
Rama menarik kursi bersiap makan. Padahal sudah disetting romantis. Lauk pauk pun begitu menggugah selera. Entah tadi Puput makan dengan apa. Soalnya semua masih rapih seolah belum tersentuh. Untuk sesaat hanya termangu dalam penyesalan.
"Bi, belum tidur?" Rama menyapa Bi Lilis yang baru keluar dari dapur.
"Baru mau tidur tapi lupa sisa daging sama sayuran belum dimasukin kulkas." Sahut Bi Lilis dengan kening mengkerut.
"Den Rama, baru makan sekarang?" Sambung Bi Lilis sengaja berhenti karena penasaran melihat Rama membalikkan piring yang awalnya menangkup. Ia menangkap pasti, tidak ada apa-apa di dalamnya.
"Iya, Bi. Aku nggak sadar tadi udah marah sama Puput." Rama mendesah kasar. Nampak raut penyesalan di wajah tampannya. Ia tidak segan untuk curhat karena Bi Lilis adalah ART senior yang sudah mengurusnya sejak usia TK.
"Neng Puput semangat sekali menyiapkan ini dari sore, Den. Masak sendiri. Bibi cuma bantu ngiris-ngiris aja. Padahal Neng Puput mau ngasih kejutan." Jelas Bi Lilis.
"Kejutan? Kejutan apa, Bi?" Rama menautkan kedua alisnya.
"Eh, Bibi kurang tau. Neng Puput hanya bilang gitu aja waktu masak. Ya mungkin ini kejutannya. Makan malam romantis." Bi Lilis hampir keceplosan. Ia tidak punya hak menyampaikan berita bahagia itu. Menyayangkan dengan sikap Rama yang menurutnya tidak dewasa. Sehingga acara surprise yang disiapkan Puput gagal total. Sepertinya kotak yang tersimpan di bawah piring sudah diambil lagi. Mungkin nanti mau mengulang surprise, pikirnya.
Rama menghela nafas panjang. Raut penyesalan nampak di wajahnya. Centong nasi sudah dipegangnya tapi belum digunakan untuk mengambil nasi. Terbayang, biasanya Puput akan melayaninya dengan riang penuh senyum. Hanya bisa meringis menyesal.
"Den, mau dipanasin dulu sop konro nya? Soalnya enaknya dimakan panas-panas. Pintar itu Neng Puput. Bukan hanya bisa masak menu khas sunda, itu sop khas Makassar mantap sekali." Puji Bi Lilis tulus. Ia juga memakan menu yang sama dengan apa yang tersaji di meja makan. Puput memperlakukannya sebagai keluarga, jadi tidak dibeda-bedakan.
"Boleh, Bi." Rama mengangguk.
Tak peduli makan berat sudah larut malam. Karena Rama begitu menikmati semua yang tersaji di meja. Benar kata Bi Lilis yang kini sudah masuk kamar. Masakan Puput sangat enak. Memang biasanya pun selalu enak. Hanya saja ini menu spesial. Baru sekarang ada sop konro tersaji di meja. Lagi, rasa penyesalan melewatkan candle light dinner yang disiapkan istrinya itu membuat dirinya merasa jadi suami bodoh.
Puput mengerjapkan mata saat sayup-sayup terdengar suara adzan subuh. Tumben tidak terjaga dinihari. Tubuhnya terasa berat dan susah bergerak. Baru sadar rupanya Rama memeluknya dari belakang dan melingkarkan tangan ke perutnya.
Saat teringat sikap Rama semalam, mendadak Puput mengurai pelukan suaminya itu yang tidur nyenyak. Mendadak ilfeel. Ia beranjak untuk mandi sebelum sholat subuh.
"Aa, bangun! Udah subuh." Puput menepuk-nepuk pelan lengan Rama. Sudah sholat dan mengaji, tapi pas melirik ke ranjang, suaminya itu ternyata masih mendengkur halus.
Rama hanya menggeliat. Matanya masih enggan terbuka. Membuat Puput beralih menggoyangkan bahunya.
"Masih ngantuk, Neng. Aa baru tidur jam satu." Ucap Rama dengan suara serak khas bangun tidur. Ia menguap panjang. Satu tangannya menggenggam tangan Puput yang duduk di tepi ranjang.
"Makanya jangan lembur sampe larut jadi susah bangun subuh." Sahut Puput dengan wajah datar. Ia yang berubah moody karena kecewa dengan sikap Rama semalam.
"Aa nggak lembur kok. Tapi baru makan jam setengah sebelas. Jadinya baru bisa tidur jam satu. Masakan istriku enaknya bikin nagih." Rama tulus memuji sekaligus membuka jalan percakapan untuk meminta maaf."
"Jangan ngobrol dulu. Subuh keburu akhir." Puput sama sekali tidak merasa tersanjung dan melambung mendengar pujian Rama. Ekspresi biasa saja. Datar.
__ADS_1
"Neng, maafin Aa...." Rama menahan tangan Puput yang akan beranjak. Ia menyadari sikap datar dan acuh istrinya itu.
"Aa sholat dulu! Keburu terbit tuh." Puput menunjuk dengan dagu pada tirai jendela yang sudah dibuka. "Aku ke dapur dulu."
Rama mengalah saat Puput menarik tangan yang dipegangnya. Memperhatikan punggung sang istri yang kemudian hilang di balik pintu tanpa menoleh lagi. Buru-buru ia beranjak ke kamar mandi. Rasanya tidak nyaman dengan perlakuan Puput subuh ini. Ia kehilangan sosok ceria dan menggoda di setiap subuh.
Rasa lapar di pagi buta membuat Puput memutuskan untuk membuat bubur oatmeal. Sudah dibayangkan enaknya jika ditambah toping kismis, strawberi dan pisang. Pas sekali toping yang dibutuhkan tersedia. Ia sudah meminta tolong Bi Lilis membereskan lagi meja makan seperti semua. Memanaskan lagi lauk pauk yang ada untuk sarapan pagi.
Duduk di halaman belakang menghadap kolam renang. Puput memilih duduk di kursi kolam karena bisa sambil selonjoran kaki sekaligus menghirup udara segar pagi hari. Sudah tidak sabar untuk mulai menikmati bubur instan oatmeal yang masih panas dan sudah ditambahkan madu tanpa susu kental manis.
Rama menuruni tangga menyusul Puput ke dapur. Namun hanya mendapati Bi Lilis yang sedang menyapu.
"Neng Puput ada di belakang, Den." Bi Lilis seolah bisa menebak apa yang dicari Rama.
Rama tanpa kata bergegas memutar langkah. Dari kaca bening ruang makan bisa terlihat pemandangan kolam renang berikut seseorang yang sedang duduk santai. Ia tersenyum lebar, membuka pintu geser dan menarik satu lagi kursi kolam sehingga rapat dengan yang dipakai Puput.
"Kayaknya enak. Bagi dong, sayang." Rama mulai berbasa-basi. Karena Puput sama sekali tidak melirik kedatangannya.
"Aku buatin yang baru aja ya. Ini nggak pake susu." Puput menahan dulu Rama yang ingin mengambil alih mangkuknya.
"Mau punyamu aja." Dengan percaya diri Rama menyendok penuh bubur dengan irisan kecil strawberi dan pisang itu. Kemudian keningnya mengernyit, mata menyipit. Rasanya aneh. Hambar, asam, dan sebal. Namun sudah terlanjur masuk ke mulut dan ingin menghargai racikan istrinya itu yang tumben tidak enak. Susah payah ia telan.
"Strawberinya kebanyakan, Neng. Awas sakit perut. Pagi-pagi makan yang asem gini." Rama memperhatikan Puput yang berselera melahap lagi bubur itu.
"Mungkin karena semalam lihat muka yang asem jadi mendadak ingin sarapan yang asem-asem." Ucap Puput dengan santai. Menyuapkan lagi buburnya sembari menatap riak air kolam karena terpaan angin.
Rama menyadari jika Puput sedang menyindirnya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana pendeknya. Menyerahkan pada istrinya itu.
"Kemarin ada nomer gak dikenal ngirim foto-foto itu. Aa jadi gak konsen kerja. Jadi kesal sama kamu. Bilangnya mau pergi sama Cia. Tapi janjian juga sama mantan." Rama memberi penjelasan di saat Puput menatap foto-foto dengan mata melebar.
"Aa nuduh aku selingkuh?!" Puput menyerahkan lagi ponsel milik suaminya itu diiringi tatapan tajam.
"Eh, nggak kok." Rama menggoyangkan tangan dengan aura takut.
"Nggak salah maksud Aa, gitu? Pantesan semalam pulang telat, wajah datar, sikap dingin." Puput beristighfar sambil geleng-geleng kepala.
"Kenapa Aa nggak nanya langsung aja, konfirmasi ke aku. Bukan malah bersikap kekanak-kanakkan."
Rama membuka mulut bersiap menjawab. Namun isyarat tangan Puput membuatnya mengatupkan bibir lagi.
__ADS_1
"Cowok itu namanya Idam. Dan ralat ya. Dia bukan mantan. Dan aku nggak pernah punya mantan. Pacarku cuma satu. Dia....cucunya Enin Herawati. Turunan Ciamis, blasteran jawa sunda dan tinggalnya di Jakarta. Dia itu boss nyebelin. Dulu, sekalinya kunker ke cabang eh malah aku kena skorsing. Aku pernah kena skorsing karena telat masuk kantor. Yaaa kasusnya hampir sama kayak gini. Maen nuduh tanpa tabayyun. Padahal waktu itu telat karena nolongin adiknya." Puput berubah galak dan menjelaskan dengan mengungkit kesana kemari meluapkan kekesalannya.
Rama mengulum senyum melihat ekspresi galak Puput tapi malah lucu. "Pacarnya ganteng, nggak?" ucapnya malah sengaja menggoda.
"Ganteng sih. Tapi ternyata ganteng aja gak jadi jaminan cowok itu selamanya baik. Baru tahu semalam ternyata punya sikap menyebalkan. Ngambek nggak jelas."
"Neng..." Rama meraih tangan Puput yang berubah ketus itu. Menciuminya berkali-kali.
"Idam itu teman aku asli Tasik. Rumahnya diperbatasan Ciamis-Tasik. Dia telepon aku pas Aa udah berangkat kerja. Rencananya nanti aja lah laporannya pas Aa udah pulang. Toh aku ketemuannya juga bareng Cia. Abis meeting. Di meja yang sama juga. Idam ngasih undangan. Dia mau nikah seminggu lagi." Jelas Puput menatap Rama yang meringiskan wajah karena merasa bersalah sudah berprasangka buruk.
"Ta-tapi....tapi Neng cuma duduk berduaan. Pada happy lagi. Nggak ada Cia nya." Rama mengerutkan bahu dengan takut. Seolah anak yang terkena marah emaknya.
"Sepertinya yang moto sengaja pas Cia lagi ke toilet. Aa perhatiin lagi itu foto. Gelas minuman ada tiga, bukan?"
"Coba perhatiin juga dekat tangan aku. Itu ada kartu undangan tebal warna toska. Kalau masih gak percaya, tanya Cia deh." Puput masih dalam mode kesal. Bisa-bisanya Rama menuduhnya selingkuh.
Rama menurut. Melihat lagi dengan teliti. Dengan kepala dingin pagi ini, ia baru menyadari jika yang diucapkan Puput benar adanya.
"Aku kira itu buku daftar menu, Neng." Rama tersenyum meringis. "Maafin Aa ya....sikap Aa begitu karena takut kehilangan kamu," sambungnya.
Puput menghembuskan nafas panjang. "Aa dewasa dong. Apa-apa tuh bicarakan dulu. Jangan dulu membuat kesimpulan sendiri. Akhirnya begini deh...." ujarnya berubah sendu.
"Kemarin tuh pulang dari mall, aku sama Cia lanjut treatment. Pulang ke rumah jam tiga sore. Aku langsung ke dapur masak spesial. Pengen dinner romantis ala-ala candle light. Tapi karena sikap Aa, ambyar deh." Keluh Puput dengan raut kecewa.
"Maaf, sayang. Emang Aa yang salah. Aa janji gak akan ngulang kebodohan itu lagi. Mau kan maafin Aa." Rama menarik tubuh Puput. Memeluk erat dengan penuh perasaan. Wajah Puput yang terbenam di dadanya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Puput meronta, melepaskan diri dengan wajah pias dan kening mengernyit. "Aa bau ih. Mandi dulu gih!" Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi mualnya.
"Hah? Bau? Masa sih?" Rama mengendus kaosnya. Mengendus ketiak kiri dan kanan.
"Iya. Tumben Aa bau. Biasanya bangun tidur tetap wangi." Puput berkata jujur. Ia pun merasa heran dengan aroma baru Rama.
Rama masih mengernyit karena merasa tidak bau. Namun kedatangan Bi Lilis mengalihkan perhatian.
"Den, itu ada Mami Den Rama datang." Ucap Bi Lilis. Ia tidak lama. Kembali ke dapur karena mau membuat teh hijau untuk nyonya besar.
Rama dan Puput saling pandang dengan sorot mata heran. Tumben Mami Ratna datang sepagi ini. Keduanya segera beranjak. Namun Puput harus menahan nafas saat berjalan bersisian dengan Rama. Ia tidak mungkin menjaga jarak. Takut suaminya itu tersinggung karena tercium badannya bau.
...****************...
__ADS_1
Tabayyun (bahasa arab) adalah meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.