Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
92. Momen Medical Check Up


__ADS_3

Septi buru-buru menggerus ujung rokok ke asbak, saat mendengar teriakan anaknya memanggil-manggil. Meski merokok menjadi teman di kala batin merasa hampa dan kepala penat akan ambisi yang tak juga terwujud, ia menyembunyikan kebiasaan buruk itu dari sang anak. Bagaimanapun, ia mengharapkan buah hatinya itu menjadi anak yang saleha.


"Mama itu ada Ateu Kiran. Kan Mama pengen ketemu, ayo Ma..." Nabila dengan tidak sabar dan riang menarik-narik tangan ibunya itu.


"Sabar atuh, Nabil." Septi mengangkat satu sudut bibir diiringi gelengan kepala. Tak urung menurut melangkah mengikuti tarikan tangan sang anak yang tak pernah mendapatkan tanggung jawab dan perhatian dari ayah biologisnya.


Puput berdiri, mengulas senyum dengan wajah tenang, menyambut kedatangan Septi yang mendadak menghentikan langkah, membatu dengan raut kaget dan mata melebar.


"Septi, ini nih yang namanya Neng Kiran. Yang udah bantuin biaya pengobatan Nabil, yang suka ngasih sedekah sama Ibu. MasyaAllah baik sekali dia mah. Padahal sodara bukan, kenal juga tidak sengaja. Tapi baiknya melebihi sodara sendiri."


Septi mendengar pujian penuh bangga yang keluar dari bibir ibunya itu. Lidahnya mendadak kelu. Tak mampu membuka suara. Hanya bisa menelan ludah dengan seret karena rasa syok.


Adzan isya terdengar berkumandang. Dua orang wanita duduk di bangku panjang di teras rumah. Masing-masing duduk di ujung kiri dan kanan bangku panjang itu. Belum ada kata yang terucap. Wajah Septi datar dengan jemari yang saling bertaut. Sementara Puput mengatup rapat bibir. Namun dalam hati sedang menjawab setiap kalimat adzan.


"Tiga orang sudah kupecat hari ini. Supervisor gudang dan dua orang picker." Puput mulai bersuara saat kumandang adzan berakhir.


Sontak membuat punggung Septi tegak dan menolehkan wajah yang sejak tadi sudah pias. Ia mendadak jadi orang bisu saat Puput mengajaknya keluar untuk berbicara empat mata.


"Kamu orang ke empat yang akan aku pecat. Sayangnya udah resign duluan." Puput menolehkan wajah membalas tatapan Septi. "Heru sudah buka mulut dan memberikan bukti skrip chat kamu dengannya yang meminta upeti. Hmm, nggak nyangka..." pungkasnya diiringi helaan nafas.


"Kamu mau laporin aku ke polisi? Silakan. Sekalian mau sita ini rumah sama motor? Silakan. Iya. Aku memang ngaku salah." Septi masih saja angkuh meski ia mengakui perbuatannya.


Puput terus menatap tajam sehingga Septi yang kalah dan kini meluruskan pandangan ke depan. "Secara aturan, harusnya kamu dijebloskan ke penjara. Tapi aku masih punya hati nurani melihat anak dan ibumu yang berakhlak baik. Aku menjaga perasaan ibumu yang nantinya akan sedih dan malu menjadi guncingan tetangga. Apa otak kamu mikir sampe sejauh itu nggak saat mau berbuat curang, hm?"


Suara Puput pelan namum penuh penekanan. Ia mengamati perubahan wajah Septi dari terkejut, mengeras kemudian menjadi datar. Sulit menebak apa yang tengah dirasakan perempuan berambut coklat yang dikuncir kuda itu. Perempuan yang usianya lima tahun lebih tua darinya.


"Aku ke sini mau menyampaikan, surat resignmu ditolak. Tapi diganti dengan surat pemecatan secara tidak hormat. Sudah dikirim lewat email. Kalau suratnya dibawa ke sini, khawatir ibumu malu dan kecewa dengan kelakuan anaknya."


Puput berdiri. Memasukkan dua tangan ke dalam saku jaket.


"Terima kasih sudah bekerja di perusahaan suamiku sejak awal berdiri sampai menginjak tahun ke lima ini. Meski endingnya buruk. Semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan HALAL."


Puput melajukan motor meninggalkan rumah bercat biru itu usai masuk kedalam untuk pamit pada ibunya Septi sambil menyelipkan amplop. Juga pada Nabila sambil memberikan uang jajan. Terakhir ia tersenyum manis dan ramah pada Septi seolah baru mengenalnya. Ia memilih bungkam tentang jati diri. Kecuali Septi sendiri yang mau jujur memberitahukan pada ibunya itu.


Ya Allah, sedekah suamiku hari ini untuk ibunya Septi dan Nabila.


Aku rindu padanya....segerakan dia pulang Ya Rabb!


Jeritan do'anya mengiringi laju motor yang Puput kendarai kembali pulang ke rumah. Sesuai ucapannya kepada Ibu, ia pulang tepat waktu jam 8 malam. Tak ingin membuat ibu gelisah dan cemas menanti, jika terlambat pulang.


Sebelum beranjak naik ke ranjang untuk istirahat malam, Puput mengenakan kemeja warna biru navy milik Rama. Hari ke 13, sebenarnya tak ingin menghitung berapa lamanya hubungan jarak jauh itu. Tapi setiap malam menjelang tidur, ia tergelitik untuk selalu melingkari kalender duduk yang dipajang di meja riasnya.


Puput berdiri di depan cermin dengan rambut digulung ke atas. Hanya mengenakan kemeja milik Rama yang longgar di tubuhnya, dan panjangnya sampai setengah paha, ia melakukan selfie.


Ia mengirimkan dua foto terbaik dengan caption, "Salam rindu dari wanita berkemeja biru."


Dengan senyum malu, Puput menyimpan ponselnya. Ia maklum jika Rama belum membukanya karena di sana masih siang, mungkin sedang sibuk. Usai puas memeluk baju yang melekat di tubuh, ia melepasnya dan berganti piyama. Lelah hari ini membuatnya segera lelap memeluk guling.


...***...


Subuh selalu menjadi waktu istimewa karena Rama biasa melakukan panggilan video. Menjadi waktunya saling melepas rindu lewat gestur dan verbal. Jika bagi Rama visual sang istri yang mendadak berpenampilan seksi, menjadi moodboster menjelang tidur malam dengan lelap dan damai. Bagi Puput, visual sang suami menjadi moodboster menjelang berangkat ke kantor.


Hari ini rapat luar biasa diadakan di ruang kerja Puput. Kekosongan jabatan karena pemecatan kemarin harus segera diisi. Kepala personalia turut hadir memberikan data kandidat sesuai prestasi absensi dan dedikasi. Hendra pun serius memberikan presentasi tentang nama-nama yang makin mengerucut untuk penentuan jabatan supervisor gudang dan toko.


Hari berikutnya dua nama yang sudah mendapat persetujuan sebagai supervisor baru, masuk ke ruang kerja Puput. Dia adalah Faisal, pegawai senior bagian helper, dan Novia ketua tim admin. Keduanya tampak tegang karena tidak tahu tujuannya dipanggil dan berdiri di hadapan empat orang berpengaruh di kantor RPA ini.


Via sempat menatap Puput. Sorot matanya meminta penjelasan. Ia tahu diri untuk bersikap formal di saat banyak orang seperti ini. Dan kerjapan pelan mata Puput seolah memintanya untuk tenang.

__ADS_1


"Bapak Faisal dan Ibu Novia, anda sengaja dipanggil karena ada hal penting yang akan kami sampaikan." Hendra mewakili memulai rapat setelah meminta kedua orang itu duduk.


"Hasil rapat luar biasa kemarin, sudah memutuskan jika Pak Faisal mulai hari besok naik jabatan menjadi supervisor gudang." Ujar Hendra dengan wajah serius dan berwibawa. Membuat Faisal terkejut namun mata berbinar. "Dan untuk Ibu Novia, mulai besok naik jabatan menjadi supervisor store. Kami harap Bapak dan Ibu bekerja dengan amanah dan loyal. Selamat menjalankan tugas baru!" Pungkas Hendra dengan mengangguk dan tersenyum. Puput pun memberi sambutan hal yang sama. Meminta keduanya menjalankan tugas baru dengan penuh tanggung jawab serta penuh loyalitas.


Saat jam istirahat tiba, Puput meminta Via makan siang di ruangannya usai salat Duhur. Ia tahu sorot mata sahabatnya saat rapat tadi menyimpan banyak pertanyaan yang membutuhkan penjelasan.


"Put, kok bisa sih aku diangkat jadi spv? Apa karena aku sahabatmu? Apa karena aku pengantin baru? Eh nggak nyambung ding. karena apa sih?" Benar saja begitu masuk, sekonyong-konyong Via mengeluarkan unek-unek di hati. Ia tak sungkan berbicara non formal meski ada Dwi yang menatapnya sambil menahan senyum.


"Salatmu nggak khusyu ya? Kepikiran soal ini." Puput beralih duduk di sofa yang kemudian diikuti Via.


"He eh, bener. Bisa bae nebaknya." Via tersenyum meringis. Diliriknya pula tiga kotak berlogo Dapoer Ibu yang tersimpan di meja. Mengundang cacing diperut berdisko ria.


"Kamu kepilih bukan karena sahabat aku. Tapi karena dedikasi dan prestasi. Dari empat kandidat yang diajukan saat rapat kemarin, semua setuju memilihmu, Via. Jadi nggak ada unsur KKN ya!"


"Benar, mbak Via. Si Septi sudah dibuang pada tempatnya. Mohon mbak Via bisa amanah mengemban tugas baru!" sahut Dwi yang turut bergabung di sofa.


"Duh si kanjeng ratu jadi sampah dong, mbak Dwi." seloroh Via yang membuat ruangan hangat oleh tawa sambil menikmati makan siang bersama.


Ponsel milik Puput berdering. Sigap Dwi mengambilkannya. Acara makan sudah usai dan Via sudah kembali ke kubikelnya.


Puput yang tengah mengupas jeruk, menerimanya dengan wajah semringah usai melihat nama yang tertera di layar.


"Assalamu'alaikum, Mami."


Di sebrang sana, sang mertua menjawab salam dengan riang dan lebih dulu menanyakan kabar Puput. Obrolan ringan membahas berbagai hal berlangsung cukup lama sampai kemudian Mami masuk pada tujuan utama.


"Put, sabtu besok jadwalnya Enin medical check up di Bandung. Biasanya Bunda Ratih yang antar, tapi katanya sabtu mau ada rombongan tamu ibu-ibu Persit ke butik. Jadi Mami mau minta tolong Puput temenin Enin. Bisa nggak, nak?"


"Insyaa Allah bisa, Mami." Puput menjawab tanpa ragu. Tak ada yang lebih penting dari menjalankan permintaan orang tua yang tidak berat itu.


"Iya, Mami. Nanti aku tanyakan dulu."


"Oke, sayang. Sudah dulu ya. Bentar lagi mau take off. Mami mau nemenin Papi ke Bali, kerja sambil honeymoon, hehe...."


"Salam sama Ibu ya, nak. Assalamu'alaikum."


Panggilan pun berakhir usai Puput menjawab salam. Ia tersenyum tipis. Merasa ikut bahagia dengan keharmonisan mertuanya itu. Meski sudah tua, kemesraan tetap terjaga.


"Mbak Dwi, besok aku nggak masuk ya. Mau nganter Enin medical check up ke Bandung. Tolong agenda besok, mbak Dwi yang urus!" Puput menatap sang asisten yang baru selesai membersihkan meja bekas makan.


"Siap, Bu Putri. Nikmati waktu bersama keluarga." Ucap Dwi tulus.


...***...


Jum'at selepas ashar, jadilah Puput dan Aul yang menemani Enin ke Bandung. Ami tidak bisa ikut karena sabtu nya harus ke pesantren untuk mengikuti tes berupa hafalan juz amma. Si centil itu bersikap santai dan percaya diri menghadapi tes akhir itu.


Tiba di Bandung selepas magrib. Di teras rumah yamg berada di kawasan perumahan elit , Panji berdiri penuh senyum menyambut mobil sedan civic yang berhenti tepat di depannya.


Sopir membawakan tas yang ada di bagasi saat Panji mencium tangan neneknya juga menyalami Puput dan Aul.


"Masuk, yuk!" Ajak Panji sambil merengkuh bahu Enin penuh sayang. Ia menunjukkan satu kamar untuk Puput dan Aul di lantai dua. Sementara untuk Enin sudah ada kamar khusus di lantai dasar.


"Teh Puput, Aul, nanti abis salat, aku tunggu di meja makan ya!" Ujar Panji dengan ramah usai mengantar Puput dan Aul sampai depan pintu kamar. Yang dijawab anggukkan dan senyum kedua wanita cantik itu.


"Teh, ini rumahnya siapa? rumah Enin atau Mami atau Kak Panji?" Sejak pintu gerbang dibuka oleh petugas keamanan, Aul sudah kagum dengan tampilan luar rumah bergaya minimalis modern itu. Apalagi setelah masuk menjadi berbeda, kesan elegan terlihat dari interior yang didesain estetik.


"Nggak tau. Apa kamu berubah pikiran terhadap Panji?" Puput menaikkan kedua alis dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Ish, aku bukan cewek matre. Sekarang belum waktunya untuk cinta." Aul lebih dulu masuk ke kamar mandi. Tidak mau melanjutkan pembahasan. Meski terdengar kakaknya itu terkekeh.


...***...


Semalam mengisi waktu dengan kumpul bersama dan berbincang ringan di ruang tengah. Baik Aul maupun Panji bersikap biasa seolah melupakan sejenak urusan pribadi. Ikut larut dalam kehangatan obrolan sampai 30 menit lamanya dengan Rama yang meluangkan waktu menghubungi, menyapa Enin dan semuanya. Karena Puput setiap hari selalu update komunikasi terhadap suaminya itu.


"Enin, Panji nggak bisa antar ke rumah sakit. Ada janji sama dosen pembimbing." Ucap Panji yang mengantar sang nenek sampai pintu mobil.


"Iya, nggak papa. Udah cukup ada Puput sama Aul juga. Kamu buruan lulus kuliah biar cepet lamar anak orang." Enin melirik sekilas ke arah Aul. Aneh, Aul merasa salah tingkah digoda Enin seperti itu. Membuat pipinya merona tanpa dipinta.


"Iya, Enin. Ini juga Panji lagi semangat kuliah sambil mengumpulkan recehan. Buat modal ngelamar dan nikah." Panji terkekeh. Canda tawa itu berakhir dengan lambaian tangan sampai mobil keluar dari pekarangan dengan tatapan dan senyumnya fokus pada Aul yang duduk di jok kiri depan.


Tiba di rumah sakit Adyatama, kedatangan Enin disambut langsung oleh direktur rumah sakit serta beberapa dokter di lobi. Tentu saja kedatangan Ibu Sepuh sudah terjadwal sebelumnya.


Enin memperkenalkan Puput sebagai cucu mantu dan Aul sebagai cucunya saat berjabat tangan dengan direktur rumah sakit. Semua orang yang berjejer mengangguk sopan dan ramah.


"Teh, serasa di drakor ya disambut segitunya." Bisik Aul sambil terkikik pelan saat duduk di ruang tunggu khusus. Karena Enin sudah dibawa masuk oleh dua suster untuk berganti pakaian. Puput hanya mengangguk sambil menahan senyum.


Dokter sudah mengkonfirmasi jika MCU (Medical Check Up) akan berlangsung sampai 7 jam. Untuk membunuh rasa bosan, di ruang tunggu khusus keluarga itu disediakan kulkas full isi, televisi, majalah, sofa bed yang nyaman, serta kursi pijat elektrik.


Puput meminta ijin pada suster yang bertugas di luar ruang MCU, ingin jalan-jalan mengitari area rumah sakit. Ia menolak ditemani saat salah seorang suster menawarkan diri menjadi guide. Aul memilih tenggelam dengan macbooknya membunuh waktu dengan membuat layout tugas kuliah.


Sepqnjqng melewati koridor lantai dasar, rumah sakit swasta itu begitu terjaga kebersihannya. Puput tertarik menuju taman yang asri dan tertata. Ada tiga pasien dalam kursi roda yang tengah berjemur ditemani keluarga pasien. Ada pula yang tengah terapi berjalan di bawah pengawasan perawat.


"Hai---"


"Hai yang berjilbab pink."


Puput yang tengah duduk di kursi taman dan menekuri ponsel, menoleh ke asal suara. Merasa diri terpanggil karena memakai pasmina warna pink muda.


"Ke saya?!" Puput menunjuk dada menatap pria berwajah etnis yang mendekat penuh senyum.


"Iya. Aku belum tau namamu jadinya manggilnya gitu. Maaf ya." Pemuda tampan itu tersenyum manis. "Kamu masih ingat sama aku, nggak?" sambungnya dengan kedua alis terangkat.


Puput uamg tengah duduk harus mendongak pada pria tinggi yang berdiri di depannya. Kedua alisnya bertaut mencoba mengingat.


"Aku Andreas. Yang waktu ketemu di mal Jakarta. Kamu yang udah nolongin Mami saat terpeleset."


Penjelasan pria tampan berwajah oriental itu membuat Puput tersenyum lebar dan manggut-manggut. Baru ingat.


"Kamu sedang apa di sini?"


"Kamu sedang apa di sini?"


Pertanyaan yang sama terlontar secara spontan berbarengan. Membuat keduanya tertawa bersama. Andreas mempersilakan Puput menjawab lebih dulu.


"Saya menemani nenek MCU." Jawab Puput.


"Sama dong. Aku nemenin Mami MCU. Biasa, jadwal rutin setahun sekali." Ucap Andreas.


Sesaat tak ada percakapan. Malah Puput menoleh ke arah lain. Memperhatikan pasien seorang remaja yang didorong kursi rodanya untuk kembali ke kamar perawatan.


Andreas duduk di kursi taman yang ada di samping kiri Puput. Mencuri pandang tanpa kedip pada wanita cantik yang sudah mempesonanya. Seolah takdir berpihak padanya hingga kini bertemu untuk kedua kalinya. Ia baru mengerjap saat kemudian mendapat tatapan balasan. Membuatnya berdehem untuk menetralkan dada yang mendadak berdesir.


"Maaf, apa boleh tau nama kamu? Siapa tau nanti ketemu lagi di lain tempat. Jadi nggak bingung menyapa." Sesopan mungkin Andreas meminta.


Puput mengangguk dam tersenyum tipis. "Nama saya...." Ponsel di tangannya berdering. Membuat fokusnya beralih pada nama yang tertera di layar.

__ADS_1


__ADS_2