"Apa kamu udah bisa move on dari Adit?" Pertanyaan yang membuat Cia sempat berpikir sejenak.


"Adit memang cinta pertama aku. Tapi aku gak merasa terpuruk atau rapuh putus sama dia. Aku hanya merasa kecewa berat dan takut kalau ketemu dia lagi. Sekarang aku baik-baik aja, Kak."


"Good. Kakak lega dengernya. Sekarang kayaknya udah waktunya kamu tahu satu rahasia tentang Damar."


"Damar itu....dari dulu sayang sama kamu. Bukan sayang seperti seorang kakak terhadap adik. Tapi sayang seorang laki-laki terhadap wanita. Hanya saja dipendam sendiri karena kamu pacaran sama Adit."


"Kakak pernah tanya kan. Siapa yang selama ini yang sering membuatmu tertawa? Adit or Damar? Agar kamu bisa meraba hati. Introspeksi diri. Benarkah Damar hanya kamu anggap sebagai kakak, tidak lebih."


Dan ucapan sang kakak selanjutnya membuat Cia gelisah tidak bisa tidur. Namun merasa jendela hatinya menjadi terbuka dan angin dingin menelusup ke relung hati.


Lamunannya terburai saat Mang Yaya memberi tahu jika sudah sampai di tujuan. Cia terkejut mendapati sedan civic yang ditumpanginya sudah berada di parkiran depan gedung RPA. Segera menelpon Puput karena ia belum berani berjalan sendirian masuk ke dalam.


Tak berselang lama Puput muncul dari depan store.


"Eh, ini beneran Cia? Cantik banget....Masya Allah pangling deh." Puput berseru riang dan terkejut saat Cia keluar dari pintu penumpang dengan outfit casual celana kulot abu dan kemeja warna baby pink dipadu jilbab segi empat motif floral senada warna kemeja.


"Aku lagi belajar pakai jilbab, Put. Ngikutin kamu. Kayaknya enak gitu lihat auranya." Cia cengengesan.


Puput tersenyum lebar sambil menggandeng tangan Cia memasuki lantai satu. "Semoga istiqomah dan makin takwa. Ini do'a untuk aku juga sih." ujarnya sambil terkekeh.


Masuk ke ruangan Rama, Cia disambut pelukan hangat sang kakak yang kemudian mencium puncak kepalanya. "Adek aku makin cantik kalau pakai jilbab gini." Tulus memuji dengan acungan 2 jempol.


"Kak, aku mau shoping beli baju baru dan kerudung. Traktir ya please!" Cia menggelayut manja di lengan Rama. Bukannya dia gak punya kartu platinum di dompet, tapi senang aja meminta perhatian sang kakak.


Rama merogoh dompetnya di saku celana belakang. Meraih tangan kanan Puput dan menyimpan black card di telapak tangan. "Sayang, pegang kartu ini. Pinnya bulan dan tahun jadian kita. Pakai buat belanja berdua sepuasnya. Dan pakai juga buat persiapan acara lamaran."


"Eh--- Cia aja deh yang pegang." Puput terkejut mendapat amanah itu. Ingin menyerahkan kartu debit itu namun ditolak Cia.


"Deuh yang udah dipanggil sayang. Itu kartumu, kakak ipar. Nafkah dari suami. Iya kan, Kak?" Cia terkikik dan mengerling pada Rama. Beralih menggoda Puput yang wajahnya merona merah.


"Ya kan belum sah. Masa udah ngasih nafkah." Puput keukeuh meminta Cia saja yang pegang kartu. Namun akhirnya mengalah menerima karena Rama berkata tegas.


"Itu kartu milikmu. Cia udah punya."


Rama juga menyerahkan kunci mobilnya kepada Puput. "Have fun kalian. Magrib harus udah di sini lagi!"


"Oke, boss!" Cia yang menyahut penuh semangat. "Ayo kakak ipar, kita belanja sepuasnya. Kita kempeskan rekening gendutnya." Giliran ia menggandeng lengan Puput yang masih syok karena dipercaya memegang black card.


Ini pengalaman pertama Cia melihat Puput menyetir mobil sang kakak. Tersenyum puas dan tenang karena gaya menyetir Puput sangat tapis dan halus.


"Put, nyetir sambil ngobrol mengganggu konsentrasi gak?" Cia meminta pendapat sebelum ia memulai sesi curhat.


"Nggak kok. Sok aja kalau mau ngobrol." Puput tetap fokus menatap jalanan di depannya. Sesekali memperhatikan spion.


"Aku mau curhat soal ka Damar......"

__ADS_1


__ADS_2