Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
141. Damai Itu Indah


__ADS_3

"Padma, tahu nggak kalau lalat adalah hewan yang mampu hidup tanpa kepala?" Ami tidak pernah betah jika suasana hening. Usai makan tapi masih berada di meja makan bersama Ibu, Aul, Zaky juga Panji, ia menarik minat Padma untuk berbicara.


Padma sejenak mengernyit lalu menggelengkan kepala. "Emang beneran?" Ia merasa tidak yakin.


"Kak Panji juga nggak tahu, Mi." Ucap Panji.


"Wah, kalau Kak Panji aja nggak tahu pasti semuanya nggak tahu, kan?" Todong Ami dengan mengarahkan telunjuk dan jempol membentuk pistol kepada semuanya.


"Cepet jelasin aja. Harus ilmiah. Awas ya kalo ngeprank! Aa akan hukum." Ancam Zaky dengan seringai jahil menghiasi wajahnya.


"Ilmiah dong. Aa Zaky lupa apa kalo punya adek cantik, imut, dan juga smart." Sombong Ami. Menepuk-nepuk dadanya dengan kepala mendongak ke atas.


Panji tertawa. Padma melongo terkesima. Ibu dan Aul tarik nafas dalam-dalam diiringi gelengan kepala.


"Mi, lihat tuh Padma sampai mangap. Kayaknya baru lihat spesies aneh modelan Ami." Zaky menahan jengkel dengan kenarsisan Ami yang overdosis.


"Hoho....Padma tersepona sama aku ya." Ami memasang wajah imut dengan kedua telunjuk menempel di pipi sambil mengerjap-ngerjapkan mata ke arah Padma.


"Terpesona, Ami." Ralat Padma sambil cekikikan melihat kecentilan Ami.


"Nah itu." Ami menjentikkan jari. "Padma mau tau aja atau mau tau banget soal lalat ini?" sambungnya dengan penuh semangat.


"Mau tau banget, Ami." Padma mengangguk kuat. Tetap memiringkan badan menatap Ami yang duduk di sampingnya.


"Jadi gini....dengerin ya pemirsa semua." Ami menyapukan pandangan kepada wajah-wajah dewasa yang mengelilingi


"Lalat bisa hidup tanpa kepala karena otak lalat letaknya di punggung. Menyerap oksigen juga lewat kulit, bukan hidung. Jadinya lalat bisa berjalan dan terbang berminggu-minggu tanpa kepala sampai mati."


"Kenapa sampai mati, Ami?" Padma nampak antusias dengan penjelasan Ami.


"Karena tidak makan minum. Kan mulutnya ada di kepala. Jadi matinya karena kelaparan." Jelas Ami.


"Kenapa kepala lalat bisa sampai copot, Mi?" Tanya Panji yang memang tidak tahu. Sekalian menguji wawasan Ami.


"Itu biasanya lalat betina yang kepalanya sampai copot. Lalat betina suka menggosok-gosokkan lengannya ke kepala untuk menggoda lalat jantan. Karena terlalu bersemangat sampai kepalanya lepas." Jelas Ami sambil mengupas jeruk.


"Seperti teh Aul kalo liat cowok ganteng lewat. Tiba-tiba senyam-senyum dan jadi centil." Ucap Ami dengan mulut penuh mengunyah jeruk.


"Ihhh fitnah. Emangnya teteh cewek apaan!" Aul mendelik.


"Itu kan contoh, Teteh. Teh Aul mah nggak gitu kok. Iya kan, Kak Panji?" Ami beralih menatap Panji meminta persetujuan.


"Iya. Teh Aul mah kalem dan anggun. " Puji Panji sambil terkekeh.


"Ecieee...yang dipuji hidungnya sampe mekar kayak bolu kukus buatan ibu." Ami meledek Aul sambil berdiri dan menunjuk hidung kakak perempuannya itu. Padma sampai cekikikan. Merasa lucu.


"Zaky tolong bawain lakban. Sekalian eksekusi aja." Aul sudah gemas dengan keisengan si bungsu.


Panji tertawa. Berada di rumah Ibu Sekar selalu penuh keseruan dan kehebohan. Terutama jika ada Ami.


"Padma, suka donat madu nggak?" Ami beralih topik.


"Padma suka makan donat waktu di Jogja. Donat madu itu yang kayak gimana?" Padma mengerutkan kening. Makin lama mulai mencair, bisa beradaptasi dengan keceriwisan Ami.


"Donat madu itu kesukaan aku. Enak pokoknya. Biasanya fans aku suka bawa oleh-oleh itu."


"AMIII...." Ibu, Aul, dan, Zaky, serempak satu suara dengan melayangkan tatapan tajam.

__ADS_1


"Ups. Paduan suara bunyi." Ami membekap mulutnya.


Panji tertawa lepas. Padma terbengong-bengong tidak mengerti.


"Kak Panji order dulu ya. Lupa nggak bawa sesajen itu. Mau sekalian pizza juga, Mi?" Panji membuka layar ponselnya. Bersiap membuka aplikasi pesanan online.


"Aku nggak akan minta. Kalau dikasih mah ya diterima." Sahut Ami dengan santai.


"Modusmu, Mi." Zaky mendecak. Aul hanya menepuk jidat. Untung saja Panji sudah tahu dengan kelakuan Ami.


"Oh ya, mumpung lagi ngumpul. Panji mau minta izin sama Ibu, besok pagi mau ngajak Aul, Zaky, sama Ami, liburan ke Pangandaran. Boleh nggak, Bu?" Ucap Panji usai melakukan order donat madu dan pizza.


"Nginep, nggak?" Ibu menatap Panji.


"Kalau diizinkan mau nginep semalam. Minggu siang pulangnya, Bu."


"Kalo aku nggak bisa ikut. Besok mau ujian kenaikan tingkat. Di Padepokan Kang Aris." Zaky menimpali sebelum Ibu menjawab lagi.


"Aul sama Ami mau ikut?" Ibu meminta kepastian dua anak gadisnya.


"Yes, mau-mau, Bu. Nggak jadi ngemall. Bekal dari Bapak Happy buat mantai aja." Ami paling antusias menjawab. Itu artinya Aul mau tidak mau harus ikut.


"Ibu izinkan. Tapi jangan nginep ya. Boleh pulang dari sana setelah sunset." Tegas Ibu.


"Baik, Bu." Panji mengangguk, menurut. Ia pun pesimis jika Bu Sekar akan mengizinkan membawa Aul menginap tanpa ditemani keluarga yang dewasa.


"Padma, kita tos dulu. Besok kita healing." Ami mengangkat kedua tangannya. Disambut Padma yang juga riang dan bersemangat.


Ting tong.


"Itu pasti kurir." Ami melebarkan matanya yang langsung berbinar.


"Kemon, Padma! Kita sambut donat madu dan pizza." Ami menarik tangan Padma menuju pintu utama.


...***...


Panji meninggalkan rumah Bu Sekar selepas ashar setelah memastikan Padma sudah akrab dengan Ami. Ia pulang ke rumah Enin. Besok pagi-pagi sekali akan menjemput lagi untuk berangkat liburan ke Pangandaran.


"Jam berapa dari Bandung, Nji?" Ucap Enin yang menerima kecupan tangan oleh cucunya itu.


"Dari Bandung jam setengah delapan. Nyampe Ciamis jam setengah sebelas. Panji ke rumah Bu Sekar dulu." Panji duduk di sebelah kiri Enin. Merangkum bahu wanita sepuh yang disayanginya itu.


"Hm, yang kangen sama Aul sampe dilewat dulu pulang kesini." Enin meledek Panji.


Panji terkekeh. "Bukan gitu, Enin. Panji pulangnya nggak sendiri. Tapi bawa adik. Dan Panji nitipin di rumah Ibu Sekar. Nggak mungkin Panji bawa kesini. Karena Bunda belum welcome sama anak Ayah itu." Jelasnya.


Enin memandang sang cucu dengan tatapan menyelidik. "Berita apa yang terlewatkan oleh Enin? Jelasin, Panji!"


Panji mengangguk. Memulai cerita dari saat mendapat telepon Ayah Anjar yang mengajaknya ingin bertemu. Semuanya diceritakan secara rinci hingga rencana besok liburan ke pantai. Dan Enin menyimaknya penuh atensi.


"Panji tulus menyayangi Padma?" Enin ingin memastikan. Meski ia melihat sepanjang bercerita, wajah cucunya itu berbinar.


"Iya, Enin. Panji akhirnya ngalamin punya adik. Dan.... rasanya sangat menyenangkan soalnya Padma anaknya penurut dan pintar. Meskipun beda ibu, Panji beneran sayang sama Padma."


Obrolan menjadi terhenti karena kedatangan Bunda Ratih yang baru pulang dari butik. Panji menyambutnya dengan pelukan hangat. Dan otomatis percakapan pun beralih topik.


Jam sembilan malam, Panji menghubungi Aul. Menanyakan kabar Padma.

__ADS_1


"Padma anteng sama Ami, Kak. Ketawa-ketawa terus dari tadi juga. Sekarang udah pada tidur sambil nyetel murotal. Pada semangat pengen buru-buru pagi." Aul melaporkan sambil terkekeh.


"Syukurlah, Padma langsung cocok sama Ami. Ya udah, kamu juga tidur ya. Udah ngebayangin pantai kan? Hayo ngaku!" Panji terkekeh menggoda.


"Idih biasa aja kok. Aku bukan anak kecil." Elak Aul.


Percakapan santai masih berlanjut sampai lima belas menit lamanya. Hingga Panji menyudahi untuk bersiap tidur.


Jam lima pagi Panji mulai memanaskan mobilnya. Sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar berenang di pantai tidak terlalu panas. Usai sarapan sandwich dan segelas kopi, ia pun pamit kepada Bundanya dan Enin.


"Ratih, Ibu mau bicara." Enin menepuk ruang kosong di sofa tempatnya duduk. Ia mencegat sang anak yang baru melepas kepergian Panji sampai teras.


"Ratih tahu Panji ke Pangandaran sama siapa aja?" Enin mulai berbicara serius.


Ratih mengangguk. "Panji selalu terbuka sama aku, Bu."


"Tapi Ratih nggak terbuka sama Ibu kalo kemarin waktu ke Bandung sudah ketemu Anjar sama anaknya. Kenapa tidak cerita?" Lembut tapi mengena di hati. Membuat anak bungsunya itu menundukkan wajah. Tidak menjawab.


"Sudah bisakah Ratih berdamai dengan masa lalu? Lihat Panji sekarang yang makin bahagia bisa dekat dengan ayahnya dan adiknya."


"Ibu sebenarnya nggak enak sama Ibunya Puput. Malu. Panji sampai menitipkan adiknya di sana. Padahal di sini kamar-kamar banyak yang kosong. Tapi kalau pintu hati tuan rumahnya nutup, ya tidak bisa masuk."


Ratih diam mengatupkan bibir merenungi semua ucapan sang ibu. Sampai kemudian ibunya itu beranjak setelah mengusap bahunya.


Tak lama ia pun berlalu ke kamarnya. Berdiri di depan jendela yang terbuka. Menatap pemandangan sawah yang masih berkabut.


Di sini kamar-kamar banyak yang kosong. Tapi kalau pintu hati tuan rumahnya nutup, ya tidak bisa masuk.


Ucapan ibunya masih terngiang di telinga Ratih. Ia memejamkan mata berusaha untuk berpikir jernih. Menghirup oksigen banyak-banyak dan menghembuskan perlahan.


Ratih menempelkan ponsel di telinga. Sudah tersambung namun belum diangkat oleh sang anak. Hingga mengulang kedua kali, teleponnya tersambung.


"Assalamu'alaikum, Bunda."


"Wa'alaikum salam. Ini Aul ya?" Ratih mengenal suara di ujung telepon.


"Iya, Bunda. Aku disuruh kak Panji angkat telepon. Kak Panji lagi nyetir."


"Oh, udah jalan ya."


"Iya, Bun. Baru sampai Ciung Wanara."


"Aul, bilangin Panji menepi dulu ya. Bunda mau bicara sebentar, sayang."


"Iya katanya, Bun."


Ratih sabar menunggu dengan telepon yang masih tersambung.


"Bunda, ada apa?" Suara Panji terdengar bernada khawatir.


"Nggak ada apa-apa, nak. Bunda cuma mau bilang, nanti kalian pulangnya ke sini ya. Giliran Padma nginep di rumah Bunda."


Sesaat hening tak ada sahutan dari sebrang sana.


"Bunda serius, kan?"


"Ya Allah, nak. Bunda ini sayang sama kamu dan.......mau menyayangi adikmu juga." Suara Ratih mendadak bergetar saat mengucapkan beberapa kata terakhir."

__ADS_1


"Alhamdulillah....I love you, Bunda." Pekik Panji terdengar girang.


__ADS_2