
"Masih betah natapnya?! Nanti aja lanjut di mobil. Aku panas nih---"
Rama tersenyum dikulum melihat Puput yang bereaksi dengan melipat bibir.
"Maaf, hehe....saya mendadak terpesona. Sempat gak yakin ini Pak eh Kak Rama bukan sih. Pangling lho!" Puput cengengesan dan bicara jujur apa adanya. Menekan tombol unlock. Mempersilakan sang boss naik ke jok penumpang sebelah kirinya.
"Pangling gimana?!" Rama masih berdiri di tempat semula. Mengabaikan Puput yang menyuruhnya masuk. Ia ingin mengorek isi hati gadis pujaannya itu.
"Yaaa pangling....ganteng kayak pemain sinetron. Makanya saya terpesona." Jawab Puput santai dan seadanya sesuai yang terlintas di pikiran.
"Lah baru nyadar?! Memangnya wajahku yang sebelumnya beda? Gak ganteng gitu?!" Rama mulai gemas dengan sikap Puput yang biasa saja. Mengira gadis itu akan tersipu malu dengan pipi merona seperti perempuan pada umumnya. Setelah terciduk tengah terpesona menatapnya. Tapi ternyata tidak berlaku untuk Puput, si perempuan unik. Biasa saja.
"Gak terlalu merhatiin sih." Puput nyengir kuda. "Hmm, kayaknya....sebelumnya wajah Kak Rama biasa aja deh. Baru keliatan gantengnya sekarang. Makanya saya sampai pangling." Puput dengan mimik serius, malah sengaja mengamati lagi dengan seksama muka bossnya itu.
"PUPUT! Kamu isshhh---" Rama menggeram dengan raut wajah kesal campur gemas. Ingin sekali menjawil hidung kecil tapi runcing itu. Yang malah ditanggapi Puput dengan tertawa lepas sambil mengangkat dua jari membentuk simbol V. Baru tahu jika gadis itu punya sifat konyol juga.
"Kak, katanya panas. Ayo ah naik!" Puput tidak melanjutkan pembahasan melihat pelipis Rama yang berembun keringat.
"Kamu yang pindah! Gantian aku yang nyetir." Rama membuka pintu kemudi. Memberi jalan pada Puput untuk turun berpindah ke pintu kiri, jok penumpang.
"Gak papa saya aja yang nyetir lagi. Kak Rama nikmati aja pemandangan sepanjang jalan." Puput bergeming. Tetap duduk di jok kemudi dan menarik safety belt siap dipasang.
Rama menggeleng. "Aku minta dijemput bukan berarti nganggap kamu supir. Tapi..... ah pokoknya kamu cepet pindah. Panas nih!" Hampir saja keceplosan. Untung masih bisa mengerem kata hati yang sudah sampai di tenggorokan.
Puput mengalah turun. Memperhatikan sejenak Rama yang hanya menenteng tas punggung ukuran sedang.
"Kopernya gak lupa atau memang gak bawa, Kak?!" Puput meluapkan rasa penasarannya usai beralih duduk ke sebelah kiri. Melihat Rama yang memiringkan badan, menyimpan tas tersebut ke jok tengah.
"Koper udah duluan waktu nganter mobil ini."
Puput manggut-manggut. Pandangannya mulai lurus ke depan begitu mobil mulai melaju di jalan raya. Jika rata-rata perempuan menyukai mobil jenis sedan. Sebaliknya, ia malah senang dengan jenis mobil sport seperti yang ditungganginya kini. Body yang tinggi anti banjir dan cocok di segala medan. Kalau saja Rama gak memaksa tukar posisi, ia masih betah menyetir mobil kelas mewah itu.
"Yaahh macet." Keluh Rama yang kini sampai di kawasan jalan Sutisna Senjaya. Jalan yang tadinya padat merayap menjadi tersendat tak bergerak dalam barisan yang mengular mendekati lampu merah.
"Tadi pas berangkat alhamdulillah lancar. Sekarang mulai masuk jam ngabuburit tambah arus mudik, jadinya macet." Puput menjelaskan hasil pantauan dari google map yang bertanda merah panjang sampai jalan simpang lima.
"Ada jalan alternatif gak, Put?!" Rama mengedarkan pandangan ke depan mengamati laju kendaraan yang tersendat meski lampu lalu lintas sudah berganti hijau.
"Ada. Nanti kita belok kanan aja. Jangan pulang lewat simpang lima. Agak muter sih tapi lalin lancar."
Rama menyetujui usulan jalan alternatif. Meski harus menunggu sampai 20 menit untuk keluar dari kemacetan menuju jalan alternatif. Keduanya memutuskan untuk singgah di masjid berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB.
Puput paling akhir selesai shalat. Saat akan menyimpan mukena ke tempat semula, dari balik jendela pandangannya menubruk pada sosok Rama yang tengah duduk menunggunya di teras masjid.
Kenapa baru kali ini aku nyadar kalau dia ganteng banget. Apa karena wajah barunya?!
__ADS_1
Puput masih betah menatap wajah klimis nan fresh dengan potongan rambut pendek, dari balik kaca jendela bening. Mumpung yang diamati tengah anteng memainkan ponsel. Di mobil tidak mungkin sengaja menatap sampai puas seperti sekarang. Gengsi dan malu.
Rama mengunci layar ponsel usai membalas beberapa pesan masuk. Merasa ada orang yang tengah mengawasinya. Namun urung menoleh ke samping kiri begitu melihat pantulan wajah dari balik jendela tertangkap layar ponsel. Membuatnya mengulas senyum tipis.
Oke...aku tahu sekarang cara ngadepin kamu.
Rama merasa mendapatkan pencerahan dari peristiwa di parkiran bandara tadi. Membuatnya menarik kesimpulan untuk menghadapi Puput yang cuek berarti harus dengan sikap cuek lagi.
Tatap terus yang lama, Put! Sampe magrib di sini juga gak pa pa. Biar nanti kebawa mimpi.
Rama berharap Puput lupa waktu. Melirik dengan ekor mata pantulan wajah yang sepertinya berdiri dengan bertumpu pada lutut. Nampak dari kedua tangan Puput yang terlipat sambil menopang dagu di kusen jendela. Wajah cantik itu senyum-senyum sendiri. Membuat Rama menahan senyum geli.
Buru-buru memasukkan ponsel melihat Puput mundur dari jendela. Meraih sepatu kets yang ada di depannya. Pura-pura tidak mengetahui aksi curi-curi pandang yang barusan terciduk.
"Pulang sekarang, Kak?!" Puput duduk di sampingnya. Karena sama-sama menyimpan sepatu berdampingan.
"Terserah. Mau buka puasa di luar atau di rumah? Kalau mau di luar, kita cari tempat makan yang enak dan nyaman." Jawab Rama memberi pilihan. Tanpa menoleh karena tengah menyimpulkan tali sepatu sebelah kiri.
...***...
Rama sudah bisa memprediksi jawaban tipe perempuan seperti Puput. Menolak. Sehingga tidak merasa kecewa karena hati sudah siap. Berbeda saat pertama kali mengajaknya makan sepulang dari kantor polisi dulu. Kali ini hanya dalam hati mentertawakan diri sendiri. Yang selama ini biasa menolak ajakan perempuan, kali ini justru ditolak gadis desa yang supel itu.
"Kok berhenti di sini?!" Puput mengerutkan dahi karena Rama menghentikan mobil di sebrang rumahnya. Menyalakan lampu sein kanan hendak menyebrang. Perjalanan ke rumah Enin memang melewati rumahnya. Masih sekitar 3 km lagi.
"Aku anterin kamu pulang." Rama fokus mengawasi lalu lintas di depan dan di belakangnya yang padat.
"Kak, padahal gak usah berhenti di sini. Kan motor saya di rumah Enin." Puput bergeming melihat Rama yang sudah membuka safety belt.
"Aku gak mau kamu cape. Motornya besok aku anterin. Sekarang udah mau magrib. Aku mau ketemu Ibu Sekar dulu. Yuk!"
Puput baru membuka mulut untuk menjawab. Tapi Rama sudah turun lebih dulu. Perintahnya tidak bisa dibantah ternyata. Mau tidak mau ikut turun. Tidak menawarkan memasukkan mobil ke pekarangan yang hanya muat 1 mobil itu. Mengira tidak akan bertamu lama.
"Put, sebentar!"
Puput menaikkan kedua alisnya. Menunggu di depan pintu pagar yang sudah terdorong setengahnya. Memperhatikan punggung Rama yang sepertinya mengambil sesuatu di dalam mobil.
"Buat kamu. Lebaran pakai ya!" Rama menyerahkan kotak segi empat warna coklat bersimpul pita warna violet.
"Ehh...apa ini?!" Dengan kaget campur bingung Puput nemerima uluran gift box itu. Tak menyangka Rama akan memberinya hadiah. Padahal THR baru juga cair dua hari sebelum libur.
"Nanti aja lihat sendiri. Ayo...aku mau ketemu Ibu Sekar dulu sebentar!" Bahkan Rama tanpa sungkan melangkah mendahului Puput yang masih melongo.
Puput masih terpaku sambil mendekap di dada kotak kado yang cantik itu. Kaget mendapat lagi hadiah. Kaget dengan sikap Rama yang sepertinya bukan wajah baru saja yang pangling tapi juga sikapnya.
Ahh kenapa alarm telat bunyi?!
__ADS_1
Puput terjengit bersamaan mengatupkan bibir. Rama sudah tidak nampak batang hidungnya. Hanya sepatu hitam putih dengan logo centang yang nampak di bawah teras. Buru-buru menyusul ke dalam.
Pemandangan yang dilihat Puput sungguh tidak terduga. Di ruang tengah nampak ramah tamah sang boss dengan Ibu dan ketiga adiknya. Nampak dihiasi senda gurau.
"Maaf ya, Mi. Kali ini Kak Rama gak bawa oleh-oleh." ujar Rama usai menerima cium tangan Ami yang paling akhir.
"Gak apa-apa, Kak. Aku senang Kak Rama mudik." Ami mengajak Rama duduk di karpet. "Berarti lebaran bakal ketemu lagi ya?! Asyik dong berarti nambah satu orang yang bakal ngasih THR."
"Ami!"
"Ami!"
"Ami!"
"Ami!"
Tanpa dikomando, Ibu, Puput, Aul, dan Zaky, menegur serempak. Semua mata tajam tersirat teguran tertuju pada si bungsu.
"Becanda atuh bestie....meni kayak paduan suara gitu!" Jawab Ami santai, tanpa rasa bersalah.
Berbeda dengan Rama yang justru tertawa lepas dengan tingkah Ami yang jago modus itu. Berada di tengah keluarga Puput sudah membuatnya betah. Seolah menemukan rumah ketiga setelah rumah Enin. Keluarga yang banyak dan ramai. Berbeda dengan dirinya yang hanya dua bersaudara. Bahkan Bibi Ratih hanya memiliki satu putra. Sudah pada dewasa jarang bertemu karena punya kesibukan masing-masing.
"Kak Rama wajbar, Aa Zaky wajbar. Kenapa sih cowok-cowok pada potong rambut kalau mau lebaran?!" Ami beralih topik memperhatikan dua wajah pria dengan wajah baru di dalam rumah itu.
"Biar lebaran ganteng maksimal dong, Mi." Zaky berinisiatif menjawab.
"Iya juga sih. Kak Rama makin ganteng deh kayak artis sinetron." Ami tanpa malu memuji dengan wajah penuh kekaguman.
"Aduh dipuji Ami hidung Kakak jadi pengen terbang." Rama merogoh dompet. Mengambil selembar 50 ribu diserahkan kepada Ami.
"Aku gak minta lho....kalau dikasih gak boleh ditolak." Ami menatap Ibu dan ketiga saudaranya silih berganti yang tengah geleng-geleng kepala. Lalu menerima uluran uang itu sambil berucap terima kasih.
"Kalau Aa gantengnya mirip siapa, Mi?!" Zaky tak kalah ingin dipuji sambil memainkan rambut depan yang dibentuk jambul.
"Aa mah gantengnya mirip Suneo soalnya gak ngasih duit ah." Sontak jawaban menyebalkan Ami membuat Rama tertawa lepas. Puput dan Aul terkikik. Kecuali Zaky yang mengancam gak akan mengajak lagi ngabuburit besok hari terakhir puasa.
"Bu, aku ke sini selain silaturahmi juga mau minta maaf sudah menyuruh Puput buat jemput ke bandara. Padahal udah bukan hari kerja." Rama mulai ke topik serius menatap Ibu Sekar. Kalau boleh jujur menyampaikan, ia menyuruh bukan karena menganggap Puput sebagai bawahanya, hanya modus pendekatan saja. Tapi saat ini bukan waktu yang pas untuk jujur.
"Jangan sungkan begitu. Ibu mah gak keberatan kok, malah senang."
Jawaban Ibu membuat kening Puput mengkerut. Merasa ambigu. Bahkan Ibu menahan Rama yang akan pamit pulang. Mengajak buka puasa bersama. Yang dengan senang hati diterima oleh Rama dengan wajah semringah.
Besoknya, benar saja. Motor diantarkan oleh Rama jam 10 pagi. Datang beriringan dengan mobil Civic yang dikemudikan Cia. Puput mengajak kakak beradik itu untuk masuk ke rumah.
"Makasih, Put. Aku gak bisa lama-lama, mau pergi dulu sama Cia, ada urusan penting." Puput menerima uluran kunci motor dengan hati kecewa. Menatap punggung Rama yang berlalu masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi ke arahnya. Nampak bertukar posisi dengan Cia. Bahkan lambaian tangan Cia yang pamit pun hanya dibalasnya dengan lambaian lesu tanpa semangat dan senyum masam.
__ADS_1
Wajah baru....kenapa sikapnya juga baru?
Puput menghela nafas panjang. Berbalik badan dan melangkah dengan lesu masuk ke dalam rumah.