Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
Kesan Pertama yang Ingin Ditunjukkan


__ADS_3

Cuaca hari ini tampak cerah. Langitnya terang benderang meski masih jam setengah sembilan pagi. Kala memasukkan laptop, buku-buku pemberian Cinta, buku catatan, jurnal-jurnal referensi yang sudah dicetak dan sebuah alat tulis ke dalam tas gendong.


Kala sudah mempersiapkan semuanya semalaman. Untuk bimbingan pertamanya ini, Kala tidak boleh melupakan apapun. Citranya di mata Pak Rahmat sudah jelek karena ia tak ada kabar selama satu setengah bulan. Jangan sampai, dipertemuan pertamanya, ia memberikan kesan tak baik juga.


Mengendarai motor matiknya, Kala percaya diri. Ia bahkan berangkat satu setengah jam sebelum waktu pertemuan. Alasannya tetap sama, Kala harus menciptakan kesan pertama yang baik kepada dosen pembimbingnya. Namun, matanya terasa sepat. Kala menguap berkali-kali karena mengusahakan semua ini.


Semalam, setelah Cinta pulang, Kalau langsung membuka laptop untuk mencari referensi jurnal dan skripsi terdahulu. Ia mendapatkan lebih dari dua puluh jurnal dan sepuluh skripsi yang sekiranya mirip dengan judul skripsinya. Kemudian, ia mencetak semua bahan referensinya hingga ketiduran. Ketika bangun, Kala kecewa karena printernya kehabisan kertas. Yang tercetak hanya enam jurnal dan tak ada satupun contoh skripsi yang tercetak.


Sebenarnya Kala kecewa. Tapi, mau diapakan lagi. Ia harus tetap menunjukkan dirinya di depan dosen pembimbing jika ia benar-benar serius ingin lulus tahun ini.


Kala menghentikan motornya di depan kampus pusat. Masih jam sembilan. Rupanya perjalanan dari kontrakannya ke kampus sebentar sekali jika ia tidak mepet. Padahal, tadi Kala mengendarai motornya hanya empat puluh kilo meter per jam. Seperti kura-kura.


Sekarang permasalahannya adalah : Kala bingung mau melakukan apa. Ia lihat sekeliling kampus yang ramai. Orang-orang nongkrong bergerombol di trotoar yang disulap menjadi warung kaki lima, kemudian berpindah mengamati kantin yang juga ramai. Namun, dari sekian ratus orang yang nongkrong, Kala tak mengenali siapapun. Akhirnya terbesitlah ide untuk menghubungi Cinta.


Kala mengambil ponselnya di dalam tas, mencari sebuah kontak dan hendak menghubungi Cinta. Namun, ingat kejadian semalam ketika Cinta memergoki bambu runcingnya berdiri, Kala jadi malu. Jarinya menggantung di udara sambil matanya memandangi nomor ponsel Cinta.


" Telepon... enggak... telepon... enggak... telepon..."


Ponselnya bergetar. Kala melotot melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Cinta. Bukannya satu-satunya orang yang sering menghubungi Kala hanya Cinta? Namun, Kala kembali bimbang. Jika ia angkat, apakah Cinta akan membahasnya lagi?


" Angkat... enggak... angkat... enggak... angkat... angkat aja deh!" ucapnya pada ponselnya. Barangkali, jika ada yang melihat tingkah bodohnya ini, Kala akan dianggap gila.


Terima.


" Halo Kala... lama banget sih ngangkatnya!" Cinta mengomel. Terdengar suara tarikan napas yang sangat dalam. Pasti Cinta sedang menguap. Pasti temanya baru bangun tidur.


" Ada apa?" tanya Kala pura-pura tak tak acuh. Sengaja, supaya Cinta menganggapnya bukan lelaki murahan seperti apa yang mungkin perempuan itu bayangkan semalam.


" Galak amat, om! lagi dapet ya?"


Kala tak mempan dengan godaan Cinta yang seperti itu, " ada apa, Cinta?" kini, Kala melembutkan suaranya dan menurunkan intonasinya.

__ADS_1


" Ish! apaan sih kamu. Geli tau."


Darah Kala seolah naik ke ubun-ubun. Mengapa menjadi lelaki selalu serba salah sih? Ngomong keras salah, lembut salah, kasar salah... aish!


" Kala, kamu lagi dimana? Temenin aku bimbingan offline yuk?"


Kesempatan. Kala tersenyum bangga, " kapan?" namun nadanya tetap saja cuek.


" Pagi ini lah. Jam sebelas sampai jam dua belas. Di kampus pusat."


" Oke. Tapi, kamu naik angkot aja kesininya. Soalnya aku udah di kampus pusat."


" Serius di kampus pusat? ngapain?"


" Bimbingan lah, Ibu..."


" Nggak bisa jemput sebentar?"


Kala bisa terlambat dua puluh menit. Dan itu tidak baik untuk kesan pertama yang akan ia bangun di depan dosen pembimbingnya.


" Kalaaaaa!"


" Cinta, kayaknya kamu naik angkot aja deh. Aku ada bimbingan jam sepuluh."


" Bimbingan?" Intonasi suara Cinta jelas terkejut. Kemudian terdengar suara tawa menggema dari ponsel Kala, " aku nggak salah denger kan?"


Kalau berdecak sebal, " kalau kamu salah dengar berarti kuping kamu bermasalah!"


" Kala, sejak kapan kamu berubah?"


" Sejak Pak Rahmat ngajak aku ketemuan."

__ADS_1


" Kala... kamu..."


" Apa?"


" Pak Rahmat kan udah punya anak istri."


" Kenapa kalau dia punya anak istri?"


" Kala, perbandingan laki-laki dan perempuan itu satu banding empat. Kalau kamu mau punya istri empat juga nggak apa. Asal jangan sama Pak Rahmat."


Rasanya Kala ingin membanting ponselnya sendiri mendengar petuah dari Cinta. Apa-apaan maksudnya? meskipun wajah Kala pas-pasan, penghasilannya juga pas-pasan, tapi jiwanya masih lelaki yang menyukai perempuan.


" Tuh kan nggak bisa jawab. Kal..."


Kala memotong ucapan Cinta, " Cinta, daripada kamu mikir yang enggak-enggak, lebih baik kamu bangun terus mandi ya. Aku tunggu kamu di kantin. Kalau sampai jam sepuluh teng kamu belum datang, kamu tunggu aku di kantin. Oke?"


" Ta..."


Kala mengakhiri panggilan telepon Cinta secara sepihak. Pasti perempuan itu mengutuknya berkali-kali sambil mandi. Kala tak peduli. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan melajukan motor matiknya menuju perkiran. Tak sampai lima menit, Kala langsung berjalan menuju kantin, lalu mencari kursi kosong. Berhubung Kala lapar karena belum sarapan, ia memesan nasi goreng seharga lima belas ribu seporsi dan air mineral seharga tiga ribu.


Duduk, Kala mengeluarkan ponselnya. Ia menerima lima pesan singkat dari Cinta yang enggan ia buka. Biar saja anak itu mandiri. Meletakkan ponselnya, Kala teringat perkataan Ibunya kemarin, jika Dian Miranti adalah Ibu kandungnya. Kemudian Kala ingat kartu kredit yang diberikan Dian Miranti untuknya.


Apakah Kala harus mempercayai Dian Miranti begitu saja dan menggunakan kartu kredit pemberiannya untuk melunasi kekurangan biaya semester akhirnya? Kala bimbang, namun sepuluh juta bukanlah nilai yang kecil baginya yang memiliki penghasilan tiga juta lima ratus sebulan. Untuk bayar kontrakan, membeli token listrik prabayar, kuota dan untuk dikirim ke kampung saja sudah ketahuan hampir dua juta. Sisanya untuk makan dan sebisa mungkin menabung untuk bayaran.


" Mas, nasinya."


Kala kaget. Ia membiarkan penjual makanan meletakkan sepiring nasi goreng dan sebotol air mineral di depannya. Karena lapar, Kala langsung menyantap nasi goreng di depannya dengan lahap. Persetan dengan siapa orangtua kandungnya. Jika memang Dian Miranti mengizinkannya menggunakan kartu kreditnya, Kala akan dengan senang hati menggunakannya. Lagipula, ia cuma perlu sepuluh juta. Masih ada limit sepuluh juta lagi jika Dian Miranti minta kartu kreditnya dikembalikan. Untuk sisa yang telah ia pakai bayaran, mungkin akan dicicil pelan-pelan.


Yang penting urusannya dengan Fakultas beres dulu agar Kala bisa tenang mengejar ketertinggalannya.


***

__ADS_1


__ADS_2