
Pukul tiga dini hari. Mata masih berat terpejam saat setengah sadar mendengar dering ponsel berbunyi. Rama hanya menggeliat merubah posisi tidur miring ke kanan. Ia tiba di rumah Enin pas tengah malam di saat hujan deras mengguyur sepanjang jalan dari Limbangan sampai Ciamis. Sehingga Damar tidak bisa melajukan mobil dalam kecepatan tinggi meski jalanan lengang. Bahaya ban selip. Alhasil perjalanan molor sampai satu jam.
Dering ponsel Rama berulang terdengar. Kini Damar yang merasa terganggu dan mengeplak lengan Rama tanpa membuka mata. Keduanya begitu sampai hanya berbincang sebentar dengan Papi Krisna dan Mami Ratna yang sengaja menunggu. Lalu tepar karena cape dan hawa dingin yang menggigit.
"Argh, hape lo berisik. Angkat dulu tuh!" Damar kali ini mengguncang kasar bahu Rama. Karena ponsel tidak berhenti berdering.
Berjalan setengah digusur, Rama mengambil ponsel yang disimpan di nakas. Mata memicing membaca layar karena ngantuk masih menggelayut. Ditambah kedua alis bertaut saat yang tampil nomer tak dikenal dengan kode luar negeri +1.
"Hallo---"
"Ram, it's me Jo....new number. Sorry....."
"Jo, what's up?" Rama mengucek mata, duduk di tepi ranjang. Ia mengabaikan permintaan maaf Jo karena menelpon di pagi buta, tetapi sore hari waktu New York. Lebih penasaran mendengar nada suara cemas di sebrang sana.
Terdengar helaan nafas kasar. "Bad news, bro. Gimme a hand (bantu aku)!"
"Ada masalah apa?" Rama mulai tidak sabar. Bahkan kantuk mendadak menghilang mendengar nada frustasi dari beda benua itu. Ia menegakkan telinga dan memusatkan konsentrasi mendengar kata demi kata penjelasan panjang yang membuat punggungnya tegak, matanya membelalak, karena kaget.
Usai menutup panggilan. Bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka agar lebih segar. Langkah Rama berikutnya adalah membuka laptop untuk mengecek email. Semua permasalahan sudah terlampir pada kiriman email dari Jo.
Suara pergerakan Rama dalam kesunyian dini hari itu tak urung membuat Damar akhirnya terusik dan bangun. Menyipitkan mata melihat Rama duduk sila di sampingnya tengah menatap layar laptop. Ditambah ada lagi dering telepon yang segera disambar oleh Rama.
"Hallo, Ben."
"Iya. Barusan si Jo udah confirm. Ini gue lagi pelajari."
"Ck, entahlah gue bingung. Lo kan tau malam ini gue mau lamaran. Beri gue waktu buat mikir."
Panggilan itu berakhir dengan Rama mengusap wajah dengan kasar. Semua tak luput dari perhatian Damar.
"Siapa yang telpon, bro? Ada masalah apa?" Damar menatap Rama yang kini mengurut kening sambil menatap layar laptop.
"Tadi si Jo, barusan si Ben. Perusahaan di New York lagi kena masalah besar. Ada tuduhan pembuatan web yang melanggar hukum. Gue sama Ben harus terbang ke sana. Si Jo butuh bantuan. Jangan sampe kabar ini sampe ke telinga investor. Bisa-bisa bangkrut." Rama menghela nafas kasar.
"Rencana lo mau berangkat kapan? Nggak usah mikirin perusahaan di sini. Tenang, ada gue." Damar meyakinkan Rama. Ini bukan kali pertama sahabatnya itu meninggalkan perusahaan. Menyerahkan tanggungjawab kepemipinan dalam jangka waktu lama.
Rama menggeleng. "Gue pasti mercayain sama lo. Yang jadi pikiran bukan itu. Jo mintanya gue sama Ben berangkat paling lambat senin. Gue minta waktu buat mikir. Lo tau, LDR-an sejauh itu gue jadi trauma....." ia menatap Damar dengan ekspresi penuh arti.
Giliran Damar yang menggeleng. "Lo overthinking, Ram. Jangan samakan Puput dengan Karenina. Kamu harus yakin Puput cewek setia."
"Nggak ada niat tapi ada kesempatan. Semua serba mungkin kan?" Rama meremas rambutnya. Gusar. Menggelengkan kepala. "Intinya gue trauma, bro. Bukan nggak percaya sama Puput. Mana di sana bakal lama. Rasanya gak bakalan bisa tenang." keluhnya.
"Kasih gue solusi, bro!" Rama merasa buntu untuk berpikir. Kepalanya mendadak pusing.
"Sebaiknya kita rapat keluarga. Kita dengerin saran-saran orang tua. Pasti ada solusi terbaik." Damar menepuk bahu Rama. Menyuruh tidur lagi. Ada waktu satu jam sebelum subuh.
Rama memindahkan laptop ke kolong ranjang. Merebahkan lagi badan telentang dengan tatapan menerawang menatap langit kamar. Jelas nggak bisa lagi memejamkan mata. Otaknya tengah berpikir keras memikirkan permasalahan perusahaan juga masalah trauma masa lalu yang mendadak berkelebat di ingatan.
...***...
Meja makan berkapasitas 8 kursi itu sudah dipenuhi seluruh keluarga. Rama sengaja meminta semuanya sarapan dalam satu waktu. Karena ada hal penting yang akan disampaikan. Raut lesu karena kurang tidur menghiasi wajah tampannya.
"Ada apa, Rama? Calon manten kok wajahnya pucet gitu." Mami memggoda si sulung sambil tersenyum simpil. Membuat semua pandangan kini tertuju pada Rama yang duduk di jajaran kanan, paling sisi.
__ADS_1
Rama menyeruput teh tawar miliknya sebelum berkata. Sejenak menyapukan pandangan yang ternyata semuanya siap menyimak. "Jadi gini, tadi subuh Jo mengkonfirmasi perusahaan di New York sedang bermasalah. Ada tuduhan pelanggaran hukum. Dia curiga ada fitnah dari rival. Aku dan Ben harus terbang ke sana senin besok." Ia menelan ludah sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku di sana kemungkinan bakal lama, bisa dua sampai tiga bulan. Mungkin juga lebih."
"Yang jadi masalah. Aku takut LDR-an sejauh itu dengan Puput. Mih, aku trauma...." Rama fokus menatap maminya dengan sorot gelisah.
Mami manggut-manggut. Tak perlu mendengarkan penjelasan panjang. Ia faham arah yang dimaksud sang anak.
"Tadi lagi shalat terlintas ide gimana kalau lamaran ini sekalian nikah aja. Nikah agama dulu. Dengan mengikat halal, insya Allah akan tenang. Kalau hanya tunangan, takut seperti dulu....."
"Papi setuju." Papi Krisna memotong ucapan Rama agar tidak lagi mengungkit masa lalu yang memunculkan trauma itu. "Kamu pergilah ke rumah Puput. Bicarakan seadanya soal masalah perusahaan di Amerika. Dan kemungkinan LDR-an lama. Lalu sampaikan keinginan untuk nikah agama."
"Enin juga setuju. Tapi kamu harus bisa merayu yang masuk akal, Rama. Jangan bilang soal trauma ini. Cukup jadi rahasia keluarga. Karena bisa menimbulkan salah faham. Puput bisa tersinggung, merasa dirinya tidak dipercaya. Disama ratakan sama si Kakaren itu."
"Karenina, Enin." Ralat Cia.
"Ya...itulah." Enin mengibaskan tangan. Tidak suka mendengar nama itu. Sementara Bibi Ratih, Panji, dan Damar fokus menjadi pendengar.
"Kalau Puput setuju, Mami mah seneng banget jadi cepet dapat mantu. Ayo Rama, sekarang juga temui Puput. Harus pintar diplomasi dan sukses dapat tender nikah. Insya Allah soal hantaran nggak akan malu-maluin. Isinya premium lengkap untuk ujung rambut sampai ujung kaki. Udah kayak hantaran nikah pokoknya." Sahut Mami berseri-seri dan berapi-api.
"Iya, Kak. Don't worry. Venue juga di hotel terbaik se Ciamis. Konsep nggak kaleng-kaleng, aku yang cerewet sama WO dan semua vendor yang terlibat. Karena Puput mah sungkan bae ngegesek kartunya. Jadi dipakai acara nikah juga sangat layak. Tinggal booking kamar pengantin aja yang belum." Ujarnya tersenyum sambil menaik turunkan alis.
Rama bernafas lega. Ia berpikir positif. Bisa jadi ide nikah agama yang terlintas saat shalat subuh tadi adalah petunjuk dari Allah. Mungkinkah hikmah di balik musibah. "Oke, aku ke rumah Puput dulu. Do'akan Puput nya nggak nolak ya."
Semua mengaminkan harapan Rama.
"Kak Rama jangan pergi sendiri. Biar aku yang jadi sopir. Calon manten mah duduk manis aja. Kasian tuh jidatnya berlipat banyak pikiran." Panji mengusulkan diri untuk mengantar dibumbui ledekan.
Cia mencebikkan bibir. "Modus lo, Panji. Tau lah aku juga...biar sekalian ketemu Aul, kan?" Ya ampuun... sekeluarga tukang modus kabeh." ujarnya geleng-geleng kepala.
"Kamu juga, Cia. Pinter ngebaca modus orang. Lah dirimu dimodusin Damar bertahun-tahun tapi nggak peka-peka. Untung Damar gak TBC." Giliran Rama yang menyerang sang adik.
Membuat wajah Cia merona. Sementara Damar anteng-anteng saja menikmati nasi goreng.
"Bukannya nggak peka. Tapi belum dapat hidayah." Cia berkilah. Kembali melanjutkan menggigit roti bakarnya.
"Bisa aja ngelesnya, Munaroh." Panji kembali menjitak kemudian lari menghindari balasan sekaligus mengekori Rama yang sudah berlalu.
Kali ini Damar terkekeh sambil menoleh ke arah Cia yang duduk di sampingnya. Teringat video call tempo lalu. Nampak gadis itu memberengut kesal karena ulah Panji. "Hmm... jadi udah ganti nama ya, Cia Munaroh." Lirihnya dengah menahan tawa. Alhasil di bawah meja, Cia mencubit pahanya sekuat tenaga. Sama sekali tidak terasa sakit bagi Damar.
...***...
"Wa'alaikum salam. Sebentar...." Ami menyahut orang yang menekan bel dan mengucap salam.
"Eh, Kak Rama sama Kak Panji." Ami tersenyum lebar. Mencium punggung tangan mereka dengan semangat. "Aku terkejoot....kok bisa....fans aku barengan gini datangnya." sambungnya memasang mimik mata melotot dengan nafas turun naik.
Membuat Rama mengacak rambut Ami dengan gemas dan merangkum bahunya sambil masuk. Panji terkekeh dan mengikuti masuk. Tak ada kesibukan yang nampak di dalam rumah karena semua urusan sudah di handle pihak WO.
Ada Ibu Sekar yang kemudian menyambut kedatangan kedua pemuda itu dengan wajah semringah. Bertanya pada Rama kapan tiba di Ciamis.
"Ami....panggil dulu Teh Puput di atas!" Ibu menoleh pada si bungsu yang duduk di sampingnya ìkut menyimak obrolan santai tentang persiapan acara nanti malam.
Ami sigap berdiri. "Kak Panji, mau order juga?"
__ADS_1
Panji mengkerutkan kening dengan tatapan bingung.
"Order manggil Teh Aul. Kan sama-sama lagi ada di kamar Teh Puput. Biar hemat ongkir, aku nggak jadi kurir dua balik naik turun tangga." Jelas Ami sambil melipat tangan.
Panji tertawa. "Iya deh neng kurir, order teh Aul juga. Nanti ongkosnya bayar di tempat." sahutnya, mengikuti permainan Ami. Bocah periang itu mengacungkan jempol dan berlari menuju tangga.
Ibu Sekar menghela nafas. "Maafin kelakuan Ami ya. Dia memang paling rame, beda sama kedua tetehnya."
"Gak papa, Bu. Justru kita juga senang sama Ami. Periang dan selalu menghibur." Rama mewakili menjawab. Panji ikut mengangguk setuju.
Pandangan Rama kini tertuju pada sosok yang datang menghampiri. Senyumnya mengembang saat sama-sama saling beradu tatap.
"Kak Panji, ngobrol di sana yuk!" Aul mengarahkan jempolnya ke arah Dapoer Ibu yang masih tutup. Karena mulai bukanya jam 9 dan tutup jam 9 malam. Ia sudah mendapat chat sebelumnya dari Panji. Tentang Rama dan Puput yang perlu bicara empat mata.
Tinggallah berdua di ruang tamu. Karena Ibu dan Ami pun berlalu ke dapur umum. Memantau pekerja yang memasak dengan resep yang dibuat Ibu.
"Aa, mau ngebahas apa?" Sama halnya Puput yang mendapat pesan sebelumnya dari Rama. Jika akan ada pembicaraan penting di pagi ini.
Rama tak lantas menjawab. Terpaku menatap wajah Puput yang terlihat semakin ayu. Seminggu tak bersua secara fisik, paras sang kekasih dilihat sedekat ini, semakin bening bercahaya. Rasa khawatir menyeruak. Bagaimana jika lama ditinggal ke Amerika. Pasti banyak pria yang akan mendekat, menggoda. Bukankah ada slogan, selama janur kuning belum melengkung, masih bisa ditikung.
"Ish, Aa mah malah bengong." Puput menggoyang-goyangkan telapak tangan di depan muka Rama yang ketahuan menatap kosong. Melamun.
Rama mengerjapkan mata. Menipiskan bibir. Menghela nafas panjang. "Begini, Neng. Aku punya perusahaan di Amerika, tepatnya di New York. Namanya RJB Techno. Gabungan dari nama Rama, Joshua, Ben. Mereka teman kuliah S2 di Stanford. Itu usaha rintisan kami bertiga di bidang Web Development."
Puput mengangguk-ngangguk sebagai respon menyimak.
"Tadi sebelum subuh ada kabar perusahaan kena masalah serius. Ada tuduhan pembuatan web yang melanggar hukum. Aku sama Ben yang ada di Jakarta, harus berangkat ke sana segera. Si Jo mintanya senin besok udah terbang karena dia butuh partner."
Puput menangkap kegelisahan di wajah Rama.
"Neng sayang, aku bakalan lama stay di sana. Mungkin dua atau tiga bulan. Mungkin lebih. Tergantung cepat lambatnya masalah selesai. Kita akan LDR-an sangat jauh..." Rama menatap reaksi di wajah Puput yang menyimak dengan serius.
Puput tersenyum dan menatap lembut. "Aa tenang aja. Aku di sini akan setia menunggumu pulang."
Rama menggeleng. "Jawabanmu belum bisa membuatku tenang, Neng."
"Lalu aku harus apa agar Aa bisa tenang?" Puput mengangkat kedua alisnya.
Rama meraih kedua tangan Puput dan menggenggamnya. "Aku ingin menikahimu malam ini juga."
Puput membelalakkan mata sambil menganga sekian detik. Sebelum akhirnya alarm ibu on.
"Kita nikah agama dulu. Jadi setelah lamaran dilanjutkan akad nikah. Aku akan merasa tenang saat pergi jauh, setelah mengikatmu secara halal."
"Mau ya, Neng. Please!" Rama menatap penuh permohonan. Ia merasakan telapak tangan sang kekasih berubah dingin dan menegang.
"Aku percaya calon istriku ini akan setia dan sabar menungguku pulang. Tapi masalahnya konsentrasiku yang akan kacau. Aku gak akan fokus kerja karena merindumu."
Puput mengerutkan kening. "Apa bedanya? Menikah pun kita tetap ldr an, kan?"
"Ada bedanya, Neng. Kalo nikah dulu, aku ingin bikin foto dan video fose mesra kita, yang banyak. Yang bisa aku tatap dan replay setiap saat. Jadi pengobat rindu. Jadi moodboster every day."
Puput termenung, berpikir.
__ADS_1
"Mau atau tidak, sayang?" Rama mengeratkan genggaman tangannya. Harap-harap cemas menanti jawaban.